Pentingnya Melatih Diri dan Mempraktikkan Dharma
Upashaka Pandita Sumatijnana
Kita semuanya harus senantiasa ingat dan waspada terhadap kehidupan kita karena menurut Guru Atisha kita sekarang hidup pada zaman kemerosotan, di mana beliau mengatakan dalam Hridayanikari Patanama atau Sari dari Ajaran Suci, bahwa di masa kemerosotan ini hidup sangatlah singkat, terdapat banyak sekali penyakit serta kehinaan, kemalangan mengelilingi dan kesulitan membelenggu kehidupan. Kita tak akan dapat hidup lama di sini, oleh karenanya kita tidak memiliki waktu untuk mempelajari berbagai ajaran dengan seksama.
Jadi ini adalah nasihat seorang Mahapandita, seorang Guru yang sempurna, yang hidup kira-kira pada abad ke-10 yaitu tahun 1.000. Guru Atisha telah meluangkan seluruh waktu hidupnya, bukan hanya seminggu sekali atau sebulan sekali seperti kita di mana kita puja kalau hanya pada hari Rabu atau Capsi atau Capgo, tetapi Guru Atisha yang walaupun beliau lahir dalam kemegahan istana menjadi seorang putra mahkota dari suatu kerajaan di Benggala, Guru Atisha sejak sangat muda telah menaruh minat yang besar pada Dharma. Oleh karenanya Guru Atisha mempelajari Dharma dari berbagai Guru sehingga dalam sejarah dikatakan Guru Atisha telah mendengar ajaran Sang Buddha dari berbagai transmisi, dari berbagai silsilah ajaran, sehingga Guru-guru yang telah memberikan ajaran kepada beliau lebih dari seratus orang Guru. Ini bukan hanya suatu hal yang sangat menarik, mungkin kita tidak dapat mengukur bagaimana seorang siswa memiliki lebih dari seorang Guru karena kita hidup di zaman yang penuh kemudahan dan ajaran-ajaran diberikan secara bebas tanpa melalui permohonan atau request terlebih dahulu, juga kita dapat mendengarkan berbagai ajaran yang mendalam walaupun interest kita mungkin baru muncul belakangan. Ini berbeda pada zaman dahulu kala, pada abad ke-10 di mana Guru Atisha mencari ajaran, pada zaman itu semua ajaran bersifat terbatas dan Guru-guru berjauhan, tinggal di berbagai pegunungan, ada yang di vihara kalau dia seorang bhiksu, kalau dia seorang yogi tentu tinggal di gunung, di gua atau di kuburan, kalau dia seorang perumah tangga mungkin tinggal di berbagai desa. Guru Atisha lahir di daerah Benggala kemudian beliau pergi ke India Timur, India Selatan, ke daerah pegunungan Kailasa, kemudian juga menyeberangi lautan sampai di Sriwijaya. Untuk mendengar satu tema ajaran tentang Bodhicitta, Guru Atisha harus mengarungi lautan selama 13 bulan dan mempelajarinya dengan seksama selama 12 tahun di Sriwijaya. Metode ini juga digunakan Guru Atisha terhadap berbagai tema ajaran Sang Buddha yang lain, termasuk ajaran Sutra, Abhidharma, Madhyamika dan sebagainya. Dan untuk mendapatkan ajaran-ajaran ini beliau telah meluangkan usianya sejak sangat dini, sejak remaja telah meninggalkan keluarganya dan menjadi seorang yogi, akhirnya menjadi seorang bhiksu. Oleh karenanya nasihat beliau itu bukan nasihat yang diucapkan oleh orang biasa atau Guru biasa tetapi seorang Mahapandita, Guru yang mengerti benar makna seluruh kitab suci, juga Guru yang telah melihat masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, yang akan terjadi di dalam samsara ini.
Jadi beliau menyatakan bahwa hidup manusia sekarang ini sangat singkat, banyak penyakit dan banyak kehinaan. Kita melihat berbagai penyakit membelenggu atau merisaukan kehidupan umat manusia. Kita melihat sekarang mulai banyak rumah sakit yang menspesialisasikan dirinya, ada rumah sakit tertentu khusus untuk orang-orang yang kena kanker, ada rumah sakit macam-macam yang lain, yang kesemuanya mencerminkan bahwa di alam samsara yang sekarang ini kendatipun kita menyebutnya peradaban telah maju kemudian teknologi telah banyak menolong kehidupan manusia tetapi penyakit sama sekali sesuatu yang tidak dapat dengan tuntas ditaklukkan oleh manusia walaupun kini kita telah menganggap kehidupan kita sudah jauh lebih maju dibandingkan dengan 1.000 tahun yang lalu, yaitu ketika Guru Atisha mengucapkan kata-kata ini. Mengapa demikian? Karena salah satu pelengkap dari kehidupan manusia adalah adanya penyakit-penyakit. Mengapa manusia harus sakit? Karena sebagian manusia harus menjalani karmaphalanya dengan suatu ekspresi, dengan suatu pengalaman, kesedihan, ketersiksaan oleh karena kekuatan karma masa lalunya dan itu secara lahiriah dianggap sebagai penyakit-penyakit. Oleh karena itu sampai kapan pun kehidupan di dalam samsara, itu tidak akan dapat dijauhkan dari adanya berbagai penyakit tadi.
Mahaguru Shantideva mengatakan bahwa sesungguhnya siapakah yang menyebabkan kita menjadi sakit, siapakah yang menyebabkan kita meninggal sebelum waktunya, siapakah yang menanduk kita sampai jatuh ke alam-alam yang rendah, siapakah yang menyebabkan kita terperosok di dalam samudra penderitaan di alam-alam rendah, siapa yang menyiksa kita dengan pisau atau taring yang tajam di alam neraka, dengan panas yang membara dan berkobar di alam neraka? Mahaguru Shantideva menyatakan sebabnya adalah pikiran buruk kita sendiri, bukan dewa, bukan brahma atau sebab-sebab yang lain, tetapi sebabnya adalah pikiran negatif diri kita sendiri. Tidak ada gajah yang lebih menakutkan dari pikiran yang buruk, tidak ada macan, beruang atau objek eksternal mana pun yang lebih menakutkan dibandingkan pikiran yang buruk. Gajah yang paling ganas dan gajah yang gila sekalipun, paling-paling hanya bisa mematahkan tulang-tulang kita karena injakannya, juga binatang-binatang yang lain paling-paling hanya menggigit kita dan menyebabkan kita meninggal sekali. Tetapi pikiran yang negatif menyebabkan kita berkali-kali meninggal, berkali-kali mengalami kesakitan dan mengalami penderitaan. Itu adalah nasihat dari Mahaguru Shantideva, jadi penyebab segala keluh kesah, segala penyakit, segala kemerosotan di dalam kehidupan kita saat ini tidak lain merupakan pikiran kita sendiri.
Guru Atisha menekankan bahwa hidup kita sekarang banyak keterbatasan, oleh karena itu jangan memiliki kehendak yang berlebihan dalam mempelajari dan mempraktikkan Dharma. Maksud beliau adalah karena waktu kita terbatas di mana hidup kita sudah sangat terbatas juga masih disita oleh berbagai kepentingan lahiriah duniawi, oleh karena semua kepentingan lahiriah duniawi itu belenggu karma: suami datang kepada kita walaupun telah merepotkan kita sejak menikah sampai dia meninggal, ikatan mereka itu hanyalah karma saja, kemudian istri kita juga, anak-anak kita dan segala handai tolan, segala ikatan keluarga, segala persahabatan, itu hanya merupakan aktivitas yang didorong oleh kekuatan karma masa lalu kita. Bila karma itu telah usai, bila seorang penagih telah dibayar, bila orang telah mendapatkan apa yang diinginkan maka ia akan satu per satu meninggalkan kita dan meneruskan pengembaraannya masing-masing. Sementara kita akan terus bertanggung jawab terhadap apa-apa yang kita telah ucapkan, apa yang telah kita pikirkan dan lakukan. Ini yang menjadi esensi dari kehidupan yang kita jalani saat ini, oleh karena begitu pentingnya arti pengendalian pikiran, perbuatan dan kata-kata maka kita harus senantiasa mengingat akan dampak serta manifestasi dari aktivitas ketiga pintu hidup kita itu agar kita tidak tertanduk olehnya sehingga jatuh ke dalam penderitaan seperti yang diumpamakan oleh Guru Shantideva tadi. Merupakan persoalan yang sangat mendesak agar setiap orang melatih dirinya untuk belajar membuat kepastian bagi dirinya sendiri bahwa ia tidak akan jatuh ke alam yang rendah, ia akan bebas dari segala kesengsaraan samsara biasa maupun kesengsaraan samsara khusus. Itu semuanya tidak berdasarkan pada Sang Buddha sendiri, itu bukan tergantung pada berapa banyak dia belajar, itu bukan tergantung pada berapa lama dia melatih diri, bukan tergantung pada aspek-aspek eksternal yang lain, tetapi tergantung pada kemauan dan kehendak diri kita sendiri.
Guru Nagarjuna berkali-kali mengingatkan dalam berbagai naskah yang beliau tulis bahwa sesungguhnya setiap orang bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Para Guru selalu menuliskan dalam setiap naskah sastra tulisannya di bagian akhir sebagai penutup: Naskah ini saya tulis demi kebaikan saya sendiri, ini adalah demi latihan dan kebajikan saya sendiri. Maksudnya adalah naskah-naskah yang beliau tulis itu ditujukan untuk mendidik dirinya sendiri. Kalau ternyata nanti di kemudian hari ada yang mendapat manfaat dari naskah ini, semoga mereka juga dapat memperoleh kebajikan seperti halnya diri saya. Itu adalah cermin bahwa latihan Dharma (belajar Dharma) itu lebih mengarah kepada diri sendiri, bukan untuk suatu kepentingan perkumpulan, kebersamaan atau kelompok tetapi adalah demi diri kita masing-masing. Oleh karena hidup kita sangat singkat, keputusan yang paling baik adalah seperti yang dinasihatkan oleh Guru Nagarjuna. Beliau menyatakan tidak ada yang lebih bodoh dan dungu selain orang yang mengisi bejana emas yang berhiaskan permata dengan lumpur. Guru Shantideva menjelaskan mengenai hal ini, yang dimaksud sebagai bejana emas adalah kelahiran sebagai seorang manusia, mengisi dengan lumpur adalah menghiasinya dengan kebahagiaan sesaat yang menyebabkan penderitaan yang panjang. Mahaguru Dagpo Lama Rinpoche menyatakan banyak di antara orang dengan gembira mengorbankan kebahagiaan yang lebih panjang dan lebih memilih pada kebahagiaan yang sekarang saja. Mereka tidak mengerti bahwa kehidupan yang di kemudian hari jauh lebih lama dibandingkan durasi kehidupan kita yang sekarang. Jadi kehidupan yang sedemikian baik telah kita miliki, kemudian kita juga telah tergiring oleh karma masa lalu kita yang baik, kita berjumpa dengan ajaran Sang Buddha, dan kita harus melengkapinya dengan menyadari sekaranglah waktunya untuk melatih diri, bukan nanti, bukan besok, bukan tahun depan atau kelahiran kembali kita di masa yang akan datang tetapi sekaranglah waktunya untuk mulai memperbaiki tata cara kita dalam menempuh kehidupan ini, untuk mulai merintis pengalaman-pengalaman baru dalam menjalani kehidupan kita ini. Kita mungkin perlu merenungkan kembali sebanyak apakah sesungguhnya waktu yang kita curahkan untuk kehidupan pribadi kita dalam praktik Dharma. Dua puluh empat jam kita terus-menerus siang-malam mengejar kesenangan lahiriah yang merupakan dorongan pancaindra, kita menyenangkan telinga kita, mata kita, lidah kita, sentuhan-sentuhan, tetapi itu juga harus diseleksi apakah merupakan kesenangan sesaat yang berakibat penderitaan yang panjang di kemudian hari atau apakah ini merupakan keputusan atau sikap yang sesuai dengan ajaran Dharma.
Jadi kembali lagi kepada nasihat Guru Atisha bahwa beliau bermaksud agar kita bergegas untuk menyadari keterbatasan hidup kita dan ajaran apa pun yang kita terima kita akan berusaha melatihnya. Dalam naskah beliau yang lain, di dalam Bodhisattva Maniavali, Guru Atisha menyatakan bahwa ajaran apa pun yang baik bagimu maka bila ajaran itu sesuai dengan dirimu, laksanakanlah pendahuluannya hingga selesai. Bila semua ajaran dilakukan dengan cara demikian maka tidak ada praktik yang tidak membuahkan hasil, tidak akan ada ibadah yang tidak membuahkan hasil. Semua ibadah yang dilakukan dengan cara ini yaitu memperoleh ajaran, melakukan pendahuluannya dan menyelesaikannya, semua ajaran itu akan membawa pada keberhasilan.
Sebagian besar kita telah sibuk dengan aktivitas pancaindra kita, kita terlalu asyik dengan apa-apa yang terlihat oleh mata kita, terdengar oleh telinga kita, dapat dirasakan dengan lidah dan sentuhan kita. Kita lupa bahwa itu semuanya seperti yang disebutkan dalam Prajnaparamita Hridhaya Sutra bahwa pancaindra sesungguhnya merupakan kebalikan daripada ketiadaan, dan ketiadaan merupakan bagian yang lain daripada pancaindra kita itu. Oleh karena sebab kehadiran kita di sini juga didorong berbagai aktivitas kita berkaitan dengan menyenangkan segala bentuk keterikatan pancaindra di masa lalu, maka sekarang kita tidak ingin lagi meneruskan kebiasaan yang telah kita pupuk selama berkalpa-kalpa itu yaitu mendengar, melihat, merasakan, berpikir dan sebagainya, tetapi kita kemudian mengarahkannya ke suatu tujuan yang pasti yaitu berhentinya kelahiran dan kematian di dalam samsara.
Para Guru menyatakan cara yang terbaik untuk membatasi kita agar senantiasa bersemangat dalam kebajikan, apakah itu dalam mengumpulkan karma yang baik dengan berbagai cara misalnya berdana, melakukan offering, melakukan berbagai ibadah atau dalam hal meditasi; semuanya dapat dipengaruhi bila kita sering melakukan meditasi atau perenungan terhadap ketidakkekalan hidup kita. Bila kita menganggap hidup kita masih lama maka sering kali pikiran itu menyebabkan kita selalu bersikap menunda, menunda dan menunda segala bentuk latihan yang semestinya dapat dilakukan hari ini juga. Bila kita berpikir bahwa pada suatu ketika apa yang terjadi pada saat ketidakkekalan telah merenggut diri saya dari dunia ini, kemudian saya harus menyusuri kelahiran kembali dan mencari tempat yang sesuai bagi kehidupan berikutnya maka bagi mereka yang tidak ingin jatuh ke alam yang rendah semangat untuk melakukan kebajikan akan berkobar dalam dirinya. Bagi mereka yang tidak ingin lahir di mana pun juga, ia akan mulai mempelajari dengan seksama bagaimana caranya melakukan meditasi samatha maupun vipashana. Dan bagi mereka yang hendak menjadi para Bodhisattva atau menjadi seorang Buddha, ia akan lebih bersemangat dalam mempraktikkan paramita dan praktik Mahayana lainnya. Ini merupakan cara bagaimana pikiran kita harus dibiasakan dan didisiplinkan melalui suatu metode, bukan dibiarkan mengembara, menggeliat ke sana kemari, keluar ke sana kemari sesuka hatinya.
Ciri-ciri ajaran Sang Buddha adalah adanya usaha untuk mengarahkan hidup kita, membiasakan hidup kita dari kebiasaan hidup yang liar tak terkendali menjadi terkendali dan mengarah kepada suatu tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip yang sesuai bagi dirinya. Sang Buddha membabarkan Dharmanya sebanyak 84.000 Dharma dan masing-masing dapat dipilih sesuai dengan kesesuaian atau kecakapan setiap individu berdasarkan kapasitas penalaran dan karma masa lalunya. Tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa semua orang harus menghindari kemungkinan untuk jatuh ke dalam penderitaan yang biasa maupun yang khusus.
Kemarin kita pergi berdharmayatra ke candi, di sana kita melihat berbagai pemandangan yang menakjubkan di mana kita melihat candi-candi yang kelihatannya sulit untuk dibuat walaupun dengan peralatan modern sekarang. Apakah yang menjadi motivasi dibangunnya candi-candi itu sampai sedemikian bagusnya walaupun itu dikerjakan lebih dari 1.200 tahun yang lalu? Motivasinya adalah dalam rangka mengumpulkan kebajikan karmaphala Dharma, dalam rangka untuk mengakumulasi atau memupuk karma baik, untuk mengumpulkan karma yang besar bagi orang-orang yang melakukannya di waktu itu. Sutra-sutra menjelaskan banyak hal mengenai rincian berbagai aktivitas karma yang bisa didapatkan atau dapat dilakukan dengan tubuh sebagai seorang manusia, misalnya mendirikan tempat ibadah, mendirikan altar Sang Buddha, menghiasi altar Sang Buddha. Kalau di Candi Borobudur altar Sang Buddha dihias dengan pahatan kisah hidup beliau sendiri, kisah para Bodhisattva, tujuannya adalah bukan untuk tujuan kemegahan biasa, bukan untuk mencatat prestasi misalnya Guiness Book of Record, supaya tak tertandingi oleh masyarakat lain, tetapi itu semuanya adalah untuk mengumpulkan akumulasi karma baik. Setiap tangan yang menyentuh batu dan memahatnya dengan indah tujuannya adalah untuk berbakti kepada Sang Triratna. Sama seperti kita, banyak orang pergi ke tempat-tempat suci seperti candi atau stupa-stupa. Mereka berjubel-jubel di sana tetapi yang mendapatkan pahala adalah mereka yang pergi dengan hati penuh sraddha, yaitu saya akan mengunjungi cetiya Sang Buddha, saya akan mengunjungi altar Sang Buddha, saya berbakti di sana, saya bersujud di sana, saya melakukan persembahan di sana, saya melakukan pradaksina di sana, maka walaupun semua orang pergi ke sana tetapi pahala hanya didapatkan oleh mereka yang memiliki sraddha kepadanya sementara yang lain sama juga dengan semut dan tikus yang hidup di sana sama sekali tidak akan mendapatkan apa pun juga.
Guru Atisha pernah menasihati para bhiksu, ini sebagai contoh bahwa tidak semua orang yang tinggal di tempat suci akan mendapatkan pahala dari keberadaannya di sana, beliau menyatakan jangan mengaku sebagai seorang bhiksu meskipun engkau tinggal di vihara tetapi pikiranmu seperti orang biasa. Kemudian jangan mengaku sebagai seorang Bodhisattva bila sama sekali tidak ada cinta kasih di dalam hatimu. Ini nasihat dari Guru Atisha kepada siswa-siswanya di Tibet, Jadi semua hal yang menyebabkan keagungan dan kemegahan itu adalah keinginan untuk mengumpulkan karma yang baik, keinginan untuk mendapatkan buah dari hidup ini, buah yang menyenangkan, bukan tumbuh tanpa buah tetapi adalah untuk mendapatkan buah yang baik dalam kehidupan ini dengan cara melakukan berbagai aktivitas termasuk mendirikan candi dan menghias candi-candi itu dengan sangat indah. Bila orang-orang di masa lalu melakukan hal yang demikian di dalam mengisi masa hidupnya, kita tentu juga harus mencontoh mereka dan mengisi masa hidup kita yang sangat terbatas ini yang hanya berlangsung sekitar 60 atau 70 tahun dengan berbagai cara melakukan kebajikan dan menghindari sebanyak atau sekuat mungkin penyebab ketidakbajikan. Mengenai hal ini tentu pertama-tama kita harus selalu sadar bahwa di balik diri kita ada suatu kepastian bahwa apa pun yang dilakukan oleh tubuh, ucapan dan pikiran itu tersurat menjadi suatu karma yang harus dijalani.
Di Candi Borobudur khususnya juga dipahatkan berbagai kisah (walaupun kita tidak sempat melihat) tentang karma, di mana misalnya yang sempat kita lihat di situ ditulisi di atasnya: Virupa, artinya muka yang tidak bagus. Kenapa muka seseorang itu tidak bagus seperti bibirnya sumbing, giginya mancung, hidungnya terlalu kecil atau terlalu besar, tekstur mulutnya tidak bagus? itu disebabkan karena suka membicarakan kejelekan orang lain atau bergunjing (menurut kitab suci Karmavibangha). Kemudian kenapa seseorang dimuliakan? Juga ada sebabnya, yaitu karena dia berbicara sopan baik kepada orang yang lebih tua, kepada orang mulia maupun kepada sesama orang yang lain. Kenapa orang lahir menjadi dewa? Karena dia senang melakukan puja di hadapan cetya Sang Triratna. Kenapa orang menjadi tuan tanah? Kenapa orang menjadi raja? Kenapa orang menjadi pria atau wanita? Kenapa orang tidak punya anak? Kenapa orang ditinggal suaminya atau istrinya? Kenapa orang meninggal sebelum waktunya? Itu semuanya adalah terkait dengan aktivitas tubuh, ucapan dan pikiran kita.
Jadi langkah pertama adalah memastikan bahwa kita mulai mengenal hukum karma; mengawasi kegiatan tubuh, ucapan dan pikiran; kita mulai mengambil jarak dari dorongan untuk berbicara, kalau kita merasa ingin berbicara, Guru Shantideva menyatakan bila saya ingin berbicara dan ternyata kata-kata saya itu bisa menyakiti makhluk lain maka ia tidak akan berbicara sama sekali, Guru Shantideva menyatakan saya akan membuat lidah saya kaku seperti kayu dan saya akan berdiam diri sampai mental saya berubah, ini adalah cara yang dilakukan oleh Guru Shantideva. Kemudian bila hal-hal yang negatif lain muncul seperti pikiran yang keliru, bodoh dan malas, serta pikiran yang terikat erat pada berbagai samsara, maka kita harus segera mencari cara supaya pikiran kita itu menjadi bijaksana, bukan membabi buta terikat atau melekat kepada sesuatu pun termasuk kedudukan, kemegahan, pujian, kenyamanan dan segala hal yang lain seperti yang dicontohkan oleh para Bodhisattva. Meskipun itu tidak mudah tetapi kita harus berusaha, sering kali untuk menyebabkan kita sadar dari keterikatan yang bodoh membutuhkan cara-cara yang jitu.
Bila kita memiliki seorang Guru, Guru kita bisa menjadi inspirator yang hebat dalam menyisihkan pikiran kita (diri kita) dari berbagai keterbatasan itu. Ini seperti dalam kisah yang dialami oleh seorang mahaguru (mahasiddha) yang bernama Mahasiddha Karnaripa. Mahasiddha Karnaripa ini semula adalah seorang raja dan memiliki seorang istri (permaisuri) yang sangat mencintainya (dua-duanya saling mencintai) tetapi karena dia suka bercanda, suatu hari dia pergi dari istananya untuk berburu ke hutan dan dengan maksud bercanda dia berkata kepada para pengawalnya: “Pulanglah dulu ke istana dan katakan kepada istri saya bahwa saya mati di hutan diterkam oleh macan.” Pengawal itu pulang ke istana, istrinya kemudian melihat kedatangan tentara-tentara di mana suaminya yaitu sang raja tidak muncul, ia bertanya ke mana Sri Baginda. Para pengawal berkata Sri Baginda meninggal diterkam oleh macan, karena istrinya kaget seketika langsung shock dan jatuh meninggal di tempat, dan ketika raja mendapati istrinya meninggal setiap siang dan malam menangis tidak bisa berhenti karena cintanya (keterikatannya) yang luar biasa besar kepada istrinya. Walaupun istrinya telah diusung ke pekuburan dan dikremasikan dan hanya menyisakan abu saja, abu itu dipegang-pegang di tangannya sambil menangis dan menyebut-nyebut namanya. Setahun lewat, dua tahun lewat sampai dikatakan 12 tahun raja tersebut di situ memegangi abu jenazah istrinya yang telah meninggal. Ada seorang Mahasiddha, seorang guru Tantra yang bernama Mahasiddha Goraksa yang sedang bermeditasi dan melihat fenomena ini kemudian berusaha untuk membuka mata kebijaksanaan Dharma dari raja yang hampir gila ini. Kemudian Mahasiddha Goraksa pergi ke dekatnya, membuat jambangan dari tanah liat dan kemudian membakarnya. Setelah dibakar jambangan itu diangkat, dipuji-puji dan akhirnya dibanting pecah berantakan. Kemudian Mahasiddha Goraksa ini memungut beberapa keping pecahannya sambil menangisi dan menyebut-nyebut nama jambangan. Si raja yang juga menangis di dekatnya bertanya: “Hei pertapa gila, itu cuma jambangan kenapa kamu menangis sampai seperti itu?” Mahasiddha ini berkata: “Lho kamu jangan bilang saya gila, kamu juga gila, itu kan cuma abu kenapa kamu tangisi bertahun-tahun?” Akhirnya si raja ini berpikir benar juga, dan mulai saat itu terbuka kebijaksanaan pikirannya dan akhirnya Mahasiddha Goraksa ini mengajarkan Dharma lebih lanjut sehingga akhirnya siswa itu yaitu sang raja menjadi seorang Mahasiddha yang lain, namanya adalah Mahasiddha Karnaripa dengan diawali suatu sebab yang gampang atau mudah sekali yaitu bejana yang dijatuhkan dan kepingannya ditangisi di depan hidungnya.
Kadang-kadang kita juga harus belajar dari berbagai pengalaman hidup, seperti bila kita jenuh dalam mempraktikkan Dharma, kita juga harus belajar bahwa Sang Buddha saja mempraktikkan Dharma itu tidak mudah, Sang Buddha melakukannya selama tiga mahakalpa. Kemudian kalau kita bermeditasi sulit, sabar sulit, bermurah hati sulit dan sebagainya, itu sesuatu yang biasa, yang umum, sesuatu yang bisa terjadi pada diri kita karena itu juga pernah terjadi pada para Arya di masa lalu. Kita jangan berpikir bahwa Sang Buddha adalah seorang manusia yang mudah sekali dengan meninggalkan istana, bermeditasi dan menjadi Buddha, itu gambaran yang terlalu simpel. Sang Buddha telah menguras semua energinya sejak meninggalkan istana belajar dari banyak pertapa terutama dua pertapa yang tertinggi pada waktu itu, kemudian juga berada di hutan belantara selama 6 tahun, kita bisa membayangkan bila seseorang berada di hutan belantara selama 6 tahun, itu terjadi 2.000 tahun yang lalu di mana manusia masih sedikit dan lain sebagainya. Itu adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh Sang Buddha untuk mematangkan pengetahuan batinnya sehingga sempurna mencapai Samyaksambodhi.
Kemudian kita juga bisa belajar dari para Arya misalnya Lama Serlingpa Dharmakirti, beliau juga tidak serta-merta lahir kemudian menjadi seorang Mahaguru. Beliau berziarah ke India, berpradaksina dari satu tempat suci ke tempat yang lain, dari candi yang satu ke candi yang lain, duduk berjam-jam mendengarkan upadesha dari Guru-guru, kemudian merenungkan ajaran-ajaran dan melatihnya tahap demi tahap sampai akhirnya berhasil mencapai realisasi. Ini adalah suatu fenomena yang menjadi contoh bagi kita bahwa ketekunan, kegigihan dan kesabaran selalu akan membuahkan hasil, kapan pun dan berapa pun lamanya. Jangan sampai terjadi baru kita belajar meditasi, temanya juga belum jelas, kita hanya sekadar duduk memejamkan mata sebentar sambil berangan-angan tentang makanan, tentang film, tentang permusuhan kita, tentang nafsu-nafsu atau pertengkaran–pertengkaran, tapi kita sudah menyebut bahwa kita adalah seorang meditator atau ingin bulan depan sudah bisa menjadi seorang konsultan spiritual. Misalnya orang datang kepada kita minta rumahnya diusir dari roh halus, kemudian orang sakit dipegang menjadi sembuh, kemudian tanda-tanda kemalangan diperciki air menjadi terhindar dan sebagainya. Itu adalah sesuatu yang belum mungkin bagi pemula yang masih melihat pelangi dalam kegelapan matanya; tapi kalau dia sabar dengan tekun terus-menerus, sama dengan analogi ulat, untuk bisa terbang menjadi kupu-kupu tentu dibutuhkan waktu. Pertama-tama harus rakus dulu, siang dan malam makan terus, berapa pun banyak daun yang ia jumpai menjadi habis tetapi setelah itu dia berhenti berdiam diri sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, dua minggu, akhirnya tumbuh sayapnya dan dia bisa terbang. Jangan baru menganut ajaran Tantra, baru mendapat abhiseka juga tidak jelas instruksinya, langsung merasa sudah bisa memiliki kepekaan batin, kalau datang ke tempat tertentu selalu memegang: waduh, ini kerisnya berisi nih, wah ini altarnya hangat, dingin, dan sebagainya. Itu tentu sesuatu yang hanya sekadar joke saja. Mungkin orang lain, orang yang pikirannya sederhana dan bodoh bisa saja dibohongi dengan kata-kata dan permainan pikiran tetapi para Guru dan para Arya, para Buddha dan Bodhisattva, para Mahaguru di masa lalu melihat kita dan menyebabkan apa yang kita ucapkan yang palsu ini menjadi rintangan untuk maju. Jadi kejujuran, ketulusan hati juga diperlukan bukan hanya dalam kaitannya sesama manusia tetapi kepada para Arya, siswa-siswa dianjurkan jujur karena bilamana tidak selamanya ia tidak akan mencapai realisasi. Kalau ia mencoba berdusta, misalnya belum melihat sesuatu bilang: waduh saya melihat rohnya tadi menangis di dekat peti matinya; kadang-kadang supaya dihormati dan dianggap mengerti, orang suka mengatakan sesuatu karena ketidaktahuannya; menyebabkan pintu kesempatan mencapai realisasi menjadi semakin terkunci rapat karena kebohongannya. Oleh karena itu kita harus mementingkan latihannya dan mengabaikan kapan ia akan mendatangkan hasil. Mahasiddha Virupa merupakan suatu contoh karena Mahasiddha Virupa melafalkan praktik Tantranya atau sadhana pada seorang Istadevata Anuttara Yoga Tantra selama 17 tahun namun belum juga mencapai realisasi, tetapi karena kesabarannya yang terus dipertahankan akhirnya bisa juga mencapai realisasi. Saya berdasarkan ajaran para Guru menganjurkan pada kita semuanya agar tidak mencoba untuk berusaha mendapatkan ketenaran, kehormatan atau perolehan-perolehan duniawi apa pun dengan mengorbankan kesempatan mencapai realisasi. Seperti yang saya katakan tadi, orang yang bodoh bisa ditipu dengan kata-kata yang manis dan akal-akalan tetapi para Arya menganggap itu sebagai pelanggaran yang serius dan menyebabkan kita tidak akan mencapai realisasi dalam hidup saat ini sampai kita menyadari bahwa hal itu merupakan suatu kesalahan dan kekeliruan. Karena begitu mahal harga yang harus dibayar, para Guru mengajarkan jangan menonjolkan keunggulan sendiri tetapi pujilah kebajikan orang lain.
Para Guru, Sang Buddha Sakyamuni juga para Arya, para penerusnya, menekankan kepada kita pentingnya Dharma bagi diri kita maupun orang lain. Segala hal yang di luar Dharma yaitu yang bersifat blessing atau berkah, kemudian kekuatan-kekuatan supranatural dari praktik meditasi atau pelafalan yang disebut siddhi itu harus menunjang pada kematangan Dharma, bukan untuk meruntuhkan Dharma. Kita mengetahui bahwa Sang Buddha dapat melakukan apa pun (yang mungkin dapat dilakukan), tetapi Sang Buddha sering kali membuat segala sesuatu yang terjadi bagi para siswa dan masyarakat sekelilingnya itu untuk membuka mata batin atau mata kebijaksanaan Dharma mereka. Bila para Buddha dan para Bodhisattva serta para Arya saja tidak menyombongkan realisasinya, tidak memamerkan kekuatan siddhi-riddhinya, bagaimana orang-orang yang baru pemula dan masih kuat lobha, dosa, moha serta masih membutuhkan banyak kebajikan, banyak kebijaksanaan dan banyak pemurnian karma masa lalu, merasa melampaui para Buddha dan para Bodhisattva serta para Arya? Bila itu terjadi maka itu sudah pasti merupakan sebuah kekeliruan yang harus dijauhkan dari kita.
Dalam tradisi Guru Atisha yaitu tradisi Kadampa sangat ditekankan bahwa setiap orang serius dalam mempraktikkan Dharma secara pribadi. Jadi secara pribadi seseorang sangat serius mempraktikkan Dharma tetapi bila keluar ia tidak menunjukkan kualitas-kualitas Dharmanya secara lisan maupun ekspresi; walaupun bila seseorang itu memiliki kualitas Dharma yang baik. Bila kebijaksanaan sudah mulai tumbuh, bila kemurnian sudah mulai matang dan berbagai siddhi telah mulai tumbuh, orang yang melihat akan terkesan. Guru Atisha menyatakan bahwa bila seseorang maju dalam praktik Dharma maka dalam diri orang itu senantiasa ada sesuatu yang menarik, apakah tingkah polanya, apakah cara ia berbicara, apakah cara ia bersikap, cara ia bertindak, itu merupakan sesuatu yang mengagumkan bagi orang lain karena orang lain tidak mengembangkan kualitas Dharma dalam dirinya. Jadi tradisi Kadampa menekankan kualitas-kualitas praktik Dharma dan juga praktik Dharmanya harus dirahasiakan (disembunyikan) dari orang lain. Dikisahkan, walaupun para Guru Kadampa mewarisi ajaran-ajaran yang unggul dari Sang Buddha dan melatihnya serta mencapai realisasi yang hebat tetapi beliau-beliau selalu menampakkan fenomena-fenomena lahiriah yang humble (rendah hati), yang simple (sederhana) dan puas hidupnya. Bukan merupakan orang-orang yang megah dan mewah secara lahiriah tetapi adalah sikap lahiriah yang sangat bersahaja. Dikatakan banyak di antara para penganut ajaran Guru Atisha yaitu para penganut Kadampa merupakan pewaris Anuttara Yoga Tantra dan merupakan Mahasiddha Anuttara Yoga Tantra tetapi mereka tidak pernah mendisplay atau memamerkan gentanya, vajranya atau malanya. Ketika mereka telah meninggal di mana tubuh jasmaninya dikremasi dan barang-barang yang ditinggalkan harus dimanfaatkan oleh yang masih hidup, saat itulah baru diketahui bahwa yang bersangkutan di mana di tempat tidurnya yang ditutupi ada perlengkapan Vajrayana seperti vajra, genta, kemudian mala, arca dari seorang Istadevata Tantra, dan sebagainya. Bukan seperti sekarang, orang memamerkan peralatannya tetapi di dalam tidak digunakan sebagai praktik. Kalau keluar dibawa semuanya: tasbihnya, gentanya, gambar-gambarnya, semua orang ditunjuki tetapi kalau di rumah gambarnya digeletakkan, gentanya ditaruh, dan orangnya tidur siang dan malam. Ini adalah yogi yang hidup pada zaman sekarang ini yang disebut Guru Atisha zaman kemerosotan (zaman Kaliyuga). Jadi di masa lalu di luar biasa saja di dalam mempraktikkan, kalau sekarang di dalam biasa saja di luar mempraktikkan, jadi dibolak-balik. Kita harus hati-hati agar tidak termasuk dari mereka yang terbelenggu delapan dharma duniawi, bahkan sekalipun telah mempraktikkan dan mengikuti ajaran Sang Buddha.
Jadi sekali lagi Guru Atisha menyadarkan kita bahwa waktu kita sangat terbatas, kita tidak perlu diajari lagi bagaimana samsara ini menyedihkan dan mengerikan. Orang-orang mati di jalanan dan di rumah sakit setiap hari, setiap orang merasa di dalam dirinya ada potensi penyakit-penyakit yang dapat merenggutnya seketika setelah penyakit itu diketahui. Kita juga tidak tahu kapan kita akan meninggalkan arena panggung kehidupan ini dan oleh karena semuanya sudah pasti terjadi maka kita harus segera melatih diri dengan ajaran yang telah kita miliki dengan seksama, tahap demi tahap, langkah demi langkah, sehingga kita akan seperti para Guru Kadampa, kalau saya harus meninggalkan panggung kehidupan hari ini saya merasa gembira karena saya pasti akan mendapatkan kebahagiaan di kemudian hari. Jangan Anda malah takut berpikir tentang perenungan praktik Dharma, kita berpikir belum ada Dharma apa pun yang saya praktikkan. Kesabaran saya juga tidak ada, kebajikan saya juga terbatas, meditasi saya tidak ada yang saya latih, sila saya berantakan, saya juga tidak bijaksana, hanya dipicu persoalan sedikit saja wajah saya sudah merah, kemudian saya juga lemah dalam latihan, saya juga malas dalam berlatih, saya juga mudah sekali mengantuk dan letih, saya senang sekali berbicara, saya senang sekali mendengar apalagi yang jelek-jelek, kemudian saya senang sekali melihat, saya senang sekali keluyuran tetapi saya sama sekali tidak senang untuk menjauhkan pikiran dari berbagai hal yang tidak baik. Kita harus secara berulang-ulang membuat diri kita bijaksana dengan berpikir bahwa saya bukanlah tubuh ini, suara bukanlah suara, kesenangan bukanlah kesenangan, kesedihan bukanlah kesedihan, rupa bukanlah rupa. Bila ini terus kita ucapkan dan terus kita lakukan, maka kita melakukan persis sama seperti yang dilakukan oleh Upashaka Dromstonpa yaitu siswa dari Guru Atisha.
Upashaka Dromstonpa adalah salah satu siswa yang sangat hebat baik dalam kecakapannya, dalam realisasinya, maupun dalam keagungannya. Ini mudah sekali untuk menyebabkannya terpeleset di dalam keangkuhan dan kesombongan serta perasaan unggul di antara siswa Guru Atisha yang lain. Karena di antara siswa Guru Atisha yang berjumlah ratusan orang sampai ribuan orang, hanya satu saja siswa yang menjadi penerus seluruh ajaran yang dimiliki oleh Guru Atisha yaitu Upashaka Dromstonpa ini. Untuk menghindarkan dirinya dari delapan dharma duniawi yaitu perasaan unggul dan perasaan gembira atas kualitas yang dimilikinya dan sebagainya, Upashaka atau Lama Dromstonpa ini selalu berkata: “Delapan dharma duniawi adalah racun bagi kehidupan pembebasan, pujian adalah penghinaan, celaan adalah penghiburan, dan seterusnya”. Itu terus diucapkan oleh Upashaka Dromstonpa setiap kali untuk menyadarkan dirinya supaya tidak memiliki pikiran yang menyimpang dari praktik Dharma. Para Guru menyatakan bila batu permata saja butuh digosok atau diasah, maka tentu sudah pasti diri kita juga perlu diasah secara terus-menerus. Pikiran kita harus selalu disegarkan, ingatan kita harus selalu diperkuat dan sikap hidup kita harus diperbaharui. Kunci keberhasilan dalam praktik Dharma adalah kehendak yang terus-menerus berkobar dalam diri kita agar kita mulai maju langkah demi langkah dalam berbagai tema ajaran Sang Buddha.
Langkah pertama yakin sepenuh hati pada karma, langkah kedua yakin sepenuh hati pada kelahiran kembali, langkah ketiga yakin sepenuh hati akan akibat karma putih dan karma hitam, dan seterusnya. Itu adalah sistematisasi dari cara-cara meningkatkan kadar praktik Dharma dan wawasan Dharma kita. Kita tidak bisa berharap pada orang lain dalam hal mempraktikkan Dharma, tetapi kita sendirilah yang harus menyebabkan kita mengerti Dharma, meresapkan Dharma dalam diri kita dan melatihnya. Dikatakan melatih karena bisa jadi diri kita sering kali bertolak belakang atau bertentangan dengan prinsip Dharma yang diajarkan oleh Sang Buddha. Dilatih artinya bila kita telah melakukan suatu kekeliruan kita berjanji lain kali saya tidak akan melakukannya lagi. Bila kemudian kita mulai maju dan tidak melakukannya lagi, itu artinya ada perkembangan yang baik di dalam diri kita berkaitan dengan praktik Dharma kita. Semua orang, semua keluarga kita, handai tolan kita adalah karma-karma yang mengelilingi kita, kita sendiri adalah tokoh utamanya dalam hal ini, kita adalah pemeran utama dalam skenario hidup kita saat ini maupun yang akan datang, oleh karena itu kita harus menjadi pemain yang mahir, yang dapat memanfaatkan hidup yang penuh kekalutan dan kesulitan, kekecewaan dan kesedihan. Sama seperti angsa yang berenang di atas kolam, ia dapat terbang kapan pun juga tanpa basah sedikit pun sayapnya oleh keruhnya kolam samsara ini. Ini adalah perumpamaan yang diberikan oleh para Guru untuk membuat kita senantiasa ingat bahwa kita di sini untuk sementara waktu dan suatu ketika akan meninggalkan samsara, dan melanjutkan pengembaraan kita di alam yang lain bila kita belum mengembangkan aspirasi pembebasan diri melalui praktik sila, samadhi dan kebijaksanaan sehingga kita merupakan orang yang telah dapat menangkap makna ajaran Sang Buddha dan mengangkat hidup kita sendiri ke dalam tingkatan yang lebih baik dari kebanyakan makhluk samsara yang lain.
