“Bila bodhicitta Mahayana telah dibangkitkan, tak ada bedanya. Apakah seseorang berkedudukan mulia atau hina, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, brahmana atau candala. Seseorang akan dipuja oleh para dewa dan manusia.”
-The Jewel Lamp
“Sebagaimana mentega adalah sari dari susu, demikian pula bodhicitta adalah sari dari Mahayana.
Sebagaimana madu adalah sari dari bunga, demikian pula bodhicitta adalah sari dari Mahayana.”
-The Jewel Lamp
“Sungguh buruk bila sila seseorang merosot, akan tetapi jauh lebih buruk bila bodhicitta yang merosot.
Yang pertama akan memberikan surga, tetapi yang kedua akan memberikan Pencerahan.”
-Lama Tenzin Gyaltsen
Manjushri Menuntun Sudhana dalam Perjalanannya Mencari Kebijaksanaan
(Salah satu kisah yang dipahatkan di Candi Borobudur)
Semua Bodhisattva yang sedang bersama Sang Buddha di Hutan Jeta diselimuti oleh cahaya yang berasal dari konsentrasi Sang Buddha. Pada saat itu tak terbilang cahaya terpancar dari tubuh semua Bodhisattva yang berada di sana bersama Sang Buddha. Dari pancaran cahaya tersebut muncul emanasi para Bodhisattva yang tak terhingga banyaknya, dalam wujud yang disesuaikan dengan perkembangan dari semua makhluk. Emanasi dari para Bodhisattva tersebut meliputi seluruh jagat raya, menerangi, mengembangkan, dan membimbing makhluk hidup melalui berbagai cara berdasarkan petunjuk dari para Bodhisattva.
Pada saat itu, Bodhisattva-Mahasattva Manjushri, dalam wujud seorang pemuda, bangkit dari tempatnya di dalam persamuhan, memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, dan berangkat menuju ke arah selatan dalam suatu perjalanan ke alam manusia.
Dalam sekejap Manjushri beserta rombongan pengiring gaibnya tiba di pinggiran sebuah kota besar di selatan yang bernama Dhanyakara. Mereka tinggal di suatu kuil di hutan yang terletak di luar kota tersebut. Penduduk kota mendengar kedatangan Manjushri, sehingga mereka datang untuk menemui beliau: wanita dan pria, juga anak-anak perempuan dan laki-laki.
Manjushri melihat kehadiran Sudhana di antara kerumunan orang banyak, dan mengetahui bahwa sang pemuda telah mencapai suatu tekad yang tak melekat dan tak terhalangi untuk mencapai pencerahan. Manjushri kemudian menyambut Sudhana dengan ramah dan menjelaskan kepadanya tentang unsur-unsur Kebuddhaan, ketakterbatasan para Buddha, urut-urutan pemunculan para Budddha di dunia, persamaan dari semua Buddha.
Kemudian, ketika Sudhana melihat Manjushri akan berangkat, ia memohon kepada sang Bodhisattva-Mahasattva untuk mengajarkan kepadanya bagaimana melaksanakan pekerjaan makhluk utama, pekerjaan untuk kebaikan universal. Manjushri memberi tahu Sudhana agar mencari guru-guru spiritual, dan belajar dari mereka. Beliau mengarahkan Sudhana untuk pergi ke selatan mengunjungi seorang bhiksu yang bernama Meghashri, dan menanyakan padanya bagaimana cara mempelajari perilaku para Bodhisattva.
Dipenuhi kegembiraan karena mendapatkan petunjuk ini, Sudhana memandang Manjushri dengan cinta kasih, dan melihat dengan tatapan seakan-akan tak sanggup terlepas dari pandangan guru spiritualnya. Kemudian, dengan air mata berlinang di wajahnya, ia meninggalkan Manjushri dan berangkat menuju ke selatan.
Guru Pertama: Di atas Puncak yang Lain.
Sudhana menuju ke gunung yang telah diberitahukan kepadanya di mana ia bisa menemui sang bhiksu Meghashri. Ia mendaki gunung tersebut, dan setelah tujuh hari mencari, akhirnya ia melihat Meghashri sedang berjalan di puncak gunung yang lain.
Sudhana mendatangi Meghashri, memberi hormat, dan memberitahukan tujuan kedatangannya. Ia meminta Meghashri mengajarinya bagaimana menjadi seorang Bodhisattva dan bagaimana melakukan pekerjaan demi kebajikan semua makhluk. Meghashri memuji ketetapan hati Sudhana dan mengingatkannya betapa sulitnya mencari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.
Meghashri berkata kepada Sudhana: “Putraku, saya melihat semua Buddha di semua alam di kesepuluh penjuru. Saya melihat seorang Buddha, seratus Buddha, seribu Buddha, sejuta Buddha, semiliar Buddha, setriliun Buddha – saya melihat tak terkira, tak terukur, tak terhitung, dan tak terbayangkan banyaknya para Buddha.”
“Saya melihat para Buddha dengan berbagai rupa, saya melihat para Buddha dalam berbagai wujud, saya melihat para Buddha dengan berbagai penggunaan kekuatannya, saya melihat para Buddha dengan berbagai tingkat kemurniannya di alam para Buddha.”
“Putraku, saya telah mencapai kesadaran para Buddha, tetapi bagaimana saya tahu tentang praktik Bodhisattva?”
“Pergilah ke selatan, Putraku – sebelah selatan dari sini terdapat sebuah tempat yang bernama Sagaramukha, tempat di mana seorang bhiksu bernama Sagaramegha tinggal. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Meghashri dan pergi melanjutkan perjalanannya.
Guru Kedua: Mega Samudra
Setahap demi setahap Sudhana menuju ke selatan ke suatu negeri yang bernama Pintu Samudra. Dalam perjalanan ia mencari arah penampakan Sang Buddha, memikirkan tentang samudra para Buddha, mengingat barisan panjang para Buddha yang bekerja melewati berbagai generasi.
Sudhana mencari bhiksu yang bernama Sagaramegha – yang artinya “Mega Samudra”. Ia bertanya kepada Sagaramegha apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi kebodohannya dan memasuki arus dari praktik menuju pencerahan.
Sagaramegha memuji Sudhana dan berkata kepadanya bahwa keinginan untuk mencapai pencerahan hanya tumbuh pada diri orang yang memiliki akar kebajikan, dan yang berusaha mencapai tingkatan dari mereka yang telah memahami realitas.
Sagaramegha memberi tahu Sudhana:
“Putraku, saya telah menetap di sini di Pintu Samudra selama 12 tahun dan saya telah memusatkan pikiranku pada samudra, merenungkan keluasannya yang tak terukur, kejernihannya yang murni, kedalamannya yang tak bisa diduga, pendalamannya secara bertahap, keragaman kandungannya akan substansi yang berharga, jumlah airnya yang tak terhitung, ketakterbatasannya, menjadi tempat tinggal bagi tak terhingga makhluk hidup, diselimuti oleh awan, bagaimana ia tak bertambah dan tak berkurang.”
Sagaramegha kemudian menceritakan kepada Sudhana sebuah penglihatan yang diperolehnya ketika merenungkan samudra: Sagaramegha melihat setangkai bunga teratai yang sangat besar yang terbuat dari batu-batu permata tumbuh dari dasar lautan. Dikelilingi oleh makhluk-makhluk gaib yang menaburkan bunga-bunga dan memercikkan wewangian padanya.
Kemudian Sagaramegha melihat Sang Buddha duduk di atas bunga teratai raksasa tersebut, agung dan sempurna. Kemudian ia mendengarkan kefasihan ucapan yang tak terlukiskan dari Sang Buddha. Ia tertarik mendekati ketakterbatasan yang tak terlukiskan dari kekuatan Sang Buddha. Ia menyaksikan bagaimana Sang Buddha telah menyempurnakan praktik Bodhisattva.
Kemudian Sagaramegha melihat Sang Buddha mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh kepalanya, mengungkapkan padanya suatu ajaran yang disebut Mata Semesta. Sagaramegha kemudian memberi tahu Sudhana bahwa ia telah menerima ajaran tersebut dan menyimpannya di dalam hati dan menjalankannya selama dua belas tahun ini.
“Saya menguasai ajaran ini, Putraku, tapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang telah memasuki samudra dari semua ikrar?”
Pergilah ke selatan, Putraku – sebelah selatan dari sini ada sebuah tempat yang bernama Sagaratira, di mana tinggal seorang bhiksu yang bernama Supratishthita. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana menyempurnakan praktik menuju pencerahan dari para Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Sagaramegha dan berangkat untuk melanjutkan perjalanannya.
Guru Ketiga: Berjalan di Angkasa
Perlahan Sudhana menuju ke selatan ke Desa Sagaratira di Negeri Lanka. Dalam perjalanan ia mengingat ajaran Mata Semesta, merenungkan samudra jalan masuk menuju ajaran. Mendekati Desa Sagaratira, Suddhana mencari ke segala arah berharap akan dapat melihat Supratishthita – yang namanya berarti “Berkedudukan Baik”. Sudhana melihat Supratishthita berjalan di angkasa, dikelilingi oleh banyak sekali makhluk surgawi.
Sudhana melihat angkasa dipenuhi oleh bunga-bunga surgawi, musik surgawi dan tak terhitung bendera dan panji yang dipersembahkan oleh para makhluk surgawi kepada Supratishthita. Sudhana melihat berbagai makhluk surgawi melakukan persembahan kepada Supratishthita – para roh air, raksasa, para pemimpin naga, kinari, para pemimpin makhluk halus, para pemimpin dewa. Ia terpesona melihat Supratishthita berjalan di angkasa.
Sudhana memberi tahu Supratishthita bahwa ia telah bertekad untuk mencapai pencerahan, dan bertanya kepadanya bagaimana seorang bodhisattva dapat terus mengingat dan menerima ajaran para Buddha.
Supratishthita memberi tahu Sudhana bahwa ia telah mencapai tingkat pencerahan yang disebut Pintu yang Tak Terhalangi, dan dengan memasuki dan keluar darinya, mempraktikkannya, menganalisanya, dan menyempurnakannya, ia mendapatkan cahaya pengetahuan yang disebut “Tanpa Halangan Utama”.
Melalui cahaya pengetahuan ini, Supratishthita memahami kegiatan mental dari semua makhluk. Ia tahu semua bahasa mereka dan kemampuan mereka yang berbeda-beda, dan ia tahu bagaimana mendekati mereka pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat untuk membimbing mereka pada perkembangan yang menyeluruh.
Supratishthita memberi tahu Sudhana:
“Dengan realisasi kekuatan gaib ini, saya berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring di angkasa, menghilang dan muncul, menimbulkan pengaruh magis.”
“Satu menjadi banyak. Banyak menjadi satu. Beremanasi sebagai kumpulan jaring cahaya warna-warni yang tak terhingga, saya pergi ke segala arah.”
“Dalam satu saat pikiran saya melewati satu dunia, seratus dunia, seribu dunia, seratus ribu dunia, sejuta dunia, semiliar dunia, setriliun dunia, sekuadriliun dunia, sekuintiliun dunia – saya melihat tak terhitung, tak terukur, tak terhingga, tak terlukiskan, tak terkatakan banyaknya dunia.”
“Saya menemui para Buddha yang sedang memberikan ajaran di setiap dunia tersebut dan memberikan berbagai persembahan. Saya menerima semua ajaran itu dan mengingat kemurnian alam para Buddha.
“Putraku, saya menguasai tingkat pencerahan Pintu yang Tak Terhalangi yang dalam sekejap menghubungkan semua tempat di mana para Buddha melakukan kegiatan, tetapi bagaimana saya tahu praktik Bodhisattva, yang perilakunya bebas dari kemelekatan, terpusat pada jalan menuju pencerahan, dan bebas dari semua alam duniawi?
“Pergilah ke selatan, Putraku – ke Kota Vajrapura, di mana tinggal seorang ahli kata-kata yang bernama Megha. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan mempraktikkan perilaku Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Supratishthita dan berangkat melanjutkan perjalanannya.
Guru Keempat: Sang Ahli Bahasa
Sudhana perlahan meneruskan perjalanannya menuju selatan ke Kota Vajrapura, mencari Megha sang ahli bahasa. Dalam perjalanan ia berfokus pada pikiran tentang Buddha, memikirkan ikrar agung para Bodhisattva, dan berjuang untuk menolong semua makhluk.
Sudhana melihat Megha di persimpangan jalan di tengah kota. Ia sedang duduk membicarakan tentang ajaran pencerahan kepada kerumunan banyak orang, menjelaskan suatu teks yang disebut “Mengajar dengan Kata-kata”.
Sudhana menghampiri Megha dan memberi hormat dan memberitahukan maksud kedatangannya. Ia bertanya kepada Megha bagaimana seorang Bodhisattva mempelajari dan menjalankan praktik makhluk utama.
Sudhana bertanya: “Bagaimana caranya seorang Bodhisattva mempertahankan tekadnya untuk mencapai pencerahan? Bagaimana seseorang memurnikan niatnya? Bagaimana seseorang membangkitkan kekuatan belas kasih hingga tak tergoyahkan? Bagaimana seseorang mencapai batin yang benar-benar murni? Bagaimana kebijaksanaan dapat dicapai?
Megha membungkuk di hadapan Sudhana karena rasa hormat kepadanya sebagai seorang Bodhisattva aspiran. Kemudian ia membuat hujan bunga-bunga indah beraneka warna dan berbagai wewangian turun di atas Sudhana.
Megha kemudian berkata kepada Sudhana:
“Sungguh baik bila Engkau telah menetapkan hatimu untuk mencapai pencerahan yang sempurna. Barang siapa yang membangkitkan tekad untuk mencapai pencerahan sempurna berarti ikut serta mengabadikan garis silsilah para Tathagata, bersungguh-sungguh dengan benar menyampaikan tradisi tanpa nafsu, ikut serta membimbing keluarga dari semua makhluk untuk mencapai pencerahan.”
Ketika Megha mempersembahkan pujian kepada para Bodhisattva, banyak sekali bola api keluar dari mulutnya, menerangi seribu dunia. Makhluk-makhluk dari semua dunia tersebut melihat cahaya yang berasal dari Megha kemudian datang untuk menerima ajarannya. Tubuh dan pikiran mereka disejukkan, terpesona, dipenuhi rasa hormat, terbebas dari kesombongan, terbebas dari tipu muslihat. Setelah mendengarkan penjelasan Megha tentang ajarannya, mereka semua mencapai suatu keadaan tak bisa berpaling dari pencarian pencerahan.
Megha duduk bersandar dan berkata kepada Sudhana: “Saya menguasai bahasa para Bodhisattva, yang diekspresikan menurut mentalitas dan bahasa dari makhluk hidup yang akan ditolong.”
“Saya memperhatikan samudra kata-kata yang telah diucapkan kepada semua makhluk oleh para Buddha di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang telah memasuki lautan konsepsi dan bahasa dari semua orang?”
“Pergilah ke selatan, Putraku – terdapat suatu kota di sebelah selatan dari sini yang bernama Vanavasin, di mana tinggal seorang pria terhormat yang bernama Muktaka, “Yang Telah Terbebas”. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan mempraktikkan perilaku para Bodhisattva dan membiasakan diri dengan pekerjaan mereka, dan bagaimana caranya mengamati pikiran.”
Sudhana memberi hormat kepada Megha, merenungkan bahwa semua pengetahuan berasal dari mengikuti guru spiritual yang baik, dan dengan berat hati pergi melanjutkan perjalanannya.
Guru Kelima: Yang Telah Terbebas
Sudhana perlahan menuju ke selatan, merenungkan kemahiran sang Bodhisattva terhadap kata-kata, membangkitkan upaya Bodhisattva, diperlengkapi dengan batin yang berkomitmen dan konsistensi yang tak henti, dengan energi dan tekad yang tak habis-habisnya, diberkahi dengan kekuatan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Sudhana mencari yang mulia Muktaka – yang namanya berarti “Yang Telah Terbebas”. Ketika bertemu dengan Muktaka, Sudhana memberi hormat dan menjelaskan maksud kedatangannya. Ia bertanya kepada Muktaka bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Pada saat itu Muktaka memasuki tingkat samadhi yang disebut Kumpulan Semua Bumi-Buddha. Tubuhnya menjadi murni, dan tak terhingga banyaknya Buddha terlihat di dalam tubuhnya, beserta alam Kebuddhaan mereka, beserta kumpulan manusia pengikut mereka, cahaya murni mereka, tindakan dan kediaman masa lalu mereka, proyeksi gaib mereka, ikrar-ikrar mereka, kemurnian praktik pembebasan mereka, dan penyempurnaan ajaran mereka.
Sudhana melihat dalam tubuh Muktaka penggambaran dari semua Buddha dalam semua tahap tujuan pengajaran mereka, mengajar dalam berbagai cara yang berbeda. Semua ajaran para Buddha tersebut didengarkan, dipahami, diingat, dan direnungkan oleh Sudhana.
Kemudian dengan kesadaran penuh, Muktaka bangkit dari samadhinya dan berkata kepada Sudhana:
“Saya masuk dan keluar dari tingkat pembebasan para Buddha yang disebut Manifestasi yang Tak Terhalangi. Saya melihat tak terhingga alam para Buddha yang berlainan di semua penjuru, masing-masing dengan Buddha dan kumpulan Bodhisattvanya sendiri. Saya menemui Buddha mana pun yang ingin saya temui, kapan pun, di mana pun, dalam kegiatan pengajaran apa pun.”
“Saya menguasai tingkat pembebasan para Buddha yang disebut Manifestasi yang Tak Terhalangi, dan keluar masuk darinya. Tetapi bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang batinnya tak terhalangi dan yang bekerja dalam keadaan bebas dari rintangan?”
“Pergilah ke selatan, ke Milaspharana, di ujung benua. Seorang bhiksu yang bernama Saradhvaja tinggal di sana. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan mempraktikkan perilaku Bodhisattva, dan bagaimana caranya pikiran diawasi.”
Sudhana memberi hormat kepada Muktaka, dan menunjukkan kekagumannya atas kebajikannya yang tak terhingga, dengan cinta kasih terhadapnya sebagai seorang guru spiritual. Kemudian ia berangkat melanjutkan perjalanannya.
Guru Keenam: Ahli Proyeksi Gaib
Sudhana menuju ke selatan, merenungkan instruksi yang diberikan oleh Muktaka yang mulia, mengingat pembebasan yang tak terlukiskan dari para Bodhisattva, dan cahaya pengetahuan yang tak terbayangkan dari para Bodhisattva.
Perlahan ia tiba di Milaspharana, di mana ia mencari ke mana-mana untuk menemukan sang bhiksu Saradhvaja. Sudhana melihat Saradhvaja sedang duduk di dekat jalan setapak di suatu tempat penyepian. Ia sedang duduk bersamadhi, mengikuti napasnya, tidak bergerak, tidak berpikir, tubuhnya tegak, kesadarannya dalam kekinian.
Waktu ke waktu, dengan kekuatan yang tak terlukiskan dari konsentrasinya, Saradhvaja membuat manifestasi dari tak terhingga tubuh bermunculan di sekitarnya. Para Bodhisattva mengalir keluar dari setiap pori-pori tubuhnya yang penuh suka cita.
Saradhvaja memenuhi jagat raya dari waktu ke waktu dengan berbagai proyeksi gaib yang tak habis-habisnya, untuk menyempurnakan semua makhluk hidup, untuk menghormati semua Buddha, untuk menghalau penderitaan semua makhluk, dan untuk memperkenalkan semua makhluk pada semua pengetahuan.
Sudhana melihat emanasi dari berbagai bagian tubuh Saradhvaja berbagai perilaku manusia melakukan kebaikan dalam berbagai bentuk: menolong yang miskin, menyelamatkan kehidupan, memenuhi keinginan makhluk hidup, memurnikan batin dari makhluk hidup, mengembangkan makhluk hidup menuju pencerahan.
Sudhana melihat mereka memperdengarkan suara kebenaran, memperkenalkan makhluk hidup akan makna pengetahuan, mengajarkan ilmu pengetahuan duniawi, menunjukkan ilmu pengetahuan dari jalan menuju pencerahan, membimbing makhluk hidup dalam praktik yang bertahap.
Sudhana melihat emanasi dari mata Saradhvaja matahari yang tak terhingga jumlahnya, menyinari tak terhingga dunia, menghalau kegelapan batin dari makhluk hidup.
Sudhana melihat emanasi dari kepala Saradhvaja tak terhingga para Bodhisattva, bermanifestasi dalam berbagai rupa dan wujud, menerima praktik menuju pencerahan dari semua Buddha, mempraktikkan dana tanpa kemelekatan, dan mengajarkan dasar penyebab kualitas dari para Tathagatha.
Dari puncak kepala Saradhvaja Sudhana melihat emanasi tak terhingga para Buddha dengan nyala cahaya prabhanya yang tak terlukiskan menyinari seluruh dunia di jagat raya. Emanasi dari kepala Saradhvaja adalah tak terhingga Buddha dengan suara meliputi jagat raya, mempertunjukkan transformasi ajaib para Buddha yang tak habis-habisnya, menurunkan hujan ajaran pada semua makhluk tanpa terkecuali.
Sudhana melihat bulatan-bulatan yang terbentuk dari jaring-jaring cahaya muncul dari setiap pori-pori di tubuh Saradhvaja, memperlihatkan gambaran semua kegiatan dari semua Bodhisattva di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.
Sudhana berdiri di hadapan Saradhvaja menyaksikan pertunjukan penampakan selama sehari semalam, selama dua hari, selama tujuh hari, selama sebulan, selama enam bulan, dan kemudian selama enam hari enam malam lagi. Kemudian, setelah enam bulan lewat enam hari enam malam, Saradhvaja bangkit dari samadhinya. Saradhvaja memberi tahu Sudhana bahwa tingkat konsentrasi ini disebut Ketenangan Batin dari Mata Semesta.
Saradhvaja berkata kepada Sudhana:
“Saya menguasai kesempurnaan kebijaksanaan ini. Tetapi bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang telah memasuki samudra kesempurnaan kebijaksanaan, yang telah mengklarifikasi perspektif alam semesta, yang tahu ke mana tujuan dari semua ajaran, yang merupakan tempat perlindungan bagi semua makhluk?”
“Pergilah ke selatan, ke sebuah taman yang bernama Perhiasan Semesta dekat kota Cahaya Benderang, di mana tinggal seorang wanita religius yang bernama Asha. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menerapkan praktik Bodhisattva.”
Tersemangati oleh Saradhvaja, merasa bahagia dan gembira, Sudhana memberikan penghormatan, kemudian beranjak melanjutkan perjalanannya. Sambil berjalan, Sudhana terus memikirkan kebajikan Saradhvaja, mengikuti ikrarnya, mencari penglihatannya, mengingat kata-katanya, mengenang rupanya, dan merenungkan keunggulan pengetahuannya.
Guru Ketujuh: Sang Penyembuh
Sudhana berjalan ke selatan, sambil merenungkan pentingnya guru spiritual, dan perlahan menuju ke Taman Perhiasan Semesta.
Sudhana melihat taman tersebut dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari berbagai macam batu permata, juga deretan pohon permata, dipenuhi dengan beraneka ragam bunga, menyebarkan keharuman ke segala penjuru. Tanahnya bertaburkan perhiasan dari permata. Ada pohon-pohon yang terbuat dari bunga, dan alat-alat musik memperdengarkan suara yang indah.
Di dalam taman terdapat tak terhingga susunan menara dan menara kecil yang berlapiskan emas dan batu permata. Tirai-tirai dari batu mulia dan jaring genta emas kecil begemerincing dengan manis ketika digerakkan oleh hembusan angin semilir. Kolam-kolam dipenuhi dengan bunga teratai beraneka warna yang terbuat dari berbagai batu permata.
Di tengah-tengah taman, sebuah rumah besar yang disebut “Panji Beraneka Warna” berdiri di atas lantai permata, dihiasi dengan pilar-pilar dari safir, beratapkan emas, dilapisi dengan susunan permata penerang dunia. Di dalam rumah tersebut telah tersusun tak terhingga banyaknya tempat duduk, dalam berbagai bentuk seperti bunga teratai permata dengan berbagai model.
Di atasnya, taman tersebut ditutupi oleh sejuta kanopi, kanopi kain, kanopi dari sulur tanaman, kanopi bunga, kanopi dari karangan bunga, kanopi wewangian, kanopi dari batu permata yang gemerlapan seperti berlian, kanopi peri, kanopi dari permata yang dihadiahkan oleh raja para dewa. Taman tersebut juga diselimuti oleh sejuta jaring permata dan diterangi oleh sejuta cahaya terang benderang.
Tak terhingga makhluk hidup dalam semua tingkat keberadaan dari seluruh dunia di sepuluh penjuru datang meminta bantuan dari kekuatan gaib wanita tersebut. Asha duduk di atas singgasana emas, dengan mewah berhiaskan tiara, gelang emas, anting yang terbuat dari permata biru, dan kalung dari permata ajaib.
Semua yang mendatangi Asha dengan berbagai macam penyakit dan penderitaan dengan segera terbebaskan. Batin mereka terbebas dari kegelapan, duri pandangan salah tercabut dari batin mereka, gunung rintangan yang menghalangi mereka dihancurkan, dan mereka masuk dalam dunia kemurnian yang tak terhalangi.
Semua yang datang kepada Asha bertatapan muka dengan samudra dari semua media untuk memusatkan batin, dan mereka mengangkat ikrar yang pertama serta siap menjalankan segala cara praktik.
Sudhana memasuki taman tersebut, dan mencari ke mana-mana hingga ia melihat Asha sedang duduk di sana. Ia menghampirinya, memberi hormat, dan memberitahukan bahwa ia telah bertekad untuk mencapai pencerahan sempurna. Ia bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Asha berkata kepada Sudhana:
“Sudah pasti ada manfaatnya bertemu denganku, mendengarkanku, tinggal bersamaku, dan mengingatku. Saya tak terlihat bagi mereka yang belum mengembangkan dasar-dasar kebajikan, yang tidak dibimbing oleh guru-guru spiritual, yang tidak berada dalam lindungan para Buddha yang sempurna.”
“Mereka yang melihatku tak akan mengalami kemunduran dari apa yang telah mereka capai menuju pencerahan yang sempurna.”
“Para Buddha di sepuluh penjuru datang kemari dan duduk di kursi permata mereka dan menguraikan tentang kebenaran kepadaku. Saya selalu melihat para Buddha, mendengarkan kebenaran, dan bertemu dengan makhluk utama.”
Kemudian, setelah menceritakan kepada Sudhana tentang usahanya menuju pencerahan dan motivasi dari seorang Bodhisattva mencari pencerahan, Asha berkata:
“Saya menguasai tingkat pembebasan ini yang disebut “Kesejahteraan Bebas Dari Penderitaan”. Tetapi bagaimana saya bisa tahu mengenai praktik Bodhisattva, atau menyampaikan kecakapan pencerahan mereka yang tak terbayangkan?”
“Pergilah ke selatan – ada suatu daerah yang bernama Nalayur tempat di mana seorang peramal bernama Bhishmottaranirghosha tinggal. Pergilah bertanya kepadanya dan ia akan mengajarkan padamu tentang praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Asha, kemudian berangkat melanjutkan perjalanannya. Sambil berlalu, Sudhana terus merenungkan tentang betapa langkanya Bodhisattva, betapa sulitnya mendekati guru-guru spiritual dan bertemu dengan orang yang mengatakan kebenaran, betapa sulitnya mencapai kemurnian niat dari para Bodhisattva.
Guru Kedelapan: Sang Peramal
Sudhana menuju ke selatan, batinnya terpicu oleh energi dari penampakan Buddha, dengan energi mental yang timbul karena menerima kumpulan ajaran, kehendaknya yang murni tak tergoyahkan, batinnya tak terkalahkan dan bebas dari semua kekuatan khayalan.
Perlahan ia menuju ke Nalayur dan mencari sang peramal Bhishmottaranirghosha. Pada saat itu sang Peramal berada di tempat yang terpencil, tempat yang menyenangkan dengan tak terhitung bermacam-macam pohon dan tanaman, dinaungi oleh dedaunan dari berbagai pohon, dengan pepohonan yang terus-menerus berbunga, dan pohon-pohon cendana besar yang menebarkan keharuman, serta pohon buah-buahan dan bunga teratai bermekaran.
Sudhana melihat sang Peramal berpakaian seperti pertapa hutan dengan rambut kusut, duduk di atas tempat duduk yang terbuat dari kulit kayu, kain kusam, rumput kusa, dan kulit rusa, di dalam sebuah pondok di kaki sebuah pohon cendana raksasa, dikelilingi oleh sepuluh ribu orang peramal.
Sudhana mengira ia telah menemukan guru spiritual yang sebenarnya, sehingga ia memberi tahu sang Peramal bahwa ia telah bertekad untuk mencapai pencerahan sempurna, dan bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.
Sang Peramal berpaling ke arah sepuluh ribu orang yang berkumpul di dekatnya dan memuji Sudhana atas ketetapan hatinya. Orang-orang tersebut menaburkan bunga-bunga yang indah dan harum semerbak ke arah Sudhana dan mengelilinginya dengan hormat. Sang Peramal berkata kepada mereka: “Pemuda ini telah menetapkan hatinya pada pencerahan yang sempurna. Ia akan mencapai tingkat Kebuddhaan yang sempurna.”
Kemudian sang Peramal berkata kepada Sudhana: “Saya telah mencapai tingkat pembebasan yang disebut Panji yang Tak Terkalahkan.”
Sudhana bertanya kepada sang Peramal: “Apa lingkup dari pembebasan ini?”
Sang Peramal mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh kepala Sudhana, kemudian memegang Sudhana dengan tangan kanan. Pada saat itu Sudhana melihat tak terhingga alam Buddha di segala penjuru. Kemudian ia merasa dirinya duduk di kaki tak terhingga para Buddha. Ia melihat semua pengikut para Buddha tersebut, dan ia melihat semua tanda khusus dan perhiasan mereka, dan ia mendengar semua yang mereka katakan tanpa kehilangan sepatah kata pun.
Sudhana melihat wujud manifestasi dari semua Buddha tersebut yang disesuaikan dengan mentalitas dari semua jenis makhluk hidup. Ia melihat jaringan cahaya memancar dari semua Buddha tersebut, dan ia masuk ke dalam arus kekuatan mereka untuk mengikuti cahaya pengetahuan yang tak terhalangi.
Sudhana seakan-akan berada bersama dengan seorang Buddha selama sehari semalam, dengan Buddha yang lain selama dua minggu, dengan Buddha yang lain lagi selama sebulan, dengan Buddha yang lain selama setahun, dengan Buddha yang lain selama seabad, dengan Buddha yang lain selama seribu tahun, dengan Buddha yang lain selama sejuta tahun, dengan Buddha yang lain selama semiliar tahun, dengan Buddha yang lain selama tak terhitung kalpa. Dengan cara ini Sudhana merasa dirinya bersama dengan para Buddha, diberkahi dengan cahaya pengetahuan dan konsentrasi mereka.
Kemudian sang Peramal melepaskan tangannya dari Sudhana. Ia seketika mendapati dirinya kembali berada di dalam pondok hutan sedang berdiri di hadapan sang Peramal. Sang Peramal berkata: “Apakah Engkau ingat apa yang baru saja kaualami?” Sudhana menjawab: “Saya ingat, Yang Mulia, berkat kekuatan dari guru spiritual.”
Sang Peramal berkata: “Saya menguasai tingkat pembebasan ini yang disebut Panji yang Tak Terkalahkan. Tetapi bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, atau masuk ke alam samadhi mereka, atau mencapai kekuatan gaib mereka?
“Pergilah ke selatan ke suatu negeri yang bernama Ishana, di mana tinggal seorang pendeta yang bernama Jayoshmayatana. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menerapkan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada sang Peramal dan segera berangkat, berpaling untuk melihatnya lagi dan lagi.
Guru Kesembilan: Sang Pendeta Api
Ketika Sudhana menuju ke selatan, batinnya diterangi oleh cahaya pembebasan Panji yang Tak Terkalahkan yang ditunjukkan kepadanya oleh sang Peramal, dan dengan secara langsung menyaksikan keajaiban yang tak terlukiskan dari alam para Buddha.
Sudhana perlahan melakukan perjalanan mencari Pendeta Jayoshmayatana di Negeri Ishana. Pada saat itu sang Pendeta sedang mempraktikkan latihan pertapa yang disebut menahan panas membara, dan sedang berdiri di tengah-tengah empat api unggun besar yang sedang berkobar. Di atasnya terdapat sebuah tebing yang curam, dengan jalan setapak sempit menyerupai mata pisau silet.
Sudhana menghampiri sang Pendeta dan memberi hormat kepadanya. Ia memberi tahu sang Pendeta bahwa ia telah bertekad untuk mencapai pencerahan sempurna, dan bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.
Kemudian sang Pendeta berkata kepada Sudhana: “Dakilah jalan setapak gunung mata silet itu dan dari sana loncatlah ke dalam api – dengan begitu praktik pencerahanmu akan terpurifikasi.
Sudhana berpikir tentang betapa sulitnya bertemu dengan orang-orang yang benar dan menemukan guru spiritual yang sejati. Ia berpikir sang Pendeta mungkin iblis atau seseorang yang dirasuki oleh setan, mencoba mengarahkannya ke jalan yang sesat, mencoba untuk mencegah dirinya mencapai pencerahan.
Saat sedang bimbang, Sudhana melihat banyak sekali dewa muncul di angkasa. Mereka berkata kepada Sudhana agar tidak terpaku pada pikiran seperti itu, dan memberitahukan bahwa sang Pendeta telah mempersembahkan dirinya sendiri untuk membakar habis keterikatan emosional, pandangan salah, dan penderitaan makhluk hidup.
Sudhana menyaksikan kumpulan berbagai makhluk gaib muncul di angkasa, bersaksi bahwa sang Pendeta dengan apinya telah menolong mereka mengatasi khayalan, berhasil menguasai pikiran mereka sendiri, mengenyahkan nafsu keinginan, membebaskan diri dari kemelekatan, memotong kesombongan, memadamkan kemarahan, menyingkirkan kebohongan dan tipu muslihat, dan memurnikan kehendak mereka untuk mencapai pencerahan.
Dipenuhi kegembiraan oleh pertunjukan ini, Sudhana membungkuk di hadapan sang Pendeta dan berkata: “Saya mengakui kesalahan saya, Yang Mulia, dalam hal tidak mengenalimu sebagai guru spiritual.”
Kemudian Sudhana memanjat tebing curam tersebut, sepanjang jalan setapak yang menyerupai mata silet, dan melemparkan dirinya ke dalam api di bawahnya.
Ketika ia jatuh ia mencapai tingkat samadhi yang disebut Berkedudukan Kuat.
Ketika menyentuh api ia mencapai tingkat samadhi yang disebut Pengetahuan Gaib Mahasukha Ketenangan. Ia takjub atas betapa menyenangkannya semua yang dirasakannya, api yang berkobar dan pegunungan mata silet.
Sang Pendeta berkata:
“Saya menguasai tingkat pembebasan ini di mana seseorang menjadi tak terkalahkan. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang ketetapan hatinya seperti energi yang berkobar-kobar, yang bekerja demi kepentingan semua makhluk, yang semangatnya tak pernah surut?
“Pergilah ke selatan ke kota Simhavijurmbhita, di mana tinggal seorang gadis bernama Maitrayani. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada sang Pendeta dan beranjak pergi, menoleh ke arahnya lagi dan lagi.
Guru Kesepuluh: Gadis yang Baik Hati
Sudhana menuju ke selatan, siap melakukan perjalanan yang hebat, mencari pengetahuan pencerahan, menjalin hubungan dengan sahabat-sahabat spiritual.
Sudhana perlahan melanjutkan perjalanannya ke kota yang bernama Singa Menerkam, mencari seorang gadis bernama Maitrayani. Ia diberitahu bahwa ia bisa menemukan Maitrayani sedang duduk di atas atap istana ayahnya, sang Raja, dengan ditemani oleh lima ratus orang gadis, sedang menjelaskan Dharma secara terperinci.
Setibanya di istana, Sudhana melihat ribuan orang masuk ke dalam. Ia bertanya kepada mereka mengapa mereka datang dan mereka memberitahukan bahwa mereka datang kepada Maitrayani untuk mendengarkan Dharma.
Istananya terbuat dari permata berkilau di atas lantai dari kristal, dilengkapi dengan tak terhitung cermin permata, ditebari oleh tak terkira jaring permata, disemarakkan oleh seratus ribu genta emas yang bergemerincing oleh hembusan angin semilir.
Sudhana melihat sang gadis Maitrayani – ia memiliki mata hitam, rambut hitam, dan kulit keemasan. Ia memberi hormat kepadanya, memberitahukan maksud kedatangannya, dan bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Maitrayani berkata kepada Sudhana: “Lihatlah perhiasan-perhiasan istanaku.”
Memperhatikan sekelilingnya, Sudhana melihat gambaran semua Buddha di jagat raya dalam semua tingkatan kegiatan pengajarannya terpantul dari setiap objek di istana tersebut, dari setiap dinding, setiap cermin, setiap arca kecil, setiap permata, setiap genta emas, setiap tubuh para gadis.
Menyimpan dalam batinnya penampakan para Buddha tersebut, Sudhana menangkupkan tangannya dengan hormat dan mengalihkan perhatiannya pada kata-kata Maitrayani.
Maitryani memberi tahu Sudhana bahwa dengan belajar dari tak terhitung para Buddha telah ditunjukkan kepadanya suatu jalan masuk menuju kebijaksanaan sempurna dengan cara pengaturan yang menyeluruh. Sudhana bertanya seperti apakah itu.
Maitrayani menjawab bahwa dengan memusatkan perhatiannya pada jalan masuk menuju kebijaksanaan sempurna dengan cara pengaturan yang menyeluruh, ia telah mengembangkan pengendalian mental yang disebut Menghadap Semua Penjuru. Pada tingkat pengendalian mental ini, semua media Dharma bekerja, bersatu, bisa terlihat, bisa dicapai, dan berkembang.
Maitrayani memberi tahu Sudhana bahwa media Dharma meliputi:
Medium para Buddha
Medium ajaran
Medium semua makhluk
Media masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang
Medium kebajikan
Medium pengetahuan
Medium praktik
Medium moralitas
Medium ruang lingkup konsentrasi
Medium samudra pikiran
Medium kecenderungan dan konsepsi makhluk hidup
Medium tempat dan fenomena
Medium mahakaruna
Medium ketenangan
Medium sebab
Medium ketidakterikatan
Medium mikrokosmos di dalam makrokosmos
Medium makrokosmos di dalam mikrokosmos
Medium seluruh perwujudan dan kegiatan para Buddha
Medium usaha demi kebajikan tak terhingga makhluk hidup
Medium praktik Bodhisattva
Medium bentuk-bentuk pembebasan
Medium bentuk pencerahan yang tak terlukiskan.
Kemudian Maitrayani berkata: “Saya mengetahui jalan masuk menuju kebijaksanaan sempurna ini dengan cara pengaturan menyeluruh. Tetapi bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang batinnya bagaikan angkasa, yang kecerdasannya seluas alam semesta, yang tak bisa dikuasai oleh dunia mana pun, yang sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan semua dunia, yang merupakan tempat berlindung bagi semua makhluk?”
“Pergilah ke selatan ke negeri yang bernama Trinayana, di mana tinggal seorang bhiksu bernama Sudarshana. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Maitrayani dan berangkat.
Guru Kesebelas: Bhiksu Muda
Sudhana pergi ke selatan, sambil merenungkan dasar dari arus mental semua makhluk, dan menuju ke Negeri Trinayana.
Sudhana mencari sang bhiksu Sudarshana. Ia mencari di kota kecil dan kota besar, di pasar dan di desa-desa, di perkemahan para peternak, di pertapaan, di pegunungan, di gua-gua, di hutan-hutan. Sudhana akhirnya menemukan Sudarshana sedang berjalan di hutan.
Sudarshana masih muda dan tampan, dengan fisik yang mengagumkan dan tatapan yang mantap. Batinnya bebas dari kebimbangan, khayalan yang sia-sia, angan-angan yang tak berguna, dan pikiran yang tidak benar. Sudarshana telah bertekad kuat membimbing semua makhluk agar sepenuhnya berkembang, dan berkehendak menyalakan pelita pengetahuan bagi semua makhluk. Langkahnya tenang dan mantap, tidak cepat juga tidak lambat. Sudarshana dikelilingi oleh berbagai makhluk gaib – dewa api dan dewa hutan, dewa bumi dan dewa langit, dewa laut, dewa gunung, dewa angin, dewa malam.
Sudhana menghampiri Bhiksu Sudarshana, memberi hormat kepadanya, dan menjelaskan niatnya untuk mencapai pencerahan sempurna. Ia meminta Sudharsana agar mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.
Sudharsana berkata: “Saya masih muda, dan baru belum lama ini menjadi seorang bhiksu. Tetapi dalam satu kehidupan ini saya telah menjalankan tak terhitung praktik bersama dengan tak terhingga para Buddha. Dengan beberapa saya berlatih praktik spiritual selama sehari semalam, beberapa lagi selama seminggu, beberapa selama sebulan, beberapa selama setahun, beberapa selama seabad, beberapa selama seribu tahun, beberapa selama sejuta tahun, beberapa selama setriliun tahun, beberapa selama tak terhitung tahun, beberapa selama berkalpa-kalpa. Dari semua Buddha tersebut saya mendengarkan penjelasan Dharma dan menerima instruksi-instruksi.”
Sudarshana memberi tahu Sudhana bahwa dengan cara ini ikrar dan praktiknya telah terpurifikasi, dan ia merasakan semua yang telah dilakukan oleh para Buddha – ikrar dan praktik mereka, purifikasi dan cara yang unggul, dan kekuatan mereka untuk mulai melakukan pekerjaan demi kebajikan semua makhluk.
Sudarshana memberi tahu Sudhana bahwa dalam satu saat pikiran ajaran dari tak terhitung Buddha mengalir ke dalam pikirannya, tak terkira samudra praktik pencerahan tampak olehnya, tak terbilang lautan samadhi terlihat nyata olehnya, tak terkatakan samudra masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang terlihat olehnya.
Kemudian Sudhana berkata: “Saya mengetahui tingkat pembebasan yang disebut Pelita Pengetahuan yang Tak Terpadamkan. Tetapi bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang tampak oleh makhluk hidup berdasarkan mentalitasnya, yang tak bisa hancur bagaikan gunung yang terbuat dari intan, yang mengalahkan kekuatan semua mara?”
“Sebelah selatan dari sini, di Negeri Shramanamandala, ada sebuah kota yang bernama Sumukha, di mana tinggal seorang anak laki-laki bernama Indriyeshvara. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.”
Dengan niat mempertahankan praktik Bodhisattva, dan tekad untuk mencapai kemampuan para Bodhisattva, Sudhana memberi hormat kepada Bhiksu Sudarshana dan beranjak pergi.
Guru Kedua Belas: Sang Ahli Teknologi
Sudhana melanjutkan perjalanan, sambil memikirkan dan melaksanakan instruksi yang telah diterimanya dari Sudharsana. Dengan dikelilingi oleh makhluk-makhluk surgawi dan makhluk halus, Sudhana menuju ke Kota Sumukha, mencari anak laki-laki yang bernama Indriyeshvara.
Ketika Sudhana tiba di Kota Sumukha, di dekat pertemuan sungai ia melihat Indriyeshvara dengan sepuluh ribu anak laki-laki lain sedang bermain di pasir. Sudhana menghampiri Indriyeshvara, memberi hormat, dan menjelaskan tujuannya. Ia meminta Indriyeshvara mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Indriyeshvara berkata: “Saya telah diajarkan menulis dan ilmu pasti oleh sang Bodhisattva Manjushri, dan saya telah dituntun masuk ke pintu ilmu pengetahuan yang meliputi pengetahuan sastra yang lebih tinggi.
“Dengan demikian saya menguasai berbagai sastra dan teknologi dan ilmu pengetahuan yang terkait dengan sistem-sistem penulisan, matematika, gambaran-gambaran simbolis, fisiologi, kesehatan fisik dan mental, tata kota, arsitektur dan konstruksi, ilmu mekanika dan teknik mesin, pertanian, etiket perdagangan dan sosial. Saya juga menguasai pengetahuan menuju jalan pencerahan, dan saya tahu bagaimana menerapkan teori ke dalam praktik.”
“Saya menguasai semua ilmu pengetahuan tersebut, dan juga mengajarkannya pada orang lain. Saya membuat orang belajar dan mempraktikkan semua ilmu pengetahuan tersebut, menguasai dan mengembangkannya. Saya menggunakan ilmu pengetahuan tersebut sebagai cara untuk mempurifikasi, memurnikan, dan mengembangkan orang-orang.”
Kemudian Indriyeshvara berkata:
“Saya menguasai cahaya pengetahuan para Bodhisattva yang bercirikan pengetahuan semua sastra, teknologi dan ilmu pengetahuan. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang mengetahui jumlah keseluruhan dunia, jumlah semua cara praktik spiritual, jumlah masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, jumlah semua makhluk hidup, jumlah pencerahan dari semua Buddha?”
“Arah selatan dari sini terdapat sebuah kota yang bernama Samudrapratishthana, di mana tinggal seorang wanita religius yang bernama Prabhuta. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana cara mempelajari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat dan pergi meninggalkan Indriyeshvara. Sudhana dipenuhi dengan sukacita, bersikap penuh kebajikan terhadap semua orang. Ia dengan bebas merasakan para Tathagata muncul satu demi satu, dan ia bermaksud mempertunjukkan ke semua tempat berbagai jalan pencerahan. Ia telah bebas dari penjara keberadaan duniawi yang berulang-ulang.
Guru Ketiga Belas: Sang Pengasuh
Sudhana melanjutkan perjalanan, setelah menerima ajaran dari guru-guru spiritualnya bagaikan samudra menampung hujan. Seluruh dirinya bercahaya dengan melaksanakan instruksi-instruksi dari para guru spiritualnya.
Sudhana menuju ke Kota Samudrapratishthana, mencari seorang wanita religius yang bernama Prabhuta. Ia diberi tahu oleh penduduk di sana bahwa Prabhuta ada di rumahnya yang berada di tengah kota.
Sudhana pergi ke rumah Prabhuta. Ia melihat rumah tersebut sangat besar, dilapisi dengan hiasan-hiasan yang berharga, dengan pintu di keempat sisi, dihiasi dengan tak terhitung batu permata, sebagai hasil dari pengembangan kebajikan yang tak terlukiskan. Sudhana masuk ke dalam rumah dan melihat sekelilingnya. Ia melihat Prabhuta sedang duduk di atas kursi permata.
Prabhuta masih muda, bertubuh ramping, segar, dalam kesempurnaan usia mudanya, cantik berseri-seri. Rambutnya terurai, dan ia tidak mengenakan perhiasan di tubuhnya. Tubuhnya dibalut oleh pakaian sederhana yang putih bersih.
Kecuali para Buddha dan Bodhisattva, semua yang datang ke rumah Prabhuta diliputi perasaan gembira karena penampilannya, penguasaan pikirannya, pancaran cahayanya, suaranya, kemegahannya, dan semua menganggapnya sebagai seorang guru.
Di dalam rumah Prabhuta terdapat sepuluh juta tempat duduk, tetapi tidak ada persediaan makanan atau minuman atau pakaian atau perhiasan atau perlengkapan lainnya, hanya ada sebuah bejana yang terletak di hadapannya.
Sudhana melihat bahwa Prabhuta dihadiri oleh sepuluh ribu orang wanita. Wangi tubuh mereka mengharumkan seluruh kota, dan semua yang mencium wewangian tersebut menjadi terbebas dari kebencian dan permusuhan, terbebas dari kedengkian dan iri hati, terbebas dari tipu muslihat dan kebohongan, terbebas dari depresi dan hiperaktif.
Sudhana memberi hormat kepada Prabhuta, dan dengan sopan memintanya untuk mengajarkan kepadanya bagaimana cara mempelajari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.
Prabhuta berkata: “Saya telah mencapai tingkat pencerahan yang merupakan himpunan perwujudan kebajikan yang tak habis-habisnya. Dari bejana yang ada di hadapanku ini saya memuaskan berbagai selera makhluk hidup dengan makanan yang sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai saus dan bumbu, dengan berbagai warna dan aroma.
“Dari satu bejana ini saya memuaskan seratus makhluk, seribu makhluk, sejuta makhluk, semiliar makhluk, tak terhingga makhluk, dengan makanan apa pun yang mereka inginkan. Dan meskipun demikian bejana ini tak akan pernah kosong atau habis.”
Prabhuta berkata: “Apakah Engkau melihat sepuluh ribu wanita, para sahabatku?
“Dimulai dari ini, terdapat tak terhitung puluhan ratusan ribu wanita yang memiliki praktik yang sama denganku, yang satu ikrar denganku, yang sama akar kebajikannya denganku, yang sama cara pembebasannya denganku, yang sama kemurnian baktinya denganku.”
“Terdapat tak terhingga puluhan ratusan ribu wanita yang setara denganku dalam pengertian yang tak terbatas, dalam kecakapan spiritual, dalam kesadaran yang menyeluruh, dalam luasnya kegiatan, dalam kekuatan yang tak terbatas, dalam energi yang tak tertandingi, dan setara denganku dalam menyuarakan kebenaran.”
“Kesepuluh ribu wanita di sini, para sahabatku, menyebar ke sepuluh penjuru dalam sekejap, mempersembahkan makanan dari bejana ini kepada para Bodhisattva, kepada para makhluk suci dan para sravaka, kepada preta, kepada makhluk surgawi dan kepada manusia.” “Kemarilah dan dalam sekejap Engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri.”
Pada saat Prabhuta mengucapkan kata-kata tersebut, tak terhitung makhluk masuk melalui keempat pintu rumahnya, tertarik oleh ikrarnya. Prabhuta mendudukkan mereka di tempat yang telah disediakan untuk mereka dan memuaskan mereka dengan makanan apa saja yang mereka inginkan, sampai mereka merasa senang dan sangat gembira.
Kemudian Prabhuta berkata: “Saya menguasai tingkat pencerahan ini yang merupakan himpunan perwujudan kebajikan yang tak habis-habisnya. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang kebajikannya tak ada habisnya?”
“Arah selatan dari sini terdapat sebuah kota yang bernama Mahasambhava, di mana tinggal seorang perumah tangga bernama Vidvan. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana cara mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat dan pergi meninggalkan Prabhuta, melihat ke arahnya berulang kali sambil berlalu.
Guru Keempat Belas: Sang Pemberi Kepuasan
Setelah mendapatkan dari sang wanita religius Prabhuta tingkat pencerahan yang merupakan himpunan perwujudan kebajikan yang tak habis-habisnya, Sudhana melanjutkan perjalanannya.
Sudhana menuju ke Kota Mahasambhava dan mencari Vidvan, untuk memintanya menjadi guru spiritual. Sudhana melihat Vidvan di suatu persimpangan jalan di tengah kota.
Vidvan sedang duduk di atas alas permata, di bawah tirai permata, dengan panji surgawi dan bendera yang berkibar di atasnya. Ia dihadiri oleh sepuluh ribu orang yang setara dengannya dalam perbuatan masa lalu, dihias dengan mewah, bermain musik untuk menyenangkan penduduk kota tersebut, dan menaburkan bunga-bunga surgawi.
Sudhana menghampiri Vidvan, memberi hormat, dan menjelaskan bahwa ia telah bertekad untuk mencapai pencerahan sempurna demi kebajikan semua makhluk. Ia meminta Vidvan untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Vidvan memuji Sudhana atas aspirasinya mencapai pencerahan sempurna, dan berkata kepadanya: “Apakah Engkau melihat para pengiringku? Saya mengilhami mereka untuk mencari pencerahan sempurna, dan memberikan metode yang lebih penting untuk mengasuh mereka. Saya membuat mereka hidup dengan benar, dan saya mengembangkan mereka dalam kekuatan para Tathagata. Saya mengeluarkan mereka dari lingkaran rutinitas duniawi dan menempatkan mereka di dalam roda ajaran pencerahan.
Vidvan berkata: “Saya telah mencapai kebajikan yang berasal dari himpunan pikiran. Saya memberikan apa pun yang orang-orang butuhkan, apakah makanan, pakaian, perhiasan, tempat tidur, kendaraan, obat-obatan. Kemarilah, dan dalam sekejap Engkau akan melihat apa yang saya maksudkan.”
Ketika Vidvan mengucapkan kata-kata tersebut, tak terhingga makhluk berkumpul di rumahnya, terpanggil oleh ikarnya yang lalu. Mereka datang dari berbagai daerah, berbagai negara, berbagai kota besar, berbagai kota kecil, berbagai golongan sosial, berbagai kondisi kehidupan, berbagai tingkat kesadaran, menginginkan berbagai makanan, memiliki berbagai kecenderungan, membutuhkan berbagai makanan yang berbeda sesuai dengan keadaan masing-masing. Mereka mendatangi Vidvan, mengharapkannya, dan memohon kepadanya.
Melihat mereka berkumpul di sana memohon, Vidvan berpikir sesaat, kemudian melihat ke angkasa. Dari angkasa berbagai jenis makanan dan minuman mengalir turun ke tangannya, dan Vidvan memberikannya kepada semua orang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Kemudian, setelah memuaskan mereka, ia menjelaskan Dharma kepada mereka. Ia menjelaskan kepada mereka bagaimana mengumpulkan pengetahuan, bagaimana mengatasi kemiskinan, bagaimana mendapatkan kebahagiaan, bagaimana cara menemukan jalan menuju kebenaran. Vidvan memuaskan semua yang datang kepadanya sesuai dengan kebutuhan mereka, dan begitu keinginan mereka terpenuhi, ia mengajarkan kepada mereka aspek Dharma yang sesuai.
Setelah menunjukkan kepada Sudhana lingkup yang tak terbayangkan dari tingkat pencerahan ini, Vidvan berkata kepadanya: “Saya menguasai pembebasan dari kapasitas himpunan pikiran. Tetapi bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang menurunkan hujan berbagai persembahan kepada para Buddha, untuk melayani semua Buddha serta mengembangkan dan membimbing makhluk hidup?
“Sebelah selatan dari sini ada sebuah kota besar yang bernama Simhapota. Seseorang yang hebat bernama Ratnachuda tinggal di sana. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada sang perumah tangga Vidvan sebagaimana seorang murid terhadap gurunya, kemudian berangkat.
Guru Kelima Belas: Rumah Ajaib
Sambil mengembangkan kekuatan kebajikan tersebut, meningkatkan arus kebajikan yang demikian, Sudhana menuju ke Kota Simhapota.
Sudhana melihat Ratnachuda di tengah pasar. Sudhana menghampirinya, memberi hormat, dan menjelaskan niatnya untuk mencapai pencerahan sempurna. Ia meminta Ratnachuda mengajarkan kepadanya jalan Bodhisattva, sehingga ia dapat menerima semua pengetahuan.
Ratnachuda membawa Sudhana ke rumahnya dan menunjukkan kepadanya sambil berkata, “Perhatikanlah rumahku.” Sudhana memperhatikan dan melihat rumah tersebut bercahaya, terbuat dari emas, luas dan tinggi, dikelilingi oleh tembok dari perak, dihiasi dengan teras dari kristal, dengan kolam teratai berair dingin yang terbuat dari jamrud, dikelilingi oleh pohon-pohon yang terbuat dari berbagai batu permata. Rumah tersebut bertingkat sepuluh dan memiliki delapan pintu.
Sudhana masuk ke dalam rumah dan melihat berkeliling.
Di lantai pertama ia melihat persediaan makanan dan minuman sedang didermakan.
Di lantai kedua ia melihat berbagai macam pakaian sedang dibagikan.
Di lantai ketiga ia melihat berbagai jenis batu permata sedang dibagikan.
Di lantai keempat ia melihat pasangan kerajaan sedang diberikan.
Di lantai kelima ia melihat kumpulan para Bodhisattva bhumi kelima, sedang memuji Dharma lewat nyanyian, berpikir dan bertindak demi kebajikan dunia, mempraktikkan semua ilmu pengetahuan, melakukan teknik-teknik samadhi.
Di lantai keenam ia melihat kumpulan para Bodhisattva yang telah mencapai kebijaksanaan yang tiada banding. Mereka membuka serangkaian pintu menuju kebijaksanaan yang tiada banding. Ia melihat barisan yang rapi tak terhingga makhluk pencerahan menyanyikan tak terhingga pintu kebijaksanaan yang tiada banding.
Di lantai ketujuh ia melihat kumpulan para Bodhisattva yang mahir dalam pengetahuan cara-cara bijaksana, yang telah mengerti berbagai ajaran dari semua Buddha.
Di lantai kedelapan ia melihat kumpulan para Bodhisattva yang telah mengamati semua dunia, yang bisa muncul di semua komunitas, yang tubuhnya tersebar ke seluruh jagat raya, yang menyatu dengan tubuh dari semua Buddha.
Di lantai kesembilan ia melihat kumpulan para Bodhisattva yang telah mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan.
Di lantai kesepuluh ia melihat samudra tak terhingga para Buddha menyelesaikan semua tingkat ajaran pencerahan – inspirasi awal mereka, praktik mereka, pembebasan mereka, ikrar mereka kepada semua Buddha, pertunjukan gaib mereka dari jalan menuju pencerahan, pertunjukan gaib mereka untuk memperbaiki semua makhluk.
Sudhana bertanya kepada Ratnachuda bagaimana caranya ia mencapai semua hal tersebut. Ratnachuda memberi tahu Sudhana bahwa dalam salah satu kehidupan lampaunya berkalpa yang lalu ia telah bermain musik untuk Sang Buddha pada zaman itu di pasar sebuah kota, dan mempersembahkan dupa kepadanya. Secara gaib, asap dari nyala dupa tersebut menyelimuti seluruh benua, dan suara yang terdengar darinya memuji kualitas para Buddha.
Ratnachuda mendedikasikan kebajikan dari penampakan kekuatan Buddha tersebut kepada tiga hal: selalu mengakhiri semua kemiskinan, selalu mendengarkan kebenaran, dan bertemu dengan semua guru yang telah mencapai pencerahan.
Ratnachuda kemudian berkata kepada Sudhana: “Saya menguasai tingkat pencerahan manifestasi dari ruang lingkup ikrar yang tak terhalangi. Tetapi bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang telah memasuki samudra tak terbagi dari tubuh Buddha?”
“Sebelah selatan dari sini terdapat sebuah negeri yang bernama Vetramulaka. Seorang ahli parfum yang bernama Samantanetra tinggal di sana. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Ratnachuda dan pergi.
Guru Keenam Belas: Sang Pembuat Parfum
Terbenam dalam penampakan tak berakhir para Buddha, dalam komunikasi dengan tak terhitung kumpulan para Bodhisattva, terlindung dalam ketekunan tak terbatas dari para Bodhisattva, Sudhana melakukan perjalanan ke negeri yang bernama Vetramulaka, dan mulai mencari kota yang bernama Pembebasan Universal.
Dengan tekad yang tak kenal lelah Sudhana mencari kota tersebut ke mana-mana, ke dataran tinggi dan dataran rendah, ke dataran yang rata dan dataran bergelombang. Akhirnya ia melihat Kota Pembebasan Universal dikelilingi oleh sepuluh ribu kota kecil, dengan tembok yang tinggi dan kuat, terhias dalam empat puluh delapan cara.
Sudhana melihat sang pembuat parfum Samantanetra sedang duduk di dalam sebuah toko parfum di kota tersebut. Sudhana menghampirinya, memberi hormat kepadanya, dan menjelaskan bahwa ia telah bertekad untuk mencapai pencerahan sempurna. Ia meminta Samantanetra mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.
Samantanetra berkata: “Sungguh baik bila Engkau beraspirasi mencapai pencerahan yang sempurna. Saya tahu penyakit yang diderita oleh semua makhluk dan saya tahu bagaimana menyembuhkannya.”
“Semua yang datang padaku dari kesepuluh penjuru, saya menyembuhkan penyakit mereka. Begitu mereka sembuh, dimandikan dan diminyaki, saya memuaskan mereka dengan makanan dan pakaian yang sesuai, dan memberi mereka kekayaan yang berlimpah. Setelah itu saya mengajari mereka, sehingga mereka bisa terbebas dari nafsu keinginan, kebencian dan khayalan.”
Samantanetra kemudian memberi tahu Sudhana mengenai semua aspek ajaran pencerahan yang diajarkannya kepada mereka yang telah disembuhkan olehnya. “Demikian saya menjaga mereka, memberikan ajaran kepada mereka. Setelah membekali mereka dengan harta yang tak akan habis, saya kemudian membiarkan mereka pergi.”
“Saya juga tahu bagaimana membuat semua wewangian, semua jenis dupa, parfum, dan losion yang wangi. Lebih dari itu, saya tahu bagaimana membuat bola wangi ajaib yang membuat persembahan kepada semua Buddha di semua tempat dan menyenangkan semua makhluk hidup.”
Samantanetra memberi tahu Sudhana bahwa ia menggunakan bola wewangian tersebut untuk membuat persembahan kepada para Buddha, untuk membuat awan wewangian di seluruh alam semesta dalam semua persamuhan para Buddha.
Samantranetra kemudian berkata kepada Sudhana: “Saya menguasai medium Dharma ini, bola wewangian yang membuat persembahan kepada semua Buddha di semua tempat dan menyenangkan semua makhluk hidup. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik para Bodhisattva, yang dirinya laksana obat mujarab?”
“Sebelah selatan dari sini terdapat sebuah kota yang bernama Taladhvaja, di mana tinggal seorang raja yang bernama Anala. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan melaksanakan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada sang pembuat parfum yang hebat Samantanetra dan pergi.
Guru Ketujuh Belas: Sang Penghukum
Memusatkan perhatian pada instruksi-instruksi yang telah diterimanya dari guru-guru spiritual yang dikunjunginya, Sudhana merasa bahagia dan tenang. Batinnya tak memihak, menyendiri, menyatu, terkendali, selaras dengan Dharma, meliputi seluruh negeri, terserap dalam penampakan Sang Buddha.
Sudhana berjalan dari negeri yang satu ke negeri yang lain, mencari dari desa ke desa dan dari satu tempat ke tempat yang lain, hingga tiba di Kota Taladhvaja. Ia bertanya di mana bisa menemukan Raja Anala. Orang-orang memberitahukan kepadanya:
“Raja Anala berada di singgasananya sedang menjalankan tugas demi kepentingan rakyat. Ia memerintah berbagai komunitas: ia menghukum yang harus dihukum dan meningkatkan mereka yang seharusnya ditingkatkan. Ia menyelesaikan perselisihan, menyenangkan yang melarat, serta menundukkan yang membangkang dan sombong. Ia menghentikan penyerangan dan perampokan, juga fitnah, kebohongan, dan kata-kata kasar. Ia membebaskan kami dari kecanduan, kebencian dan pandangan salah.”
Kemudian Sudhana pergi ke Raja Anala. Ia melihatnya sedang duduk di atas takhta singa yang cemerlang berhiaskan berlian, dipenuhi batu permata yang berkilau dan gambar-gambar indah bertatahkan batu permata. Sang Raja masih muda dan tampan, memiliki tanda-tanda kemuliaan. Sang Raja memegang kekuasaan yang besar. Bala tentaranya tak terkalahkan, dan tak ada musuh yang bisa mengancam pemerintahannya.
Kemudian Sudhana melihat gambaran yang mengerikan dari kekuasaan: para penjahat yang terhukum disiksa dan dipotong dan dihukum mati. Ia melihat binatang dan burung memakan tubuh-tubuh yang telah mati, dan mayat-mayat membusuk.
Melihat semua ini, Sudhana mengira bahwa Raja Anala adalah seorang penjahat, seorang pembunuh dan penindas. Bagaimana mungkin ia mendengarkan tentang praktik Bodhisattva dari seseorang yang begitu jahat?
Saat Sudhana berpikir demikian, makhluk-makhluk surgawi di angkasa di atasnya berteriak kepadanya: ”Apakah Engkau tidak ingat pada instruksi Jayoshmayatana, sang Pendeta Api, yang juga Engkau ragukan?”
Para makhluk surgawi berkata: “Jangan meragukan instruksi dari para guru spiritual. Mereka membimbingmu di jalan yang benar. Pengetahuan mereka tentang bagaimana menjaga, melindungi, memurnikan, dan membebaskan makhluk hidup adalah tak terbayangkan. Pergilah bertanya kepada sang Raja tentang praktik Bodhisattva.”
Sudhana menghampiri Raja Anala, memberi hormat, dan memberitahukan maksud kedatangannya. Ia meminta sang Raja untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menerapkan praktik Bodhisattva. Raja Anala, setelah menyelesaikan tugasnya, turun dari singgasana dan membawa Sudhana ke istananya.
Kemudian Raja Anala berkata: “Saya telah mencapai pembebasan gaib para Bodhisattva. Penduduk di kerajaanku cenderung melakukan berbagai kejahatan – pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, kebohongan, fitnah, kekerasan, kekejaman.”
“Saya tidak bisa bisa mengalihkan mereka dari kejahatan dengan cara yang lain, maka demi mengarahkan mereka dan melindungi kesejahteraan mereka, dengan belas kasih saya menciptakan ilusi algojo-algojo membunuh dan memuntungkan para penjahat yang juga ilusi, membuat pertunjukan penderitaan dan kesakitan yang hebat. Melihat hal ini, penduduk di kerajaanku menjadi takut berbuat jahat.”
Raja Anala kemudian berkata kepada Sudhana: “Saya telah mencapai pembebasan gaib para Bodhisattva. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik para Bodhisattva, yang berhubungan dengan semua makhluk sebagai ilusi, yang memahami bahwa praktik dari makhluk pencerahan adalah seperti ciptaan gaib, yang memahami bahwa sifat dasar dari segala sesuatu adalah seperti mimpi?
“Sebelah selatan dari sini ada sebuah kota yang bernama Suprabha, di mana tinggal seorang raja bernama Mahaprabha. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana kemudian memberi hormat dan meninggalkan Raja Anala.
Guru Kedelapan Belas: Raja yang Penuh Kebajikan
Sambil bermeditasi pada pembebasan gaib para Bodhisattva, merenungkan bahwa semua fenomena sesungguhnya adalah ilusi, memikirkan sifat gaib dari masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, Sudhana melanjutkan perjalanannya.
Ia menjelajahi negeri yang satu ke negeri yang lain, mencari ke mana-mana, di tempat yang basah dan yang kering, di gunung-gunung dan di lembah-lembah, di kota-kota dan desa-desa, mencari ke segala tempat hingga ia tiba di sekitar kota besar Suprabha. Ia bertanya di mana bisa menemukan Raja Mahaprabha, dan penduduk di sana menunjuk ke arah Kota Suprabha dan berkata bahwa Raja Mahaprabha tinggal di sana.
Sudhana pergi ke kota tersebut dan mulai melihat berkeliling. Kota tersebut sangat indah. Segalanya terbuat dari benda-benda berharga – emas, perak, lapis lazuli, kristal, mutiara, jamrud, koral. Kota tersebut dikelilingi oleh deretan pohon-pohon palem yang terbuat dari batu permata, dan tembok-tembok yang terbuat dari berlian dan bertatahkan permata.
Kota tersebut besar, dan berbentuk segi delapan yang simetris. Terdapat tak terhitung jalan di dalam kota, masing-masing berjajar ratusan ribu rumah-rumah besar yang terbuat dari batu permata mengibarkan bendera dan panji-panji permata. Berjuta-juta orang tinggal di sana.
Rumah Raja Mahaprabha berdiri di tengah-tengah kota. Terbuat dari berbagai benda berharga, dan dikelilingi oleh rumpun pepohonan dan kolam-kolam teratai. Suara nyanyian burung memenuhi udara. Di tengah-tengah rumah terdapat sebuah menara permata yang menerangi dunia, bersinar-sinar oleh tak terhingga kumpulan permata yang sangat banyak, yang dibangun oleh sang Raja.
Sudhana tak terpengaruh oleh kesenangan indriawi, dan kemegahan rumah sang Raja tidak membuatnya takjub. Ia tiba di suatu persimpangan jalan di kota tersebut, dan melihat Raja Mahaprabha di sana, tidak jauh dari rumahnya yang mengagumkan, duduk bersila di atas singgasana yang berbentuk bunga teratai.
Sudhana melihat tumpukan batu-batu permata dan mutiara dan koral dan emas dan perak dan benda-benda berharga lainnya semuanya terhampar di hadapan sang Raja, beserta makanan-makanan lezat yang terbaik.
Ia melihat tak terhingga kendaraan surgawi dan alat musik dan perlengkapan pengobatan dan berbagai peralatan disediakan untuk dinikmati oleh orang-orang sebagaimana yang mereka inginkan. Ia melihat berjuta-juta gadis cantik berhiaskan berbagai permata, berbusana surgawi, mahir dalam berbagai permainan.
Sudhana melihat bahwa semua kekayaan yang terpampang di hadapan sang Raja juga terhampar di depan setiap rumah di kota tersebut. Ini dimaksudkan untuk membuat semua orang senang, tenang dan nyaman, untuk menghapus penderitaan mereka, untuk mengenalkan kepada mereka makna sifat sejati dari segala sesuatu, untuk memurnikan tindakan mereka.
Sudhana menghampiri Raja Mahaprabha, memberi hormat, dan memberitahukan tujuan kedatangannya. Ia meminta sang Raja mengajarkan kepadanya bagaimana belajar dan menerapkan praktik Bodhisattva.
Raja Mahaprabha berkata: “Saya menyelesaikan praktik kebajikan besar dari para Bodhisattva. Saya mempelajari hal ini bersama dengan tak terhitung para Buddha.
“Berdasarkan praktik pencerahan kebajikan besar, saya memerintah sebagai seorang raja dengan adil, saya memperlakukan dunia secara adil, saya memimpin rakyat dengan adil, saya membuat mereka merenungkan sifat sejati dari segala sesuatu. Saya menempatkan orang dalam kebajikan, dalam persahabatan, dalam keramahtamahan.”
“Saya menyejukkan batin mereka dan melepaskan kekusutan mental mereka. Saya mengalihkan mereka dari kebiasaan bersenang-senang dalam rutinitas duniawi dan memurnikan mereka dalam kebahagiaan kebenaran. Saya menenangkan samudra pikiran mereka, untuk membangkitkan kekuatan keyakinan yang tak tergoyahkan.”
“Beginilah cara saya memerintah dengan adil berdasarkan praktik pencerahan kebajikan besar.”
“Seluruh warga kota ini adalah para Bodhisattva yang telah melalui perjalanan yang hebat. Mereka melihat kota ini sesuai dengan kemurnian batin mereka. Sebagian melihatnya kecil, sebagian besar. Sebagian melihat dindingnya dari tanah liat, sebagian melihatnya dikelilingi oleh tembok yang berlapiskan perhiasan berharga. Sebagian melihatnya tidak lebih dari sebidang kecil tanah yang tidak rata, sebagian melihat sebuah kota yang ditempati dengan indah oleh rumah-rumah besar dan istana.”
“Bahkan di antara mereka yang tinggal di luar kota, mereka yang batinnya murni dan mencoba mencapai semua pengetahuan melihatnya terbuat dari permata.”
“Bilamana penduduk di daerah yang menjadi wewenangku ingin melakukan hal yang buruk, saya masuk ke suatu tingkat samadhi, dituntun oleh kebajikan yang besar, yang disebut Menyesuaikan Kemampuan Dunia. Ketika saya melakukan hal ini, kekhawatiran mereka, dendam, kegelisahan, dan permusuhan berhenti.”
“Kemarilah dan Engkau akan melihatnya sendiri dalam sekejap.”
Pada saat sang Raja memasuki samadhinya, segala sesuatu dalam kota tersebut mulai bergetar – dinding permata, kuil permata, rumah permata, panji permata – dan menimbulkan suara yang indah. Warga kota menjadi gembira luar biasa dan membungkukkan badan kepada sang Raja. Penduduk yang tinggal di sekitar kota merasa bersemangat dan bergembira serta membungkuk kepada sang Raja. Bahkan binatang dan tanaman, gunung-gunung dan sungai-sungai, semuanya memberi penghormatan kepada sang Raja.
Raja Mahaprabha kemudian berkata kepada Sudhana: “Saya menguasai praktik Bodhisattva ini yang bercirikan kebajikan besar. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik para Bodhisattva, yang merupakan sahabat yang tak terpisahkan dari semua makhluk, yang bekerja bersama-sama dengan makhluk hidup di semua level, dengan kebajikan yang tidak membeda-bedakan?”
“Sebelah selatan dari sini terdapat sebuah kerajaan yang bernama Sthira, di mana tinggal seorang wanita religius bernama Achala. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana kemudian memberi hormat kepada Raja Mahaprabha dan berangkat.
Guru Kesembilan Belas: Gadis yang Mengagumkan
Sudhana meninggalkan Kota Suprabha dan mulai berjalan lagi, sambil mengingat praktik pencerahan kebajikan besar dari Raja Mahaprabha, berfokus pada kemampuan tak terbayangkan dari para Bodhisattva dalam melihat apa yang harus dilakukan untuk semua makhluk.
Sudhana berurai air mata mengingat guru-guru spiritual yang telah dikunjunginya, dan semua yang telah mereka lakukan untuk menolongnya.
Saat Sudhana menangis tersedu-sedu, para Bodhisattva yang mengiringi Sudhana sebagai utusan dari Sang Buddha berkata kepadanya: “Seorang Bodhisattva aspiran yang selalu mengindahkan para guru spiritual tak akan jauh dari semua tujuannya. Pergilah ke Achala sang wanita religius di kerajaan Sthira dan Engkau akan mendengarkan tentang praktik Bodhisattva darinya.”
Ketika ia tiba di Sthira, orang-orang memberi tahu bahwa Achala adalah seorang gadis yang tinggal di rumah bersama orang tua dan sanak saudaranya, yang memberikan ajaran spiritual kepada banyak orang. Dipenuhi dengan kegembiraan, Sudhana mendatangi rumah Achala. Berdiri di depan pintu, ia melihat seluruh rumah bermandikan cahaya keemasan.
Pada saat Sudhana tersentuh oleh cahaya tersebut, lima ratus keadaan tak sadar merasukinya membuat dirinya terserap dalam dunia keheningan, terserap dalam kesejahteraan semua makhluk, terserap dalam keseimbangan mata universal, dan terserap dalam acuan realisasi seperti itu.
Sudhana mencium wewangian yang melebihi wangi apa pun di dunia ini. Ia melihat bahwa di semua dunia tidak ada seorang pun yang bisa menandingi kecantikan Achala. Tak ada seorang pun di dunia yang bisa menyamai kemilau kulitnya, proporsi tubuhnya, dan kecemerlangan auranya.
Tak ada seorang pun di dunia yang akan memandang Achala dengan nafsu berahi – tak seorang pun di dunia yang penderitaannya tak terhenti pada saat melihatnya. Tidak ada seorang pun di dunia yang akan merasa bosan memandangnya, kecuali mereka yang telah terpuaskan oleh kebijaksanaan. Sudhana memandang Achala dengan sikap hormat, melihat keagungan fisiknya yang tak dapat digambarkan, dan tenggelam dalam samudra kebajikannya yang tak terhingga.
Sudhana memberitahukan tekadnya untuk mencapai pencerahan sempurna demi kebajikan semua makhluk, dan memintanya untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menerapkan praktik Bodhisattva.
Achala menyambut Sudhana dengan penuh kasih sayang dan memberitahukan pencapaiannya – pengetahuan yang tak terkalahkan, tekad yang kuat, keseimbangan dalam segala hal, konsentrasi pada pencarian yang tak kenal lelah terhadap kebenaran. Sudhana bertanya kepada Achala tentang pencapaiannya, sehingga ia bisa mengerti apa yang telah dilakukannya dan berusaha keras untuk menyamainya.
Kisah Tentang Achala
Achala memberi tahu Sudhana bahwa dalam salah satu kehidupannya yang lampau sebagai seorang putri raja, pada suatu malam ia melihat seorang Buddha di langit yang bertaburkan bintang, dikelilingi oleh tak terhingga para Bodhisattva, tubuhnya memancarkan cahaya yang tak terhalangi meliputi semua tempat. Dari tubuh sang Buddha tersebut terpancar wewangian yang menenangkan tubuh dan pikirannya dan membuatnya merasa bahagia.
Pada saat Achala berbaring di sana memikirkan bagaimana sang Buddha tersebut bisa mendapatkan tubuh yang demikian, Sang Buddha membaca pikirannya dan memberitahukan kepadanya bahwa ia harus mengembangkan batin yang tak terkalahkan untuk menghapus penderitaan, batin pemberani untuk memasuki kebenaran yang dalam, batin yang tak tergoyahkan untuk memasuki pusaran samudra makhluk hidup, batin yang tak kenal lelah mencari penampakan semua Buddha, batin yang berbagi, untuk menyebarkan permata Dharma kepada semua makhluk hidup.
Sejak saat itu, Achala tidak pernah lagi memiliki pikiran tentang nafsu, kemarahan, pikiran tentang diri sendiri, segala sesuatu yang membingungkan. Ia membenamkan dirinya ke dalam Dharma dan menjalankan semua praktik pencerahan.
Achala berkata kepada Sudhana: “Sejak saat itu saya tidak pernah terpisahkan dari para Buddha, para Bodhisattva, dan para guru spiritual yang sejati. Saya tidak pernah meninggalkan cahaya pengetahuan yang menghapus penderitaan semua makhluk. Saya selalu menampakkan diri kepada semua makhluk sesuai dengan mentalitas mereka.”
“Saya mampu melakukan keajaiban yang tak dapat dibayangkan – apakah Engkau ingin menyaksikannya?”
Sudhana menjawab, “Ya, saya mau.”
Kemudian, sambil duduk di sana, Achala melewati berjuta pintu samadhi. Pada saat ia mencapai tingkat konsentrasi tersebut, Sudhana melihat suatu penampakan:
Ia melihat tak terhingga dunia berguncang dan terlihat seperti terbuat dari lapis lazuli bening.
Ia melihat semua alam di semua dunia, dan para Buddha di setiap tempat, melewati semua tahap dari kegiatan pengajaran mereka.
Ia melihat aura cahaya dari setiap Buddha meliputi seluruh jagat raya, dan ia melihat kumpulan banyak orang mengelilingi setiap Buddha.
Ia mendengar suara dari setiap Buddha menyampaikan semua roda Dharma kepada semua makhluk hidup.
Kemudian Achala bangkit dari samadhinya dan berkata kepada Sudhana: “Apakah Engkau melihat? Apakah Engkau mendengar? Apakah Engkau mengerti?”
Sudhana menjawab, “Saya melihat, saya mendengar, saya mengerti.”
Achala berkata: “Dengan cara ini, mempelajari tekad kuat dari para Bodhisattva, terserap dalam pencarian tak kenal lelah terhadap semua kebenaran, berada di jalan pembebasan Bodhisattva dengan pengetahuan yang tak terkalahkan, saya mengajari makhluk hidup. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik para Bodhisattva, yang bagaikan burung elang melayang bebas di angkasa, yang menukik ke dalam samudra makhluk hidup untuk mengangkat mereka yang telah siap menjadi Bodhisattva?
“Arah selatan dari sini ada sebuah kota bernama Tosala di Negeri Amitatosala. Seorang pengemis bernama Sarvagamin tinggal di sana. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Achala dan pergi.
Guru Kedua Puluh: Pergi ke Semua Tempat
Terserap dalam apa yang baru ditunjukkan oleh sang gadis Achala kepadanya, Sudhana menjelajah dari satu tempat ke tempat yang lain, akhirnya tiba di Kota Tosala di Negeri Amitatosala. Memasuki kota tersebut pada saat matahari terbenam, Sudhana menelusuri jalan demi jalan mencari sang pengemis Sarvagamin – yang namanya berarti “Seseorang yang pergi ke semua tempat”.
Di keheningan malam, Sudhana melihat sebuah gunung bernama Sulabha di sebelah utara kota. Puncak gunung tersebut diselimuti oleh hutan berbagai tanaman dan pepohonan dan bersinar seterang matahari. Melihat cahaya tersebut, Sudhana diliputi kebahagiaan. Ia berpikir: “Pasti saya akan menemukan sang guru spiritual di puncak gunung ini.”
Sudhana meninggalkan kota dan mendaki menuju ke puncak gunung yang bersinar, di mana ia melihat Sarvagamin dari kejauhan. Ia sedang berjalan ditemani oleh sepuluh ribu para dewa.
Sudhana menghampiri Sarvagamin, memberi hormat, dan memberitahukan tujuan kedatangannya. Ia meminta Sarvagamin untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menerapkan praktik Bodhisattva.
Sarvagamin memberi tahu Sudhana:
“Saya telah menyelesaikan praktik pencerahan pergi ke semua tempat, telah mencapai tingkat samadhi penglihatan semua pengamatan. Dalam pengembaraan ke alam-alam kehidupan semua makhluk, saya bekerja demi kebajikan makhluk hidup dengan berbagai cara dan berbagai penerapan ilmu pengetahuan.”
“Sebagian saya bantu dengan mengajarkan berbagai keterampilan duniawi. Sebagian saya bantu dengan kemurahan hati, kebaikan, dan dengan memberikan pertolongan. Sebagian saya bantu dengan menjelaskan tentang cara-cara yang unggul. Sebagian saya bantu dengan menjelaskan tentang praktik Bodhisattva. Sebagian saya bantu dengan menakuti mereka, menunjukkan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan yang diakibatkan oleh perbuatan jahat. Sebagian saya bantu dengan menyenangkan mereka, menceritakan kepada mereka tentang buah dari semua pengetahuan yang didapatkan dengan melayani para Buddha.”
“Di setiap daerah, setiap jalan, di dalam setiap rumah, setiap keluarga, saya mengambil wujud sebagai pria dan wanita, anak laki-laki dan perempuan, dan menjelaskan Dharma kepada mereka sesuai dengan tujuan, kemampuan, dan pola pikir mereka. Mereka tidak tahu siapa yang mengajari mereka atau dari mana saya berasal – mereka mempraktikkan dengan penuh keyakinan apa yang telah mereka dengar.”
“Saya pergi ke semua tempat di benua ini melakukan hal ini untuk menolong mereka yang melekat pada pandangan salah. Dan sebagaimana yang saya lakukan di benua ini, maka saya juga bekerja demi kebajikan semua makhluk di dunia, di galaksi, di jagat raya, di tak terhingga banyaknya dunia, di antara semua jenis makhluk, di mana pun mereka berada, menolong mereka sesuai dengan mentalitas dan kecenderungan mereka. Saya menggunakan berbagai cara, berbagai pendekatan, berbagai trik yang sesuai, dan berbagai aktivitas. Saya mengambil berbagai wujud dan berbicara dalam berbagai bahasa.”
Sarvagamin melanjutkan: “Saya menguasai praktik pencerahan pergi ke semua tempat. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang tubuhnya menyamai semua makhluk, yang telah mencapai suatu tingkat samadhi di mana tubuh mereka dan semua tubuh tak terpisahkan, yang memenuhi ikrar mereka tanpa rintangan di semua masa?”
“Sebelah selatan dari sini terdapat suatu negeri yang bernama Prthurashtra. Seorang ahli parfum bernama Utpalabhuti tinggal di sana. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Sarvagamin dan pergi.
Guru Kedua Puluh Satu: Ahli Wewangian
Tak peduli dengan benda-benda materi, tak peduli dengan kesenangan terhadap orang dan tempat, tak peduli dengan kekuasaan duniawi, semata-mata demi mengembangkan, membimbing dan memurnikan semua makhluk hidup, Sudhana melanjutkan perjalanannya menuju Prthurashtra, di mana ia mencari sang ahli parfum Utpalabhuti.
Sudhana menghampiri Utpalabhuti, memberi hormat, dan memberitahukan tujuan kedatangannya. Ia meminta Utpalabhuti mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menerapkan praktik Bodhisattva.
Utpalabhuti memberi tahu Sudhana: “Saya tahu semua wewangian serta bagaimana cara membuat dan menggunakannya.”
“Saya tahu wewangian yang bisa menyembuhkan penyakit. Saya tahu wewangian yang bisa menghilangkan depresi, dan saya tahu wewangian yang bisa mendatangkan kegembiraan.”
“Saya tahu wewangian yang membangkitkan nafsu, dan saya tahu wewangian yang melenyapkan nafsu. Saya tahu wewangian yang bisa menghilangkan keangkuhan dan keacuhan.”
“Saya tahu wewangian yang bisa memunculkan pikiran tentang Buddha, saya tahu wewangian yang sesuai dengan prinsip-prinsip Dharma.”
Utpalabhuti memberi tahu Sudhana bahwa ia menggunakan wewangian tertentu untuk membuat orang tenang dan bahagia, untuk menghilangkan rasa takut, kegelisahan, atau kekacauan. Setelah mereka merasa senang dan gembira, ia lalu memurnikan batin mereka dan mengajarkan jalan menuju pencerahan.
Utpalabhuti memberi tahu Sudhana tentang berbagai jenis wewangian, dan kemampuannya mempengaruhi kondisi batin yang bermanfaat untuk perkembangan spiritual. Kemudian Utpalabhuti berkata kepada Sudhana:
“Saya menguasai ilmu tentang wewangian. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang tak ternoda oleh dunia mana pun, yang jalan hidupnya bebas dari kemelekatan?
“Sebelah selatan dari sini terdapat suatu kota yang bernama Kutagara. Di sana tinggal seorang pelaut bernama Vaira. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Utpalibhuti dan pergi.
Guru Kedua Puluh Dua: Sang Pelaut
Dalam perjalanan ke Kota Kutagara Sudhana mengamati berbagai perubahan di jalanan – terkadang rata, terkadang tidak rata, terkadang aman, terkadang berbahaya, terkadang tak dapat dilalui, terkadang tanpa hambatan, terkadang berliku-liku, terkadang lurus.
Ia berpikir tentang tujuannya bertemu dengan guru-guru spiritual – untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkannya untuk menolong makhluk hidup. Dengan berpikir demikian, Sudhana melanjutkan perjalanan ke Kota Kutagara, mencari sang pelaut Vaira.
Ketika tiba di kota tersebut, Sudhana melihat sang pelaut Vaira dikelilingi oleh ratusan ribu pedagang dan orang-orang yang sedang mendengarkannya. Ia sedang menjelaskan samudra kebajikan para Buddha dengan membicarakan tentang struktur samudra.
Sudhana menghampiri Vaira, memberi hormat, dan memberitahukan tujuan kedatangannya, yaitu untuk mencapai pencerahan sempurna demi kebajikan semua makhluk. Ia meminta Vaira untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menerapkan praktik Bodhisattva.
Setelah memuji tekadnya, Vaira berkata kepada Sudhana:
“Saya tinggal di pesisir metropolis Kutagara ini, menyempurnakan praktik pencerahan yang bercirikan mahakaruna. Memperhatikan mereka yang miskin di benua ini, saya memenuhi kebutuhan duniawi mereka, dan memuaskan mereka dengan kebahagiaan spiritual. Saya mengajari mereka cara menghimpun kebajikan, dan menumbuhkan pengetahuan dalam diri mereka.”
“Saya tahu semua pulau harta di samudra, semua timbunan bahan-bahan berharga, semua sumber dari bahan-bahan berharga. Saya tahu bagaimana memurnikan, mengolah, dan menghasilkan semua bahan berharga tersebut.”
“Saya tahu bagaimana menghindari pusaran air dan gelombang besar, dan saya tahu warna dan kedalaman semua perairan. Saya tahu lingkaran orbit dari matahari, bulan, bintang, dan planet-planet, dan panjangnya siang dan malam.”
“Saya tahu kapan harus melakukan perjalanan dan kapan tidak, kapan keadaan aman dan kapan berbahaya. Saya tahu bagaimana mengemudikan kapal dan bagaimana mendapatkan angin. Saya tahu kapan harus berlabuh dan kapan harus berlayar.”
“Dengan pengetahuan ini, saya selalu bekerja demi kepentingan makhluk hidup. Dengan kapal yang kuat dan aman, saya mengantar para pedagang ke pulau harta yang mereka mereka pilih, dan setelah memperkaya diri mereka dengan segala macam permata, saya membawa mereka kembali ke benua ini. Saya tidak pernah kehilangan satu kapal pun.”
Vaira melanjutkan: “Saya telah mencapai tingkat pencerahan yang bercirikan mahakaruna dan suara air yang mengalir, dan merupakan keberuntungan bila bertemu denganku, mendengarkanku, tinggal bersamaku, dan mengingat namaku. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang melintasi semua samudra pusaran duniawi, yang tak terpengaruh oleh samudra penderitaan, yang berdiam di dalam samudra semua pengetahuan, yang tidak melewatkan kesempatan baik untuk membimbing samudra makhluk hidup?”
“Sebelah selatan dari sini ada sebuah kota bernama Nandigara. Di sana tinggal seorang pria yang hebat bernama Jayottama. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Vaira dan perlahan pergi.
Guru Kedua Puluh Tiga: Sang Pemimpin Warga
Batinnya dipenuhi oleh mahamaitri untuk tak terbatas alam kehidupan, diluapi oleh mahakaruna, mencari jalan para Bodhisattva, Sudhana melakukan perjalanan ke Kota Nandigara dan mencari Jayottama – yang berarti “Pemenang Utama”.
Sudhana melihat Jayottama di suatu hutan di ujung timur kota tersebut, dikelilingi oleh ribuan para tetua, sedang memberikan petunjuk atas berbagai persoalan di kota tersebut.
Ia sedang memberi tahu mereka bagaimana melenyapkan egoisme, rasa memiliki, ketamakan, dan ketergantungan. Ia memberi tahu mereka bagaimana menyingkirkan pikiran yang menghambat mereka, serta iri hati dan kecemburuan yang merusak mereka.
Ia melakukan ini untuk membersihkan dan memurnikan batin setiap orang, dan menunjukkan kepada mereka kekuatan kebijaksanaan para Bodhisattva.
Sudhana menghampiri sang pemimpin warga Jayottama, membungkuk kepadanya, dan memberitahukan tujuannya untuk mencapai pencerahan demi kepentingan semua makhluk. Ia meminta Jayottama agar mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menerapkan praktik Bodhisattva.
Setelah memuji aspirasinya, Jayottama berkata kepada Sudhana: “Saya sedang menyempurnakan metode dari praktik pencerahan yang berlaku di semua tempat. Dengan metode ini saya menjelaskan Dharma dari semua alam kehidupan di jagat raya.”
“Saya menentang kebohongan, saya menghentikan pertentangan, perselisihan, dan permusuhan. Saya menghapus ketakutan dan mengakhiri kejahatan. Saya mengalihkan orang dari membunuh, mencuri, berbuat asusila, berdusta, memfitnah, kebencian, dan pandangan salah. Saya membuat mereka meninggalkan semua kegiatan yang memaksa dan terus melakukan tindakan yang benar.”
“Saya mengajari semua orang semua pengetahuan seni dan keterampilan yang bermanfaat bagi dunia. Saya menjelaskan dan mengembangkan semua ilmu pengetahuan yang membawa kebahagiaan bagi dunia. Saya mengikuti doktrin yang salah dengan tujuan memajukan orang yang terlibat di dalamnya.”
“Sebagaimana saya mengajar di alam semesta ini, saya juga mengajar di tak terhingga dunia. Saya mengajarkan tentang jalan para Buddha dan para Bodhisattva, juga tentang semua tingkat keberadaan yang lain.”
“Saya mengajarkan tentang pembentukan dan kehancuran dunia, tentang penderitaan dunia, dan tentang kesetaraan dunia.”
Jayottama meneruskan: “Saya menguasai metode penyempurnaan praktik pencerahan yang berlaku di semua tempat. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang memiliki semua bentuk pengetahuan gaib, yang berbicara dengan suara yang mutlak, berkomunikasi dengan tak terbatas makhluk hidup sesuai dengan mentalitas mereka?
“Arah selatan dari sini, di Negeri Shronaparanta, terdapat sebuah kota yang bernama Kalingavana. Seorang bhiksuni bernama Sinhavijurmbhita tinggal di sana. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Jayottama dan perlahan beranjak pergi.
Guru Kedua Puluh Empat: Bhiksuni yang Hebat
Sudhana melakukan perjalanan ke Kota Kalingavana, dan bertanya kepada semua orang yang ditemuinya di mana bisa menemui Bhiksuni Sinhavijurmbhita – yang namanya berarti “Singa Meregang”.
Orang-orang memberi tahu Sudhana bahwa Bhiksuni Sinhavijurmbhita tinggal di Taman Sinar Matahari, sedang menjelaskan Dharma demi kebajikan tak terhingga makhluk.
Sudhana pergi ke Taman Sinar Matahari dan mencari berkeliling. Ia melihat berbagai pepohonan – pohon yang terang benderang, pohon rindang yang memberi keteduhan, bercahaya seperti awan kristal biru, pohon yang terus-menerus berbunga aneka warna, pohon yang sarat dengan buah manis yang selalu matang, pohon yang menghasilkan untaian bunga dan perhiasan dari permata surgawi, pohon alat-alat musik yang memperdengarkan alunan musik indah, pohon yang mengharumkan udara dengan wewangiannya.
Ia melihat berbagai kolam teratai yang mengagumkan, penuh oleh air wangi, ditutupi oleh teratai aneka warna, dikelilingi oleh pohon-pohon permata. Di bawah pohon permata terdapat berbagai takhta singa, dengan teratai permata. Sudhana melihat bahwa seluruh permukaan tanah di taman tersebut bertaburkan berbagai macam permata. Sudhana bisa melihat Taman Sinar Matahari tersebut berkat kekuatan gaib dari Bhiksuni Sinhavijurmbhita.
Pada saat itu, di atas semua takhta singa di bawah pohon permata, Sudhana melihat Bhiksuni Sinhavijurmbhita sedang duduk, dikelilingi oleh sangat banyak pengikut. Ia tenang, sabar, indra dan batinnya tenang, tak terpengaruh oleh hal duniawi, tak kenal takut seperti singa, dengan keahlian tingkah laku yang halus, tak tergoyahkan seperti gunung, sempurna dalam bersikap, menenangkan batin makhluk hidup.
Sudhana melihat Bhiksuni Sinhavijurmbhita duduk di atas semua takhta tersebut, dikelilingi oleh berbagai pendengar dari berbagai jenis makhluk yang berbeda.
Sudhana melihat Bhiksuni Sinhavijurmbhita dalam semua kelompok yang terpisah, mengajarkan setiap jenis makhluk dengan cara yang sedemikian sehingga semua menjadi yakin akan pencerahan. Bagaimana ia melakukannya? Bhiksuni Sinhavijurmbhita telah memasuki puluhan ratusan ribu pintu kebijaksanaan utama.
Setelah mendengarkan ajarannya, dengan batin yang dimasuki oleh kumpulan ajaran yang sangat luas, Sudhana membungkuk pada Bhiksuni Sinhavijurmbhita dan berpradaksina mengelilinginya menunjukkan penghormatannya. Setelah berpradaksina sebanyak ratusan ribu kali, Sudhana menyadari bahwa ia selalu melihat sang bhiksuni ke arah mana pun ia menghadap.
Sudhana berdiri di hadapannya dan memintanya memberitahukan bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva. Sinhavijurmbhita berkata: “Saya telah mencapai tingkat pencerahan pemusnahan semua khayalan sia-sia.”
Sudhana bertanya seperti apakah bentuknya, dan ia menjawab: “Ia adalah cahaya pengetahuan yang sifat dasarnya adalah kesadaran dalam sekejap terhadap fenomena masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.”
Sinhavijurmbhita menjelaskan kepada Sudhana bahwa ia pergi ke semua dunia di kesepuluh penjuru dengan tubuh yang diciptakan oleh pikirannya, untuk melakukan persembahan kepada tak terhingga para Buddha dan Bodhisattva.
Sinhavijurmbhita berkata: “Makhluk hidup yang mengetahui kegiatanku melakukan persembahan kepada para Buddha semuanya menjadi yakin terhadap pencerahan. Dan kepada semua makhluk yang datang kepadaku, saya memberikan instruksi dalam bentuk kebijaksanaan utama ini.”
Sinhavijurmbhita berkata: “Saya melihat semua makhluk dengan mata pengetahuan, tetapi saya tidak menciptakan suatu konsep “makhluk hidup” dan membayangkannya sebagai kenyataan.”
“Saya melihat semua Buddha, tetapi saya tidak mengkhayalkan wujud yang saya lihat sebagai nyata, karena saya tahu tubuh para Buddha adalah kenyataan itu sendiri.”
“Saya meliputi jagat raya dalam setiap waktu kesadaran, tetapi saya tidak mengkhayalkannya sebagai nyata, karena saya tahu keberadaan segala sesuatu adalah ilusi.”
“Dengan demikian, saya menguasai tingkat pencerahan pemusnahan semua khayalan sia-sia. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang menembus jagat raya tak terbatas dari semua kenyataan, yang telah bebas dari khayalan sia-sia tentang semua hal, yang melihat semua alam Buddha di dalam tubuh mereka sendiri?”
“Sebelah selatan dari sini, di Negeri Durga, terdapat suatu kota bernama Ratnavyuha. Tinggal di sana seorang pemuja dewa api, Vasumitra. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Bhiksuni Sinhavijurmbhita dan meninggalkannya dan pergi melanjutkan perjalanannya.
Guru Kedua Puluh Lima: Kecantikan yang Luar Biasa
Untuk memenuhi ikrarnya menyempurnakan semua kegiatan Bodhisattva, Sudhana melakukan perjalanan ke Kota Ratnavyuha di Negeri Durga yang berbahaya, di mana ia akan mencari Vasumitra – yang artinya “Teman Bagi Dunia”.
Orang-orang di sana yang tidak tahu tentang lingkup pengetahuan Vasumitra memberi tahu Sudhana untuk menghindarinya, karena kecantikannya akan membangkitkan hasrat dan nafsu berahi yang kuat. Mereka memberi tahu agar ia tidak jatuh oleh kekuatan wanita seperti itu, dan tenggelam dalam hawa nafsu.
Orang-orang yang menyadari kebajikannya yang luar biasa dan lingkup pengetahuannya berkata kepada Sudhana bahwa ia pasti akan beruntung bila bertemu dengan Vasumitra. Mereka memberitahukan bahwa Vasumitra ada di rumahnya, sebelah utara dari alun-alun kota.
Sudhana sangat gembira mendengar hal ini, dan pergi ke rumah Vasumitra. Ia melihat rumah tersebut dikelilingi oleh sepuluh lapis dinding permata, sepuluh lingkaran pohon permata, dan sepuluh parit yang dipenuhi air wangi. Rumah tersebut memiliki kamar-kamar dan menara-menara yang terbuat dari berbagai macam bahan berharga, pintu-pintu dengan lengkungan yang tinggi, dan jendela-jendela bundar bertirai jaring dan diterangi oleh permata. Rumah tersebut diberi wewangian dengan berbagai macam minyak wangi, dan berhiaskan bunga-bunga permata.
Di sana Sudhana melihat Vasumitra, yang luar biasa cantik, dengan warna kulit keemasan dan rambut yang hitam serta tubuh dan anggota badan yang proporsional. Ia lebih cantik dari semua makhluk surgawi dan manusia di alam keinginan. Ia sangat menguasai semua bidang seni dan ilmu pengetahuan, dan juga telah menguasai semua aspek jalan kebijaksanaan dari para Bodhisattva.
Vasumitra bersama dengan serombongan besar para wanita seperti dirinya, semua memiliki kebajikan yang sama, praktik yang sama, dan ikrar yang sama. Sudhana melihat seluruh rumah diterangi oleh cahaya yang menyegarkan, menimbulkan mahasukha, mempesona, yang keluar dari tubuh Vasumitra.
Kemudian Sudhana menghampiri Vasumitra, memberi hormat kepadanya, dan menjelaskan maksud kedatangannya. Ia memintanya untuk mengajarkan tentang bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Vasumitra berkata: “Saya telah mencapai tingkat pencerahan yang disebut Pada Akhirnya Tanpa Nafsu. Terhadap semua jenis makhluk, saya muncul dalam wujud feminim dari jenisnya, melampaui kemegahan dan kesempurnaan. Semua yang datang padaku dengan pikiran penuh nafsu, saya mengajarkan bagaimana menjadi bebas dari nafsu.”
“Sebagian mencapai tanpa nafsu pada saat mereka melihat saya. Sebagian mencapai tanpa nafsu hanya dengan berbicara padaku. Beberapa mencapai tanpa nafsu dengan memegang tangan saya. Sebagian mencapai tanpa nafsu hanya dengan tinggal bersamaku. Sebagian mencapai tanpa nafsu hanya dengan menatapku. Sebagian mencapai tanpa nafsu hanya dengan memelukku. Sebagian mencapai tanpa nafsu hanya dengan menciumku.”
“Semua yang datang padaku saya tempatkan pada tingkat pencerahan Pada Akhirnya Tanpa Nafsu, hampir mencapai tingkat maha mengetahui yang tak terintangi.”
Vasumitra melanjutkan: “Saya menguasai tingkat pencerahan Pada Akhirnya Tanpa Nafsu. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang berada di alam pengetahuan yang tak terkalahkan?”
“Arah selatan dari sini terdapat sebuah kota bernama Shubhaparamgama, di mana tinggal seorang perumah tangga bernama Veshthila yang sedang memberikan persembahan di atas altar sang Buddha Singgasana Cendana. Pergilah bertanya kepadanya bagimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Vasumitra dan beranjak pergi.
Guru Kedua Puluh Enam: Sang Pemeluk
Sudhana pergi ke rumah Vesthila, di Kota Shubhaparamgama. Memberi hormat pada sang perumah tangga, Sudhana memberitahukan tujuan kedatangannya dan memintanya untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Veshthila berkata: “Saya telah mencapai tingkat pencerahan yang disebut Tak Akan Pernah Habis. Saya tahu bahwa tak ada Buddha di dunia mana pun yang pernah atau akan berakhir, kecuali sebagai alat pengajaran. Ketika saya membuka pintu altar sang Buddha Singgasana Cendana, saya mencapai tingkat samadhi yang disebut Manifestasi dari Parampara Tak Terputuskan para Buddha.
Sudhana bertanya tentang pengalaman dari tingkat samadhi ini, dan Veshthila menjawab: “Pada saat saya berada dalam samadhi ini, semua urut-urutan para Buddha dalam jaringan dunia ini tampak olehku. Dalam kelanjutan penampakan para Buddha ini, melalui kesinambungan dari urut-urutan para Buddha, dalam satu saat pikiran saya melihat seratus Buddha, pada saat kesadaran berikutnya saya melihat seribu Buddha, kemudian sejuta Buddha, kemudian semiliar Buddha, setriliun Buddha, sekuadriliun Buddha, sekuintiliun Buddha. Saya serta-merta menyadari kemunculan berurutan tak terhingga para Buddha.
“Saya juga memahami semua tahap dari proses yang dilalui oleh para Buddha untuk mencapai pencerahan sempurna, berbagai cara yang mereka lakukan untuk mengembangkan makhluk hidup, berbagai kegiatan pengajaran yang mereka lakukan.”
“Saya juga mengingat ajaran-ajaran mereka, mempelajari tindakan mereka, menganalisa mereka, mengikuti mereka dengan ketajaman, dan menggambarkan mereka dengan kebijaksanaan.”
Veshthila meneruskan: “Saya menguasai tingkat pencerahan Tak Akan Pernah Padam. Tetapi bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang serta-merta mencapai pengetahuan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, yang jangkauan pengetahuannya menyampaikan ajaran dari semua Buddha?
“Sebelah selatan dari sini terdapat sebuah gunung bernama Potalaka, di mana tinggal seorang Bodhisattva bernama Avalokiteshvara. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat pada Veshthila dan berangkat.
Guru Kedua Puluh Tujuh: Pemerhati Dunia
Sambil merenungkan ajaran Veshthila, mengingat kekuatan dari urut-urutan para pembimbing yang telah mencapai pencerahan, Sudhana melakukan perjalanan menuju ke Gunung Potalaka.
Berhasil mendaki gunung tersebut, Sudhana mencari keberadaan sang Bodhisattva Pemerhati Dunia. Sudhana melihat Sang Pemerhati Dunia di suatu dataran tinggi sebelah selatan gunung tersebut, sedang duduk di atas sebuah batu berlian besar di tempat yang terbuka di suatu hutan, dikelilingi oleh sekelompok Bodhisattva yang duduk di atas batu-batu dari permata, kepada siapa ia sedang memberikan ajaran yang disebut Cahaya Medium Mahamaitri dan Karuna.
Sudhana sangat gembira ketika melihat Sang Pemerhati Dunia. Ia sedang memikirkan guru spiritual sebagai sumber pengetahuan yang tak ada habisnya. Sudhana berjalan ke arah Sang Pemerhati Dunia, yang melihatnya datang dari jauh dan menyambutnya sebagai orang yang telah melakukan perjalanan yang hebat, berusaha menjalani secara langsung semua ajaran para Buddha.
Sudhana menghampiri Sang Pemerhati Dunia, memberi hormat, dan memberitahukan tujuannya mencapai pencerahan sempurna demi kepentingan semua makhluk hidup. Ia meminta Sang Pemerhati Dunia untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Setelah memuji Sudhana atas aspirasinya, Sang Pemerhati Dunia berkata: “Saya menguasai suatu praktik pencerahan yang disebut Karuna yang Tak Diragukan, yang secara tak terbatas membimbing semua makhluk menuju kesempurnaan.”
“Saya muncul di tengah-tengah aktivitas semua makhluk tanpa pergi dari hadapan semua Buddha.”
“Saya mengembangkan makhluk hidup dengan muncul dalam berbagai wujud. Saya berbicara kepada mereka sesuai dengan mentalitas mereka dan menunjukkan kepada mereka macam-macam tingkah laku sesuai dengan kecenderungan mereka. Saya muncul sebagai anggota ras dan kelompok sosial mereka, dan tinggal bersama mereka.”
“Saya telah bersumpah untuk menjadi pelindung semua makhluk, untuk membebaskan mereka dari rasa takut. Saya telah membuat nama saya terkenal di semua dunia untuk menghapus rasa takut dari semua makhluk.”
Pada saat itu seorang Bodhisattva bernama Ananyagamin – yang berarti “Ia yang Segera Bertindak” – turun dari langit sebelah timur dan berdiri di puncak gunung. Tubuhnya memancarkan cahaya yang sedemikian terang meliputi cahaya matahari, bulan, dan bintang, dan menerangi semua alam rendah, sehingga semua makhluk di sana terbebas dari penderitaan, dan semua kesedihan terhenti.
Ananyagamin juga muncul di hadapan para Buddha, melakukan berbagai persembahan kepada mereka. Ia juga muncul di tempat tinggal semua makhluk, muncul dalam wujud yang dibuat untuk menyenangkan mereka. Ia juga muncul di hadapan Bodhisattva Pemerhati Dunia di atas puncak Gunung Potalaka.
Kemudian Sang Pemerhati Dunia bertanya kepada Sudhana apakah ia melihat sang makhluk pencerahan Ananyagamin persamuhan ini. Sudhana menjawab bahwa ia melihatnya. Sang Pemerhati Dunia berkata: “Pergilah ke Ananyagamin dan tanyakan kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memberi hormat kepada Bodhisattva Pemerhati Dunia dan pergi melanjutkan perjalanannya.
Guru Kedua Puluh Delapan: Segera Bertindak
Sudhana belum puas melihat Sang Pemerhati Dunia, tetapi ia mematuhi kata-katanya dan pergi menemui Bodhisattva Ananyagamin – yang namanya berarti “Ia yang Segera Bertindak”.
Sudhana mendatangi Ananyagamin, memberi hormat, dan memberitahukan tujuannya untuk mencapai pencerahan sempurna demi kebajikan semua makhluk. Ia meminta Ananyagamin untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Ananyagamin berkata: “Saya telah mencapai tingkat pencerahan yang disebut “Melaju dengan Cepat ke Semua Penjuru”. Sudhana bertanya kepada Ananyagamin dari Buddha manakah ia mempelajarinya, dan seberapa jauhnya alam Buddha tersebut, dan kapan ia meninggalkan alam tersebut.
Ananyagamin memberi tahu Sudhana bahwa hanya mereka yang berada dalam pengawasan guru-guru spiritual dan telah memurnikan niat mereka yang bisa mengerti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Ananyagamin berkata: “Saya menguasai praktik pencerahan yang disebut Karuna yang Tak Diragukan, yang secara tak terbatas membimbing semua makhluk menuju kesempurnaan.”
“Saya berasal dari suatu alam Kebuddhaan dari seorang Buddha yang bernama Terlahir dari Cahaya Universal. Saya mencapai tingkat pencerahan Melaju dengan Cepat ke Semua Penjuru di kaki sang Buddha tersebut. Tak terhingga kalpa telah berlalu sejak saya meninggalkan alam tersebut.”
“Dengan setiap pikiran saya mengambil tak terhitung langkah, dan dengan setiap langkah saya melewati tak terhingga alam Buddha, masing-masing dengan Buddhanya sendiri. Saya mendatangi semua Buddha tersebut dan menghormati mereka dengan persembahan mental yang terbaik, dicap dengan segel jagat raya yang tak berwujud.”
“Saya juga mengamati samudra makhluk hidup di semua dunia. Saya menembus pikiran mereka, melihat kemampuan mereka, dan hadir di antara mereka dengan tubuh sesuai dengan kecenderungan dan minat mereka, dan menjelaskan Dharma. Saya menyesuaikan wujud saya terhadap mereka, tak henti-hentinya berjuang untuk membimbing mereka menuju kesempurnaan. Saya bepergian ke semua penjuru.”
Ananyagamin meneruskan: “Saya menguasai tingkat pencerahan Melaju dengan Cepat ke Semua Penjuru. Tetapi bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang berada di semua penjuru, yang berada di alam pengetahuan yang lengkap, yang tubuhnya meliputi semua alam, yang tindakannya sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya?”
“Arah selatan dari sini terdapat sebuah kota yang bernama Dvaravati, di mana tinggal sang makhluk surgawi Mahadeva. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.” Sudhana memberi hormat pada sang Bodhisattva Ananyagamin dan berlalu.
Guru Kedua Puluh Sembilan: Seorang Makhluk Surgawi
Dipenuhi kegembiraan, dengan pikiran tertuju pada pembebasan yang tak terlukiskan, Sudhana pergi ke Kota Dvaravati dan bertanya di mana bisa menemukan sang makhluk surgawi Mahadeva.
Penduduk kota memberi tahu Sudhana bahwa Mahadeva ada di suatu kuil di persimpangan jalan di kota tersebut dalam tubuh raksasanya sedang menjelaskan Dharma. Sudhana menghampiri Mahadeva, memberi hormat, dan memberitahukan tujuannya untuk mencapai pencerahan sempurna demi kebajikan semua makhluk. Ia meminta Mahadeva untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.
Sang makhluk surgawi Mahadeva merentangkan empat tangan ke empat penjuru dan mengambil air dari laut dan membasuh wajahnya. Kemudian ia menaburkan bunga-bunga emas kepada Sudhana dan mempersembahkan pujian kepada sang Bodhisattva sebagai orang yang menunjukkan jalan yang aman dan damai bagi mereka yang menempuh jalan yang salah.
Mahadeva memberi tahu Sudhana bahwa ia telah mencapai tingkat pencerahan yang disebut Jala Mega. Sudhana bertanya seperti apakah bentuknya. Pada saat itu, Mahadeva menciptakan tumpukan emas setinggi gunung muncul di hadapan Sudhana, beserta gundukan-gundukan yang sama berbagai jenis harta dan benda berharga. Kemudian ia berkata kepada Sudhana:
“Mengambil ini dan memberikan hadiah-hadiah, melakukan kebajikan, dan membuat persembahan kepada para Buddha. Menjaga makhluk hidup dengan pemberian dana, mengajarkan semua dunia dengan memberi, menunjukkan bagaimana rasanya memberi yang tak ada habisnya.”
“Sebagaimana saya memberikan semua ini padamu, saya membuat kedermawanan mutlak seperti ini menjadi suatu kebiasaan bagi tak terhingga makhluk hidup.”
“Bagi mereka yang mabuk oleh kecintaan terhadap objek-objek materi, saya membuat objek-objek menjadi tidak murni.”
“Bagi mereka yang dipenuhi kemarahan, yang sombong, yang angkuh, dan suka menguasai, saya menunjukkan gambaran yang menakutkan dari setan pemakan daging dan peminum darah, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa ini semua adalah gambaran dari kesombongan.”
“Kepada mereka yang malas dan lalai, saya menunjukkan berbagai situasi berbahaya, untuk membangkitkan semangat dan ketekunan mereka.”
“Demikianlah dengan berbagai cara yang tepat, saya mengalihkan orang dari perilaku yang buruk dan membuat mereka mengembangkan kebajikan.”
Kemudian Mahadeva melanjutkan: “Saya menguasai tingkat pencerahan Jala Mega. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang bagaikan angin menghancurkan gunung kemelekatan, bagaikan petir yang menghancurkan kumpulan obsesi diri?”
“Arah selatan dari sini, di tempat pencerahan di wilayah Magadha, tinggal seorang dewi bumi yang bernama Sthavara. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.” Sudhana memberi hormat pada Mahadeva dan beranjak pergi.
Guru Ketiga Puluh: Sang Dewi Bumi Sthavara
Kemudian Sudhana pergi mencari sang dewi bumi Sthavara di tempat Sang Buddha mencapai pencerahan di wilayah Magadha. Merasakan Sudhana mendekat, sejuta dewi bumi berkata satu sama lainnya: “Sebuah kapal pencerahan sedang menuju kemari yang akan memecahkan selongsong kebodohan semua makhluk dan menghancurkan senjata semua guru palsu.”
Kemudian para dewi bumi tersebut, dengan dipimpin oleh Sthavara, membuat bumi bergetar dan laut bergemuruh, dan menyelimuti seluruh jagat raya dengan cahaya yang terang benderang.
Kemudian para dewi bumi muncul dari dalam bumi, membuat semua tanaman bertunas dan berbunga, membuat sungai-sungai mengalir dan kolam-kolam terisi penuh, menurunkan hujan air wangi, dan penampakan istana-istana surgawi di udara.
Kemudian sang dewi bumi berkata kepada Sudhana: “Selamat datang! Inilah tempat di mana Engkau telah menanam akar kebajikan, yang telah saya saksikan sendiri. Apakah Engkau ingin melihat hasilnya di sini dan saat ini?”
Sudhana memberi hormat kepada sang Dewi dan berkata, “Saya mau.”
Kemudian sang Dewi menyentuh bumi dengan telapak kakinya, menyebabkannya mengeluarkan timbunan permata yang tak terhitung banyaknya. Ia berkata kepada Sudhana: “Bermiliar-miliar permata berharga ini bisa kaubawa pergi dan menjadi milikmu. Engkau telah menimbunnya melalui kekuatan kebajikanmu, dan mereka juga terlindung oleh kebajikanmu. Bawalah mereka dan perlakukanlah sekehendakmu.”
“Saya telah mencapai tingkat pencerahan yang disebut Perlindungan Pengetahuan yang Tak Dapat Disangkal. Saya terus-menerus tinggal bersama dan melindungi Sang Buddha Vairochana sejak waktu yang tak diketahui. Saya telah memasuki lingkup pengetahuannya dan semua ikrarnya, dan menyertainya dalam semua samadhinya. Saya telah mendapatkan semua penguasaannya atas kekuatan semua Bodhisattva dan caranya menggerakkan roda Dharma.”
Kemudian sang dewi bumi melanjutkan: “Saya menguasai tingkat pencerahan Perlindungan Pengetahuan yang Tak Dapat Disangkal. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang telah memasuki pengetahuan rahasia semua Buddha, yang melintasi jagat raya dalam sekejap, yang menjadi wakil yang tak terpisahkan dari semua Buddha?”
“Di Negeri Magadha ini ada sebuah kota bernama Kapilavastu, tempat di mana seorang dewi malam bernama Vasanti tinggal. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.” Sudhana memberi hormat kepada sang dewi bumi Sthavara dan beranjak pergi.
Guru Ketiga Puluh Satu: Sang Dewi Malam Vasanti
Sambil mengingat ajaran sang dewi bumi Sthavara dan tingkat pencerahan Perlindungan Pengetahuan yang Tak Dapat Disangkal, Sudhana menuju ke kota besar Kapilavastu.
Sudhana masuk melalui gerbang timur kota tersebut dan berdiri di persimpangan jalan di tengah-tengah kota. Tak lama lagi matahari terbenam, dan ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan sang dewi malam Vasanti, yang dianggapnya sebagai guru spiritual.
Sudhana melihat sang dewi malam Vasanti di angkasa di atas Kapilavastu, di dalam menara permata yang gemerlap, sedang duduk di atas takhta singa permata yang besar. Vasanti sangat cantik, dengan corak kulit keemasan dan halus, rambut hitam yang tebal, dan mata yang hitam. Tubuhnya dihiasi dengan berbagai perhiasan, dan ia mengenakan jubah berwarna merah. Ia mengenakan mahkota keramat yang berhiaskan bulatan bulan, dan tubuhnya memantulkan refleksi seluruh bintang dan konstelasi.
Sudhana bisa melihat di dalam pori-pori sang dewi malam semua makhluk hidup yang telah dibebaskan olehnya. Di dalam pori-porinya ia bisa melihat semua cara serta berbagai perwujudan fisik dan rupa yang telah digunakannya untuk membebaskan mereka, juga penyesuaian waktu dan keahlian khusus yang dibutuhkannya untuk menyempurnakan mereka.
Menyaksikan semua ini, Sudhana merasa sangat gembira. Ia memberi hormat pada sang dewi malam Vasanti, dan memberitahukan keinginannya untuk mencapai pencerahan sempurna. Ia memintanya untuk menunjukkan kepadanya jalan dari semua pengetahuan.
Vasanti menjawab Sudhana: “Dengan melaksanakan instruksi dari guru-guru spiritual, Engkau pasti akan akan meraih pencerahan yang sempurna.
“Saya telah mencapai suatu tingkat pencerahan, suatu jalan untuk membimbing makhluk hidup menuju cahaya kebenaran, yang menghapus kegelapan bagi semua makhluk. Saya bertekad untuk menyucikan yang jahat, meluruskan yang salah jalan, dan membebaskan mereka yang melekat pada rutinitas duniawi dari daur ulang.”
Vasanti kemudian menceritakan kepada Sudhana berbagai cara yang telah dilakukannya untuk menolong makhluk hidup yang tersesat dalam kegelapan ketakutan mereka, kemelekatan dan pandangan salah.
Ia menjelaskan pekerjaannya tersebut dalam slokha:
Pembebasan batin yang damai ini menuntun dunia
Menuju kebahagiaan sesuai dengan zaman
Dengan memancarkan cahaya kebenaran
Untuk mengakhiri kegelapan khayalan dan kebodohan
Kebaikanku luas dan murni
Dikembangkan melalui tak terbatas kalpa masa lalu
Dengan menghalau kejahatan, saya menerangi dunia –
Engkau harus memahami kebijaksanaan ini, Sudhana yang teguh
Sudhana kemudian bertanya bagaimana Vasanti mencapai pencerahan ini.
Kisah Tentang Sang Dewi Malam
Vasanti menceritakan bahwa berkalpa yang lalu ia adalah istri dari seorang raja yang adil. Pada suatu malam setelah bercinta sang Ratu tertidur. Seorang dewi malam bernama Sinar Bulan Murni membangunkan sang Ratu dengan bunyi gemerincing dari perhiasannya dan membawa berita bahwa seorang Buddha baru saja mencapai pencerahan di dunia mereka.
Dewi malam tersebut menjelaskan kepada sang Ratu tentang kualitas dari seorang Tathagata dan tentang ikrar yang dipraktikkan oleh para Bodhisattva demi kebajikan semua makhluk. Pada saat itu, sang Ratu bertekad untuk mencapai pencerahan.
Vasanti memberi tahu Sudhana bahwa ia adalah sang Ratu tersebut, dan berkat kebajikan dari aspirasi yang dibangkitkannya saat itu, ia bisa melalui berkalpa-kalpa menanam akar kebajikan. Tetapi kecakapan pencerahannya belum sepenuhnya berkembang.
Dalam masa kehidupan yang lain, sepuluh ribu kalpa sebelum kehidupan yang sekarang, ia adalah seorang gadis yang cantik, kuat dan masyhur. Suatu malam ketika orang tuanya sedang tidur, ia dikunjungi oleh seorang dewi malam yang menceritakan kepadanya tentang kualitas para Buddha dan memperlihatkan kepadanya penampakan Sang Buddha pada zaman itu sedang duduk di tempatnya mencapai pencerahan pada minggu pertama setelah mencapai pencerahan.
Gadis tersebut membawa orang tua dan sanak saudaranya ke hadapan sang Buddha tersebut, dan memberikan berbagai persembahan. Ketika melihat sang Buddha tersebut, ia mencapai samadhi yang memungkinkannya mengingat tak terhitung kalpa dan aspirasinya untuk mencapai pencerahan.
Vasanti memberi tahu Sudhana bahwa setelah mendengar ajaran sang Buddha tersebut, ia mencapai tingkat pencerahan yang merupakan suatu jalan untuk membimbing makhluk hidup menuju cahaya kebenaran, yang menghapus kegelapan bagi semua makhluk.
Vasanti memberi tahu Sudhana: “Dengan mencapai tingkat pencerahan ini, saya meliputi tak terhitung banyaknya dunia, dan melihat para Buddha di setiap dunia tersebut, dan merasakan diri saya bersimpuh di kaki semua Buddha tersebut. Saya juga melihat semua makhluk hidup di semua dunia tersebut serta memahami bahasa dan pikiran mereka, kecenderungan dan keinginan mereka. Saya bermanifestasi dalam tubuh yang sesuai dengan kecenderungan mereka.
“Tingkat pencerahan ini berkembang dalam setiap saat pikiran. Dalam urut-urutan yang tak terputuskan dari setiap saat pikiran, saya mengunjungi tak terhingga alam Buddha yang terus bertambah jumlahnya, saya melihat para Buddha di semua alam tersebut, saya menerima semua ajaran mereka, dan saya masuk ke dalam samudra ikrar mereka.”
Kemudian Vasanti melanjutkan: “Saya menguasai tingkat pencerahan membimbing makhluk hidup menuju cahaya kebenaran. Tetapi bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang berjuang untuk memberitahukan kepada semua makhluk tentang Perjalanan Hebat pembebasan universal, yang memiliki pengetahuan sempurna masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang?”
“Persis di tempat pencerahan ini di Magadha tinggal seorang dewi malam bernama Cahaya Murni dari Kebajikan Universal. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari dan menjalankan praktik Bodhisattva.”
Sudhana memuji sang dewi malam Sthavara, memberi hormat kepadanya, dan terus memandangnya lagi dan lagi. Kemudian ia pergi.
Guru Ketiga Puluh Dua: Sang Dewi Malam Cahaya Murni
Memasuki samudra ikrar para Tathagata, mencari melewati samudra luas cahaya dari semua pengetahuan, Sudhana mendatangi sang dewi malam Cahaya Murni. Ia memberi hormat kepadanya, memberi tahukan aspirasinya untuk mencapai pencerahan, dan memintanya untuk mengajarkan kepadanya bagaimana seorang Bodhisattva bertindak dalam tahap praktik pencerahan.
Sang dewi malam Cahaya Murni memberi tahu Sudhana bahwa praktik Bodhisattva dapat dicapai dengan melakukan sepuluh hal berikut ini:
Menyempurnakan samadhi di mana bisa bertemu muka dengan semua Buddha
Menyempurnakan mata yang melihat tak terhingga tubuh semua Buddha
Memasuki samudra tak terbatas kualitas para Buddha
Memahami skala jagat raya dari tak terhingga manifestasi ajaran para Buddha
Memasuki tak terhingga cahaya yang keluar dari pori-pori semua Buddha, menolong makhluk hidup dengan berbagai cara
Melihat samudra cahaya berwarna permata keluar dari pori-pori semua Buddha
Memasuki samudra emanasi para Buddha yang meliputi semua jagat raya dan membimbing makhluk hidup dalam setiap saat pikiran
Memahami kitab-kitab dari semua roda Dharma masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, dengan menggunakan semua bahasa makhluk hidup
Memasuki samudra tak terbatas nama-nama Buddha
Mencari tahu bagaimana para Buddha membimbing makhluk hidup dengan memanifestasikan transformasi yang tak terlukiskan
Sang dewi malam Cahaya Murni berkata: “Saya telah mencapai tingkat pencerahan yang disebut Mahasukha Meditasi Tenang Bepergian Ke Semua Tempat. Dengan ini saya melihat para Buddha dari masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, dan masuk ke dalam samudra pengikutnya, samudra samadhi mereka, dan samudra virya masa lalu mereka.
“Meskipun demikian saya tidak melekat kepada para Buddha tersebut. Mengapa tidak? Karena saya tahu para Buddha tidak datang dan tidak pergi, tidak hadir dan tidak absen, tidak nyata dan tidak palsu.”
“Saya mengembangkan tingkat pencerahan Mahasukha Meditasi Tenang Bepergian Ke Semua Tempat. Saya memperluasnya, masuk ke dalamnya, mengikutinya, berbuat sesuai dengannya, menyempurnakannya, memenuhi persyaratannya, dan memberlakukannya.”
“Sambil melatih tingkat pencerahan ini, saya mengembangkan makhluk hidup menuju kedewasaan dengan berbagai cara. Saya mendorong pikiran mereka ke arah praktik spiritual, menuju aspirasi untuk mencapai pencerahan, menuju mahakaruna.”
Sang dewi malam Cahaya Murni melanjutkan: “Saya hanya menguasai tingkat pencerahan Mahasukha Meditasi Tenang Bepergian Ke Semua Tempat. Bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang telah mencapai penguasaan atas pengetahuan dan kekuatan semua Buddha, yang batinnya berdiam di alam para Buddha?”
“Tepat di sebelahku, di sebelah kanan tempat pencerahan Sang Buddha Vairochana, tinggal seorang dewi malam yang bernama Mata Sukacita. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana caranya melakukan pekerjaan Bodhisattva.” Sudhana memberi hormat kepada sang dewi malam Cahaya Murni dan pergi meninggalkannya.
Guru Ketiga Puluh Tiga: Sang Dewi Malam Mata Sukacita
Terbenam dalam ajaran dari para guru spiritual, dan dengan melihat mereka, terbenam dalam samudra mahakaruna yang menyelamatkan semua makhluk, Sudhana pergi mencari sang dewi malam Mata Sukacita.
Sudhana melihat sang dewi malam sedang duduk di atas takhta singa di dalam lingkaran Sang Buddha, dalam tingkat samadhi yang bercirikan energi yang murni dan luas dari sukacita kebajikan universal.
Ia melihat banyak sekali emanasi keluar dari pori-pori sang Dewi, membawa cahaya terang bagi semua makhluk dan menunjukkan pada mereka gambaran dari semua aspek pekerjaan dari para Tathagata.
Ia melihat banyak sekali emanasi keluar dari pori-pori sang Dewi menunjukkan pada semua makhluk bagaimana memotong semua rintangan pencerahan, bagaimana membebaskan diri mereka dari keinginan duniawi, bagaimana mendapatkan sukacita dalam kebenaran, dan bagaimana cara belajar dari para guru spiritual.
Ia melihat banyak sekali tubuh yang diproyeksikan sebanyak pikiran semua makhluk keluar dari pori-pori sang Dewi dan muncul di hadapan makhluk hidup sesuai dengan kecenderungan dan keinginan mereka, menjelaskan semua aspek Dharma dan menunjukkan kepada mereka alam kebijaksanaan.
Ia melihat banyak sekali tubuh yang diproyeksikan sebanyak pikiran semua makhluk keluar dari pori-pori sang Dewi dan muncul di hadapan makhluk hidup, menunjukkan kepada mereka kekuatan abadi para Bodhisattva agar tetap tak terpengaruh oleh kejahatan kehidupan duniawi dan agar tak lelah menjalankan tindakan pencerahan sepanjang masa.
Sudhana melihat tak terhingga alam Buddha di kesepuluh penjuru dimurnikan oleh pikiran sekejap sekumpulan tubuh yang diproyeksikan dari pori-pori sang dewi malam. Ia melihat tak terhingga bermacam samudra makhluk hidup dibebaskan dari semua penderitaan. Ia melihat tak terhingga bermacam makhluk hidup mencapai Bodhisattva bhumi yang kesepuluh.
Sudhana bertanya kepada sang dewi malam Mata Sukacita berapa lama waktu yang dibutuhkannya hingga ia mencapai tingkat pencerahan ini yang bercirikan energi yang murni dan luas dari sukacita kebajikan universal.
Kisah Tentang Sang Dewi Malam
Mata Sukacita memberi tahu Sudhana bahwa berkalpa yang lalu ia adalah seorang permaisuri raja. Pada suatu malam, setelah sang Raja dan putranya tidur, seorang Buddha muncul dan memenuhi jagat raya dengan tak terhingga proyeksi gaib. Sang Buddha ini menunjukkan kepadanya dalam mimpi semua manifestasi tak terhingga dari pekerjaan pencerahan.
Pada saat itu banyak sekali dewi malam berdiri di angkasa di atas sang Ratu dan berusaha membangunkannya. Terbangun dari tidurnya, ia melihat cahaya murni, dan melihat penampakan Sang Buddha di tempat pencerahannya. Sang Ratlu berikrar untuk menjadi seperti Sang Buddha – ini merupakan aspirasi pertamanya untuk mencapai pencerahan. Setelah itu ia melayani banyak para Buddha dalam waktu yang lama di berbagai dunia yang berbeda.
Sang dewi malam menyimpulkan kisahnya: “Sang dewi malam yang telah membangunkan saya adalah emanasi dari sang Bodhisattva Kebajikan Universal. Permaisuri raja tersebut adalah saya. Ketika saya dibangunkan oleh sang dewi malam, telah menyebabkan saya melihat Buddha, dan pertama kalinya saya beraspirasi untuk pencerahan. Sejak saat itu, ke mana pun saya pergi, saya tidak pernah terlepas dari penglihatan para Buddha.
Sang dewi malam Mata Sukacita melanjutkan: “Saya hanya menguasai tingkat pencerahan yang bercirikan energi yang murni dan luas dari sukacita kebajikan universal. Bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang mahir dalam memahami samudra transformasi dari semua Buddha di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang?
“Ada seorang dewi malam yang bernama Penyelamat Bagi Semua yang tinggal di sini di dalam lingkaran Sang Buddha. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana cara memasuki dan menyempurnakan praktik Bodhisattva.” Sudhana memberi hormat kepada sang dewi malam Mata Sukacita dan pergi meninggalkannya.
Guru Ketiga Puluh Empat: Sang Dewi Malam Penyelamat Bagi Semua
Terserap dalam pencerahan energi yang murni dan luas dari sukacita kebajikan universal yang ditunjukkan oleh sang dewi malam Mata Sukacita kepadanya, Sudhana pergi mencari sang dewi malam Penyelamat Bagi Semua.
Untuk menunjukkan kepada Sudhana keagungan dari tingkat pencerahan mempersembahkan bimbingan kepada makhluk hidup di semua dunia, sang dewi malam Penyelamat Bagi Semua memancarkan cahaya dari antara kedua alisnya berupa sorotan cahaya yang tak terhingga. Cahaya tersebut menerangi seluruh dunia, kemudian masuk ke dalam diri Sudhana dan memenuhi seluruh tubuhnya.
Begitu Sudhana tersentuh oleh cahaya tersebut, ia mencapai samadhi yang disebut Dunia dari Akhir Tanpa Nafsu. Melalui ini ia melihat tak terhingga dunia terbentuk dan lenyap dalam semua objek berharga yang tersusun di antara sang dewi malam Mata Sukacita dengan sang dewi malam Penyelamat Bagi Semua.
Ia juga melihat saling mempengaruhi antara elemen materi dan makhluk hidup di semua dunia. Ia melihat pemandangan fisik dari semua dunia, dengan jajaran pegunungan, sungai-sungai, danau-danau, lautan, hutan-hutan, dan ia melihat tempat tinggal dari berbagai makhluk hidup. Ia melihat semua kondisi keberadaan sebagai saling terkait, tak terhingga makhluk hidup yang berbeda sebagai saling berhubungan. Ia melihat perbedaan di antara semua dunia tersebut.
Sudhana juga melihat sang dewi malam Penyelamat Bagi Semua di semua alam kehidupan di semua dunia tersebut, menghadapi setiap makhluk hidup yang siap untuk dibimbing.
Dengan melihat semua dunia sekaligus, Sudhana melihat sang dewi malam Penyelamat Bagi Semua berdiri di hadapan semua makhluk, menyesuaikan diri dengan lamanya waktu hidup mereka, kepercayaan mereka, bentuk fisik mereka, dan kebiasaan komunikasi lisan mereka, dengan tujuan untuk membimbing mereka pada perkembangan yang menyeluruh.
Setelah melihat pertunjukan dari tingkat pencerahan sang dewi malam memberikan bimbingan kepada makhluk hidup di semua dunia, Sudhana membungkuk di hadapannya dengan terpesona. Sudhana berdiri dengan penuh hormat di hadapan sang dewi malam dan melantunkan pujian kepadanya. Kemudian ia bertanya berapa lama ia telah mencapai pencerahannya, dan bagaimana berlatih untuk menyempurnakan pencerahan ini.
Sang dewi malam menjawab: “Ini sulit untuk dimengerti, karena ini adalah alam para Bodhisattva yang mengikuti komitmen untuk mempraktikkan kebajikan universal dari para Tathagata dan yang berusaha untuk memelihara ajaran dari semua Buddha.”
Sang dewi malam kemudian menceritakan kepada Sudhana kisah pencerahannya.
Kisah Sang Dewi Malam
Ia menceritakan tentang seorang Buddha berkalpa yang lampau, Buddha pertama yang muncul pada kalpa tersebut. Selama sepuluh ribu tahun sebelum kemunculannya, Buddha ini secara berkala memancarkan cahaya, dan semua yang tersentuh oleh cahaya tersebut mengetahui bahwa seorang Buddha akan muncul.
Pancaran terakhir cahaya tersebut adalah tujuh hari sebelum kemunculannya, dan dalam tujuh hari terakhir semua makhluk di dunia tersebut yang telah matang karmanya untuk penglihatan Buddha berdiri menghadap ke arah tempat pencerahan.
Tiba-tiba semua objek di dunia, semua objek alam dan objek buatan manusia, juga pegunungan dan lautan dan sungai-sungai, semuanya mulai mengeluarkan awan visualisasi berbagai wewangian dan permata dan cahaya yang berkelap-kelip – semuanya untuk memberitakan kehadiran seorang Buddha.
Kemunculan sang Buddha tersebut menggerakkan roda Dharma, sehingga tak terhingga makhluk hidup di dunia tersebut, sesuai dengan mentalitas mereka yang berlainan, melihat Dharma dengan mengamati berbagai rupa dan wujud dari ajaran yang dengan mahir diproyeksikan oleh para Buddha.
Dunia pada saat itu sangat kaya dan cemerlang. Penduduk di ibu kota mabuk oleh benda-benda materi dan saling merendahkan satu sama lainnya. Untuk mempersiapkan mereka bertemu dengan Sang Buddha, sang Bodhisattva Kebajikan Universal menggunakan tubuh kecantikan yang memukau dan pergi ke kota tersebut. Cahaya agung Kebajikan universal menerangi kota tersebut dan mengalahkan kemegahannya. Kemewahan linkungannya, kecantikan fisik para penduduk dan perhiasan mereka, semuanya pudar dibandingkan dengan pancaran cahaya sang Bodhisattva Kebajikan Universal.
Bodhisattva Kebajikan Universal berdiri di angkasa di atas istana Raja di tengah-tengah kota dan memberitahukan pada sang Raja bahwa seorang Buddha akan datang ke dunia mereka. Putri dari sang Raja yang terinspirasi oleh tubuh Kebajikan Universal telah memperkirakan kejadian tersebut. Ia berikrar tidak akan pernah terpisahkan dari guru spiritual ini.
Sang Raja memimpin seluruh penghuni istana dan semua penduduk kota tersebut keluar untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Sang Raja memberikan persembahan yang mewah di tempat Sang Buddha mencapai pencerahan.
Pada saat itu, sang Putri Raja melepaskan perhiasannya dan menaburkannya kepada Sang Buddha. Perhiasan tersebut membentuk payung di atas kepala Sang Buddha dan tetap berada di sana di udara.
Kemudian sang Putri Raja melihat sebatang pohon pencerahan yang besar daun-daun yang terbuat dari semua permata yang dihasilkan di Alam Kenyataan. Kemudian ia melihat Buddha Vairochana dikelilingi oleh tak terhingga para Bodhisattva yang telah mengangkat ikrar Kebajikan Universal dan yang berdiam di kesatuan para Tathagata yang beraneka warna dan tak terbatas.
Ia melihat tak terhingga dunia, dengan batas masing-masing dan nama dan bentuk, dengan berbagai silsilah para Buddha yang muncul dan memutar roda Dharma dengan cara yang berbeda-beda.
Menyaksikan semua ini, sang Putri Raja terpukau. Dalam keterpesonaannya Sang Buddha menjelaskan kepadanya suatu kitab yang disebut Suara Lingkaran Dharma dari Semua Buddha, beserta tak terhingga kitab-kitab lain yang menyertainya.
Ketika ia telah mendengarkan semua kitab tersebut, sejuta bentuk samadhi memasuki dirinya, halus dan menyenangkan, bagaikan kesadaran dari embrio pada hari pertama berada di dalam rahim ibunya, bagaikan desakan dari sebuah tunas pada hari pertama benih pohon ditanam. Begitulah halusnya dan penuh kekuatan samadhi ini.
Dengan batin yang terkonsentrasi, kokoh, gembira, disegarkan kembali, kemudian ia mengangkat ikrar dari semua Buddha, ikrar praktik pencerahan kebajikan universal – untuk membimbing semua makhluk menuju kesempurnaan, untuk mengetahui semua jalan menuju alam kenyataan, untuk mengunjungi semua Tathagata, untuk menjalin hubungan dengan guru-guru spiritual, untuk melayani semua Buddha.
Kemudian Sang Buddha yang baru saja muncul di dunianya membuat sang Putri Raja menyadari akar kebajikan masa lalunya dan menginspirasi sang Putri untuk mencapai hal yang sama juga.
Ia melihat dirinya sendiri dalam kalpa yang lalu di dunia yang lain, diperintahkan oleh sang Bodhisattva Kebajikan Universal untuk memperbaiki dan mengecat patung Buddha yang rusak. Sejak saat itu, ia selalu melihat para Buddha dan berhubungan dengan sang Bodhisattva Kebajikan Universal, sehinga dalam setiap kehidupan ia melanjutkan usahanya menuju pencerahan.
Sekarang sang dewi malam Penyelamat Bagi Semua menjelaskan kepada Sudhana identitas berikutnya dari mereka yang ada dalam kisah tersebut. Sang Raja dalm cerita tersebut adalah Manjushri, sang Bodhisattva Kebijaksanaan. Sang Ratu adalah seorang dewi malam lain yang duduk di dekatnya. Sang Bodhisattva Penyelamat Bagi Semua adalah tentu saja sang Putri Raja.
Sang dewi malam menceritakan pertemuannya yang lain di zaman yang lain di dunia yang lain dengan berbagai Buddha, dan menyimpulkan: “Sekarang saya melihat tak terhingga para Buddha pada setiap saat pikiran, dan dengan melihat para Buddha tersebut, kilatan cahaya dari semua pengetahuan masuk dalam pikiranku.”
Sang dewi malam melanjutkan: “Saya hanya menguasai tingkat pencerahan memberikan bimbingan kepada makhluk hidup di semua dunia. Bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang telah melaksanakan ikrar para Tathagata?”
“Di tempat pencerahan yang sama ini terdapat seorang dewi malam bernama Samudra Suara Hening, yang duduk di sebelahku di atas bunga teratai berhiaskan berlian yang berkilau, dikelilingi oleh tak terkira jutaan dewi malam. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana memasuki dan menyempurnakan praktik Bodhisattva.” Sudhana memberi hormat kepada sang dewi malam Penyelamat Bagi Semua dan pergi meninggalkannya.
Guru Ketiga Puluh Lima: Sang Dewi Malam Samudra Suara Hening
Sambil melatih tingkat pencerahan dari sang dewi malam Penyelamat Bagi Semua, memberikan bimbingan kepada makhluk hidup di semua dunia, Sudhana pergi menemui sang dewi malam Samudra Suara Kedamaian.
Sang dewi malam memujinya atas pencariannya terhadap samudra praktik Bodhisattva dengan bersandar pada guru-guru spiritual. Ia memberi tahu Sudhana bahwa ia telah mencapai tingkat pencerahan yang mendatangkan banjir mahasukha dalam satu saat kesadaran. Sudhana bertanya kepadanya tentang lingkup dari pencerahan tersebut.
Sang dewi malam berkata: “Saya telah mencapai keseimbangan melalui purifikasi samudra pikiran. Batinku bersungguh-sungguh melayani semua makhluk dan tak lelah mengunjungi semua Buddha. Keinginanku terhadap kekuatan para Bodhisattva adalah murni. Batinku berdiam di dalam samudra kesadaran pengetahuan luas.”
Sang dewi malam menjelaskan kepada Sudhana bagaimana ia mengajari berbagai orang dengan berbagai cara yang berbeda, sesuai dengan sifat kemelekatan mereka, melindungi semua makhluk dengan memberikan ajaran yang memenuhi kebutuhan mereka.
Sang dewi malam memberi tahu Sudhana ia membangkitkan samudra energi dan kebahagiaan pada para Bodhisattva di semua alam dalam melaksanakan ikrar mereka.
Sang dewi malam memberi tahu Sudhana ia mengalami luapan mahasukha ketika ia melihat tak terhingga berbagai warna dan cahaya yang terpancar dari tubuh sang Buddha Vairochana, dan ketika ia melihat banyak sekali tubuh para Buddha yang diproyeksikan secara gaib, serta semua jenis makhluk lain yang keluar dari pori-pori tubuh sang Buddha Vairochana.
Sang dewi malam memberi tahu Sudhana bahwa semua ini merupakan jangkauan dari tingkat pencerahan yang mendatangkan banjir mahasukha dalam satu saat kesadaran. Pencerahan ini tak ada akhirnya, karena dilihat dengan jelas oleh mata para Bodhisattva. Tak ada bandingnya, karena meliputi seluruh jagat raya. Pencerahan ini seperti tiba di perhinggaan, menjangkau semua tempat.
Sudhana bertanya kepada sang dewi malam bagaimana ia mencapai pencerahan yang sedemikian, dan ia memberi tahu Sudhana praktik Bodhisattva belas kasih dan kebijaksanaan yang telah dijalankannya. Ia memberi tahu Sudhana bahwa ia merasakan dirinya menghadiri setiap dari tak terhingga pengajaran para Buddha di tak terhingga dunia, dan ia mengingat dan menerapkan semua ajaran mereka.
“Saya mencapai samudra penglihatan para Buddha di semua samudra samadhi. Saya mencapai samudra kesadaran dalam semua samudra penglihatan para Buddha.”
Sang dewi malam kemudian memberi tahu Sudhana semua bentuk samadhi yang berbeda yang digunakannya untuk memahami semua hal tentang para Buddha tersebut.
Sang dewi malam kemudian menceritakan kepada Sudhana kisah pencerahannya, dan memberi tahu kepadanya bahwa ia akan terus menghormati semua Buddha yang belum datang ke dunia ini dan di semua dunia.
Menghentikan penderitaan hebat alam duniawi
Menimbulkan semua kebahagiaan bagi makhluk hidup
Mendatangkan mahasukha dari Tathagata
Selama berkalpa-kalpa yang tanpa akhir – inilah ikrarku
Sang dewi malam melanjutkan: “Saya hanya menguasai tingkat pencerahan mendatangkan banjir besar sukacita. Bagaimana saya bisa tahu praktik Bodhisattva, yang telah terjun ke dalam samudra kebenaran dari Alam Kenyataan?
“Di tempat pencerahan yang sama ini, di dalam lingkaran Buddha Vairochana, ada seorang dewi malam yang bernama Pelindung Bagi Semua. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana memasuki dan menyempurnakan praktik Bodhisattva.” Sudhana memberi hormat kepada sang dewi malam Samudra Suara Hening dan pergi.
Guru Ketiga Puluh Enam: Sang Dewi Malam Pelindung Bagi Semua
Sambil merenungkan tingkat pencerahan dalam satu saat kesadaran yang mendatangkan banjir sukacita, Sudhana pergi menemui sang dewi malam Pelindung Bagi Semua. Sudhana melihat sang dewi malam sedang duduk di atas bunga teratai besar yang dipenuhi oleh berlian yang menerangi rumah-rumah di semua kota. Ia diiringi oleh tak terbilang banyaknya dewi malam lainnya.
Sang dewi malam memiliki tubuh yang muncul bagi makhluk hidup di semua alam kehidupan, tubuh yang tak ternoda oleh semua dunia, tubuh dengan manifestasi sebanyak jumlah makhluk hidup yang ada, tubuh yang melebihi semua dunia, tubuh yang beradaptasi untuk mengembangkan dan membimbing semua makhluk, tubuh yang menyatakan kebenaran di semua alam kehidupan.
Sudhana terpesona oleh penglihatannya terhadap sang dewi malam. Ia memberi hormat kepadanya dan menjelaskan tujuannya. Ia bertanya kepada sang dewi malam bagaimana caranya menjadi seorang guru bagi yang lain sambil menjalankan praktik pencerahan.
Sang dewi malam memujinya dan berkata: “Saya telah mencapai tingkat pencerahan yang disebut Memasuki Keajaiban Besar Suara Menyenangkan. Setelah mencapai pencerahan ini, saya ikut serta menyebarkan Dharma yang agung. Diberkahi dengan kekuatan mahakaruna, saya menjangkau dengan tak henti-hentinya dan bersikap adil terhadap semua makhluk untuk menerangi semua dunia dan menghimpun tak terhingga akar kebajikan.”
Sang dewi malam memberi tahu Sudhana bahwa ia mendekati dan memasuki Alam Kenyataan dengan menyadari bahwa itu adalah tak terukur, tak terhingga ragamnya, tak berakhir, tak terbatas, tak henti-hentinya – merupakan satu keseluruhan, sifatnya murni, setara di semua dunia dan kekal abadi.
“Saya menjelaskan Dharma kepada makluk hidup melalui sepuluh ribu penguasaan batin. Dimulai dengan penyerapan dalam samudra semua kebenaran, penyerapan dalam cahaya ingatan semua Buddha, dan penyerapan dalam samudra semua jalan pembebasan.”
“Saya mengajari makhluk hidup dengan kebijaksanaan yang mencakup belajar, berpikir, dan berlatih. Saya mengajarkan kepada makhluk hidup tentang proses dari satu bentuk keberadaan, dan kemudian saya mengajarkan tentang proses dari semua bentuk keberadaan.”
“Saya mengajari makhluk hidup tentang ajaran dari seorang Buddha, dan kemudian saya mengajari mereka tentang samudra ajaran dari semua Buddha. Saya mengajarkan kepada mereka tentang satu kendaraan pembebasan, kemudian saya mengajarkan kepada mereka tentang samudra kendaraan pembebasan.”
“Saya meliputi semua alam kenyataan dalam setiap saat pikiran dengan semua cara mewujudkan pembebasan.”
Sudhana kemudian bertanya kepada sang dewi malam berapa lama ia telah mencapai tingkat pencerahan ini. Sang dewi malam menceritakan kepada Sudhana kisah tentang aspirasinya terhadap pencerahan.
Kisah Sang Dewi Malam
Sang dewi malam menceritakan tentang suatu dunia berkalpa yang lalu, pada zaman yang disebut Cahaya Murni, ketika terdapat banyak Buddha. Ada seorang raja di dunia tersebut yang menerima dari Buddha pertama dari para Buddha tersebut sebuah kitab yang disebut Samudra Semua Kebenaran. Ketika sang Buddha tersebut parinirvana, sang Raja melepaskan takhtanya dan menjadi seorang bhiksu.
Pada zaman itu Dharma yang sedang berlangsung sudah hampir berakhir. Terdapat seribu sekte yang menyimpang, masing-masing memiliki penjelasan ajaran yang berbeda-beda. Para pemuka agama pada zaman itu saling cekcok dan berselisih, serta terlibat dalam intrik politik dan kenikmatan hawa nafsu.
Sang Raja yang telah menjadi bhiksu tersebut memperingatkan bahwa mereka sedang menghancurkan pelita Dharma. Kemudian ia naik ke angkasa mengeluarkan kumpulan cahaya dengan tak terhingga warna. Dari tubuhnya terpancar jaring cahaya beraneka warna, membebaskan tak terhingga makhluk dari penderitaan dan membuat mereka membangkitkan aspirasi pencerahan.
Sang Raja mempunyai seorang putri yang telah menjadi bhiksuni, dan ia memiliki pengikut sebanyak seratus ribu orang bhiksuni. Ketika mereka mendengar dan melihat pertunjukan ajaib sang Raja, mereka semua terinspirasi untuk mencapai pencerahan, serta mencapai keadaan di mana tak ada yang bisa membuat mereka berbalik arah.
Sang bhiksuni mencapai tingkat samadhi yang disebut Pelita Penerang Sumber Ajaran Semua Buddha, serta tingkat pencerahan yang halus dan lembut yang disebut Memasuki Keajaiban Besar Suara Menyenangkan. Dengan pencapaian tersebut, semua kekuatan gaib dari sang Buddha pada zaman itu terlihat olehnya.
Sang dewi malam menjelaskan kepada Sudhana bahwa sang Raja yang menjadi bhiksu dalam cerita tersebut tak lain adalah sang Bodhisattva Kebajikan Universal, dan ia sendiri menjadi bhiksuni, sang putri Raja. Kemudian sang dewi malam memberi tahu Sudhana tentang semua Buddha kepada siapa ia belajar pada zaman Cahaya Murni tersebut.
“Saya melayani semua Buddha tersebut, dari yang pertama hingga yang terakhir, dan saya mendengarkan ajaran mereka, dan saya meninggalkan kehidupan duniawi untuk mempelajari semua ajaran mereka. Saya menyimpan semua instruksi mereka dalam hati, dan dari mereka semua saya mencapai tingkat pencerahan yang disebut Memasuki Keajaiban Besar Suara Menyenangkan. Saya melayani semua Buddha dengan mempraktikkan ajaran mereka.”
“Sejak saat itu saya terbangun dari antara makhluk-makhluk yang terlelap dalam rutinitas mereka. Saya menjaga batin mereka, dan menempatkan mereka dalam jalan dari semua pengetahuan.”
Sang dewi malam melanjutkan: “Saya hanya menguasai tingkat pencerahan Memasuki Keajaiban Besar Suara Menyenangkan. Bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang menguasai kesadaran atas semua realitas dalam setiap saat pikiran, yang mahir dalam mengadaptasikan ajaran sesuai dengan mentalitas semua makhluk? Mengapa saya berkata demikian? Para Bodhisattva adalah orang-orang benar yang secara mental menguasai semua tingkatan Dharma.
“Tepat di sini di hadapan sang Buddha Vairochana, duduk di sebelahku, adalah seorang dewi malam yang bernama Membuka Semua Kuntum Bunga. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana mempelajari semua pengetahuan dan bagaimana seharusnya seseorang menjalankan praktik untuk menuntun semua makhluk menuju semua pengetahuan.” Sudhana mempersembahkan slokha pujian kepada sang dewi malam, kemudian memberi hormat kepadanya dan pergi.
Guru Ketiga Puluh Tujuh: Sang Dewi Malam Membuka Semua Kuntum Bunga
Sambil melatih tingkat pencerahan Memasuki Keajaiban Besar Suara Menyenangkan, Sudhana pergi menemui sang dewi malam Membuka Semua Kuntum Bunga. Sudhana melihat sang dewi malam sedang duduk di atas takhta singa, di dalam sebuah menara yang terbuat dari dahan permata yang harum, dikelilingi oleh sepuluh ribu dewi malam lainnya.
Sudhana menghampirinya, memberi hormat, dan memberitahukan kepadanya bahwa ia telah bertekad untuk mencapai pencerahan sempurna demi kebajikan semua makhluk. Ia memintanya untuk memberitahukan bagaimana mempelajari praktik Bodhisattva, dan bagaimana berperilaku dan belajar untuk mencapai semua pengetahuan.
Sang Dewi berkata kepada Sudhana: “Dengan kekuatanku, ketika matahari terbenam, bunga teratai yang bermekaran menjadi sangat harum. Semua makhluk hidup pulang ke rumah untuk beristirahat. Semua laki-laki dan perempuan bersenang-senang di taman dan melakukan perjalanan menuju ke rumah untuk melewatkan malam dengan nyaman.”
Sang Dewi memberi tahu Sudhana bahwa ia memberikan resep penawar yang sesuai ketika ia mengajar – kegiatan peningkatan bagi mereka yang takut pada usia tua dan kematian, kemurahan hati bagi yang serakah, disiplin bagi yang tak terkendali, upaya bersemangat bagi yang malas, meditasi bagi yang batinnya mengembara, kebijaksanaan bagi yang bodoh. Bagi mereka yang mementingkan pembebasan diri sendiri ia membawanya pada komitmen pembebasan universal, dan bagi mereka yang melekat pada dunia ia menuntunnya pada komitmen utama dari para Bodhisattva.
Sang Dewi memberi tahu Sudhana bahwa ia telah mencapai tingkat pencerahan yang disebut Kepuasan Hati atas Harta yang Didapatkan dari Mahasukha. Sudhana bertanya kepadanya tentang lingkup dari pencerahan ini. Sang Dewi berkata kepada Sudhana: “Lingkup dari pencerahan ini adalah pengetahuan cara-cara menjaga makhluk hidup melalui kebajikan para Buddha.”
“Mengapa demikian? Kebaikan apa pun yang dinikmati oleh makhluk hidup semuanya adalah karena belajar dari Sang Tathagata, mempraktikkan tahap jalan dari pengetahuan pencerahan, dan menanam akar kebajikan seperti Sang Tathagata.”
“Ketika saya memasuki tingkat pencerahan ini, saya mengingat praktik masa lalu Buddha Vairochana sebagai seorang Tathagata – saya mengingat pikiran mahakarunanya, batin yang terbebas dari kemelekatan terhadap semua hal, batin yang tidak mencari pujian atas kemurahan hatinya, batin yang tidak menginginkan keberadaan di dunia mana pun, batin yang tidak bingung dengan hubungan sebab akibat, batin yang berkeinginan memberikan perlindungan bagi semua makhluk hidup.”
“Setelah memahami hakikat dari segala sesuatu sebagaimana adanya, bertekad untuk membawa kebahagiaan utama bagi semua makhluk, diberkahi dengan pengetahuan gaib para Bodhisattva, meliputi semua dunia dengan berbagai manifestasi pencerahan, Buddha Vairochana berusaha mempraktikkan berbagai bentuk pemberian dan memberikan tak terhingga pelayanan bagi semua makhluk, memurnikan permata batin dari semua makhluk.”
Sudhana bertanya kepada sang dewi malam berapa lama telah berlalu sejak ia bertekad mencapai pencerahan sempurna. Pertama-tama sang dewi memperingatkan betapa sulitnya untuk memahami jawaban dari pertanyaan tersebut. Kemudian ia berkata bahwa ia akan menjelaskannya, dengan bantuan dari Sang Buddha, sehingga batin mereka yang mampu mempelajarinya bisa terpurifikasi dengan benar.
“Dalam, sungguh tak terbatas, lingkup dari para Buddha
Terhadap yang sekarang Engkau tanyakan, Oh Jinaputra
Sekalipun selama berkalpa sebanyak atom di tak terhingga alam para Buddha
Tak akan dapat sepenuhnya diceritakan
Ini adalah tingkatan tanpa keserakahan
Yang bahagia tanpa melekat
Yang selalu gembira memberi segala yang ada
Secara adil kepada semua makhluk
Ini yang disebut sebagai pelita kebijaksanaan
Yang batinnya telah terbebas dari kemelekatan
Yang telah menembus hakikat dari segala sesuatu
Yang telah memasuki Alam Kenyataan dari Sang Tathagata
Untuk memurnikan batinmu
Aku akan memberitahukan kepadamu
Tentang Alam Vairochana yang tak terbatas
Melalui kekuatan Buddha yang tak terbayangkan.”
Kemudian sang dewi malam melanjutkan kisahnya pada Sudhana.
Kisah Sang Dewi Malam
Berkalpa lalu di suatu samudra dunia, di suatu sistem dunia dalam samudra dunia tersebut, di suatu dunia, di benua selatan dunia itu, di antara sepuluh ribu kota, terdapat sebuah kota metropolis yang bernama Cahaya Banyak Perhiasan. Rajanya memerintah atas seluruh benua, dan tak memiliki musuh atau lawan.
Tetapi dunia itu telah mendekati akhir kalpanya. Orang-orang melakukan hal yang buruk, dan sebagian besar menuju pada penderitaan. Usia bertambah pendek, dan sumber penghidupan juga kurang. Mereka menjadi buruk rupa, serta mendapatkan sedikit kesenangan dan banyak penderitaan. Mereka saling bertentangan dan memecah belah. Mereka dikuasai oleh keserakahan, dan tersesat dalam hutan keyakinan yang salah.
Terobsesi oleh ketamakan mereka, orang-orang membawa kehancuran ke tanah mereka – iklim menjadi kacau, panen gagal dan penyakit mewabah. Para penduduk yang putus asa berduyun-duyun pindah ke ibu kota dan mengelilinginya. Mereka merapat di hadapan sang Raja, mengatakan bahwa mereka sedang berada di ambang kematian.
Di dalam ibu kota juga terdapat penduduk yang menderita lapar dan haus serta tak punya rumah dan patah semangat. Mereka juga mendatangi sang Raja, berpikir bahwa ia akan memberi mereka kenyamanan. Mendengar ratapan rakyatnya, sang Raja diliputi oleh belas kasih. Ia berpikir dengan seksama apa yang bisa dilakukannya untuk menolong mereka: “Bagaimana saya bisa menjadi cahaya, menghalau kegelapan kebodohan mereka? Bagaimana saya bisa menjadi pemandu, untuk menunjukkan apa yang harus mereka lakukan?”
“Semua orang tak memiliki guru, semua orang tersesat – bagaimana saya bisa menjadi guru bagi semua orang, dengan pemilihan waktu yang tepat seperti yang dilakukan oleh para Buddha untuk menuntun orang-orang menuju kedewasaan dalam semua dimensi? Semua orang tak punya pemimpin, semua orang bertindak membuta – bagaimana saya bisa menjadi seorang pemimpin, untuk menuntun semua orang menuju pengetahuan sempurna yang tak terhalangi?”
Sang Raja kemudian membuka semua gudang di seluruh kota besar dan kota kecil yang ada benua tersebut, dan semua kebutuhan hidup dibagikan kepada penduduk.
Setelah memberikan semua persediaan yang ada, sang Raja kemudian mempersiapkan suatu tempat upacara yang besar di sebelah timur kota, di depan pintu gerbang kota yang bernama Cahaya Gunung Permata. Ketika sang Raja duduk di atas takhtanya di tengah-tengah kumpulan perhiasan yang sangat indah, sebuah payung muncul di angkasa di atasnya.
Sang Raja memandang tak terhingga banyaknya pemohon yang berkumpul, dengan berbagai kebutuhan dan keinginan, datang dari berbagai tempat, berbicara dalam berbagai bahasa, semua melihat dirinya sebagai seseorang yang bisa mereka andalkan, sebagai seorang Bodhisattva.
Sang Raja merasa bahagia mendapatkan kesempatan untuk menjadi dermawan bagi mereka semua. Ia menganggap orang-orang yang meminta pertolongan padanya sebagai guru spiritual, sebagai makhluk yang berharga, sebagai pembimbing dan guru.
Sang Raja terus memenuhi permintaan dari semua pemohon, tanpa mengabaikan satu orang pun, memberi dengan adil kepada semua orang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ia memberikan semua yang dimilikinya kepada siapa pun yang memintanya, memperlakukan semua makhluk dengan perhatian yang sama.
Pada saat itu yang juga hadir di tempat upacara sang Raja, adalah seorang gadis yang bernama Cahaya Permata, putri bangsawan, bersama dengan enam puluh gadis pengikutnya. Ia waspada dan cerdas, rendah hati, tenang, sopan, berakal sehat, dan sempurna dalam tindakan. Ia telah mempelajari dasar-dasar ajaran, niatnya murni, dan mengabdikan dirinya demi kepentingan orang lain.
Gadis tersebut berdiri di dekat singgasana dengan sikap hormat, tetapi ia tidak mengambil satu pun dari benda-benda yang sedang dibagikan oleh sang Raja. Ia memikirkan keberuntungannya bisa melihat sang Raja, yang dianggapnya sebagai seorang guru spiritual.
Dengan batinnya yang bebas dari kebohongan dan tipu muslihat, dipenuhi oleh mahasukha, ia melepaskan perhiasannya dan melemparkannya ke hadapan sang Raja. Ia kemudian berikrar untuk menjadi seperti sang Raja yang murah hati, mengetahui realitas yang diketahui sang Raja, mencapai pembebasan yang telah dicapai oleh sang Raja.
Mengangkat ikrar dan mempersembahkan syair-syair pujian kepada sang Raja, Cahaya Permata berdiri di sana dengan penuh hormat. Sang Raja memujinya, dan kemudian dengan tangannya sendiri memberikan kepadanya dan kepada para pengikutnya jubah yang tak ternilai harganya yang bersinar oleh kemilau permata. Ia berkata kepada mereka, “Ambillah ini dan kenakanlah.”
Setelah memakai jubah tersebut, gadis tersebut dan para pengikutnya mengelilingi sang Raja dengan penuh hormat, dengan pantulan cahaya dari gemerlap bintang di jubah mereka.
Kemudian sang dewi malam Membuka Semua Kuntum Bunga memberi tahu Sudhana bahwa Vairochana adalah sang Raja, dan ia sendiri adalah sang gadis Cahaya Permata. Para pemohon yang ditolong oleh sang Raja telah menjadi para Bodhisattva di sini dengan melayani sang Buddha, para Bodhisattva di berbagai tingkat yang berbeda, dengan berbagai ikrar yang berbeda, dan berbagai jalan menuju pembebasan.
Sang dewi malam melanjutkan: “Saya hanya menguasai tingkat pencerahan Manifestasi Kepuasan Hati atas Harta yang Didapatkan dari Mahasukha. Bagaimana saya bisa tahu tentang praktik Bodhisattva, yang telah terjun ke dalam samudra ikrar semua pengetahuan?”
“Di tempat pencerahan ini ada seorang dewi malam yang bernama Menyelamatkan Semua Makhluk dengan Kekuatan Ikrar. Ia berada di sini di hadapan para Buddha. Pergilah bertanya kepadanya bagaimana melayani semua Buddha dan mempraktikkan semua ajaran mereka.” Sudhana memberi hormat kepada sang dewi malam Membuka Semua Kuntum Bunga dan berlalu.
Bersambung……
Bodhicitta adalah akar dari Pencerahan. Kegiatan para Bodhisattva yang pantang menyerah. Semua timbul karena kekuatan Bodhicitta.
Jika seseorang tidak memiliki Bodhicitta, meskipun ia melaksanakan enam paramita dari dana hingga prajna, praktiknya akan jauh dari sempurna karena dasarnya tidak kokoh.
Sebagaimana para Sravaka dan Pratyekabuddha yang melaksanakan enam paramita, tidak membangkitkan Mahayanacitta, hanya membawa kebajikan bagi dirinya sendiri semata.
Guru Atisha
“Ia yang tidak bergembira dalam melihat kebahagiaan makhluk lain, tidak memiliki bodhicitta dalam hatinya.
Sebagaimana ia yang marah kepada orang lain, tidak memiliki kasih sayang dalam hatinya.”
-Pujian bodhicitta
“Bila seseorang ingin melaksanakan kegiatan spiritual Samantabhadra, ia harus merawat akar bodhicitta. Bila seseorang ingin agar sebatang pohon tumbuh besar dan lebat, ia menyirami akarnya dengan air.”
-The Jewel Lamp
