Berharganya Kehidupan Sebagai Manusia
Selamat Malam, Namo Sanghyang Adi Buddhaya, Namo Buddhaya!
Kelahiran menjadi seorang manusia merupakan berkah terbesar yang dapat dimiliki oleh makhluk samsara yang mengembara dari kehidupan yang satu ke dalam kehidupan yang lain berdasarkan kekuatan karma masing-masing. Di antara makhluk-makhluk samsara, mereka mengembara dari satu kelahiran ke kelahiran yang lain, bila tidak menemukan tubuh sebagai seorang manusia, betapa pun mereka berada di alam-alam yang luhur dan mulia seperti alam para dewa, alam surga-surga, alam brahma dan sebagainya, keadaan-keadaan di sana juga dianggap jauh dari menguntungkan bila dibandingkan dengan kehidupan menjadi seorang manusia. Bila kehidupan yang luhur saja dianggap tidak menguntungkan, tentu kehidupan di alam yang rendah lebih jauh dari keberuntungan. Jadi kehidupan manusia seperti diri kita, menjadi seorang pria atau seorang wanita, merupakan berkah yang sangat luar biasa.
Jey Tsongkhapa menganggap tubuh kita ini laksana batu cintamani, ia dapat memberikan apa pun yang dikehendaki. Para mahaguru yang lain baik dari India maupun Tibet juga mengemukakan hal yang sama bahwa tubuh sebagai manusia bagaimanapun keadaan nasib hidupnya, apakah ia manusia yang sejahtera atau kurang sejahtera secara lahiriah, orang yang bodoh atau cerdas secara intelektual, bila yang ia kenakan adalah tubuh sebagai seorang manusia maka ia manyandang tubuh yang disebut oleh Jey Tsongkhapa sebagai batu cintamani atau permata pengabul harapan. Oleh karenanya di dalam Tripitaka, kepada siswanya Sang Buddha selalu berpesan dalam bentuk dialog yang berulang-ulang agar para siswanya pertama-tama mengarahkan diri untuk melatih ajaran-ajaran yang dapat mencegahnya jatuh ke dalam bentuk kelahiran yang lain. Sang Buddha menjelaskan kepada para siswanya pada saat itu bahwa usaha pertama yang harus dicurahkan oleh para siswanya adalah mencegah dirinya kehilangan kehidupan sebagai seorang manusia. Jey Tsongkhapa dalam Lamrim Chenmo mengatakan bahwa kehidupan manusia penuh keleluasaan, sulit sekali diperoleh dan mudah sekali hilang. Ini adalah kata-kata dari Mahaguru Jey Tsongkhapa berdasarkan penglihatan spiritualnya, bukan merupakan kutipan dari kitab suci.
Kemudian Sang Buddha menyatakan mengapa kehidupan sebagai manusia menjadi prioritas utama untuk dipertahankan, Sang Buddha memberikan perumpamaan di dalam sutra Mahayana bahwa suatu makhluk samsara apa pun bentuknya untuk mendapatkan kelahiran sebagai manusia adalah sama seperti sebongkah batu yang besar setinggi 12 yojana, selebar 12 yojana dan sepanjang 12 yojana, itu suatu ukuran yang sangat besar sekali, dan batu ini dapat hancur karena pukulan dari sehelai selendang sutra. Jadi Sang Buddha mengumpamakan kesulitan seorang makhluk yang kehilangan kesempatan menjadi manusia, untuk mendapatkan kembali tubuh sebagai manusia apakah pria atau wanita, bodoh atau cerdas, sejahtera atau kurang sejahtera, semuanya sama akan mengalami kesulitan seperti sulitnya bagaimana selendang sutra dapat meremukkan batu yang 12 yojaya tingginya, 12 yojana lebarnya dan 12 yojana panjangnya. Pada sutra Hinayana atau Theravada Sang Buddha juga mengumpamakan bahwa kesempatan untuk mengambil kelahiran sebagai seorang manusia bagi makhluk yang kurang beruntung untuk mendapatkannya adalah seperti kura-kura buta yang ada di dalam lautan dan diberi kesempatan 100 tahun sekali untuk muncul di permukaan laut dan pada saat itu harus berhasil memasukkan kepalanya ke dalam gelang besi yang ada di permukaan laut.
Ini adalah gambaran-gambaran mengapa para mahaguru baik di India maupun di Tibet juga di tempat-tempat yang lain mengajarkan bahwa usaha yang harus dicurahkan atau dilakukan oleh para siswa penganut Dharma Sang Buddha adalah bagaimana mencegah agar kehidupan sebagai manusia tidak hilang dan bila telah didapatkan maka harus dimanfaatkan semaksimal mungkin terutama sekali dipertahankan dari kemungkinan kehilangan tadi. Itulah sebabnya mudah bagi kita untuk mengerti bahwa Jey Tsongkhapa menyatakan tubuh manusia adalah batu cintamani. Kemudian Mahaguru Shantideva menyatakan bahwa tubuh kita adalah perahu yang dapat menyeberangkan ke mana pun kita inginkan. Guru Atisha menyatakan bahwa tubuh manusia merupakan tubuh pintu bagi narapidana samsara untuk segera melarikan diri dari berbagai penderitaan terpenjara di sini.
Bila para mahaguru telah menghargai sedemikian tinggi tubuh sebagai seorang manusia, maka sebagai manusia kita harus mendengarkan apa kata beliau-beliau tersebut dan merenungkan makna yang tersurat di dalamnya. Sang Buddha menyatakan berkali-kali di dalam Tripitaka bahwa tujuan utama praktik ajarannya adalah mempertahankan agar kita tidak kehilangan butuh sebagai seorang manusia. Pertanyaan bagi kita semua (bagi diri kita masing-masing) adalah sejauh mana kita dapat memastikan bahwa kita tidak akan kehilangan tubuh ini pada saat kematian terjadi pada diri kita nanti. Oleh karena berbagai aspek kehidupan kita telah terbiasa dalam bentuk hal-hal yang tidak terlatih, kita tidak melatih diri kita dengan baik berkaitan dengan kegiatan tubuh kita, ucapan kita, dengan pikiran kita; sudah tentu dapat dipastikan bahwa banyak hal yang memungkinkan kita untuk kehilangan kehidupan sebagai seorang manusia bila kita tidak segera memperbaiki dan memodifikasi jalan dan cara hidup kita. Oleh karenanya kita perlu mendengarkan ajaran para Guru, kita perlu membaca berbagai tulisan para Guru, tujuannya untuk memberi kepastian sejauh mana usaha-usaha yang telah kita lakukan saat ini agar diri kita tetap memiliki kehidupan sebagai seorang manusia.
Telah sering kita dengar bahwa setiap orang dalam melakukan kebaikan kurang sekali intensitasnya. Setiap manusia dalam melakukan kebajikan sudah pasti kurang sekali semangat maupun intensitas dalam jumlah kebajikan yang dilakukan. Bahkan Pabongka Rinpoche menyatakan bahwa kalaupun seseorang melakukan kebajikan maka kebajikan yang dilakukannya itu jarang sekali sepenuh hati; kebajikan yang dilakukannya kadang-kadang setengah hati atau bahkan seperempat hati atau seperberapa hati. Ini berbeda sekali dengan perbuatan yang bukan merupakan kebajikan, misalnya menonton TV, bila kita menonton film yang bagus dan orang lain membuat suara-suara maka kita akan segera mengambil remote untuk memaksimalkan volume TV supaya kita dapat berkonsentrasi 100% terhadap jalan cerita yang sedang kita tonton. Ini adalah contoh bentuk fokus luar biasa yang biasa dilakukan oleh manusia pada kegiatan di luar kebajikan. Bila kita melakukan hal yang lain, kita sedang bersantai misalnya atau membaca majalah, mendengarkan musik, kita juga mencurahkan seluruh perhatian kita sampai tidak mendengar suara yang lain, sampai kita tidak memperhatikan hal-hal yang lain. Bahkan ibu-ibu kalau menonton sinetron kadang-kadang masakannya menjadi hangus, dan banyak hal yang terbengkalai. Ini adalah cermin bahwa konsentrasi begitu luar biasa pada kegiatan di luar kebajikan. Bila dilihat dari unsur karma, karma apakah yang dapat dikumpulkan oleh seorang penonton telenovela misalnya, atau seorang pendengar musik, atau seorang yang membaca majalah atau koran dengan sepenuh hati? Tentunya ini menjadi pertimbangan bagaimana kita harus bijaksana menggunakan waktu kita. Tidak perlu saya ulangi lagi bahwa kebajikan yang kita lakukan intensitasnya sangat kurang sekali, konsentrasinya juga sangat kurang, yaitu bila melafal mantra sering menyingkatnya, bila meditasi maka kita bermeditasi sepersekian dari waktu yang kita gunakan untuk menonton film di mana kalau film durasinya 2 atau 2,5 jam dari mulai kelihatan judul filmnya kita sudah membetulkan tempat duduk, mengambil minum, mengambil makanan kecil, membuat duduk kita nyaman, semua orang bahkan kalau ada dering telepon kita bilang tidak ada; tetapi ketika bermeditasi, kalau telepon berdering maka kita segera menjadi resah dan kehilangan konsentrasi, jarang kita menunda mengangkat telepon yang berdering manakala sedang berdoa atau sedang bermeditasi tetapi biasanya sebagian besar dari Anda begitu mendengar telepon berdering langsung loncat dan tidak kembali duduk bermeditasi lagi. Ini berbeda dengan konsentrasi kita ketika sedang menonton film atau memperhatikan suatu siaran tertentu.
Jadi mudah untuk dianalisa bahwa dengan demikian bila sekarang hidup kita sekarang telah berlari sejak dilahirkan sampai 30 atau 50 tahun, akumulasi kebajikan kita sangat minim sedangkan akumulasi kesia-siaan luar biasa mendominasi sebagian besar dari waktu hidup kita. Itulah sebabnya Pabongka Rinpoche menyatakan bahwa sebagian besar orang walaupun mereka gemar melakukan ibadah, mereka tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Misalnya Anda di sini duduk melakukan puja, walaupun session ini hanya berlangsung 2 jam, dari awal kaki sudah tidak betah, kemudian meninggalkan konsentrasi melafal karena mendengar suara orang-orang bergantian, melihat siapa yang datang dan berpikir apakah perlu ditolong atau tidak, kemudian juga berpikir tentang hal-hal yang lain, dan masih lagi diganggu dengan perasaan ingin ke toilet, balik lagi, kemudian kita melafal lagi sambil memikirkan hal-hal yang lain, dan sebagainya. Ini adalah kenyataan-kenyataan yang ada pada diri setiap penganut ajaran Sang Buddha, bukan hanya kita yang di sini, tetapi Pabongka Rinpoche menyatakan ini karena beliau yang hidup pada abad ke-18 melihat bahkan di Tibet pada masa itu juga sama keadaannya seperti kita di mana orang berdoa kadang-kadang sambil melihat satu sama lain, kalau ibu-ibu bertanya “Kamu tadi masak apa?” “Oh saya tadi masak ini,” dan seterusnya; lama-lama doanya terbengkalai malah berbicara soal masak-memasak dan sebagainya. Kemudian kalau ada teman yang sudah lama tidak ketemu, konsentrasi kita berpindah ke hal yang lain. Guru Atisha juga secara ringkas menyatakan bahwa bila kita menghadapi situasi yang demikian, “Bila sendirian kendalikan pikiranmu, bila bersama dengan orang lain kendalikan ucapanmu.” Jadi bila sendirian kita harus memastikan bahwa pikiran kita tidak berkeliaran atau melakukan aktivitas yang keliru, tetapi bila bersama dengan orang lain yang kita perhatikan bukan pikiran tetapi mulut kita yaitu kata-kata atau ucapan kita.
Kehidupan sebagai seorang manusia akan sangat berharga bila diukur dari ukuran spiritual yaitu ukuran Dharma. Bila ukurannya bukan Dharma maka mudah sekali bagi kita untuk menghina atau menilai-nilai berdasarkan keadaan lahiriahnya. Di dalam delapan dharma duniawi di mana setiap orang senang memperoleh tidak senang kehilangan, senang dipuji tidak senang dicela, dan seterusnya; berkembang di dalam dunia ini bahwa setiap orang dinilai berdasarkan keadaan lahiriahnya. Kita akan segera mengekspresikan raut wajah yang gembira manakala kita bertemu dengan orang yang secara lahiriah menyenangkan kita tetapi kita akan berekspresi kurang gembira manakala bertemu dengan orang yang kurang menggembirakan secara lahiriah. Ini adalah faktor mental yang disebabkan oleh kebiasaan hidup di dunia kita yang sudah berjalan selama bermilyar-milyar tahun. Oleh karenanya penilaian yang dilakukan oleh guru Atisha, oleh Jey Tsongkhapa, oleh Mahaguru Shantideva, terhadap tubuh manusia yang sangat luar biasa ini bukanlah penilaian lahiriah yang dikaitkan dengan status seseorang, harta benda seseorang, ketampanan, kecerdasan, dan sebagainya; tetapi didasarkan pada kemanusiaan atau eksistensi sebagai manusia itu sendiri. Jadi tidak didasarkan pada berbagai hiasan lahiriah, apakah yang disebut sebagai hiasan lahiriah manusia? Yaitu ekspresi keadaan hidupnya yang disebabkan karena pengaruh karma masing-masing dari setiap orang. Penilaian spiritual yang dimaksud itulah yang dapat membawa pada kesimpulan tubuh ini sangat bermanfaat dan sangat mahal harganya. Para Guru dan para Arya di India, mulai dari Sang Buddha dan para penerusnya sampai dengan para Guru di Tibet juga di Tiongkok dan di mana saja ajaran Sang Buddha dianut, telah mendapatkan bahwa Dharma disebarluaskan melampaui keadaan lahiriah dan melewati penilaian-penilaian lahiriah. Dharma disebarkan tidak dalam kaitannya dengan suatu pertimbangan atau penilaian lahiriah tetapi berdasarkan penilaian Dharma dan kemanusiaan itu sendiri. Maksudnya adalah pada zaman Sang Buddha, Sang Buddha menerima siswanya dari bermacam-macam orang, bermacam-macam manusia dari berbagai macam latar belakang. Di antara siswa Sang Buddha tersebut seperti yang dapat kita baca dari Tripitaka, ada yang namanya Raja Ajatasatru, ada Raja Bimbisara, kemudian ada di antara pengusahanya yang benama Anatapindika, ada Pangeran Jeta dan sebagainya; itu adalah golongan tersendiri dari para siswa Sang Buddha. Kemudian di antara siswa beliau juga ada para pertapa atau pengelana yaitu orang-orang yang secara sosial sama sekali berbeda dengan kelompok yang pertama tadi, karena para pertapa pada zaman itu dalam hidupnya mereka hanya memiliki satu mangkok dan selembar kain untuk menutup tubuhnya. Jadi para pertapa tersebut secara lahiriah memang sangat menggambarkan bagaimana samsara ini memang menyedihkan. Kemudian dalam Tripitaka juga diungkapkan bahwa siswa Sang Buddha tidak seluruhnya adalah orang-orang yang bahagia dalam pengalaman kehidupannya. Ada siswa Sang Buddha yang sebelumnya adalah seorang pelacur, ada yang sebelumnya orang yang sial melulu seperti yang saya ceritakan beberapa waktu yang lalu, ada siswa Sang Buddha yang merupakan orang yang sangat berpengaruh dan sebagainya. Semuanya diterima oleh Sang Buddha dalam rangka memanfaatkan kelahiran sebagai manusia yang sangat berharga ini.
Sekarang kita telah mengerti bahwa tubuh kita sangat berharga berdasarkan penilaian spiritual. Di manakah letak berharganya tubuh kita? Di manakah letak berharganya kehidupan sebagai seorang manusia? Kita semuanya mengerti bahwa meskipun kehidupan sebagai manusia diwarnai oleh berbagai kekacauan, berbagai ketidakpuasan, berbagai kesedihan yang mengerikan, penyakit yang mengerikan, tetapi di balik gelora berbagai kekurangan samsara tersebut, di dalam diri kita, di dalam tubuh kita ini, bila diaduk-aduk maka kita akan menemukan apa yang disebut sebagai Arya Maitreya sebagai Tathagatagarbha atau benih-benih Kebuddhaan. Apakah di dalam tubuh seorang penyamun, apakah di dalam tubuh seorang tukang sapu, apakah di dalam tubuh seorang raja, atau di dalam tubuh inkarnasi seorang makhluk suci, semuanya di dalam diri masing-masing ada yang disebut sebagai Tathagatagarbha atau benih Kebuddhaan. Orang-orang yang diliputi karma masa lalu yang sangat buruk, menjauhkan dirinya untuk menyadari apa yang dimiliki dalam dirinya sendiri sehingga mereka mencari sumber kebahagiaan dan sumber kegembiraan ke sana kemari, melihat keluar, menganggap kebahagiaannya ada di dalam benda-benda, ada di dalam perasaan-perasaan, ada di dalam sentuhan-sentuhan, atau ada di dalam rupa tertentu. Tetapi bagi mereka yang sudah mulai mengerti secercah kebijaksanaan maka orang ini akan mulai melakukan pencarian sumber kebahagiaan itu di dalam dirinya sendiri; bukan di dalam makanan yang pedas, bukan di dalam makanan yang lezat, bukan di dalam kenyamanan lahiriah, tetapi di dalam dirinya sendiri. Bila ternyata kita termasuk di dalam mereka yang bijaksana karena secara lahiriah kita memiliki 8 kondisi yang menunjang, kita juga memiliki kondisi dalam yang menunjang, kita harus mencurahkan perhatian kita untuk memanfaatkan kesempatan yang sangat langka ini.
Di dunia kita, setiap hari manusia yang baru datang. Di rumah-rumah sakit bersalin setiap malam, setiap pagi, setiap siang, terdengar tangisan bayi yang baru dilahirkan. Di tempat-tempat praktik dokter, pasangan suami-istri yang baru atau yang lama, mereka bergembira mendapat kabar memiliki anak yang mulai berkembang di dalam kandungan istri mereka. Ini artinya bahwa makhluk yang datang ke dunia ini terus dan akan semakin banyak sepanjang tahun, sepanjang masa, begitu seterusnya. Apakah tujuan mereka datang ke dunia ini? Untuk apakah bayi-bayi dilahirkan? Apakah mereka datang ke sini untuk mengalami suka dan duka? Apakah untuk merubah dunia ini, agar semuanya menjadi ilmuwan dan membuat perangkat-perangkat kehidupan yang baru? Membuat penyakit yang lama menjadi tidak ada dan membuat penyakit yang baru bisa dihadapi? Itu semua adalah tujuan samsara biasa yang diciptakan oleh manusia sendiri, tetapi Dharma menyatakan bahwa setiap tangisan bayi di rumah bersalin, sebab adanya janin yang tumbuh dalam kandungan seorang wanita, adalah karena makhluk-makhluk samsara ini belum membebaskan dirinya dari belenggu karmanya masing-masing. Bila bayi telah dilahirkan maka ia akan tumbuh menjadi remaja, menjadi dewasa, dan akhirnya tua dan meninggal, begitu seterusnya. Terlepas dari pengalaman apa pun yang dialami oleh manusia itu, apakah ia akan menjadi seorang presiden, apakah ia akan menjadi seorang pengemis, apakah ia akan menjadi seorang pembunuh, apakah ia akan menjadi seorang penolong; setiap bayi yang dilahirkan akan mengalami kematian tanpa terkecuali, termasuk kita semuanya. Dan yang didapatkan pada saat kematian, menurut Jey Tsongkhapa adalah terkumpulnya dua macam akumulasi karma yaitu karma yang baik yang akan menyebabkan kegembiraan dan karma yang buruk yang akan menyebabkan kesedihan dan penderitaan. Jey Tsongkhapa menyatakan bahwa tubuh jasmani bisa saja dikremasi atau ditanam dan tertinggal di alam materi ini; tetapi karma, yang telah diucapkan, yang telah dikerjakan, yang telah dipikirkan, akan menyertai kita seperti tubuh yang disertai oleh bayangannya, seperti bayangan yang mengikuti ke mana pun tubuh ini pergi.
Mahaguru Dagpo Lama Rinpoche selalu menyatakan bahwa kita harus berusaha yang pertama melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya. Bila itu tidak mungkin, setidak-tidaknya kita jangan melakukan ketidakbajikan. Apa artinya? Artinya adalah bahwa bila kita memiliki kesempatan melakukan kebajikan maka kita seharusnya memanfaatkan kesempatan tersebut, bukan sebaliknya yaitu melewatkan kesempatan yang ada di hadapan kita. Jey Tsongkhapa dalam Lamrim menyatakan bahwa seorang siswa yang menyadari pentingnya karma, ia akan melihat setiap kebajikan sebagai sumber dari karma baiknya, sumber dari kebahagiaannya. Bila kita bisa berbuat dengan tubuh kita, dengan ucapan kita dan bisa melakukan pemikiran-pemikiran, itu berarti kita memiliki kesempatan untuk melakukan pengumpulan kebajikan.
Perbedaan antara seorang penganut spiritual dan bukan penganut spiritual bukanlah pada ke mana mereka pergi: kalau penganut spiritual pergi ke vihara, penganut bukan spiritual pergi ke diskotik, tempat perjudian atau tempat pelacuran, perbedaannya bukan ada di sana tetapi perbedaannya ada pada apa yang mereka lakukan. Penganut spiritual melakukan pengumpulan kebajikan melalui berbagai cara. Jey Tsongkhapa telah menyusun suatu tradisi yang luar biasa agar setiap orang yang berkarma dengan ajarannya, bertemu dengan ajarannya, dapat memanfaatkan waktu hidupnya secara maksimal dalam rangka mengumpulkan kebajikan. Bila kita berpikir tentang kebajikan atau mendengar kata kebajikan, sebagian besar orang berpikir bahwa itu adalah danaparamita, itu berarti fangsen, menolong orang, aksi sosial, donor darah dan sebagainya. Apa yang dipikirkan oleh banyak orang itu adalah benar sekali, tetapi itu hanyalah sebagian kecil dari kebajikan yang bisa dilakukan oleh penganut ajaran Jey Tsongkhapa dan ajaran Sang Buddha. Bila hanya itu yang bisa dilakukan maka tidak ada Buddha yang dapat mencapai Kebuddhaannya, bila hanya itu yang dilakukan maka tidak akan ada Bodhisattva yang mencapai tingkat Kebodhisattvaannya karena intensitas kebajikan seperti itu sungguh sangat kecil sekali bila dibandingkan dengan kebajikan yang tidak dimengerti oleh banyak orang tetapi bisa dilakukan oleh para penganut ajaran Jey Tsongkhapa dan Sang Buddha. Kebajikan bisa dilakukan berdasarkan motivasinya. Di dunia ini di mana pun tempatnya apakah di timur, barat, utara, selatan, di Afrika, Eropa, Amerika, ataupun di Asia, kebajikan merupakan hal yang menyenangkan dan kebajikan dihargai sebagai kebajikan. Tetapi kebajikan seperti itu hanya akan menyebabkan pengumpulan karma biasa yang kecil sekali dan tidak banyak mempengaruhi bentuk kehidupan kita di kemudian hari. Mungkin Anda bertanya kebajikan apakah yang kuat pengaruhnya bagi kehidupan yang akan datang? Yaitu kebajikan yang dilakukan oleh para Guru, oleh para Arya baik di India maupun di Tibet, dalam bentuk mengikuti ajaran dari para Guru pendahulunya. Bila kita hanya mengandalkan kegiatan lahiriah kita untuk memastikan kehidupan kita sebagai manusia, maka sudah pasti kita tidak akan mendapatkan kehidupan sebagai manusia lagi. Oleh karena itu dalam hal ini, keinginan untuk tetap menjadi manusia harus diwarnai dengan suatu tidakan atau kegiatan kebajikan yang melampaui kebiasaan orang di dunia ini yaitu dengan mempraktikkan sila-sila atau disiplin pengendalian diri.
Sila yang pertama tentang membunuh. Di dunia ini membunuh diterima secara luas karena membunuh dengan catatan tertentu merupakan bagian dari kegiatan kehidupan manusia. Tetapi barang siapa yang menjalankan sila akan menjauhi pembunuhan seperti menjauhi terbunuhnya diri sendiri oleh makhluk lain. Sila yang kedua, ketiga dan seterusnya juga sama demikian. Jadi kebajikan yang kita lakukan karena mengikuti ajaran Jey Tsongkhapa haruslah kebajikan yang berbeda dengan orang lain. Orang lain cukup puas hanya dengan berdana beberapa puluh ribu rupiah, orang lain cukup puas hanya ikut kegiatan donor darah dan sebagainya; maka para pengikut ajaran Guru spiritual, mereka akan memimpikan kebajikan yang lebih besar lagi karena kebajikan itulah sumber dari segala kebahagiaan bagi dirinya sendiri maupun bagi makhluk yang lain.
Jey Tsongkhapa merangkai berbagai puja yang tujuannya adalah untuk mengumpulkan kebajikan, oleh karenanya bila kita mengabaikan ajaran Jey Tsongkhapa dan mengabaikan puja-puja itu atau meringkas-ringkasnya, dan kita selalu berpikir bahwa tabungan kebajikan kita berasal dari danaparamita atau dari berbagai sumbangan kita, itu adalah pemikiran yang sangat keliru dan bukan pemikiran yang berasal dari ajaran para Arya. Para Arya mengajarkan kepada kita: nyatakan berlindung kepada Sang Buddha. Bila kita menyatakan berlindung kepada Sang Buddha dengan sepenuh hati, dari lubuk hati kita dan bukan hanya dari mulut saja, maka para Buddha akan mencegah kita terjatuh ke alam yang rendah dan memberikan perlindungan kepada kita selama 24 jam, sepanjang hidup kita, selama kita berada di dalam samsara, sehingga tidak ada makhluk lain mana pun juga dan tidak ada kemalangan apa pun juga yang dapat mengganggu dan menyebabkan kita mengalami kesedihan. Oleh karenanya kita harus mengkaji secara berulang-ulang bagaimana sesungguhnya berlindung kepada Sang Buddha dari lubuk hati.
Bagaimana caranya menyatakan berlindung kepada Sang Buddha dari lubuk hati bukan pekerjaan yang mudah, bukan kegiatan yang mudah untuk dilakukan; oleh karena itu kita harus mengikuti tradisi para Guru Kadampa yaitu dengan merenung, belajar, merenung, belajar, dan seterusnya, sehingga akan sampai pada pengertian dan keadaan yang demikian. Setidak-tidaknya pada saat kita menyatakan berlindung kepada Sang Buddha, seyogianya kita membuang segala pikiran lain yang tidak ada hubungannya dengan perlindungan, kemudian meredakan pikiran kita, lalu memvisualisasikan (bila tidak di depan altar) bahwa Sang Buddha mendengar ucapan kita, kemudian kita menyatakan berlindung (bila memungkinkan dengan tangan beranjali) dengan cara yang khidmat. Ini adalah cara berlindung dari lubuk hati. Bila perlindungan kita disertai dengan sikap hormat yang tulus dengan cara bernamaskara, Karmavibhangga menyatakan bahwa setiap partikel yang tertutup oleh tubuh kita ketika bernamaskara dengan tulus, akan menjadi akumulasi kebajikan yang memungkinkan kita untuk menjadi seorang Cakravarti. Jadi bila seorang penganut ajaran yang tulus berlindung kepada Sang Buddha kemudian bernamaskara dengan tulus, maka semua partikel yang tertutup oleh tubuhnya akan menjadi ladang tanaman kebajikan yang akan menyebabkannya menjadi seorang Carkravarti. Bila ia melakukan penghormatan yang tulus dan kuat kepada Sang Buddha dengan berpikir bahwa Sang Buddha adalah seorang Arhat, Samyaksambuddha, Bhagavan; tentu karmanya akan sangat besar bila saya membawa segelas air putih, sepotong buah, sebungkus makanan dan mempersembahkan kepadanya, bila ini yang memenuhi pikirannya kemudian ia melakukan persembahan makanan atau persembahan yang lain dan meletakkannya di altar dengan hormat, kemudian menyatakan kalimat-kalimat persembahan, maka ini akan menjadi kebajikan yang luar biasa dan tak terlukiskan bahkan oleh para Arya.
Bila kita melihat Sang Buddha Sakyamuni menjadi seorang Buddha, itu juga karena persembahan yang dilakukannya, karena pranidhana yang diucapkannya. Ketika Sang Buddha Sakyamuni belum menjadi seorang Buddha dan hidup sebagai seorang penduduk desa di mana pada waktu itu Sang Buddha Dipamkara melewati desanya dan jalan di desanya becek karena sedang musim hujan, Sang Buddha Sakyamuni yang ketika itu masih sebagai orang biasa merebahkan tubuhnya dengan berpikir bahwa Sang Buddha Dipamkara kakinya akan kotor oleh lumpur yang ada di jalanan itu. Karena Ia seorang Bhagavan, seorang Arhat, seorang Samyaksambuddha, karmanya bila saya menolongnya akan sangat luar biasa sebagaimana yang diceritakan di dalam ajaran para Buddha. Sang Buddha Sakyamuni yang ketika itu sebagai orang desa membaringkan dirinya di atas lumpur dan memohon kepada Sang Buddha Dipamkara untuk menginjaknya supaya kakinya tidak terkena lumpur. Setelah kejadian itu Buddha Dipamkara bertanya kepadanya, “Apakah yang Engkau inginkan dengan apa yang telah kaulakukan?” “Sang Buddha, tidak ada yang saya inginkan kecuali pada saatnya nanti saya ingin menjadi seorang Buddha seperti Anda.” Buddha Dipamkara berkata, “Keinginanmu akan terpenuhi pada saatnya nanti.” Jadi bila sekarang kita menghormati Sang Buddha Sakyamuni, itu adalah berkat persembahannya kepada Buddha Dipamkara berupa kenyamanan agar kakinya tidak menyentuh lumpur. Ini adalah contoh bahwa kebajikan yang besar tidak didapatkan melalui berbagai pemberian lahiriah kepada orang yang sesama penghuni samsara. Para Guru menyatakan bahwa orang bodoh tidak bisa menolong orang yang bodoh, orang buta tidak bisa menuntun orang yang buta, orang yang tidak pandai berenang tidak bisa menolong orang yang akan tenggelam. Jangan mengikatkan dirimu pada sesuatu yang akan menyebabkanmu tenggelam di dalam lautan samsara; tetapi ikatlah dirimu, tubuh, ucapan dan pikiranmu pada sesuatu yang akan menyebabkanmu keluar dari penderitaan samsara; yaitu mengikatkan diri kepada para Arya yaitu para Buddha, para Bodhisattva dan segala bentuk manifestasinya.
Oleh karena ajaran inilah maka di India, para raja duduk dengan di takhtanya dan memegang mala di tangannya mengucapkan berbagai doa-doa serta mantra. Apakah tujuannya? Tujuannya adalah untuk mengikatkan diri kepada para Arya, yaitu para Buddha-Bodhisattva tertentu yang menjadi tujuan dari kehidupan samsaranya kemudian. Mereka tidak mengucapkan nama-nama dewa, mereka tidak mengucapkan nama orang-orang tertentu; mereka tidak berbaik hati kepada orang biasa saja atau orang-orang di sekelilingnya, tetapi mereka lebih mencurahkan seluruh intensitas kehidupannya juga seluruh energinya untuk mengikatkan dirinya kepada seorang Istadevata, yaitu seorang Arya apakah Buddha atau Bodhisattva. Para penganut Gelugpa, para penganut ajaran Jey Tsongkhapa, mengikatkan dirinya dengan seutas benang yang berasal dari jantung Arya Maitreya dalam visualisasinya. Bila siang hari mereka baik kepada anak-istrinya, kepada suami dan keluarganya, bila di siang hari mereka bergaul dengan orang di sekeliling kehidupannya; tetapi pada saat-saat senggang mereka akan duduk di kamarnya apakah di siang hari atau di malam hari, dan mereka akan berpikir tentang Jey Tsongkhapa yang ada di Surga Tushita yang berada di hadapan Arya Maitreya dan melafalkan doa-doa kepadanya agar kelak bila daya hidup telah habis, bila pelita yang menyalakan kehidupannya sebagai seorang manusia telah padam, kesadarannya akan dapat muncul di sana karena kuatnya ikatan yang telah dijalin sepanjang hidupnya. Ini juga dilakukan oleh para Arya di India kepada berbagai istadevata. Para pemuja Arya Avalokiteshvara seperti Pabongka Rinpoche, mereka akan mengucapkan nama Arya Avalokiteshvara yaitu mantra enam suku kata sebanyak 50 ribu kali setiap malam. Bila orang lain telah tidur dan terlelap, maka para Arya ini mencurahkan perhatian pada tujuan utamanya dari segala praktik spiritualnya. Sama seperti seseorang yang sepanjang hari di siang hari atau malam hari ingat pada kekasihnya, ketika makan ia ingat kekasihnya, ketika tidur ia ingat kekasihnya, dan perpisahan sama sekali membuatnya tidak nyaman; para Arya ini telah mengembangkan suatu kesadaran di mana mereka selalu merasa tidak nyaman bila belum bertatapan muka dengan istadevata atau yidam atau Arya yang menjadi objek ibadahnya. Kita harus mencontoh mereka semuanya untuk meningkatkan manfaat yang besar dari kehidupan sebagai seorang manusia. Jangan sampai terjadi kita menganggap diri kita penganut ajaran Jey Tsongkhapa tetapi tidak mengerti bagaimana mendekati Jey Tsongkhapa, kita menganggap diri kita penyembah Arya Tara tetapi kita hanya menyebut nama Arya Tara 3 kali di malam hari dan 3 kali di siang hari. Kita meminta perlidungan Sang Triratna tetapi kita sama sekali melewatkan pagi dan malam tanpa mengucapkan perlindungan tersebut. Sikap kerinduan seperti itu, di India digambarkan seperti seekor burung Papiha yang hanya meminum air yang berasal dari tetesan hujan. Walaupun ia ada di dekat danau atau aliran air, bila air hujan tidak turun ia tidak akan minum sama sekali, dan sepanjang siang dan malam ia akan memekikkan panggilan-panggilan bagi turunnya air hujan. Burung Papiha ini digambarkan oleh para Arya sebagai cerminan dari jiwa yang sudah maju, dari seorang sadhaka yang sudah maju, di mana jiwanya akan merasa hampa jika berlum berada di hadapan istadevatanya atau belum melihat raut wajah dari istadevatanya, sehingga mereka siang dan malam terus berkonsentrasi dan melakukan pelafalan.
Akhirnya kita mengerti bahwa tubuh kita sangat berharga, jangan disia-siakan hanya sekadar untuk menumpuk harta benda saja, atau mengejar kedudukan, atau mencari ketenaran, atau menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak berguna seperti minuman keras, perjudian, dan segala kemaksiatan; tetapi kita harus memeliharanya seperti seorang pemilik tumbuhan yang berharga, bila dipelihara dengan baik maka ia akan mendatangkan buah yang menyenangkan di kemudian hari. Tubuh kita harus diperlakukan dengan baik karena seperti yang disebutkan oleh Guru Atisha, tubuh kita adalah pintu untuk melarikan diri dari penderitaan samsara. Kalaupun mungkin sekarang kita mengalami penderitaan karena ekonomi, karena penyakit, karena pertentangan keluarga, karena pertentangan lingkungan atau masyarakat, itu adalah karma masa lalu kita. Bila kita menahan diri untuk menghindari penyebab-penyebabnya yang baru maka di masa yang akan datang kita tidak akan mengalaminya lagi, tetapi bila kita terbawa atau terpancing untuk melakukannya lagi maka tidak akan menyebabkan penderitaan kita berhenti di mana setiap api yang berkobar seharusnya didiamkan saja hingga akhirnya padam tetapi sebaliknya orang-orang yang bodoh menuangkan mentega ke atasnya sehingga ia tidak akan pernah padam. Penderitaan tidak akan pernah padam bila kita tidak melihat ke dalam diri kita, tidak menemukan esensi kebahagiaan di dalam diri kita. Dengan mengerti makna dari ungkapan Guru yang demikian, maka siapa pun diri kita, kaya atau miskin, banyak mengalami kesulitan hidup atau tidak, disulitkan oleh karma masa lalu atau tidak; kita pantas mensyukuri kehidupan saat ini, lupakan segala belenggu dan kesedihan duniawi, anggaplah sebagai akibat dari karma masa lalu, itu adalah ungkapan dari Guru Atisha. Bila kita berada dalam keadaan pikiran yang benar seperti ini maka kehidupan kita menjadi ladang yang subur bagi kebahagiaan. Dengan demikian kita sampai pada kesimpulan bahwa tujuan utama praktik ibadah kita dari segala bentuk persembahan, mempelajari Dharma, berbagai bentuk pelafalan; pertama-tama adalah agar kita tidak jatuh ke alam yang rendah, dan utamanya kita tetap menyandang tubuh sebagai seorang manusia hingga kita mencapai pencerahan sebagai seorang Buddha di kemudian hari.
