Sebagai salah seorang siswa utama Tathagata Drayangmizaypardrokpa, Sadaprarudita mempraktikkan Dharma dengan tulus dan murni. Ia mencari ajaran prajnaparamita tanpa menghiraukan kekayaan, pujian, dan sebagainya, bahkan walaupun membahayakan tubuh dan hidupnya.
Pada suatu ketika, saat ia sedang berdiam di tempat yang sunyi, ia mendengar suara dari angkasa, “Oh Putra Mulia! Jangan memikirkan letih dan lelah, siang dan malam, panas dan dingin, kantuk dan keengganan, makanan dan minuman, kanan dan kiri, empat penjuru utama dan empat penjuru di antaranya. Berjalanlah ke arah timur dan engkau akan memperoleh ajaran prajnaparamita.”
Mendengar hal ini, ia berjalan ke arah timur. Setelah beberapa waktu, ia baru menyadari bahwa ia tidak bertanya kepada suara itu seberapa jauh ia harus berjalan. Demikianlah, di tempat itu ia hanya menangis. Satu-satunya pikirannya adalah,”Andai saja aku dapat mendengarkan ajaran prajnaparamita.” Sadaprarudita berdiam di sana selama tujuh hari tanpa membiarkan hal lain memasuki pikirannya, tidak memikirkan letih dan lelah, makanan dan minuman, dan sebagainya.
Ketika ia sedang bersedih dan menderita, seorang Buddha muncul di hadapannya dan memujinya, “Oh Putra Keluarga Mulia! Bagus sekali. Engkau telah berusaha untuk mendengarkan ajaran prajnaparamita, tanpa menghiraukan tubuh ataupun hidupmu. Oh Putra Keluarga Mulia! Lima ratus yojana dari tempat ini ada sebuah tempat yang bernama Dupa Harum. Di sana hiduplah Bodhisatva Mahasattva Dharmodgata. Pergilah ke sana dan engkau akan memperoleh ajaran prajnaparamita. Dharmodgata telah menjadi guru spiritualmu dalam berbagai kehidupan. Ia akan menunjukkan kepadamu jalan menuju Pencerahan yang lengkap sempurna dan tiada tertandingi. Oh Putra Keluarga Mulia! Tanpa berpikir siang dan malam, pergilah dan dalam waktu singkat engkau akan dapat mendengarkan ajaran prajnaparamita.” Setelah mendengar hal ini, Bodhisattva Sadaprarudita dipenuhi kebahagiaan dan kegembiraan yang luar biasa.
Seluruh batinnya dipenuhi oleh pikiran, “Bagaimana agar aku bisa bertemu guru agung ini?” dan, “Kapan aku dapat mendengar ajaran ini?” Tidak ada pikiran lain. Dengan cara ini, ia mencapai berbagai dhyana. Ketika ia berdiam di dalam dhyana ini, tak terhitung para Buddha muncul dalam meditasinya dan ia menerima tak terhingga berbagai jenis ajaran. Misalnya, ia menerima instruksi berikut ini:
“Ketika engkau melihat hakikat dari dhyana dan esensinya, di situ tidak ada keseimbangan. Tidak ada yang dipraktikkan. Tidak ada yang harus dilihat untuk mencapai Pencerahan yang lengkap, sempurna, dan tiada tertandingi. Inilah prajnaparamita. Tidak ada yang dilekati; tidak ada yang dicengkram dengan kokoh. Dengan berdiam dalam keadaan ini kita mencapai tubuh yang berwarna keemasan, mahapurusalaksana dan anuvyanjana, kekuatan dan tiada rasa takut. Karena itu, engkau harus memiliki rasa hormat yang besar dan batin yang bersih terhadap guru spiritual. Seorang Bodhisattva yang dirawat oleh seorang guru spiritual akan dengan cepat mencapai Pencerahan yang lengkap, sempurna dan tiada tertandingi.”
Kemudian Sadaprarudita bertanya kepada mereka, siapakah guru spiritualnya. Mereka menjawab, “Bodhisattva Mahasattva Dharmodgata telah menjadi gurumu selama berkali-kali kehidupan. Engkau telah menerima ajaran prajnaparamita darinya. Engkau telah mempraktikkan upaya-kausalya dan kualitas-kualitas Buddha yang lain, oleh karena itu engkau harus menjadikan guru spiritual ini sebagai mahkota di atas kepalamu, layani dia, dan sediakan keperluannya selama ratusan dan ribuan kalpa. Buatlah persembahan dari segala jenis rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan dari ketiga ribu dunia. Bahkan bila engkau membuat persembahan ini, itu tidak dapat membalas kebajikan agung yang telah dilakukan guru ini kepadamu. Berkat kekuatannyalah engkau mendapatkan berbagai dhyana ini.” Setelah itu, para Buddha menghilang.
Bodhisattva Sadaprarudita terbangun dari meditasinya dan merasa sedih karena para Buddha telah menghilang. Ia berpikir,”Aku akan pergi menemui Bodhisattva Dharmodgata dan bertanya kepadanya dari mana para Buddha ini berasal dan apa makna kemunculan mereka.” Tetapi ia kemudian juga berpikir, “Aku begitu miskin sehingga tidak memiliki apa pun untuk dipersembahkan. Tidak ada makanan, pakaian, emas, perak, mutiara, koral, dan sebagainya.
Lebih jauh lagi, aku tidak bisa mempersembahkan payung, panji kejayaan, kanopi, genta dan sebagainya. Karena itu, tidak layak bagiku untuk menjumpainya.” Dengan pikiran ini, ia berjalan dan akhirnya tiba di kota.
Kemudian ia mendapatkan ide, “Aku akan menjual tubuh ini! Aku dapat menggunakan apa pun yang kuperoleh darinya untuk membuat persembahan kepada Bodhisattva agung Dharmodgata. Sejak waktu yang tak bermula, dalam berkali-kali kehidupan yang tak terhitung, tubuhku telah tersia-siakan dan tidak digunakan untuk tujuan Dharma ataupun untuk menghormati para Bodhisattva agung. Karena itu, aku akan pergi ke pusat kota dan menjual tubuh ini.” Di sana ia mengumumkan, bila ada yang membutuhkan tubuh manusia, ia menjualnya. Ia berteriak dengan keras kepada setiap orang untuk menjual tubuhnya.
Tetapi Mara mengetahuinya. “Bila ia menjual tubuhnya dan menghormati Bodhisattva, ia akan mencapai Pencerahan melalui perbuatan itu. Bila ia mencapai Pencerahan, kita para Mara tidak dapat mengendalikannya. Karena itu, bijaklah bila kita segera merintanginya mencapai Pencerahan.” Mereka kemudian menghalangi agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain, dan karena itu betapa pun kerasnya ia berteriak, tak ada seorang pun yang mendengar. Jadi tentu saja tak seorang pun datang untuk membeli tubuhnya. Sadaprarudita berpikir tak seorang pun tertarik untuk membeli tubuhnya, karena itu ia pergi ke sudut dan menangis di sana.
Ketika ia sedang menangis, Indra melihatnya dan memutuskan untuk menguji apakah benar ia berniat untuk menjual tubuhnya dan apakah keberaniannya benar-benar tak tergoyahkan. Indra kemudian menyamar sebagai seorang brahmana muda dan pergi menemui Sadaprarudita, lalu bertanya mengapa ia nampak begitu sedih dan menangis. Ia menjawab, “Aku ingin menjual tubuhku, tapi tak seorang pun tertarik.” Ketika brahmana itu bertanya mengapa ia melakukannya, Sadaprarudita menjawab, “Aku begitu miskin sehingga tidak memiliki kekayaan apa pun. Aku akan mengambil apa pun yang kuperoleh dengan menjual tubuh ini dan membuat persembahan kepada Bodhisattva agung Dharmodgata, seorang mahaguru, untuk mendapatkan ajaran prajnaparamita, kesempurnaan kebijaksanaan. Tapi karena tak seorang pun tertarik untuk membelinya, aku begitu menderita.”
Brahmana muda itu menjawab, “Aku tidak membutuhkan manusia. Tapi untuk membuat kurban, aku memerlukan hati, darah, tulang, dan sum-sum manusia. Bila engkau berniat menjualnya, aku akan membelinya dengan harga yang bagus.” Pada saat itu Bodhisattva Sadaprarudita gembira sekali berpikir bahwa ia akan memiliki sesuatu untuk menghormati guru spiritualnya. Ia bahagia sekali tak terkatakan. Ia kemudian mengeluarkan sebilah pisau tajam dan menggores lengan kanannya sehingga darah pun bercucuran. Setelah menampung darahnya, ia memotong daging dari pahanya dan bersiap-siap untuk mengambil sum-sum tulang kakinya.
Ketika itu, putri seorang pedagang melihat apa yang dilakukannya dari sebuah gedung bertingkat. Ia segera turun dan bertanya mengapa ia menyiksa dirinya sendiri. Bodhisattva Sadaprarudita menjelaskan, dengan menjual darah, daging, dan sum-sum serta yang lainnya kepada brahmana muda ini, ia akan mendapatkan harta untuk membuat persembahan kepada guru spiritual agung, Dharmodgata, untuk mendapatkan ajaran prajnaparamita. Wanita itu kemudian bertanya, apakah yang ia harapkan dengan membuat persembahan seperti ini dan menghormati gurunya. Sadaprarudita menjawab, “Aku akan dengan cepat mencapai Pencerahan yang lengkap, sempurna, dan tak tertandingi.”
Wanita itu terkejut dan kagum mendengar hal ini, lalu berkata, “Untuk menghormati, membuat persembahan, dan menunjukkan rasa hormat kepada guru spiritualmu, aku akan menyediakan apa pun yang engkau butuhkan. Aku juga ingin pergi bersamamu menjumpai Bodhisattva agung Dharmodgata untuk menerima ajarannya.”
Brahmana muda itu, yang merupakan manifestasi Indra, menghilang dan muncul kembali sebagai Indra,”Engkau telah melakukannya dengan baik. Engkau memiliki keteguhan dan keberanian yang tak tergoyahkan terhadap Dharma. Lebih jauh lagi, seluruh Buddha terdahulu telah melakukan hal seperti ini, berkorban tanpa menghiraukan tubuh ataupun hidupnya, berusaha untuk mendapatkan ajaran melewati berbagai kesukaran. Demikianlah cara mereka mencapai Pencerahan.”
Indra melanjutkan, “Aku tidak benar-benar membutuhkan daging, darah, tulang manusia dan sebagainya. Aku datang hanya untuk mengujimu. Sekarang aku akan memberikan anugerah kepadamu. Apakah yang engkau inginkan?” Bodhisattva Sadaprarudita meminta Kebuddhaan yang tak tertandingi, tetapi Indra menjawab, “Aku tidak dapat memberikannya kepadamu. Aku tidak memiliki kemampuan untuk memberikannya kepadamu.”
Bodhisattva Sadaprarudita kemudian berkata, “Bila semua Tathagata, para Buddha telah meramalkan bahwa aku akan mencapai tingkat Pencerahan yang tidak akan kembali lagi, dan bila engkau menyadari bodhicittaku yang tak tergoyahkan, maka dengan kebenaran ini, semoga tubuhku pulih kembali seperti sediakala.” Pada saat itu juga tubuhnya pulih kembali, bebas dari segala sakit ataupun derita. Tidak ada yang dikatakan lagi, Indra pun menghilang.
Putri sang pedagang kemudian membawa Bodhisattva Sadaprarudita ke rumahnya dan mengenalkannya kepada orang tuanya. Ia meminta berbagai kekayaan seperti emas,perak, pakaian, kanopi, panji, payung, dan berbagai macam permata berharga dari orang tuanya untuk membuat persembahan kepada Bodhisattva Sadaprarudita. Ia berkata kepada Sadaprarudita, “Seluruh kekayaan ini untukmu, untuk memberikan persembahan kepada Bodhisattva agung Dharmodgata, guna mendapatkan ajaran prajnaparamita. Aku juga akan pergi bersamamu dan menerima ajaran dari guru itu.
Kemudian ia meminta izin dari orang tuanya untuk pergi bersama Bodhisattva Sadaprarudita. Orang tuanya bertanya kepadanya siapakah Sadaprarudita. Ia lalu menjelaskan kepada mereka bahwa Bodhisattva Sadaprarudita akan menjual tubuh, darah, daging, tulangnya, dan sebagainya, untuk menghormati, menghargai, dan membuat persembahan kepada Bodhisattva agung Dharmodgata untuk mendapatkan ajaran. Ketika ia mengutarakan hal ini, orang tuanya begitu kagum sehingga berkata, “Ambillah apa yang engkau inginkan untuk menghormati dan membuat persembahan kepada Bodhisattva agung Dharmodgata. Kami, kedua orang tuamu, juga akan menyertaimu untuk menerima ajaran dari Guru agung itu.” Berbagai macam harta kekayaan dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. Sadaprarudita, putri pedagang, dan kedua orang tuanya berangkat dengan mengendarai kereta. Mereka diikuti oleh lima ratus kereta beserta para pelayannya. Setiap orang berpakaian bagus dan mereka memulai perjalanannya ke arah timur.
Akhirnya mereka sampai di kota Dupa Harum yang dikelilingi oleh tujuh lapis benteng permata berharga. Di sekelilingnya terdapat telaga yang airnya memiliki delapan kualitas baik. Harumnya wangi dupa tercium memenuhi udara. Seluruhnya terbuat dari permata berharga. Di dalam kota, Bodhisattva agung Dharmodgata sedang duduk di atas singgasana permata berharga, dikelilingi oleh tak terhingga para siswa yang sedang menerima ajaran darinya.
Pada saat Sadaprarudita melihat hal ini, ia mengalami kebahagiaan yang luar biasa dan membangkitkan rasa bakti yang mendalam. Lima ratus orang turun dari kudanya, membawa persembahan yang luar biasa, berjalan menuju Bodhisattva Dharmodgata. Pada saat itu Bodhisattva agung Dharmodgata sedang mendirikan sebuah tempat untuk menyimpan kitab suci prajnaparamita, yang terbuat dari tujuh macam permata, dihiasi dengan cendana merah dan untaian mutiara. Jadi, persembahan yang indah itu diletakkan di hadapannya. Kitab suci prajnaparamita ditulis dengan tinta emas. Selain itu, Indra dengan dikelilingi oleh para dewa dan dewi, juga membuat persembahan dan menaburkan berbagai bunga dari alam dewa. Hal ini dilihat oleh Sadaprarudita bersama-sama dengan lima ratus orang gadis, yang juga membawa banyak persembahan.
Kemudian Bodhisattva Sadaprarudita bersama para pengiring dan persembahannya yang tak terhingga mendekati Bodhisattva agung Dharmodgata, bernamaskara di kakinya, dan bersikap anjali. Sadaprarudita berkata, “Ketika aku sedang berdiam di tempat yang sunyi untuk mendapatkan ajaran prajnaparamita, kebijaksanaan sempurna, aku mendengar suara dari angkasa yang berkata ‘Engkau, pergilah ke arah timur.’” Demikianlah, ia menceritakan kembali kisahnya. Ia menyampaikan bagaimana para Buddha muncul di hadapannya, bagaimana ia mencapai tak terhingga dhyana dan bermeditasi padanya, bagaimana tak terhingga Tathagata, para Buddha telah muncul di hadapannya dan menghilang. Jadi ia hendak bertanya kepada Dharmodgata, dari manakah para Tathagata itu berasal dan ke mana mereka pergi.
Bodhisattva agung Dharmodgata menjelaskannya kepada Sadaprarudita sebagai berikut:
Para Tathagata tidak berasal dari mana pun, dan mereka tidak pergi ke mana pun; mereka tidak beranjak dari kehampaan. Apa pun yang hakikatnya hampa, itulah Tathagata. Oh Putra Keluarga Mulia! Dalam hakikat yang tak terlahirkan, tak ada yang datang dan tak ada yang pergi. Hakikat yang tak terlahirkan itulah Tathagata. Oh Putra Keluarga Mulia! Dalam kesempurnaan, tak ada yang datang dan tak ada yang pergi. Hakikat kesempurnaan adalah Tathagata. Oh Putra Keluarga Mulia! Dalam kekosongan, tak ada yang datang dan tak ada yang pergi. Di mana ada kekosongan, itulah Tathagata. Dan sebagainya. Oh Putra Keluarga Mulia! Engkau harus memahami inilah hakikat datang dan perginya Tathagata. Oh Putra Keluarga Mulia! Kehampaan segala fenomena harus dipahami dan direalisasikan dengan cara ini. Oh Putra Keluarga Mulia! Sejak saat ini, para Tathagata, hakikat tak terlahirkan segala Dharma, yang tak pernah berakhir, harus dipahami dengan cara ini. Dengan hakikat tak terlahirkan segala Dharma, yang tak pernah berakhir ini, engkau akan mencapai Pencerahan yang lengkap, sempurna, dan tiada tertandingi. Dan engkau akan mencapai kesempurnaan upaya-kausalya dan kesempurnaan prajna-paramita.
Demikianlah, Bodhisattva memberikan ajarannya. Pada saat itu bumi bergetar sebanyak enam kali, bunga-bunga para dewa berjatuhan dari angkasa, dan tak terhitung makhluk hidup membangkitkan bodhicitta. Pada saat itu Indra dan yang lainnya memuji Sadaprarudita dengan mengatakan bahwa ia telah melakukannya dengan baik, dan seterusnya.
Bodhisattva Sadaprarudita menaburkan seluruh bunga di tangannya ke arah Bodhisattva agung Dharmodgata, dengan tangan beranjali ia berkata, “Sejak saat ini, untuk melayani dan menghormatimu, aku akan mempersembahkan tubuhku.” Kelima ratus orang gadis yang menyertainya, semua berkata,”Kami akan mempersembahkan kepadamu, Sadaprarudita, seluruh harta kekayaan dan raga kami.” Bodhisattva Sadaprarudita kemudian menghiasi kelima ratus gadis itu dengan perhiasan dan mempersembahkan mereka beserta kelima ratus kereta untuk menghormati dan melayani Bodhisattva agung Dharmodgata. Kemudian dari angkasa, Indra beserta para dewa lainnya memuji Bodhisattva Sadaprarudita. Pada saat itu, Bodhisattva agung Dharmodgata menerima persembahan Sadaprarudita berupa lima ratus gadis dan kereta untuk menyempurnakan akar kebajikannya. Lalu kemudian, ia memberikannya kembali. Bodhisattva agung Dharmodgata kembali ke tempat kediamannya dan bermeditasi dalam dhyana selama tujuh tahun.
Sadaprarudita berpikir, “Aku kemari untuk menerima ajaran, tidak layak bagiku untuk duduk atau tidur. Jadi sampai Bodhisattva Dharmodgata keluar dan memberikan ajaran, aku akan berdiri atau berjalan.” Setelah bertekad seperti ini, ia berdiri dan berjalan selama tujuh tahun, sambil mempertahankan pikirannya di dalam Dharma.
Kemudian suatu ketika, suara para dewa terdengar di angkasa,”Tujuh hari dari sekarang, Bodhisattva agung Dharmodgata akan bangkit dari meditasinya dan memberikan ajaran Dharma di pusat kota.” Ketika ia mendengar hal ini, Bodhisattva Sadaprarudita begitu gembira; ia mengalami kebahagiaan yang tak terkatakan. Ia mendirikan sebuah singgasana permata berharga yang sangat besar di pusat kota. Kemudian ia mencari air untuk menyirami debu, tetapi karena Mara merintangi, semua air telah menghilang. Sadaprarudita berpikir, “Tidak layak bila debu sampai mengotori tubuh Bodhisattva agung Dharmodgata. Karena aku tak dapat menemukan air di mana pun, aku akan menggunakan darah dari tubuhku.” Ia kemudian mengambil sebilah pisau tajam dan menggores berbagai anggota tubuhnya untuk memerciki debu dengan darahnya. Ketika ia melakukan hal itu, kelima ratus orang gadis mengikutinya melakukan hal yang sama.
Para dewa begitu kagum melihat bodhicittanya. Betapa luar biasanya melihat keteguhan tekad Bodhisattva Sadaprarudita yang tak tergoyahkan untuk mencapai Pencerahan yang lengkap, sempurna, dan tiada tertandingi, walaupun harus mengorbankan tubuh, hidup, dan sebagainya. Indra lalu memberkati seluruh darah dan mengubahnya menjadi cendana para dewa, yang keharumannya tercium lima ratus yojana jauhnya, dan semua debu telah terperciki. Indra juga menaburkan tak terhingga bunga para dewa sebagai persembahan kepada Bodhisattva agung Dharmodgata.
Setelah tujuh hari, Bodhisattva agung Dharmodgata bangkit dari meditasinya, datang bersama tak terhingga para pengiringnya, duduk di atas singgasana, dan memberikan ajaran sebagai berikut:
Kesamaan hakikat segala Dharma adalah sama dengan kesamaan hakikat prajnaparamita. Ketiadaan hakikat segala fenomena adalah sama dengan ketiadaan hakikat prajnaparamita. Ketidakbergemingan hakikat segala fenomena adalah sama dengan ketidakbergemingan hakikat prajnaparamita. Kebebasan dari keangkuhan hakikat segala fenomena adalah sama dengan kebebasan dari keangkuhan hakikat prajna paramita.
Dan sebagainya. Ia memberikan penjelasan yang mendetil mengenai prajnaparamita. Pada saat itu Bodhisattva Sadaprarudita mencapai dhyana mengenai hakikat ajaran prajnaparamita. Demikianlah kisah singkat bagaimana Sadaprarudita melayani guru spiritualnya, Dharmodgata.
Sumber: The Jewel Ornament of Liberation, halaman 340-347
BIOGRAFI RINPOCHE | BODHISATTVA SADAPRARUDITA
