Sad-anusmritaya
Kita semuanya harus selalu ingat bahwa para mahaguru juga Sang Buddha sendiri telah menyelidiki berbagai ajaran yang diajarkan oleh para Buddha; Sang Buddha menganut ajaran ini bukan sesuatu yang beliau kreasikan sendiri tetapi Sang Buddha juga menganut dari Guru-guru sebelumnya yaitu para Buddha yang telah lalu seperti Buddha Krakuchanda, Kanakamuni, Kassapa dan sebagainya.
Para mahaguru yang muncul setelah Sang Buddha, ada yang muncul 500 tahun setelah zaman Sang Buddha seperti Arya Mahatma Nagarjuna, Mahaguru Shantideva yang muncul pada abad ke-8 Masehi, juga Guru Atisha Dipamkara-srijnana yang muncul pada abad ke-9 Masehi, semuanya secara sambung-menyambung merupakan Guru-guru yang telah mengkaji, kemudian merenungkan dan menjalani serta mencapai hasil seperti yang dinyatakan oleh Sang Buddha sendiri.
Guru Shantideva mengumpamakan bahwa hidup kita seperti mengarah pada satu tujuan. Dalam Bodhisattvacaryavatara yang merupakan tulisan dari Guru Shantideva dikatakan “Apakah saya tidak sadar bahwa setiap hari bangsaku yaitu bangsa manusia telah dijagal oleh Dewa Yama satu per satu, dan pada gilirannya tidak ada satu pun yang akan tersisa”. Guru Shantideva mengungkapkan ini sebagai bentuk ajaran atau ungkapan supaya dibaca dan direnungkan oleh orang lain termasuk kita, bahwa sebenarnya satu per satu manusia dijagal oleh Dewa Yama atau Yamaduta atau pesuruh Dewa Yama (dewa kematian). Kalau kita ingat nenek kita sudah meninggal, kakek kita sudah meninggal, kakek dari nenek kita, nenek dari kakek kita, semuanya sudah meninggal, jadi satu per satu dari zaman ke zaman sampai ke kita secara sistematis tidak ada satu orang pun yang dapat meloloskan diri dari kematian, yang dalam bahasa tradisional India (dalam bahasa tradisional Buddhis) dikatakan “Telah direnggut hidupnya oleh Dewa Yama (dewa kematian)”. Sebetulnya itu ungkapan yang umum di masyarakat tetapi fakta yang terjadi adalah bahwa seseorang telah kehilangan daya hidupnya yang sekarang. Pada saat seseorang meninggal, apakah yang akan terjadi? Ungkapan Mahaguru Shantideva ini begitu membekas kepada Guru Atisha Dipamkara-srijnana, oleh karena itu beliau juga sering menganjurkan agar para siswanya lebih sering mengingat bahwa dari berbagai macam perjalanan panjang hidup manusia, dari pengalaman bahagia, menderita, senang atau tidak senang, di ujung jalan sana ada satu kejadian yang tidak dapat dielakkan yang disebut sebagai kematian.
Para Guru Kadampa menjadikan ingatan kepada kematian seperti cambuk besi yang digunakan untuk memukul binatang penarik beban. Jadi kalau kita menarik beban kehidupan sehari-hari kemudian tanggung jawab spiritual kita dalam bentuk beban itu, maka pemukulnya adalah ingatan akan datangnya kematian. Guru Shantideva menuliskan ungkapan suci ini di dalam Bodhisattvacaryavatara, menyampaikannya dalam bentuk transmisi lisan atau upadesha lisan, kemudian para Guru Kadampa atau para geshe tersebut meresapkannya dalam arus kesadarannya dan membuat mereka sebagian besar mencapai keberhasilan dalam praktiknya.
Pada saat kita harus meninggalkan kehidupan ini, kita hanya ditemani oleh satu hal saja, yaitu Dharma. Semua yang telah menyita waktu kita, semua yang telah menarik perhatian kita, dan semua yang telah membuat kita tidak memiliki waktu untuk Dharma, satu per satu meninggalkan dan menjauhi kita, kita juga tidak dapat meminta bantuannya karena harus kita hadapi sendiri. Baik para Mahaguru India seperti berbagai siswa Guru Nagarjuna, para mahaguru berikutnya seperti Guru Chandrakirti, Guru Chandragomin, Mahaguru Shantideva, dan semua para Mahasiddha India menyatakan bahwa pada saat kita meninggal hanya Dharma yang menemani. Bila kita seorang raja, seluruh kerajaan dan rakyat hanya akan turut berdukacita. Bila kita memiliki keluarga yang sangat mencintai kita, semuanya akan berdiri terpaku dan melihat bagaimana kita menghadapi kematian seorang diri. Tetapi sebaliknya Dharma yang tidak begitu dihiraukan sepanjang hidup kita, akan menemani kita. Bila sepanjang hidup kita jauh dari Dharma dan Dharma begitu sedikit memperoleh perhatian dari kita, maka dia juga akan memberikan sedikit hal kepada kita. Tetapi bila kita membagi kehidupan kita dan memperhatikan Dharma selain memperhatikan semua urusan yang lain, maka dalam perjalanan kehidupan kita selanjutnya, kita akan banyak ditolong oleh Dharma.
Sang Buddha membagi ajarannya, selain dalam bentuk abstrak 84.000 macam ajaran, Sang Buddha memberikan prioritas kepada siswa-siswanya berdasarkan klasifikasi situasi hidup, kecakapan dan aspirasinya. Seorang siswa yang berumah tangga, yang situasi hidupnya dibagi antara kegiatan duniawi dan praktik Dharma, Sang Buddha tidak mungkin memberikan ajaran sebanyak bagi para pertapa dan para bhiksu. Seorang perumah tangga yang mahir, yang cakap dalam mempraktikkan Dharma, dia tidak akan diberi Dharma seperti mereka yang tidak mahir dan tidak cakap. Seorang perumah tangga yang memiliki aspirasi yang sangat tinggi, dia tidak akan diberi ajaran seperti mereka yang tidak beraspirasi. Jadi ajaran Sang Buddha tergantung pada suasana, kecakapan dan aspirasi. Dharma diberikan setelah melalui tiga penilaian ini, bila seseorang memiliki situasi, kecakapan dan aspirasi, dan Dharma diberikan setelah menilai ketiga hal tersebut maka Dharma itu akan menjadi berguna bagi yang bersangkutan. Dalam hal ini Sang Buddha mengajarkan begitu banyak ajaran untuk para siswanya yang berumah tangga seperti kita. Saya telah menguraikan beberapa waktu yang lalu tentang Tujuh Harta Para Arya yang merupakan Dharma bagi orang biasa maupun bagi para bhiksu. Bila seseorang meresapkan Tujuh Harta Para Arya itu maka akan menjadikannya memiliki kekayaan yang tidak dapat tertinggal karena seluruh dari Tujuh Harta Para Arya bersifat Dharma, bukan harta duniawi.
Ajaran untuk orang biasa yang lain adalah Enam Perenungan. Arya Mahatma Nagarjuna sangat menekankan bagi para upashaka dan upashika untuk terus mengingat pada enam perenungan ini agar kehidupan sebagai manusia tidak berhenti sampai di sini tetapi akan berlanjut pada kehidupan yang akan datang, agar kehidupan kita sebagai manusia tidak berhenti sampai di sini dan tidak jatuh ke alam yang lebih buruk, tetapi menjadi manusia lagi atau menjadi makhluk yang lebih luhur. Guru Nagarjuna dalam teks yang disebut sebagai Suhrllekha atau surat kepada seorang Kalyanamitra (teman) tetapi sebetulnya ditujukan kepada siswanya yaitu Raja Gautamiputra, yang berisi ajaran-ajaran spiritual yang harus diperhatikan olehnya, ada satu slokha atau gatha atau syair yang menganjurkan agar Raja Gautamiputra senantiasa merenungkan atau ingat akan enam hal ini sebagai bagian dari menghiasi kehidupan sebagai manusia dan menjamin agar tidak jatuh ke dalam kehidupan yang lebih negatif.
Guru Atisha juga menekankan perenungan itu kepada para siswanya di mana terdapat banyak tulisan Guru Atisha yang menyebutkan bahwa perenungan pada enam hal itu sangat penting dilakukan.
Yang pertama dari enam perenungan itu adalah mengingat akan Sang Buddha. Ada banyak cara untuk mengingat sesuai dengan siapa diri kita. Karena kita menganut Mahayana maka kita mengingatnya dari sudut pandang seorang Mahayana. Mahayana juga dibagi lagi, Mahayana Bodhicitta aspirasi dan Mahayana Bodhicitta hakiki. Mahayana bodhicitta aspirasi adalah ia yang ingin mencapai Kebuddhaan yang sempurna demi kebahagiaan semua makhluk tetapi belum mengikrarkan diri sebagai seorang Bodhisattva, sedangkan mereka yang disebut sebagai Mahayana bodhicitta hakiki adalah ia yang telah mengikrarkan ikrar Bodhisattva. Dua klasifikasi ini memungkinkan adanya perbedaan dalam mengingat Sang Buddha, tetapi secara umum kita harus tahu Bahwa Sang Buddha adalah Guru bagi seluruh triloka, bahwa beliau telah mencapai Kebuddhaan yang sempurna, bahwa beliau merupakan Guru para dewa dan manusia, bahwa beliau merupakan penolong satu-satunya bagi seluruh triloka. Dalam paritta Theravada kita biasa mendengar ungkapan yang disebut sebagai Buddhanussati, Dhammanussati dan Sanghanussati. Bahasa Sanskretanya Buddhanusmriti (merenungkan sifat-sifat atau kualitas Sang Buddha), Dharmanusmriti (merenungkan kualitas dan sifat-sifat Dharma), Sanghanusmriti (merenungkan kualitas atau sifat-sifat Sangha).
Kita tidak dapat berlindung kepada siapa pun di dunia ini, semua sastra suci mengulas tentang hal ini. Kita harus mengetahui latar belakang perkembangan Buddha Dharma di India. Sang Buddha mengajarkan Buddha Dharma di India di tengah-tengah masyarakat yang memiliki peradaban sangat tinggi. Di situ sudah ada ajaran tentang Karma, tentang Reinkarnasi, di sana sudah ada penyembahan kepada para dewa seperti Dewa Syiwa, Dewa Wisnu, Dewa Brahma, dan semua manifestasi dewa-dewa tersebut. Tetapi Sang Buddha menyatakan kepada para siswanya bahwa para dewa itu tidak dapat melindungi mereka semua karena para dewa itu sendiri masih membutuhkan perlindungan, karena status atau kelahiran sebagai seorang dewa adalah bagian dari perjalanan pengembaraan di dalam samsara. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak dapat berenang bisa menyelamatkan orang yang akan tenggelam, bagaimana mungkin orang buta dapat menuntun orang buta lainnya, bagaimana orang yang bisu dapat mengajari berbicara pada orang bisu lainnya. Sang Buddha membuat berbagai perumpamaan bahwa sesungguhnya perlindungan yang dibutuhkan oleh makhluk samsara haruslah perlindungan yang bersifat final, tidak berubah-ubah lagi, mencakup berbagai kepentingan perlindungan duniawi dan perlindungan yang bersifat selama-lamanya atau perlindungan spiritual.
Bila seseorang memuja dewa-dewa, katakanlah orang menganut suatu sistem filosofi, menganut suatu ajaran Guru tertentu, kemudian dia mengajarkan masuk surga, pergi ke alam-alam kebahagiaan, bila itu telah tercapai maka akan ada persoalan lagi karena setelah dari alam kebahagiaan itu ada kelahiran kembali. Tetapi bila kita berlindung pada Sang Buddha, kita akan diajarkan, ditunjukkan, dituntun melalui pengalaman-pengalaman beliau yang telah menaklukkan kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan yang tanpa perlindungan lagi. Oleh karena itu Sang Buddha dipuji sebagai Guru para dewa dan manusia. Bila perlindungan itu bersifat duniawi, maka dengan berlindung pada Sang Buddha kita tidak akan mengalami berbagai kesengsaraan duniawi seperti kematian sebelum waktunya, menderita penyakit yang menyakitkan dan sebagainya; tentu saja bila kita mematuhi atau menjalankan prinsip-prinsip bagaimana seseorang berlindung seperti yang diajarkan di dalam Lamrim.
Jadi perenungan kepada Sang Buddha (Buddhanusmriti atau Buddhanussati) adalah ingat kepada Sang Buddha, ingat kepada kualitas-kualitasnya, tergantung situasi kita pada saat itu, tetapi secara umum kita ingat kepada Sang Buddha mengenai status beliau, realisasi beliau, kemampuan beliau untuk menjadi Guru kita, kemampuan beliau untuk melindungi kita, dan seterusnya. Itu artinya, kalau kita sudah menjadi seorang Buddhis kita hanya memandang Sang Buddha, tidak memandang pada objek perlindungan yang lain. Kalau kita sudah menjadi seorang Buddhis, kita harus yakin bahwa kita tidak akan jatuh ke alam yang lebih rendah. Kalau kita sudah menjadi seorang Buddhis, kita semestinya tidak perlu takut lagi kepada roh-roh halus, kepada orang-orang jahat, kepada nasib buruk dan sebagainya, karena perasaan tidak takut mencerminkan bahwa kita telah meresapkan Sang Buddha ke dalam diri kita. Jadi ingatan kepada Sang Buddha bagi kebanyakan orang bisa seperti itu.
Bagi seorang Bodhisattva, ingatan kepada Sang Buddha adalah bahwa Sang Buddha maha melihat, bahwa Sang Buddha senantiasa melihat kita, dan oleh karena seorang Bodhisattva adalah putra dari para Buddha, dengan selalu mengingat kepada Sang Buddha maka seorang Mahayana akan selalu berjalan di jalan para Bodhisattva, mengapa demikian? Seperti yang dikatakan oleh Guru Shantideva, saya tidak akan menodai keluarga mulia ini, yaitu keluarga para Buddha di mana seorang Bodhisattva menjadi anaknya, maka seorang anak yang ingin menjaga nama baik dan kemuliaan keluarganya tidak akan berbuat kesalahan sekecil apa pun yang akan menodai kemuliaan itu. Juga bahwa alangkah memalukan bila seseorang yang telah mengikrarkan janji-janji penyelamatan semua makhluk kemudian tidak melakukan apa pun atau melakukan perbuatan yang sebaliknya, karena pada dasarnya semua Buddha melihat dengan apa adanya.
Jadi bila kita di siang hari ingat pada Sang Buddha, para Guru telah merancang suatu sistem agar kita tetap memiliki kesempatan itu dengan membuat ikrar agar kita di siang hari menyatakan perlindungan dan merenungkan kebajikan dari perlindungan sebanyak 3 kali. Bila ini kita jalankan maka kita telah menjalankan anjuran Sang Buddha sendiri yaitu merenungkan Sang Buddha. Demikian juga di malam hari kita dianjurkan dalam praktik kita agar mengingat Sang Buddha kemudian melafalkan perlindungannya serta merenungkan kebajikan-kebajikannya. Bila itu kita jalankan, kita sudah memenuhi anjuran Sang Buddha sendiri yaitu mengingat kepada Sang Buddha (Buddhanussati atau Buddhanusmriti). Apakah guna atau manfaatnya bagi kita? Ini akan membawa manfaat yang besar sekali bagi mereka yang melakukannya, apakah manfaat yang bersifat spiritual, bersifat blessing, bersifat duniawi maupun dalam kaitannya dengan praktik Dharmanya. Belum pernah di masa lalu ada seorang praktisi yang dapat mencapai realisasi dalam hal apa pun tanpa memiliki igatan, smriti, kesadaran yang kuat kepada Sang Buddha. Itu yang pertama.
Yang kedua adalah ingatan kepada Dharma. Guru Shantideva sekali lagi menyatakan bahwa orang yang dapat senantiasa menjaga kesadarannya adalah orang yang dapat menjaga kelangsungan dari praktiknya. Bagaimana seseorang dapat menjaga kesadarannya? tentu kalau ia ingat pada Dharma. Kalau ia tidak mengingat Dharma maka ia tidak dapat menjaga praktiknya. Jadi pada poin kedua ini yaitu perenungan tentang mengingat Dharma, Anda juga dapat melihat di Dhammanussati, di sana dikatakan Dharma adalah ajaran Sang Buddha, Dharma telah dibuktikan, mengundang untuk dibuktikan, Dharma tanpa noda, dan sebagainya. Itu adalah ungkapan yang umum sekali tetapi secara spesifik kita mengingat Dharma untuk memiliki kejelasan bagi jalan yang sedang kita praktikkan. Orang yang tidak pernah mengingat Dharma Pancasila bagi seorang upashaka, dia tidak akan menjalankan Dharma Pancasila. Orang yang tidak pernah mengingat Dharma tentang kesabaran, dia tidak akan menjalankan kesabaran. Orang yang tidak pernah ingat Dharma tentang kebijaksanaan, dia tidak akan memiliki kebijaksanaan. Oleh karena itu mengingat Dharma adalah membuat kita ingat pada praktik kita, membuat kita tahu kemajuan dan kemunduran diri kita. Itu tentang ingatan pada Dharma.
Kemudian yang ketiga adalah ingatan kepada Sangha. Sangha siswa para Arya telah berkelakuan baik (ini dalam slokha berbahasa Pali) dikatakan bahwa para Sangha telah berkelakuan baik atau telah menjalankan hidup berdasarkan ketentuan Dharma, penuh pengendalian diri, hidup dengan puas, dan pembimbing pada jalan, itu adalah Sangha. Jadi kalau kita mengingat pada Sangha, yaitu para Arya Sangha, hal baik yang dapat kita raih adalah kita dapat mendapatkan inspirasi dari para Sangha itu baik yang berkaitan dengan perjalanan hidup mereka, dalam praktik mereka, kemurnian mereka dan sebagainya, sehingga mencapai Arya Sangha.
Terdapat dua macam Sangha menurut sudut pandang Mahayana, yaitu Arya Sangha dan Sangha biasa. Arya Sangha juga ada dua, yaitu Sangha Sravaka dan Sangha Bodhisattva. Bila para Sangha itu Sravaka maka semuanya para bhiksu, tetapi bila Sangha Bodhisattva maka termasuk juga para Bodhisattva utama yang bukan seorang bhiksu. Para Sangha ini dalam berbagai sastra suci dikatakan dapat memberikan blessing sesuai dengan kualifikasi mereka. Seorang Sangha Sravaka telah memiliki abhijnana yaitu berbagai kesanggupan spiritual, kemudian telah memiliki kesempurnaan Duthangasila, kesempurnaan Vinaya dan sila-sila, dan bila memberkati kita maka yang diberikan kepada kita adalah kesempurnaan Duthangasila, abhijnana dan kesempurnaan Vinaya-vinaya, yang sulit didapatkan bila dikreasikan atau diusahakan sendiri. Sedangkan Sangha para Bodhisattva, kalau kita mengingatnya dan menaruh keyakinan yang kuat kepadanya maka blessing yang akan kita terima adalah blessing berupa kesempurnaan paramita. Di dalam paramita ada kesempurnaan sila, dana, kshanti, virya, samadhi dan kebijaksanaan, itu yang diberikan kepada kita, juga bhumi-bhumi dari para Bodhisattva yaitu Bodhisattvabhumi yang pertama, kedua, dan seterusnya, itu yang diberikan oleh seorang Bodhisattva. Jangan berlutut di depan seorang Bodhisattva kemudian kita meminta pekerjaan, kekasih, kesehatan karena itu adalah hal yang kecil. Bila kita bertemu dengan seorang raja dunia, kemudian kita meminta permen kepadanya, itu adalah seseuatu yang sangat lucu. Apa yang harus kita minta? Yang harus kita minta adalah dirinya sendiri, realisasinya sendiri, sesuai dengan anjuran sastra suci. Jadi berdoalah untuk menjadi seperti para Arya atau para Sangha itu, kalau Sravakayana blessingnya adalah segala abhijnana dan realisasi dari para Sravaka, jangan hanya bicara soal hal-hal yang sementara. Kalau kita mendapatkan blessing itu, semua yang lain menjadi termasuk di dalamnya, kekuasaan, kedudukan, kehormatan, kemuliaan. Anda tidak hanya dihormati di dunia tetapi di seluruh triloka, Anda akan dipuja oleh para dewa sekalipun. Anda tidak akan bahagia karena pujian manusia tetapi Anda akan menemukan kebahagiaan di dalam diri Anda sendiri.
Jadi ingatan pada Sangha atau Sanghanusmriti memiliki aspek yang luas tetapi pada intinya kita mendapatkan inspirasi dari para Sangha itu selain kita juga mendapat blessing dari semua yang telah direalisasikannya. Itu tiga macam perenungan yang telah kita ketahui secara luas dan diketahui oleh semua orang Buddhis, hanya perlu difokuskan dan dikaji lebih mendalam supaya bisa lebih diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sekarang yang keempat, yaitu renungan tentang Sila, ingatan tentang Sila. Guru Atisha menyatakan sila adalah perhiasan. Seperti orang mengenakan perhiasan di lehernya, di tangannya, atau di telinganya, atau di jari tangannya, atau di kakinya, atau di busananya, untuk apa perhiasan itu? Supaya kelihatan lebih menarik. Sila juga dikatakan perhiasan karena sila akan memperindah seseorang secara spiritual, terutama di mata para Arya (bukan di mata manusia), juga di mata para dewa. Bila ada seorang manusia yang memiliki sila begitu baik, para Arya akan berkenan, para dewa akan berdatangan dan membantu (ini diceritakan dalam Tripitaka, banyak sutra mengungkapkan hal itu) karena sila hanya dapat diketahui oleh makhluk mulia saja, kalau orang yang tidak mulia tidak dapat melihat sila seseorang.
Sila membuatku menjadi mulia di mata para Arya, sila menjadikanku diperkenan oleh para Arya, sila membuatku dibantu oleh para dewa, sila membuatku meraih alam-alam yang luhur, sila memungkinkanku menjadi makhluk mulia, sila memungkinkanku menjadi seorang Bodhisattva, sila memungkinkanku menjadi Yogi Tantrik, sila memungkinkanku mencapai segala hal yang dapat dicapai dengan kehidupan di dunia ini.
Para Guru menganjurkan agar kita sebisa mungkin memegang sila sekuat-kuatnya, kalau tidak dapat memegang banyak sila kita dapat membatasi diri memegang sedikit sila. Dikatakan dari Pancasila kita dapat mengambil mana saja yang mungkin kita lakukan, mungkin satu sila, mungkin dua sila, mungkin tiga sila, mungkin empat sila, mungkin lima sila, tetapi sila yang kita komitmenkan harus dipertahankan, setiap hari direnungkan kembali, setiap minggu dikaji kembali, setiap bulan dinilai kembali, setiap tahun dinilai kembali, dengan demikian sila yang seperti ini yang akan memperkenan para Arya. Oleh karena itu sila juga menjadi subjek yang harus selalu diingat-ingat karena begitu pentingnya peranan sila dalam kehidupan spiritual sebagai siswa Sang Buddha. Bila seseorang tidak pernah mengkaji kualitas sila yang berkembang di dalam dirinya, ada kemungkinan silanya telah hilang, ada kemungkinan silanya telah terbengkalai, ada kemungkinan silanya menjadi stagnan (tidak berkembang). Jadi dengan cara mengingat-ingat pada sila seseorang akan dapat membawa dirinya, dapat mendorong dirinya dari kualitas sila satu, ke dua, dan seterusnya. Menurut Guru Atisha, cara ini akan dapat berhasil jika kita membuat prioritas penting pada sila yang mampu kita lakukan, kemudian berancang-ancang untuk sila yang lebih berat lagi dan seterusnya, dan menyadari bahwa ini sepenuhnya adalah persoalan Dharma, jadi tidak ada hubungannya dengan persoalan duniawi karena ini adalah perhiasan Dharma, perhiasan yang menghiasi kualitas Dharma kita, bukan menghiasi aspek duniawi kita.
Guru Shantideva menyatakan, seharusnya saya menganggap tubuh ini seperti sampan yang dapat mengantarkan saya menyeberangi sungai samsara ini. Jadi sebetulnya tubuh kita ini adalah sampan, dia tidak lebih dari sampan, sampan bisa macam-macam: bisa dari plastik, bisa dari spon, bisa dari angin, bisa dari kayu, bisa dari batang pisang, bisa dari apa saja termasuk juga tubuh manusia. Kalau Anda melihat sampan di tepi sungai atau di laut, sampannya ditaruh di atas air, orang duduk di atasnya dan dijalankan. Tubuh kita asalnya dari kedua orang tua kita, kesadaran ditaruh di atas tubuh kita (letaknya tidak harus di atas tetapi selalu diasumsikan di atas), jadi seperti sampan maka badan kita adalah sampan dan kesadaran kita adalah penumpangnya. Dibawa ke mall, dibawa ke tempat rekreasi, dibawa ke Kemang, dibawa ke tempat hiburan, di bawa ke Candi Borobudur, dibawa ke India. Ini adalah perahu, tetapi bila perahu ini sudah menimbulkan masalah bagi nakhodanya (kesadarannya), maka ini sudah tidak proporsional lagi, sudah tidak fungsional lagi, dan sudah menimbulkan persoalan. Sebagian besar manusia sibuk mengurusi fisiknya, apalagi wanita (kecuali yang di sini). Mereka pergi untuk tampil lebih menarik, itu tidak salah asal didasari pada filosofi tubuh adalah sampan, jadi filosofi ini harus diketahui dulu baru kemudian mengurus mengenai penampilan. Kemudian sering kali fisik begitu membuat kesedihan, dan begitu menimbulkan kegembiraan. Maksudnya sering kali tubuh itu begitu berperan dalam menimbulkan kesedihan dan kebahagiaan. Sebetulnya Mahaguru Shantideva (seperti tadi) memberi contoh bahwa cara ideal menganggap tubuh ini hanya seperti sampan saja. Kalau tukang sampannya sudah pergi maka sampannya mungkin akan hanyut ikut air, mungkin tertiup ke tepi, mungkin tertiup ke tengah. Kalau kesadaran kita sudah pergi, maka tubuh kita menjadi kaku terbujur seperti kayu, apakah akan dibawa ke gunung untuk dikubur atau akan dibawa ke krematorium untuk dibakar, atau mungkin akan dibalsem atau dimumi dan ditaruh di rumah, itu sudah tidak menjadi soal karena tukang sampannya sudah pergi. Masalahnya bagi kita adalah para praktisi Dharma harus membiasakan diri memandang tubuhnya dengan tanpa keterikatan karena tubuh ini hanyalah alat untuk hidup saja, bukan kehidupan kita sendiri tetapi hanya alat untuk hidup saja. Oleh karena itu semua perhiasan yang bersifat fisik tidak mendapat nilai Dharma apa pun karena fisik itu sebetulnya tidak perlu dihiasi macam-macam tetapi digunakan untuk menyeberang ke arah yang lebih baik. Itu menurut Guru Shantideva.
Jadi dengan merenungkan, dengan mengingat pada sila, maka kemungkinan akan muncul suatu keinginan untuk memegang sila kita lebih teguh lagi, apakah satu sila misalnya tidak membunuh, apakah dua sila, apakah tiga sila, apakah komitmen kita yang lain, kita akan memegang lebih teguh lagi, dan mulai sanggup mengabaikan kesulitan-kesulitan kecil yang timbul dari komitmen tersebut. Bukan hanya kita para upashaka, para Bodhisattva juga mengalami hal yang sama, seperti para mahaguru kita, Guru Shantideva misalnya, beliau juga tidak mudah mengembangkan dirinya sampai mencapai realisasi bodhicitta yang sempurna seperti itu. Beliau juga mengalami banyak sekali kesulitan untuk memegang dengan teguh sila-silanya, kiri-kanan dalam kehidupan seseorang berkeliling berbagai situasi yang setiap kali berubah-ubah, kadang-kadang menunjang kadang-kadang menyulitkan dan seterusnya. Tetapi ibadah (kegiatan spiritual) sebetulnya adalah faktor internal, kadang-kadang memang dipengaruhi oleh eksternal tetapi lebih banyak tidak berkait dengan berbagai hal yang bersifat eksternal.
Sekarang yang kelima, tentang Tiaga atau pelepasan harta benda, dengan bahasa lain Dana. Arya Mahatma Nagarjuna mengatakan kita harus ingat kepada kebajikan-kebajikan dana, Sang Buddha sendiri menyatakan bahwa kebahagiaan berasal dari kebajikan. Para Mahaguru India juga Tibet membuat banyak sekali ulasan mengenai kebajikan dana karena subjek ini meliputi banyak orang, yang merasuki diri banyak orang. Sakyapandita menyatakan bahwa orang yang lahir menjadi manusia karena kebajikan masa lalunya dan memilki kekayaan tertentu di dunia ini dan menggunakannya sebagian besar untuk berdana seperti menyantuni orang miskin, menolong orang yang membutuhkan pertolongan dan melakukan offering kepada Sang Triratna, akan memanen kekayaan yang luar biasa dalam kehidupan yang akan datang. Tetapi orang yang bodoh, yang telah lahir menjadi manusia, mendapatkan harta benda di dunia ini dari karma masa lalunya, tidak melakukan apa pun. Mereka mengumpulkan lebih banyak lagi tetapi tidak melakukan apa pun, dia seperti lebah yang setiap hari sepanjang hari bekerja mengumpulkan madu dari berbagai tempat tetapi pada akhirnya madu itu dipakai oleh orang lain, digunakan oleh orang lain.
Jadi prioritas dalam penggunaan berbagai hal yang kita miliki adalah untuk mendapatkan kebajikan. Semua hal yang kita miliki bila tidak digunakan untuk kebajikan maka akan menjadi sia-sia, karena yang menjadi Dharma adalah yang telah kita lepaskan dengan cara Dharma. Orang yang berdana, orang yang memberikan sesuatu kepada orang lain untuk menyenangkan yang menerimanya, dan setelah orang itu senang menerimanya, gembira hatinya, itu merupakan cara terbaik untuk menggunakan harta benda kita. Jadi berdana merupakan bagian dari renungan yang harus kita ingat setiap hari. Semakin banyak orang yang melakukan kebajikan, semakin besar kebahagiaan yang akan diterima di kemudian hari. Semakin besar kebajikan dilakukan seseorang, semakin tidak terhingga kebajikan yang akan diterimanya di kemudian hari. Semakin sedikit orang melakukan kebajikan, walaupun sekarang dia seorang kaisar, dalam kehidupan yang akan datang dia akan hidup sebagai preta, atau sebagai gelandangan atau sebagai pengemis di jalanan, karena kehidupan hanya disambung dari sebelumnya ke yang berikutnya oleh kekuatan karma saja. Tidak ada jaminan bahwa seseorang yang sekarang memiliki begitu banyak harta dalam kehidupan yang akan datang juga akan memiliki yang sama, walaupun sudah dibakarkan rumah-rumahan, sudah dibakarkan pesawat, dibakarkan uang yang nominalnya milyaran, itu bukanlah cara Dharma. Yang cara Dharma adalah dengan tangan sendiri, dengan kaki sendiri, dengan mata kepala sendiri seseorang melakukan kebajikan, bukan menyuruh orang lain atau meminta supaya dikirimi rumah-rumahan, mobil-mobilan, pesawat, uang, dan sebagainya.
Menurut Guru Shantideva, sering kali dalam pikiran kita muncul “Kalau saya memberikan ini, nanti saya sendiri bagaimana?” Guru Shantideva juga menulis ungkapan seperti itu dan menganggap bahwa itulah bentuk pelepasan diri. Semua para mahaguru di masa lalu bukan saja memberikan apa yang telah diterimanya tetapi bahkan memberikan dirinya sendiri untuk didanakan. Jadi pada prinsipnya kita mengingat pada dana, kita harus memiliki kemauan untuk berdana lebih banyak. Walaupun kita tidak dapat meniru 100% para mahaguru masa lalu yang bahkan memberikan segala hal kecuali bajunya sendiri (yang dipakai), kita tidak mungkin meniru seperti itu tetapi setidak-tidaknya lebih banyak jiwa kemurahan hati kita dibandingkan jiwa mementingkan diri sendiri, lebih banyak mau berkorban (sedikit mengalami kesulitan) dengan praktik Dharma daripada kita nyaman dengan tanpa kebajikan. Jadi ini bukan berarti lantas besok semua yang kita punya ditransfer ke organisasi sosial, dibagi-bagi semua ke mana-mana, kita bagi gratis tabungan kita, bukan begitu, tapi dari sini kita dapat belajar bagaimana seseorang mengembangkan sikap berdana. Tapi kalau Anda mau membagi semuanya, boleh saja, silahkan, saya gembira melihatnya, walaupun tidak bisa meniru.
Dana merupakan aspek yang sangat penting dan dianjurkan oleh Sang Buddha sendiri bahwa semestinya kita melakukan dana lebih banyak daripada memakainya sendiri. Semua yang kita pakai sendiri tidak akan berbuah apa-apa, itu hanya sebatas perasaan saja, tetapi semua yang kita berikan adalah tanaman-tanaman kebahagiaan yang nanti akan kembali lagi kepada diri kita. Semua yang kita pakai sendiri, semua yang kita gunakan sendiri apakah untuk rumah kita, untuk mobil kita, untuk kenyamanan kita, itu bukan karma baik, bukan dana, bukan pemberian, tetapi sebagai bentuk memuaskan perasaan kenyamanan diri yang tidak perlu. Seorang Buddhis dianjurkan agar berpuas diri, artinya memiliki hati yang puas dengan kehidupan yang serba dibatasi, maksudnya makannya dikondisikan supaya tidak terikat dengan menu tertentu, lebih jauh lagi makan hanya pada waktu lapar saja dan seterusnya, tidur hanya pada waktu ngantuk saja dan seterusnya, berbicara hanya pada waktu ingin berbicara saja dan seterusnya, bepergian pada waktu perlu saja dan seterusnya, selebihnya digunakan untuk hal-hal yang lain. Tetapi menuju pada itu ada proses yang harus ditempuh yaitu membiasakan diri sedikit demi sedikit dan seterusnya. Itu yang berkaitan dengan Dana.
Sekarang yang terakhir berkaitan dengan Dewa, jadi perenungan yang berikutnya adalah ingatan-ingatan tentang para dewa, terutama kualitas kebahagiaan di alam dewa. Kalau kita ingat kepada para dewa, kita merenungkan para dewa, kita akan mengetahui sebab musabab kemungkinan terlahir menjadi seorang dewa. Kita hidup di dalam samsara ini tidak sendirian, karena sutra menjelaskan begitu banyak makhluk yang lain, dan di antara makhluk-makhluk lain itu ada makhluk yang penuh kebahagiaan yaitu para dewa.
Ada 6 alam surga secara global (garis besar):
- Dewa-dewa Caturmaharajakayika, ini adalah surga-surga yang paling dekat dengan kita, dikatakan bahwa empat dewa raja ini merupakan pelindung bagi Dharma, yaitu Dhrtarastra, Virudhaka, Virupaksa, dan Vaisrawana (nama-nama rajanya). Untuk mengingat mereka adalah agar kita mengerti ada eksistensi yang sedemikian luar biasa, penuh kebahagiaan dan kegembiraan dan kemudian bangkit aspirasi kita untuk kemungkinan membuka peluang lahir di sana.
- Di atas surga Caturmaharajakayika ada surga lagi yang disebut sebagai surga Tigapuluh Tiga Dewa atau Surga Trayatrimsayang memiliki cerita di mana Dewa Indra menjadi raja di situ, jadi raja dari para dewa di alam Tigapuluh tiga dewa adalah Dewa Indra. Semua makhluk yang lahir menjadi raja di situ mendapat predikat Indra, jadi bukan dari dulu satu saja tetapi meninggal, hilang, dan berganti dengan yang baru. Di situ juga penuh dengan kebahagiaan, tidak ada orang miskin, tidak ada orang cacat, tidak ada orang jelek, tidak ada orang menangis, semuanya penuh dengan kerianggembiraan. Tidak ada yang busuk, tidak ada yang bau, tidak ada yang membosankan dilihat, tidak ada yang menyilaukan di mata, tidak ada yang tidak enak didengarkan, semua menggembirakan. Itu alam Surga Tigapuluh Tiga Dewa.
- Di atasnya ada alam Dewa Yama.
4. Di atasnya lagi ada surga di mana para Bodhisattva banyak mengambil kelahiran di situ, yaitu Surga Tushita. Di situ ada Arya Maitreya, ada Lama Serlingpa Dharmakirti, ada Jey Tsongkhapa, Khey Drup Jey dan Gyel Tsap Jey, ada Guru Atisha Dipamkara-srijnana, ada banyak Mahaguru India dan Tibet, ada Raja Suddhodana, ada Dewi Mahamaya, ada banyak sekali Bodhisattva-bodhisattva agung yang lahir sebagai dewa di Surga Tushita, menunggu waktu untuk datang ke alam manusia atau alam yang membutuhkan pertolongan. Dalam tradisi Gelugpa ada ajaran bagaimana seseorang setelah kematiannya bisa pergi ke Surga Tushita yang disebut Guru Yoga Jey Tsongkhapa. Jadi seolah-olah kita sebagai praktisi memiliki ikatan (diikat dengan benang) oleh Guru Jey Tsongkhapa, pada saat meninggal kita mengikuti jalur benang itu dan muncul di Surga Tushita, tapi itu harus melalui proses abhiseka dan penjelasan lisan. Karena para Guru Gelugpa berdiam di Surga Tushita untuk mendengarkan Dharma yang diajarkan oleh Arya Maitreya dan mengiringi beliau ketika mencapai Kebuddhaan yang sempurna nanti.
5. Di atasnya lagi ada surga yang namanya Nirmanarati, lebih luar biasa lagi, di situ banyak kegiatan mencipta, dan sebagainya.
- Di atasnya lagi ada yang lebih tinggi yaitu Surga Paranirmitavasavartin.
Jadi itu alam-alam surga yang penuh kebahagiaan yang juga harus diingat agar membuka jalan untuk lahir di sana, di mana yang kita mau. Ingatan kepada para dewa akan membuat diri kita memiliki keberanian, berani berbuat kebajikan, berani untuk sedikit mengalami kesukaran, misalnya melakukan perbuatan Dharma: pradaksina atau namaskara, atau membuat offering yang banyak. Begitu banyak kesulitan tetapi karena ingat kepada para dewa, kelahiran di alam dewa tersebut, kita menjadi berani melakukannya.
Kemudian dengan ingatan kelahiran di alam surga kita itu, kita akan menjaga kesadaran dan kewaspadaan kita lebih baik lagi, kita akan menjadi orang yang sedikit lebih teguh iman atau keyakinannya, tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang sederhana dan kecil apalagi hal-hal yang negatif seperti lobha, dosa dan moha yang mencegah seseorang untuk lahir di alam surga.
Sastra suci mengatakan, walaupun kelahiran di alam surga juga bersifat sementara tetapi di situ lebih banyak kebahagiaan dibandingkan dengan alam lain mana pun juga. Walaupun Sang Buddha tidak menganjurkan para siswanya untuk lahir di alam surga, tetapi Sang Buddha menganjurkan adalah lebih baik untuk lahir bahagia daripada menderita. Adalah lebih baik untuk lahir di alam yang bahagia daripada lahir di alam yang penuh penderitaan seperti jadi binatang atau preta, atau jadi makhluk neraka.
Sastra suci tulisan para Guru juga menyinggung bahwa tanda-tanda seseorang di alam manusia yang lahir dari alam surga adalah:
Yang pertama, para raja. Para raja dikatakan lahir dari alam surga, bukan raja simbolik seperti Raja Yogya, Raja Solo atau Raja Cirebon, tetapi raja-raja yang betul-betul memiliki kekuasaan penuh. Anda bisa membayangkan seperti apa kira-kira kehidupan seorang raja yang memiliki kekuasaan: begitu lahir beribu-ribu orang menyambutnya dengan gembira, begitu menginjakkan kakinya ke lantai, tanahnya sudah marmer masih dikasih karpet yang lembut masih pakai sepatu. Anda bisa membayangkan. Makanan, beratus-ratus menu disediakan. Darimanakah itu? Dari kekuatan karma baik yang besar sekali.
Yang kedua, pemimpin spiritual, kemungkinan juga dari alam surga.
Yang berikutnya, orang yang sangat berminat pada spiritual, jadi kuat vegetariannya, kuat minatnya terhadap belajar spiritual, itu mungkin dulunya seorang dewa, bukan orang biasa, bukan dari alam manusia, bukan dari alam lain, mungkin dulunya dia seorang dewa sehingga dia memiliki karakteristik seperti itu.
Tetapi sebaliknya, orang yang berasal dari neraka itu seperti apa? Sudah pincang, miskin, buta matanya, budeg telinganya, jadi binatang dan sebagainya, itu kebalikan dari alam dewa.
Jadi enam macam perenungan yaitu mengingat Sang Buddha setiap hari, kalau kita punya waktu including praktik menjaga perlindungan kita, kita sambil mengingat Sang Buddha, jangan hanya mengucapkan slokha perlindungan saja tetapi juga mengingat Sang Buddha memiliki kualitas seperti ini, Dharma seperti ini, Sangha seperti ini, ditambah dengan sila, kemudian dana atau Tiaga, dan kemudian dewa. Ini akan mengarahkan kita melangkah lebih maju lagi. Dari semua yang telah saya jelaskan, pada intinya bahwa Sang Buddha menginginkan kita bebas dari penderitaan apakah bertahap atau secara drastis menempuh sang jalan.
