CERAHNYA PAGI. Suasana pagi hari di Candi Jawi yang terletak di Prigen, Jawa Timur. Diyakini sebagai candi Hindu yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Krtanegara. Namun demikian Negarakrtagama menyebutkan, pada suatu ketika ada seorang Mahayogi Buddhis melakukan tirtayatra ke tempat ini. Hal ni membuat heran penjaga candi. Ketika ditanya mengapa ia beribadah di Candi Shiva, Sang Yogi menjelaskan bahwa dirinya tidak menyembah Shiva, melainkan memuja Buddha Aksobhya, yang berada di dalam stupa di puncak candi, yang telah hilang dalam suara petir menyambar.

GUNUNG PENANGGUNGAN. Pada masa pemerintahan Majapahit banyak para pertapa Buddha melatih diri di tempat ini. Hingga kini di lereng-lerengnya dapat dijumpai sisa-sisa reruntuhan candi.
Brkutitara, aslinya berada di Candi Jago, sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta
Candi Jajaghu atau Candi Jago Di sekeliling dinding candi dipahatkan relief sastra suci Buddhis Kunjarakarna
TELAGA RANUKUMBOLO
CANDI SUMBERAWAN.
ARCA SRI JNANESWARA BAJRA.
AIR TERJUN MADAKARIPURA.
ARCA BUDDHA AKSOBHYA
BUAH MAJA

          CANDI JABUNG terletak di sebelah timur Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur. Candi ini disebutkan dalam kitab Pararaton sebagai Bajrajina Prajnaparamitapura. Situs ini merupakan stupa yang di dalamnya disinggasanakan Bhagavati Prajnaparamita. Dibangun sebagai dedikasi atas wafatnya seorang bhiksuni yang merupakan leluhur Raja Hayamwuruk yang telah memusatkan diri pada ajaran Prajna Paramita.
          Tempat ini secara spiritual sangat bernilai, karena menurut kitab Negarakertagama terkait dengan kegiatan agung Mahayogi Mpu Baradah, yaitu tempat di mana beliau menjejakkan kaki setelah membagi dua Kerajaan Panjalu menjadi Kahuripan dan Jenggala. Berikut adalah penuturan riwayat hidupnya.
          Pada sloka ke-68 Kitab Negarakertagama tertulis: “Terdapat pertapa Mahayana paham akan tantra serta yoga, yang berdiam di perkuburan Lemah Citra, Pelindung dunia, yang sampai di Bali dengan menapak air laut. Mpu Baradah namanya, paham akan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Berkenan hatinya dimohon belas kasihnya membagi bumi, yang perbatasannya ditandai dengan air kendi dari angkasa, barat timur hingga samudra, utara selatan tidak jauh, bagaikan terpisah oleh samudra bumi Jawa milik raja. Sesampainya di pohon saat Arya pertapa turun dari angkasa, di Desa Palungan ia menaruh kendi penyuci dunia, tersangkut puncak pohon asam tinggi jubahnya, karenanya disabda, menjadi kerdil seketika.”
          Beliau lahir di Kediri, daerah Jawa Timur dalam sebuah keluarga brahmana penganut ajaran Hyang Buddha. Hidup sejaman dengan Raja Airlangga Anantawikrama Tunggadewa, sebagai seorang yogi yang telah mencapai siddhi tertinggi.
          Usahanya demi kebajikan semua makhluk adalah mengalahkan Calon Arang, seorang penyembah Dewi Durga dari desa Girah di Kediri. Calon arang beserta penganutnya telah berulangkali melakukan persembahan darah dan daging manusia untuk memperoleh berkah kesaktian dari Dewi Durga. Setelah mendapat apa yang diinginkannya, ia kemudian berambisi untuk menjadi penguasa kerajaan dan menimbulkan kematian yang luar biasa terhadap rakyat di seluruh wilayah kerajaan dengan menggunakan kekuatan pembunuh yang ia miliki.
          Orang yang sakit di pagi hari mati di sore hari, dan orang yang sakit di sore hari mati di pagi hari. Orang yang bermaksud mengungsi ke tempat jauh tak pernah mencapai tujuannya karena telah mati selagi di perjalanan. Hingga mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, tak ada yang membuang ke tempat pembuangan mayat ataupun membakarnya. Siang malam serigala, anjing liar dan semua binatang pemakan bangkai berkeliaran mengerubungi mayat-mayat. Sungguh mengerikan, pelaku kejahatan telah berjaya menyebarkan bencana.
          Raja Airlangga meminta kepada seluruh Brahmana dan pertapa untuk berbuat sesuatu guna mengatasi kekalutan ini. Namun semua tak dapat berbuat apa-apa. Suatu malam Raja mendapat kunjungan dewa baik yang memberitahukan bahwa hanya ada satu pertapa yang dapat menghentikan bencana ini, ia adalah seorang yogi agung mahayana bernama Mpu Baradah, yang berdiam di pertapaan Wiswamukha.
          Raja mengirim utusan untuk memohon bantuan kepada Mpu Baradah. Dipenuhi rasa belas kasih, Mahayogi mengabulkan permohonan Raja Airlangga, Dengan membawa air dalam wadah perak, ia pergi menyusuri desa-desa di mana bencana menimpa. Mayat-mayat yang masih baik hidup kembali setelah diperciki air suci. Yang sudah rusak diberkati agar terlahir di surga.
          Ada seorang anak kecil yang menyangka ibunya yang sudah mati sedang tidur, menghisap-hisap susunya. Mahasiddha terharu melihatnya dan menghidupkan kembali wanita tersebut sehingga hidup ibu dan anak itu kembali seperti sediakala. Juga ada seorang istri yang meraung-raung menangisi suaminya yang sudah membengkak, Mahasiddha menasehati agar ia merelakannya karena tak dapat dihidupkan kembali. Ia berjanji bahwa suaminya akan lahir di surga. Wanita tersebut terhibur dan dapat menenangkan dirinya.
          Selama berhari-hari Mahasiddha telah menghidupkan kembali tak terhitung penduduk di desa-desa tersebut, tua muda, pria wanita, semuanya sangat berterima kasih kepada beliau. Akhirnya beliau sampai di tempat dimana sumber bencana tersebut berasal, yakni di sebuah tempat pemujaan Dewi Durga, tempat dimana Calon Arang dengan keempat orang siswa utamanya sedang melakukan  persembahan kepada Dewi pujaannya. Mereka memanjatkan puji-pujian dan menari-nari dengan rambut terurai dibasahi oleh darah segar manusia.
          Mahasiddha menghentikan apa yang dilihatnya dan menyadarkan mereka semua, beberapa memilih tetap hidup, namun Calon Arang karena penyesalannya yang sangat dalam memilih untuk mati. Mahasiddha memberkati dan mengasihi mereka atas apa yang telah mereka lakukan.
          Sejak saat itu Raja Airlangga bersama seluruh keluarganya dan pengiringnya telah menjadikan Mpu Baradah sebagai gurunya. Putri sulung sang raja, Dewi Sanggramawijaya menolak untuk menggantikan ayahnya menjadi raja. Sebaliknya ia memilih untuk menjadi seorang yogini, yang kemudian dikenal luas sebagai seorang wanita suci, Dewi Kilisuci.
          Raja memohon kepada Mpu Baradah bagaimana caranya agar kedua anak laki-lakinya dapat sama-sama berkuasa. Mahasiddha dengan membawa kendi di tangannya terbang ke angkasa membelah kerajaan menjadi dua dengan mengucurkan air kendi yang kemudian menjadi sungai porong. Mahasiddha kemudian mengucapkan ikrar, bahwa barang siapa yang berusaha untuk menyatukan kedua wilayah ini tidak akan berumur panjang. Hal ini bertujuan agar kedua anak laki-laki Raja Airlangga tidak saling merebut wilayahnya masing-masing. Kedua kerajaan tersebut adalah Jenggala dan Kediri.

SEGAR DAN MENYEJUKKAN. Pada zamannya petirtaan ini merupakan tempat di mana para pertapa Buddhis menyegarkan diri kembali setelah cukup lama melatih diri di lereng-lereng gunung. Dengan melakukan tirtayatra dan mandi di tempat ini, banyak orang meyakini akan mendapatkan pahala kebajikan serta purifikasi karma-karma buruk. Permandian ini terletak di kaki Gunung Penanggungan, di daerah Trawas, Jawa Timur.

          CANDI JAJAGHU merupakan candi Buddha yang dibangun sebagai pelimpahan kebajikan atas meninggalnya Raja Jaya Wisnuwardhana. Candi yang kini lebih populer dengan nama Candi Jago ini terletak di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
          Dahulu di candi ini dapat dijumpai arca Ksamatara dan Brkutitara yang hampir sebesar orang dewasa. Kedua arca tersebut berdiri di atas teratai dan bulan. Ksamatara (Tara Hijau) diukir sangat indah di mana kain yang dikenakannya bermotif batik, memakai perhiasan lengkap, dengan mudra Dharmacakra.   
          Sedangkan Brkutitara dipahatkan juga berdiri di atas bunga teratai dan bulan, bertangan empat, di mana tangan kanannya yang atas dalam sikap Abhaya mudra dan tangan yang satu lagi memegang aksamala di dadanya. Tangan kirinya yang atas memegang setangkai bunga utpala dan tangan yang satu lagi memegang kendi berisi amrtha.
          Batunya di masa lampau disebut sphatikaprasada (batu kristal), yakni sejenis batu hitam yang berserat padat serta tidak berongga-rongga. Arca-arca tersebut kini dapat dilihat di Museum Nasional Jakarta.
          Selain itu juga terdapat arca Buddha Avalokiteshvara Amogaphasa dengan dikelilingi oleh 13 Dewa, Dyani Buddha, dan Dewi Tara. Arca Buddha Amogaphasa tersebut kini diletakkan di halaman candi oleh karena bangunan candi yang utama telah runtuh.
          Keberadaan candi ini juga ikut memastikan bahwa pada saat itu ibadah kepada Dewi Tara telah sedemikian mendalam sehingga candi kerajaan dibangun dengan rupang utama Dewi Tara. Ini tentu berdasarkan keyakinan dan pemahaman menyeluruh terhadap kualitas agung Dewi Tara.

Avalokiteshvara Amogaphasa di Candi Jago

SASTRA SUCI BUDDHIS Sutasoma dan Kunjarakarna menyebutnya sebagai tempat bersemayamnya Buddha Vairocana. Kitab Tantu Panggelaran menyebutkan sebuah mitos yang terkait dengan Gunung Semeru. Suatu ketika Bumi Jawa sering mengalami gonjang-ganjing, dilanda gempa hebat. Para dewa yang melihat hal ini kemudian sepakat untuk memindahkan puncak Gunung Kailasha (Maha Meru) di India ke Pulau Jawa agar menjadi stabil kembali. Mereka kemudian bergotong royong memotong dan mengusung gunung tersebut. Di tengah perjalanan sebagian potongan gunung tersebut berjatuhan menjadi Gunung Krakatau, puncak sucinya jatuh menjadi Gunung Penanggungan, dan sisanya menjadi Gunung Semeru. Itulah sebabnya kini puncak Gunung Kailasha terlihat rata seperti terpotong. Berdasarkan ini, diyakini bahwa berziarah ke Gunung Semeru memiliki pahala yang setara dengan berziarah ke Gunung Kailasha.

 

Berada di Gunung Semeru, memiliki nilai spiritual yang serupa dengan Telaga Manasaroruwa di Gunung Kailasha. Dahulu banyak para peziarah yang melakukan tirtayatra ke tempat ini.

Situs ini terletak di Singasari, Malang, Jawa Timur. Berada di dekat mata air yang sangat besar di lereng Gunung Arjuna. Kitab Negarakertagama menyebutnya sebagai ‘Kasuranggan’ atau tempat para dewa. Aslinya berada di tengah-tengah telaga. Hingga hari ini tempat tersebut masih kuat nuansa sakralnya. Melihat ukurannya yang besar, diduga ini merupakan stupa seorang yogi agung.

          Terletak di Taman Apsari, di tengah-tengah kota Surabaya, dikenal masyarakat luas sebagai Jokodolog. Sesungguhnya arca ini merupakan arca Buddha Aksobhya yang dibentuk dengan mengambil figur Raja Kertanegara, oleh karena beliau adalah seorang praktisi tantra yang terkait dengan Buddha Aksobhya.
          Arca ini pada mulanya diletakkan di Candi Jabung, sebagai usaha Raja Kertanegara untuk menyatukan kembali wilayah Jenggala dan Kediri, khususnya untuk menetralisir ucapan Mahasiddha Mpu Baradah yang sebelumnya telah memisahkan kedua wilayah tersebut. Pada teratai bantalan duduk arca tersebut, terukir tulisan dalam bahasa Sansekerta sebagai berikut: “Dahulu terdapat pandita utama, Arya Baradah yang maha tahu, memiliki pengetahuan dan siddhi, Mahamuni di antara para Muni. Seorang Yogi utama, mengasihi semua makhluk, seorang siddha yang mahawira, tiada ternoda oleh segala nafsu serta klesha.”

Terletak di kaki Gunung Bromo, merupakan tempat di mana Mahapatih Gajah Mada bertapa dan menghabiskan sisa-sisa hidupnya. Situs ini sangat indah, terdiri dari beberapa air terjun. Saat berjalan di bawahnya akan terlihat banyak pelangi akibat pembiasan cahaya matahari. Sebaiknya situs ini dikunjungi pada musim kemarau, sebab pada musim hujan, air dapat meluap dan menimbulkan banjir, sehingga tidak dapat dikunjungi.

Arca yang sangat besar ini terletak di Trawas, Jawa Timur, tidak jauh dari situs Permandian Jalatunda. Oleh masyarakat umum lokasi ini dikenal sebagai Reco Lanang (arca laki-laki).

Dalam bahasa Sansekerta disebut Wilwatiksta. Itulah sebabnya Kerajaan Majapahit dikenal juga sebagai Wilwatiksta. Dalam tradisi Buddhis, buah ini digunakan sebagai bahan untuk persembahan obat.