Budha

Upashaka Pandita Sumatijnana

Namo Guruye!
Namo Sarvabuddha Bodhisattvabhyah!

Beliau adalah pendiri Komunitas Bhumisambhara, penganut agama Buddha Mahayana tradisi Indonesia. Mengikuti jejak para praktisi perumah tangga pada zaman lampau, Bapak Sumatijnana memperkenalkan bentuk praktik Dharma ‘non-monastik’ atau di luar Vihara. Maksudnya, Buddha Dharma yang dipelajari dan dijalankan di luar lingkup Vihara, yang biasanya berpusat pada kehidupan keviharaan, seperti hidup selibat, menolak terlibat dalam kehidupan profan, hidup dengan bergantung pada kemurahan hati orang lain dan sebagainya. Sebaliknya praktik Dharma ‘non-monastik’ dijalankan sambil hidup terjun aktif dalam kehidupan profan, mandiri secara duniawi, otentik dalam motivasi.

Meskipun di Indonesia praktik yang demikian merupakan hal yang masih asing atau bahkan terdengar baru bagi kebanyakan orang, namun sesungguhnya praktik Buddhis ‘non-monastik’ ini  senantiasa beriringan dengan praktik ‘monastik’ nya para biksu. Hal ini dapat dilihat, misalnya pada zaman perkembangan Agama Buddha awal di India, sebagaimana yang dijalankan oleh para yogi serta mahasiddha. Banyak dari ke 84 Mahasiddha India di masa lampau adalah para praktisi ‘non-monastik’. Pandita Agung Mahayana India, seperti Guru Chandra Gomi, Mahapandita Haribhadra dan lain-lain juga berasal dari golongan praktisi ‘non-monastik’. Kita akan menemukan banyak nama lagi kalau kita membaca buku ‘Sejarah Agama Buddha India’ dan ‘Sejarah Tara Tantra’ yang ditulis oleh Jonang Taranatha. Juga buku ’84 Mahasiddha’ yang ditulis oleh Acharya Sri Abhayadatta.  

Di Indonesia, pada zaman kerajaan-kerajaan Buddhis Syailendra, Sriwijaya, Kahuripan, Singasari dan Majapahit, praktik ‘non-monastik’ juga sangat luas. Di Tibet hampir semua pendiri tradisi Agama Buddha di sana juga merupakan para perumah tangga. Tradisi Sakya didirikan oleh Khon Konchok Gyalpo, seorang perumah tangga. Tradisi Kagyu didirikan oleh Marpa Lotsawa Yang Agung, yang juga seorang perumah tangga. Tradisi Kadampa didirikan oleh Upashaka Dromstonpa. Di sana juga terdapat banyak praktisi-praktisi yang meraih pencapaian yang sangat tinggi, dengan latar belakang praktik Dharma ‘non-monastik’ yang berasal dari tradisi Nyingmapa. Di China hal serupa juga dapat kita temukan di dalam buku-buku ceramah Master Hsuan Hua.

Bapak Sumatijnana berpendapat bahwa bila semakin banyak orang yang menjalankan praktik Dharma ‘non-monastik’, Buddha Dharma akan semakin kokoh berkembang di mana saja. Ini karena akan terdapat banyak para Dharmaduta yang berkualitas, baik sebagai praktisi maupun sebagai penuntun bagi orang lain. Ini sekaligus juga merupakan jalan terbaik bagi mereka yang berhalangan karena satu dan lain hal untuk memasuki kehidupan ‘monastik’. Karena bukanlah hal yang mulia apabila seseorang yang tidak memiliki kesanggupan untuk menjalankan sila pratimoksa tetapi memaksakan dirinya menjadi seorang bhiksu. Kalau kehidupan sebagai sangha tidak dapat merealisasikan sila, samadhi dan prajna, tentu sungguh merugi. Pada zaman dahulu, kebanggaan menjadi seorang prabajika adalah karena mampu melepaskan keterikatan terhadap keduniawian (nekrama). Akan tetapi kini keadaan sudah berubah, nilai-nilai nekrama (penolakan duniawi) telah luntur.

Bapak Sumatijnana telah menghidupkan kembali praktik Mahayana Bhumisambhara yang telah menghilang lebih dari 1000 tahun, ajaran spiritual yang bersumber dari empat kitab suci Mahayana yang terukir di Candi Borobudur. Yaitu: Jatakamala, Lalitavistara-sutra, Avadanakalpalata dan Mahavaipulya-avatamsaka-nama-mahayana sutra.  Mahayana Bhumisambhara merupakan bentuk Mahayana ortodok (murni praktik paramitayana). Bila diikuti dengan seksama akan mengarahkan seseorang pada usaha untuk menjadi Buddha, mampu melintasi beribu-ribu kalpa tanpa rasa lelah dan bimbang ragu. Selain itu, juga menuntun siswa agar dapat pergi ke alam Sambhogakaya Buddha, Akanistha.

Latihan-latihan spiritual Mahayana Bhumisambhara yang diajarkan Bapak Sumatijnana antara lain:

  1. Menumbuhkan Bodhicitta dan menjalan ikrar Bodhisattva. Komunitas Bhumisambhara menjalankan dua garis ikrar Bodhisattva. Pertama ikrar Bodhisattva dari Brahmajala-sutra yang merupakan bagian dari Avatamsaka-sutra. Yang kedua adalah Ikrar Bodhisattva dari para Mahaguru India.
  2. Melafal dan menghayati Pranidhana Arya Samantabhadra
  3. Bervegetarian secara murni. Berdasarkan komitmen dari Brahmajala-sutra.

Selain fokus beliau pada ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab Bhumisambhara sendiri, Bapak Sumatijnana juga belajar pada para Guru yang sangat mulia di masa kini, di antaranya:

  • Belajar Lamrim, bodhicitta dan Lojong
    pada Dagpo Rinpoche 
    Losang Jampel Jampa Gyatso
  • Belajar anuttara-yoga tantra pada HH. Dalai Lama XIV. Tenzin Gyatso
  • Belajar Mahamudra pada Yongzin Khenchen Thrangu Rinpoche
  • Memperoleh blessing Kadampa dari Kyabjey Denma Locho Rinpoche
  • Beliau juga telah menjalin kontak serta memperoleh blessing dari beberapa Guru tinggi lainnya.

Semua yang beliau pelajari, yang diterima dari para Guru nya, telah membantu Bapak Sumatijnana untuk menjadi seorang Buddhis dalam pengertian yang sesungguhnya, yang lebih melihat pada kehidupan nanti daripada saat ini. Yang lebih mengutamakan kebajikan semua makhluk daripada kebajikan diri sendiri, dan mengutamakan realisasi Dharma daripada pencapaian duniawi apa pun. 

Upashaka Pandita Sumatijnana