DAGPO RINPOCHE juga dikenal dengan nama Bamchoe Rinpoche, dilahirkan pada tahun 1932 di distrik Kongpo, sebelah tenggara Tibet . Pada usia 2 tahun, beliau dikenali oleh His Holiness Dalai Lama ke-13 sebagai reinkarnasi dari Dagpo Lama Rinpoche Jhampel Lhundrup. Ketika berusia 6 tahun, beliau memasuki Vihara Bamchoe, di dekat distrik Dagpo. Di vihara tersebut beliau belajar membaca dan menulis, juga mulai belajar dasar-dasar Sutra dan Tantra. Pada usia tiga belas tahun, beliau memasuki Vihara Dagpo Shedrup Ling untuk mempelajari Lima Topik Utama dari filosofi Buddhis, yaitu Logika, Paramita, Madhyamika, Abidharma, dan Vinaya.
Setelah belajar selama 11 tahun di Dagpo Shedrup Ling, Dagpo Rinpoche melanjutkan studinya di Vihara Universitas Drepung. Vihara Universitas Drepung ini terletak dekat Lhasa . Beliau belajar di salah satu dari 4 universitas yang dimiliki vihara tersebut, yaitu Gomang Dratsang. Di sana beliau memperdalam pengetahuan tentang filosofi Buddhis dan khususnya beliau belajar filosofi berdasarkan buku pelajaran (textbook) dari Gomang Dratsang, yaitu komentar dari Jamyang Shepa.
Selama beliau tinggal di Gomang Dratsang (dan juga kemudian di pengungsian, di India dan Eropa), beliau belajar di bawah bimbingan Guru Mongolia yang termasyhur Geshe Gomang Khenzur Ngawang Nyima Rinpoche. Karena tempat belajar beliau tidak jauh dari Lhasa sebagai ibu kota Tibet , beliau juga berkesempatan untuk menghadiri banyak ceramah Dharma dan menerima banyak transmisi lisan dari beberapa guru yang berbeda. Oleh karena itu, Rinpoche adalah salah satu dari sedikit Lama (Guru) pemegang banyak silsilah ajaran Buddha.
Selama ini, Dagpo Rinpoche, yang bernama lengkap Dagpo Lama Rinpoche Losang Jhampel Jampha Gyatso, telah belajar dari 34 guru Buddhis, khususnya dua tutor dari H.H. Dalai Lama, yaitu Kyabje Ling Rinpoche dan Kyabje Trijang Rinpoche, dan H.H. Dalai Lama sendiri. Di bawah bimbingan mereka, Rinpoche belajar Lima Topik Utama dan Tantra (beliau telah menerima banyak inisiasi dan menjalani retret). Selain itu, beliau juga belajar astrologi, puisi, tata bahasa, dan sejarah.
Beliau belajar di Gomang Dratsang hingga penyerbuan komunis ke Tibet tahun 1959. Pada tahun itu, di usia 27 tahun, beliau menyusul H.H. Dalai Lama ke-14 dan guru-guru Buddhis Tibet lainnya, menuju pengasingan di India. Tidak lama setelah kedatangannya di India, beliau diundang ke Perancis untuk membantu para Tibetologis Perancis dalam penelitian mereka tentang agama dan budaya negeri Tibet. Para ilmuwan Eropa ini tertarik untuk mengundang beliau karena keintelektualan serta pemikiran beliau yang terbuka (open minded).
Dengan nasihat dan berkah dari para gurunya, beliau memenuhi undangan tersebut dan mendapat beasiswa Rockefeller. Beliau adalah Lama pertama yang tiba di Perancis. Beliau mengajar Bahasa dan Budaya Tibet selama 30 tahun di School of Oriental Studies, Paris. Setelah pensiun, beliau tetap melanjutkan studi dan riset pribadinya. Beliau telah banyak membantu menyusun buku tentang Tibet dan Buddhisme, juga berpartisipasi dalam berbagai program di televisi dan radio.
Setelah mempelajari Bahasa Perancis dan Inggris serta menyerap pola pikir orang barat, pada tahun 1978 beliau akhirnya bersedia untuk mengajar Dharma mulia dari Buddha Sakyamuni. Pada tahun itu beliau mendirikan pusat Dharma yang bernama Institut Ganden Ling di Veneux-Les Sablons, Perancis. Di center inilah, beliau memberikan pelajaran tentang Buddhisme, doa, serta meditasi. Sejak tahun 1978 hingga sekarang beliau telah banyak mengunjungi berbagai negara, di daratan Eropa maupun Asia untuk mengajarkan Dharma, di antaranya ke Italia, Belanda, Jerman, Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Beliau mulai mengunjungi Indonesia pada tahun 1988. Sejak itu, setiap tahun beliau secara rutin ke Indonesia untuk membabarkan Dharma, memberikan transmisi ajaran Buddha, khususnya ajaran Lamrim, dan memberikan beberapa inisiasi serta berkah.
Riwayat Masa Lampau
Dagpo Rinpoche yang sekarang, dikenali oleh H.H. Dalai Lama ke-13 sebagai reinkarnasi dari Dagpo Lama Rinpoche Jhampel Lhundrup. Dagpo Rinpoche terdahulu ini sebelumnya sudah dikenali sebagai reinkarnasi seorang mahaguru yang berasal dari Indonesia yang bernama Suvarnadvipa Dharmakirti (Serlingpa). Suvarnadvipa terlahir dalam keluarga Sri-Vijayendra-raja (Raja Sriwijaya), yang juga merupakan bagian dari keluarga Sailendravamsa (Dinasti Sailendra di Yavadvipa), karena Sri-Maharaja Balaputradewa (Raja Sriwijaya) adalah putra dari Sri-Maharaja Smaratungga (Raja Sailendra). Wangsa Sailendra-lah yang membangun Candi Borobudur.
Keluarga leluhur Rinpoche juga berperan dalam Perguruan Tinggi agama Buddha Nalanda, yang berkembang pada masa pemerintahan kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Suvarnadvipa kemudian menjadi bhiksu dengan nama ordinasi Dharmakirti. Beliau melatih diri di berbagai tempat, termasuk juga belajar ke India. Berkat usahanya yang keras dan himpunan kebajikannya yang sangat banyak, akhirnya beliau berhasil mencapai realisasi tertinggi sebagai seorang Bodhisattva. Kemasyhuran beliau sebagai seorang guru Mahayana, khususnya ajaran Bodhicitta tersebar jauh hingga ke India, Cina, serta Tibet. Di Tibet beliau dikenal dengan nama Lama Serlingpa.
Atisha menempuh perjalanan selama 13 bulan melalui laut dari India, dengan kondisi yang sangat sulit, untuk bertemu dengan Suvarnadvipa di Indonesia, untuk mendapatkan instruksi tentang Bodhicitta (Tekad mencapai Kebuddhaan demi kebaikan semua makhluk) dari beliau. Suvarnadvipa memberikan transmisi ajaran yang silsilahnya berasal dari Maitreya, yaitu “Tujuh Poin Instruksi untuk Membangkitkan Bodhicitta”, juga memberikan transmisi ajaran yang berasal dari Manjushri, yaitu “Menukar Diri Sendiri dengan Makhluk Lain” (Exchanging Self and Others).
Setelah belajar dari Suvarnadvipa, Atisha kembali ke India dan kemudian diundang ke Tibet. Di sana Atisha memainkan peranan yang sangat penting untuk membawa pembaharuan bagi agama Buddha. Atisha menjadi salah satu mahaguru yang sangat dihormati dalam agama Buddha Tibet. Kedua guru besar ini, Suvarnadvipa dan Atisha bertemu kembali dalam masa sekarang dalam hubungan guru-murid yang sama, yaitu ketika Atisha terlahir kembali sebagai Pabongka Rinpoche dan menerima ajaran tentang Bodhicitta dari Dagpo Lama Rinpoche Jhampel Lhundrup.
Dagpo Lama Rinpoche Jamphel Lhundrup ini memiliki peranan yang sangat penting bagi Buddhisme Tibet dengan menghidupkan kembali ajaran Lamrim di bagian Selatan Tibet. Beliau sangat terkenal atas penjelasannya tentang Lamrim dan realisasi beliau akan Bodhicitta. Banyak guru Lamrim pada masa itu yang mendapatkan transmisi dan penjelasan Lamrim dari beliau sehingga mendapatkan realisasi atas ajaran Lamrim tersebut.
Silsilah kelahiran kembali Dagpo Rinpoche lainnya sangat banyak. Termasuk guru-guru besar seperti Bodhisattva Sadaprarudita (Taktungu) yang hidup pada masa Buddha terdahulu. Beliau rela menjual sepotong dagingnya untuk memberi persembahan kepada gurunya. Selain itu yogi India bernama Virupa dan cendekiawan Gunaprabha juga diyakini adalah inkarnasi Rinpoche.
Di Tibet sendiri, guru-guru yang termasuk dalam silsilah reinkarnasi Dagpo Rinpoche antara lain adalah Marpa Lotsawa, Sang Penerjemah, yang mendirikan sekte Buddhis Kagyu. Beliau menjadi terkenal karena menjadi guru yang membimbing Jetsun Milarepa mencapai pencerahan dengan latihan yang sangat keras. Selain itu juga Longdoel Lama Rinpoche, guru meditasi dan cendekiawan yang penting pada abad ke-18, siswa dari Dalai Lama ke-7. Seperti juga Milarepa, Longdoel Rinpoche juga mempunyai masa muda yang sulit. Beliau menjadi salah satu guru terkemuka pada abad tersebut, guru dari para cendekiawan, di antaranya Jigmey Wangpo. Beliau juga menyusun risalah sebanyak 23 jilid. Pada masa kini, sejumlah Kepala Vihara Dagpo Shedrup Ling juga termasuk dalam reinkarnasi Rinpoche sebelumnya
MAHAGURU SUVARNADVIPA DHARMAKIRTI
IA TERLAHIR sebagai seorang pangeran di Kerajaan Sriwijaya, di Suvarnadvipa. Saat dilahirkan ia mengucapkan kata, “shina, shina,” yaitu nama lain dari pohon bodhi di mana Sang Buddha telah mencapai pencerahan di bawahnya. Ketika tumbuh remaja ia mengunjungi banyak vihara dan tempat-tempat suci di negerinya. Hingga suatu hari ia menemukan sebuah arca Buddha dari emas di dalam sebuah gua. Dengan memuja arca tersebut siang dan malam segala kemalangan telah pergi dari negerinya dan lambat laun membuat rakyat juga turut melakukannya. Pada mulanya di negerinya terdapat banyak para penganut tirthika, namun sejak saat itu mereka beralih menjadi penganut ajaran Sang Buddha.
Ia kemudian pergi ke India mengunjungi Vihara Sri Nalanda dan semua tempat suci lainnya. Suatu ketika ia berjumpa dengan Acharya Mahasriratna yang termasyhur. Guru ini menasihatinya agar ia berpaling dari kehidupan kerajaan dan sebaliknya mengarahkan hidup demi kebahagiaan pembebasan. Mendapatkan nasihat yang demikian, ia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang bhiksu. Beliau menerima ikrar pratimokshasila dari tradisi Mahasanghika. Setelah belajar dari berbagai guru dan berhasil mencapai pengetahuan tiada batas, Guru kemudian kembali ke Suvarnadvipa.
Dikenal sebagai seorang Mahaguru yang memiliki ajaran luas, realisasi dan siddhi, beliau kemudian termasyhur ke segala penjuru sebagai Guru Suvarnadvipa Dharmakirti. Beliau telah melihat penampakan Arya Tara dan merupakan pemegang parampara ajaran bodhicita serta berbagai tantra.
Pada masa itu seorang pandita agung dari Vihara Vikramasila India, yaitu Acharya Dipankarasrijnana bersama-sama dengan dua puluh lima orang pandita lainnya telah datang ke Suvarnadvipa untuk belajar tentang berbagai ajaran, di antaranya ajaran tentang Prajnaparamita, bodhicitta dan tantra. Mereka belajar di bawah bimbingannya selama dua belas tahun lamanya.
Ajarannya yang hingga kini masih dapat dijumpai adalah enam naskah yang dibawa oleh Acharya Dipankarasrijnana ke Tibet. Keenam teks tersebut adalah; Abhisamaya-alamkara-nama-prajnaparamita-upadesa-sastravrtti-dhurbodha-aloka-namatika, Bodhisattvacaryavatara-pindartha, Bodhisattva-caryavatara-sattrimsat-pindartha, Siksa-samucaya-abhisamaya-nama, Arya-acala-sadhana-nama dan Krodha-ganapati-sadhana.
MAHASIDDHA VIRUPA
MAHASIDDHA VIRUPA lahir di daerah timur, yaitu di Tripura, sebuah kota yang berada di bawah kekuasaan Raja Devapala. Di India Selatan terdapat sebuah vihara bernama Somapuri, ‘Kota Bulan’, pusat Dharma dengan ribuan orang bhiksu, sungguh bagaikan lautan. Meskipun dirinya masih seorang sramanera, Virupa telah memohon abhiseka.
Selama dua belas tahun, Virupa telah melafalkan mantra Vajravarahi sebanyak berjuta-juta kali, dalam dua kali putaran, namun tak satu pun tanda-tanda siddhi muncul padanya sekalipun dalam mimpi. Karena kenyataan ini ia kemudian merasa putus asa, melepas tasbihnya dan membuangnya ke dalam kakus. Malam itu saat biasanya ia melakukan puja, ia melakukannya tanpa dengan memakai tasbih. Seorang dakini tiba-tiba muncul, mengembalikan tasbih ke tangannya, sambil berbicara menyemangatinya demikian, “Oh pemula yang terpuji, jangan ragukan berkahku. Lakukan praktik membuang predikat dan anggapan.”
Pikiran murni ini adalah inti Vajravarahi.
Bagimu juga bagi semua lainnya,
Engkau tak berpengalaman seperti anak kecil.
Menginginkan permata kesadaran
Yang tak dapat diperoleh melalui konsep-konsep.
Ketahuilah bahwa praktik terbaik adalah kepuasan.
Virupa kemudian menjalankan praktik selama dua belas tahun. Akhirnya ia berhasil mencapai siddhi. Pelayannya membeli daging dan arak lalu menghidangkan kepadanya, Virupa kemudian membunuh burung merpati yang ada di vihara dan memakan dagingnya. Ketika seluruh merpati hilang karena habis, para bhiksu bertanya-tanya, “Siapakah di antara kita yang telah memakan semua burung merpati itu. Tak mungkin ada bhiksu yang berbuat seperti ini?” Para bhiksu lalu memeriksa setiap kamar, termasuk kamar Virupa. Ketika mereka melongok dari jendela, mereka melihat Virupa sedang minum arak dan menikmati daging merpati. Para bhiksu kemudian berkumpul dan bersepakat untuk mengusir Virupa keluar dari vihara. Karenanya Virupa kemudian mengembalikan jubah bhiksunya dan mangkok patranya, di depan arca Hyang Buddha ia bernamaskara lalu pergi. Melihat ia pergi, seorang bhiksu bertanya kepadanya, “Nah, mau ke mana engkau?” Virupa menjawab, “Kalian telah mengusirku, apa pedulimu?”
Di samping vihara terdapat telaga yang luas. Virupa memetik bunga teratai dengan berjalan di atas air lalu mempersembahkannya kepada Hyang Buddha. Dengan menginjakkan kakinya di atas daun teratai di tepi telaga, ia berjalan melintasi telaga menuju tepi seberang. Mereka yang berada di Somapuri sangat menyesal, mereka memegangi kaki Virupa, bersujud dan bertanya padanya, “Tapi mengapa engkau membunuh merpati?” “Aku tidak membunuhnya!” Jawab Virupa, ia kemudian menyuruh pelayannya untuk mengambil bulu-bulu merpati yang tersisa. Dengan menjentikkan jari tangannya, bulu-bulu itu seketika berubah menjadi burung merpati kembali, yang terbangnya lebih baik dan tubuhnya lebih besar dari yang sebelumnya. Kejadian ini disaksikan oleh semua orang. Sejak saat itu Virupa meninggalkan perilaku sebagai seorang bhiksu dan menjalankan hidupnya sebagai seorang yogi.
Ketika Virupa tiba di tepi Sungai Gangga, ia meminta makan dan minum kepada Dewi Gangga, namun ia tidak memberi apa pun. Virupa merasa kesal, lalu membelah Sungai Gangga menjadi dua dan berjalan menuju ke seberang.
Di kota Kanasati, Virupa membeli arak dari seorang wanita penjual arak yang memberinya segelas arak dan sepiring nasi yang sangat menyenangkannya. Ia terus makan dan minum. Selama kurun waktu dua hari ia menghentikan matahari, hingga raja yang keheranan melihat matahari tak bergerak, membuat pernyataan, “Siapakah orang yang melakukan keajaiban ini?” Kemudian seorang dewi dari matahari datang kepada raja dalam mimpi dan berkata, “Seorang yogi telah berjanji menjadikanku sebagai bayaran pada wanita penjual arak.” Raja bersama pengiringnya membayar arak yang telah diminumnya, yang banyaknya beribu-ribu gelas, setelah kejadian itu Virupa kemudian menghilang.
Virupa pergi ke suatu tempat yang disebut Indra, negeri para penyembah berhala. Di tempat ini, terdapat sebuah arca Dewa Shiva Maheshvara yang tingginya delapan puluh satu meter. Penduduk berkata kepada Virupa agar menghormat pada arca dewa tersebut, namun Virupa menjawab, “Tak ada aturan di mana kakak menghormat pada adiknya.” Raja bersama pengiringnya kemudian berkata kepadanya, “Bila engkau tidak mau menghormat, kami akan membunuhmu.” Sebaliknya Mahasiddha berkata, “Berdosa bagiku memberi penghormatan kepadanya, aku tak mau menyembahnya.” “Biarlah dosanya menimpa diriku,” kata sang raja.
Pada saat Mahasiddha menangkupkan kedua tangannya dan bersujud, arca besar Dewa Shiva itu pecah terbelah. Terdengar suara dari angkasa, “Aku berjanji untuk mendengarkanmu.” Setelah berjanji, arca tersebut pulih seperti sediakala. Orang-orang yang telah membuat persembahan kepada arca beralih mempersembahkannya kepada Mahasiddha, mereka kemudian menjadi penganut Buddhis. Dikatakan bahwa persembahan tersebut hingga kini masih ada.
Setelah kejadian itu Mahasiddha Virupa pergi menuju ke India Timur yaitu ke Devikota, di mana seluruh masyarakatnya telah menjadi tukang guna-guna. Siapa pun yang tinggal di kediaman mereka, mereka akan mengguna-gunainya.
Guru telah datang di kediaman salah seorang tukang guna-guna, mendapat makanan dari kota, tetapi tak menemukan tempat untuk menyimpannya. Ia bertemu dengan satu-satunya penganut Buddhis, seorang brahmana muda, yang memberitahukan bahwa tak ada seorang manusia pun yang dapat meninggalkan daerah tersebut setelah kedatangannya, mereka semua telah menjadi tukang guna-guna yang membuat setiap orang berada dalam kesulitan. Guru dan brahmana tersebut lalu pergi ke vihara di mana guru kemudian tinggal. Di situ guru mengabhiseka brahmana muda tersebut dan memberinya mantra.
Seluruh tukang guna-guna telah berkumpul, mereka berkata di antara mereka sendiri, “Apa yang akan dipersembahkan, terdapat banyak daging di sini, tapi kita tak memiliki daging manusia.” Seorang dari mereka berkata, “Aku punya dua korban untukmu!” “Bawalah dia kemari!” Kata semua yang lain. Namun saat tukang guna-guna itu mencoba membawa mereka, ia tak dapat melakukannya, karena kekuatan brahmana muda tersebut. Mereka terus mencobanya, namun tak pernah berhasil.
Para tukang guna-guna itu kemudian melihat Virupa duduk di atas pohon tumbang, mereka membawanya berikut pohon, mereka berencana akan memasaknya, namun Virupa meminum seluruh arak yang digunakan untuk memasaknya. Mereka kemudian menggunakan cara lain, di mana semua tukang guna-guna berkumpul membuat suara menakutkan, tetapi Virupa hanya tertawa dua belas nada yang menakutkan, dan semua tukang guna-guna hampir mati seketika.
Kemudian Virupa mengikat para tukang guna-guna tersebut dengan janji, sejak saat itu mereka semua menjadi penganut ajaran Hyang Buddha dan tidak menyakiti siapa pun yang berlindung pada Hyang Triratna. Mereka juga tidak lagi menyakiti makhluk hidup apa pun, mereka dikatakan hanya minum seraup darah dari tubuh mereka yang tidak berlindung atau mereka yang tidak membangkitkan bodhicitta. Jika mereka melanggar janji ini, leher mereka akan terputus oleh cakra dan yaksha dari utara akan meminum darahnya. Bahkan hingga saat ini, wujud cakra dan yaksha masih dapat dilihat di angkasa. Virupa lalu mengikat para tukang guna-guna dengan janji dan menjadikannya sebagai pelindung Dharma.
Sekali lagi Virupa kembali ke Devikota. Di perjalanan, Dewa Shiva dan istrinya Uma menciptakan kota maya baginya dengan penduduk sebanyak 450.000 orang, para dewa dari Surga Trayatrimsa serta seluruh surga lainnya membuat persembahan makanan istimewa. Mahasiddha Virupa berkata kepada mereka dalam bentuk slokha:
Sebagai sramanera dan bhiksu di Somapuri
Aku telah bersungguh-sungguh menjalankan vinaya,
Kemudian, dengan kekuatan dari karma masa lampau,
Aku memperoleh abhiseka serta ajaran yang lengkap.
Selama dua belas tahun aku bermeditasi berdasarkan persepsi,
Dan tidak juga berhasil meski hanya dalam mimpi;
Pikiranku kecewa, aku membuang aksamalaku.
Setelah itu, seorang dakini muncul menasihatiku,
Karenanya, aku membulatkan tekad
Dan dengan benar memahami sifat-sifat samsara.
Sejak saat itu aku menjalankan meditasi tanpa konsepsi,
Meskipun para bhiksu menganggap aku berbuat salah,
Karenanya untuk menghancurkan pandangan salah mereka,
Aku berjalan di atas air tanpa tenggelam.
Aku membelah Sungai Gangga, dan selagi menyenangkan diriku sendiri,
Aku menghentikan matahari sebagai bayaran.
Aku membelah arca para penyembah berhala, memecahkan keangkuhan mereka,
Dan di Devikota, aku mengendalikan para tukang guna-guna.
Saat Shiva melihatku memiliki banyak kekuatan
Ia membuat kota maya sebagai persembahan.
Sekarang, bila aku tak melakukan keajaiban itu,
Bagaimana mungkin orang peduli meskipun hanya pada dharma duniawi?
ACHARYA GUNAPRABHA
ACHARYA GUNAPRABHA merupakan siswa terbaik dari Acharya Vasubhandu dalam pemahamannya terhadap Vinayapitaka. Acharya Gunaprabha lahir di Mathura dalam sebuah keluarga kasta brahmana. Ia telah mempelajari seluruh Veda dan juga ajaran Sang Buddha. Kemudian ia menjadi seorang prabajika dengan mengangkat pratimoksha sila. Ia mempelajari Tripitaka baik dari tradisi Hinayana maupun Mahayana di bawah bimbingan Acharya Vasubhandu, khususnya ajaran-ajaran tentang Vinaya. Ia melafalkan ‘seratus ribu vinaya’ setiap hari.
Acharya berdiam di sebuah vihara yang bernama Adhrapuri di daerah Mathura, di mana di sana berdiam sebanyak 5.000 orang bhiksu yang kesemuanya melaksanakan Vinaya secara murni. Di vihara ini juga terdapat banyak bhiksu yang mempelajari sutra, dan terdapat kurang lebih 500 orang bhiksu yang hafal ‘Seratus Ribu Vinaya’. Berdasarkan kekuatan kemurnian silanya, Acharya Gunaprabha dapat memulihkan mata yang telah buta milik seorang menteri bernama Matangaraja yang dicongkel oleh Raja Shri Harsha.
Setelah kejadian tersebut sang raja mengangkatnya sebagai guru dan memberikan banyak persembahan kepadanya. Acharya Gunaprabha menggunakan semua persembahan-persembahan tersebut untuk kebajikan semua makhluk. Acharya Gunaprabha menyusun kitab Mulavinaya-sutra dan Karmasathaka.
