Bodhisattva duduk di atas setumpuk rumput kusa, menegakkan tubuhnya dalam sikap bersila, wajahnya menghadap ke arah timur. Dengan kesadaran penuh, Bodhisattva bersumpah dengan suara lantang:
“Di sini, di tempat duduk ini tubuhku mungkin akan menyusut, kulitku, tulangku, dan dagingku mungkin akan habis, tapi tubuhku tidak akan beranjak dari tempat ini sampai Aku mencapai pencerahan, yang begitu sulit dicapai selama berkalpa-kalpa.”
Bab kesembilan belas Lalitavistara Berjalan menuju Bodhimanda
Kitab suci adalah pelita yang menyala yang menghancurkan noda kebodohan. Itulah kekayaan tertinggi, tak terjangkau oleh tangan pencuri; senjata terbaik bagi musuh ketidaktahuan; penasihat dan pembimbing terbaik tingkah laku; sahabat sejati pada saat kesulitan; obat mujarab bagi penyakit yang disebut kesedihan; bala tentara terkuat bagi musuh; harta tertinggi keagungan dan kebahagiaan.
Keindahan kefasihan kata-kata berbudi yang diambil dari kitab suci adalah bagaikan untaian bunga yang tak pernah layu, atau bagaikan cahaya terang sebuah lampu yang terus-menerus memberi kemegahan bagi pemiliknya. Menggunakan kitab suci sungguh merupakan cara yang sangat menyenangkan untuk meraih kemuliaan.
Apalagi mereka yang mendengarkan kata-kata itu bangkit semangatnya untuk menjalani jalan yang benar serta baik, yang tidak bertentangan dengan Dharma. Menjalankan ajaran suci, menjalaninya dalam perilaku sesuai ajaran suci tersebut, mereka akan dengan mudah menyeberangi mara bahaya yang menerpa kehidupannya.
Bodhisattva Sutasoma (Jatakamala)
Dharma desana oleh Yang Mulia Dagpo Rinpoche (mp3):
Generating bodhicitta part 01
Generating bodhicitta part 02
Generating bodhicitta part 03
Dharma desana oleh Upashaka Pandita Sumatijnana (mp3):
Tujuh point instruksi, sebab dan akibat
Bagaimana menumbuhkan bodhicitta
Menukar diri sendiri dengan yang lain
Meditasi memberi dan menerima
Catatan:
Ketika mendengarkan ajaran Dharma, dianjurkan untuk tidak terlalu bersikap santai, misalnya sambil berbaring, makan, dan sebagainya. Disarankan untuk bersikap seperti sedang berada di dalam vihara, atau ketika mendengarkan ajaran dari seorang Guru. Dikatakan, semakin besar rasa hormat kita terhadap Triratna, semakin besar berkah yang akan kita terima.
PENERBITAN BUKU-BUKU DHARMA
Salah satu sarana terbaik untuk membantu penyebaran Buddha Dharma di Indonesia adalah dengan memperbanyak literatur-literatur Buddhis dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian setiap orang yang ingin memperdalam dan mempraktikkan Dharma tidak akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan penjelasan Dharma yang diinginkannya. Untuk itu, Bhumisambhara akan terus membantu memperbanyak buku-buku Dharma, khususnya Dharma yang terkait dengan Indonesia, yang karena keluhurannya telah dipahatkan sedemikian indahnya di Candi Borobudur.
Kami mengetuk kemurahan hati Saudara dan Saudari se-Dharma untuk ikut berpartisipasi dalam penyebaran dan perkembangan Buddha Sasana di Indonesia. Dana dapat disalurkan melalui rekening di bawah ini. Selain itu, bagi yang menginginkan buku-buku di bawah ini dapat menghubungi kami.
No. Rekening BCA: 527 024 0242
Atas Nama: Suwinta Noviasari Tj
“Perbuatan ini akan membesarkan hati mereka yang berusaha untuk menolong dunia, sekaligus menjadi teladan bagi mereka yang lemah dalam berusaha. Perbuatan ini akan membuat kecewa Mara dan menggembirakan para sahabat yang memiliki sifat-sifat Kebuddhaan, membuat malu mereka yang mementingkan diri sendiri, sombong serta penuh nafsu.
Sebagaimana matahari yang memupus kegelapan dan membawa terang, demikian pula semoga perbuatan ini mengakhiri penderitaan dunia, membawa kebahagiaan selama-lamanya.
Aku tidak melakukan ini demi pujian atau harapan akan kedudukan, bukan pula demi ketenaran serta kebahagiaan yang kekal, perbuatan ini semata-mata demi kebajikan seluruh semesta, sehingga kebahagiaannya akan terus berkembang setiap kali kisah ini dituturkan.”
Jatakamala
RATNA SAGARA
Ini adalah kumpulan dari beberapa sutra singkat serta sastra suci tulisan para Mahaguru dari India dan Tibet.
Mencakup berbagai kategori subjek ajaran dan digunakan oleh Bapak Sumatijnana sebagai textbook dalam mengajar para praktisi di komunitas Bhumisambhara
MEDITASI TIGA DASAR SANG JALAN
Buku ini berisi penjelasan dari Panchen Lama berdasarkan naskah singkat ‘Tiga Dasar Sang Jalan’ yang ditulis oleh Jey Tsongkhapa yang agung. Berisi langkah-langkah pasti untuk mematangkan ketiga level pengembangan batin; penolakan samsara, bodhicitta dan sunyata. Buku ini merupakan teks yang sangat berharga bagi setiap siswa yang menginginkan keberhasilan dalam praktiknya.
JATAKAMALA
Sastra suci Jataka Mala merupakan telaga kebajikan dan kebijaksanaan bagi umat manusia. Ditulis oleh seorang pujangga agung sekaligus Mahaguru Mahayana dari India, yang juga seorang Bodhisattva: Acharya Aryasura.
Di dalam buku ini terbentang pelajaran moralitas yang sangat tinggi dari kehidupan para Bodhisattva yang berusaha untuk mencapai Kebuddhaan Yang Sempurna dengan berpegang erat pada kebajikan serta kebijaksanaan. Penuturannya dapat menjadi titik tolak bagi setiap insan untuk mengambil pelajaran, sekaligus menjadikannya sebagai suri tauladan dalam menempuh kehidupannya. Ini adalah inspirasi yang sangat ampuh bagi siapa pun yang bermaksud memperbarui hidupnya.
Mengingat bahwa hanya setelah bercermin pada cermin yang bersih barulah kita kemudian mengetahui bagaimana diri kita yang sebenarnya. Melihat cara hidup yang dijalankan oleh para Bodhisattva dalam berbagai rupa kehidupannya, kita akan merasakan bagaimana seharusnya hidup kita harus kita bawa. Budi pekerti kita akan membumbung pada tahapnya yang luhur, membuat diri kita berkembang dalam kebajikan dan kebijaksanaan; siapa pun diri kita dan di mana pun kita sedang berdiri dalam hidup ini.
Kitab ini merupakan kumpulan dari berbagai hal yang luar biasa, seperti: kelahiran kembali, hukum karma, kehendak bertapa, keteguhan hati, kebulatan tekad yang tak tergoyahkan, ketulusan hati, pengorbanan, kemuliaan, kebijaksanaan, kemurahan hati, kesetiaan, keadilan, dan belas kasih yang tanpa cacat cela sedikit pun. Dengan membaca buku ini, siapa pun akan meneguk air sejuk kebajikan agung dari belas kasih tanpa batas para Bodhisattva.
BODHICARYAVATARA
Salah satu kitab klasik yang paling banyak dikaji serta dipelajari di kalangan para penganut Mahayana hingga hari ini. Ditulis oleh seorang Bodhisattva agung, yang merupakan Mahaguru Mahayana, yaitu Acharya Shantideva. Ia sendiri pada mulanya adalah seorang putra mahkota yang menolak penobatan, sebaliknya mencurahkan seluruh hidupnya untuk mewujudkan aspirasi mahayananya yang lalu berhasil diwujudkannya.
Kitab ini begitu dicintai oleh tak terbilang para penganut Mahayana selama seribu tahun lebih karena isinya yang mudah dimengerti sekaligus merupakan sari-sari dari sutra, sastra, serta ajaran para Mahaguru Mahayana, juga pengalaman realisasi Guru Shantideva sendiri. Kesemua itu menjadikan kitab ini sebagai referensi otentik bagi siapa saja yang juga ingin menyempurnakan aspirasi Mahayananya.
Mahayana adalah wahana yang dilalui oleh semua Buddha. Mahayana mengungkap gagasan serta cara-cara untuk menyempurnakan kebajikan serta kebijaksanaan untuk menjadi seorang Buddha. Dasar Mahayana adalah belas kasih murni, karena tujuan seluruh praktik mahayana adalah agar memiliki kemampuan untuk membebaskan semua makhluk tanpa terkecuali dari penderitaan samsara.
Perjalanan hidup Sang Buddha, baik sebelum maupun setelah mencapai Kebuddhaan bagaikan untaian permata yang sangat menakjubkan diketahui oleh umat manusia. Perjuangannya untuk menjadi seorang Buddha demi membawa kebajikan bagi semua makhluk telah diupayakannya dalam setiap kehidupan beliau selama mengembara dalam samsara yang berlangsung hingga tiga mahakalpa. Dalam seluruh hidupnya Sang Buddha telah memberi inspirasi yang menggugah dan membangunkan kemuliaan hidup semua makhluk hidup di Triloka.
Cara hidup yang beliau peragakan telah membuat tak terbilang umat manusia juga mencapai keagungan serta kesempurnaan sebagaimana beliau sendiri. Banyak dari mereka yang mengikuti jejaknya tersebut kemudian juga mengambil peran sebagai penuntun jalan bagi yang lain dan menjadi penerang bagi dunia, sebagai guru-guru yang menerima dan menurunkan ajaran Dharma Sang Buddha sepanjang masa tak terputuskan hingga hari ini.
Membaca buku ini akan memberikan kesejukan bagi yang dahaga akan kebenaran dan memberi keteguhan bagi yang membutuhkan penopang dalam menelusuri jalan demi kebajikan bagi semua makhluk. Buku ini disusun berdasarkan kitab Jatakamala, Avadanakalpalata, Lalitavistara, dan sastra suci Mahayana lainnya.
Bhagavati Arya Tara Dewi merupakan figur yang sangat penting dalam tradisi tantra. Dikenal luas sebagai penolong yang tangkas bagi makhluk apa pun yang membutuhkannya. Selain Tibet dan India, Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki hubungan sangat erat dengan Arya Tara. Hal ini disebabkan karena di wilayah inilah Arya Tara telah memberikan berkahnya selama berabad-abad, dimuliakan dengan segala kemegahan oleh dua keluarga kerajaan spiritual dalam sejarah bangsa, yaitu Syailendra dan Sanjaya di Candi Kalasan. Dalam buku ini seluruh aspek tentang Arya Tara, keberadaannya, kegiatannya, sejarah pemujaannya di Indonesia, India dan Tibet, kisah-kisah pertolongannya, para pemujanya serta ibadahnya diuraikan secara gamblang. Buku ini merupakan buku penting dalam memahami Tara Tantra ataupun Tantra secara umum.
Buku ini ditulis oleh Losang Nyima, beliau adalah orang jawa pertama yang telah memperoleh ajaran ini kembali secara otentik sejak surutnya ajaran tentang Arya Tara berabad-abad yang lampau. Ia juga merupakan praktisi sekaligus guru yang menyebarluaskan berbagai ibadah kepada Bhagavati Arya Tara Dewi, khususnya Puja 21 Tara. Buku ini merupakan usahanya untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang Tara Tantra kepada masyarakat luas.
Buku ini merupakan penjelasan lisan Geshe Ngawang Dargye mengenai sebuah teks yang ditulis oleh Guru Atisha: Bodhisattva Maniavali atau Untaian Permata Bodhisattva. Teks ini termasuk dalam kategori ajaran transformasi mental, di dalamnya terdapat berbagai instruksi singkat yang terkait dengan praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini merupakan transkrip ajaran yang diberikan Lama Kusri Kabchu Suddhi Rinpoche kepada para siswanya, yaitu mengenai naskah lamrim yang berjudul: Dasar Dari Semua Kebajikan. Naskah ini adalah naskah lamrim tersingkat yang pernah ditulis oleh Mahaguru Je Tsongkhapa. Meskipun demikian, di dalamnya terkandung seluruh unsur-unsur terpenting dari tahap-tahap jalan menuju pencerahan.
Gelugpa adalah salah satu dari keempat aliran yang terdapat dalam tradisi Buddhis Tibet. Didirikan oleh Mahaguru agung Je Tsongkhapa yang hidup pada pertengahan abad ke 14. Buku ini mengulas sejarah tradisi gelugpa serta riwayat hidup Je Tsongkhapa, meliputi berbagai karya dan perjalanan spiritual yang ditempuhnya selama hidupnya. Di dalamnya juga terdapat berbagai doa dan pujian kepada Je Tsongkhapa.
Merupakan kumpulan teks doa untuk melakukan sadhana kepada empat istadevata kadampa: Buddha Shakyamuni, Caturbhuja Avalokiteshvara, Dewi Tara, serta Achala. Selain itu di dalamnya juga disertakan teks sadhana kepada Arya Avalokiteshvara Ekadasa Mukha. Semua teks sadhana ini merupakan praktik tantra, sehingga untuk mempraktikkannya, siswa yang bersangkutan harus memperoleh abhiseka dan penjelasannya terlebih dahulu dari Guru.
Buku ini merupakan buku pegangan ibadah yang berisikan doa-doa serta ritual yang digunakan di Bhumisambhara.
Teks yang singkat ini disusun oleh Bapak Sumatijana sebagai teks dasar untuk melakukan Puja 21 Tara, utamanya untuk dipergunakan di Tara Temple Jakarta, sebuah vihara yang dikhususkan untuk peribadatan kepada Dewi Tara.
50 SLOKA GURU PANCASIKHA
Teks utamanya disusun oleh Mahaguru Asvaghosa berdasarkan sutra dan tantra. Penjelasanya di sampaikan oleh Geshe Ngawang Dargye. Ini merupakan ajaran yang menjadi etika setiap murid dalam bersikap serta bertingkah laku terhadap Gurunya, utamanya siswa tantra.
MEMBUKA JALAN MULIA
Buku ini disusun berdasarkan transkrip dari Tjeris Rosni atas ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Bapak Sumatijnana. Isinya terkait dengan berbagai subjek Dharma. Membuka hati serta membangkitkan keteguhan hati para siswa dalam menjalani tujuan Mahayana.
LALITAVISTARA (Jilid 1 & 2)
Sebuah sutra Mahayana dimana Sang Buddha menjelaskan setiap peristiwa kehidupannya, dimulai dari keberadaannya di Surga Tushita sebelum memasuki kelahirannya yang terakhir, hingga beliau mencapai penerangan sempurna.
Membaca Lalitavistara tidak saja menghapuskan kekeliruan pandangan kita terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha. Keindahan dan kekuatan bahasa sutranya akan menggugah kemampuan kita yang terpendam. Melihat dunia melalui Lalitavistara akan menunjukkan dunia yang tak pernah kita lihat sebelumnya.
Ketika sutra ini diungkapkan, pemahaman kita akan semakin dalam dan hati kita akan terbuka, kita akan mulai belajar mengenal siapakah Sang Buddha sesunggguhnya. Saat itu dengan hati yang riang gembira kita akan mengikuti Sang Tathagata, penuh keyakinan bahwa kita telah menemukan seorang Pembimbing yang Sempurna.
SEED OF HAPPINESS
Buku ini merupakan kumpulan nasihat-nasihat Dharma yang diberikan Bapak Sumatijnana, yang menyangkut berbagai tema dan situasi dalam kehidupan sehari-hari. Pesan-pesan yang berisikan kalimat-kalimat indah dan bermakna tersebut mampu membantu meredakan gejolak negatif di dalam pikiran, menuntun untuk melihat melalui perspektif yang benar, dan menumbuhkan kembali keyakinan diri untuk bisa mendapatkan kebahagiaan.
SANG HYANG KAMAHAYANIKAN.
Diterjemahkan oleh Bapak Sumatijnana. Terdiri dari dua bagian, yaitu; Mantranaya dan Mahayana. Bapak Sumatijnana telah mengulas kedua kitab ini dalam tahun 2003 – 2004 ini. Buku ini mengungkapkan berbagai aspek Tantra dan Mahayana secara simultan.
84 MAHASIDDHA
Kitab ini diterjemahkan oleh Bapak Sumatijnana untuk memberikan keyakinan bahwa jalan tantra sangat superior, dan bahkan banyak orang yang dengan kehendak pembebasan yang kuat tak perlu meninggalkan lingkungan duniawinya. Dari kitab ini terbukti bahwa potensi untuk mencapai pembebasan sama sekali tak terkait dengan faktor-faktor eksternal, seperti kepandaian, status sosial, usia, cara dan lain-lainya. Para Mahasiddha yang agung adalah beliau-beliau yang berhasil mengubah kehidupan samsara menjadi nirvana
IKTISAR SASTRA SUCI SUTASOMA.New
Iktisar ini merupakan ringkasan singkat sastra suci Buddhis Sutasoma. Kitab ini ditulis oleh Mpu Tantular pada masa keemasan Kerajaan Majapahit. Berisikan nilai-nilai moral ajaran Mahayana yang dikemas dalam bentuk cerita sastra. Kisah ini kerap dipentaskan dalam pertunjukan wayang kulit. Diharapkan ringkasan ini dapat memberikan sekilas gambaran mengenai sastra suci Buddhis Indonesia: Sutasoma.
IKTISAR SASTRA SUCI KUNJARAKARNA.New
Sastra suci Buddhis Kunjarakarna merupakan buah karya seorang pujangga Buddhis yang bernama Mpu Dusun. Kitab ini melukiskan perjalanan seorang yaksha di alam neraka atas nasehat Hyang Buddha Vairocana, dimana ia menyaksikan berbagai makhluk hidup mengalami dera dan siksa. Perjalanan ini telah menginspirasi dirinya serta sahabatnya yang terancam bahaya kematian untuk melatih dan mengembangkan diri pada jalan kebajikan.
BERHARGANYA KEHIDUPAN SEBAGAI MANUSIA.New
Berdasarkan nilai spiritualnya tubuh manusia adalah harta yang sungguh tak ternilai harganya karena bila seluruh kemampuan dan keleluasaan sebagai manusia dimanfaatkan dengan maksimal maka kita bisa membebaskan diri dari segala bentuk penderitaan, dan benih Kebuddhaan di dalamnya akan tumbuh menjadi Buddha yang sempurna. Hal lainnya adalah karena tubuh manusia sangat sulit diperoleh tetapi mudah sekali hilang. Kebanyakan manusia tidak menyadari hal ini sehingga menyia-nyiakan kesempatan dan kehidupan yang dimilikinya. Sang Buddha dan para Guru memberikan berbagai perumpamaan dan ajaran serta menunjukkan cara menghargai dan memanfaatkan keberuntungannya (memiliki tubuh manusia) agar setiap manusia tidak jatuh ke alam yang rendah tetapi dapat menggunakannya sebagai batu loncatan menuju tercapainya pencerahan yang sempurna.
BODHISATTVA MANIAVALI.New
Sang Buddha telah mengajarkan Dharma yang sangat luas sesuai dengan kecakapan dan kapasitas masing-masing makhluk samsara agar dapat terbebas dari penderitaan dan memperoleh berbagai tingkatan kebahagiaan; apakah bebas dari penderitaan duniawi, bebas dari penderitaan samsara, atau menjadi seorang Buddha. Para Guru juga menurunkan ajaran berdasarkan kemampuan dan aspirasi dari para siswanya.
Teks Bodhisattva-maniavali yang berarti “Kalung permata bagi Bodhisattva” oleh Guru Atisha diperuntukkan bagi siswa-siswanya yang sudah memiliki aspirasi Bodhisattva; sebagai bentuk apresiasinya, juga agar para siswanya dapat menjadi Bodhisattva yang sesungguhnya. Bila kita juga mengaspirasikan jalan Mahayana maka sudah seharusnya kita mempelajari dan mengadaptasikan risalah-risalah yang merupakan jalan yang ditempuh oleh para praktisi Mahayana, khususnya yang disarikan oleh Guru Atisha Dipamkara-srijnana ini.
DASAR DARI SEMUA KEBAJIKAN.New
Merupakan sastra suci yang ditulis oleh Guru agung Jey Tsongkhapa. Ajaran ini merupakan esensi dari ajaran Sang Buddha yang mencakup semua ajaran sutra dan tantra yaitu mengenai Guru Devotion, keberuntungan kelahiran sebagai manusia, situasi samsara dan kelahiran sebagai makhluk di dalam samsara, serta tiga level spiritual: keinginan untuk mencapai kebahagiaan dalam samsara (kebahagiaan dalam hidup yang sekarang maupun yang akan datang), keinginan untuk mencapai pembebasan dari samsara (moksha), dan keinginan untuk menjadi seorang Buddha. Mempelajari dan mempraktikkan dengan sungguh-sungguh ajaran ini akan membawa pada realisasi ketiga jalan spiritual dan tercapainya kebahagiaan yang sejati.
MEMPEROLEH KEBAHAGIAAN SAAT INI, YANG AKAN DATANG, DAN YANG KEKAL ABADI.New
Sama halnya dengan diri kita, semua makhluk tanpa terkecuali ingin bebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan dalam berbagai tingkatannya. Para Guru telah merangkum suatu cara untuk mendapatkan kebahagiaan yaitu dengan menyatakan perlindungan kepada Sang Triratna, melakukan pemurnian terhadap karma-karma buruk dan berusaha menghimpun kebajikan sebanyak-banyaknya. Mempelajari, merenungkan, memeditasikan dan merealisasikan ajaran ini adalah kunci keberhasilan bagi siapa saja yang bertujuan memperoleh kebahagiaan yang sementara, kebahagiaan yang akan datang, maupun kebahagiaan yang kekal abadi.
PENGUMPULAN KEBAJIKAN DAN KEBIJAKSANAAN.New
Kesempurnaan semua Buddha-Bodhisattva di ketiga masa dicapai dengan melalui jalan Mahayana. Salah satu dari lima jalan Mahayana adalah pengumpulan kebajikan yang didasarkan pada bodhicitta, yaitu melakukan kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk. Kebajikan yang demikian tidak akan pernah habis dan akan terus berbuah sehingga akan memastikan kita terhindar dari kelahiran di alam yang rendah. Bila kita memadukannya dengan pengumpulan kebijaksanaan maka akan membuat tujuan hidup kita sebagai manusia menjadi terpenuhi, dan aspirasi Kebuddhaan menjadi tercapai
POSISI KITA DALAM SAMSARA.New
Sang Buddha menjelaskan mengenai samsara secara panjang lebar dalam berbagai sutra dan juga dijelaskan dalam berbagai sastra oleh para Guru dengan tujuan agar semua orang menyadari keberadaannya kemudian dapat berbuat sesuatu terhadap keberadaannya di dalam samsara. Kenyataan samsara kita bahwa kita terlahir menjadi seorang manusia dengan berbagai hal yang kita miliki, ini bukanlah yang pertama kali tetapi kita telah timbul-tenggelam dalam samsara sejak waktu yang tak diketahui. Terlepas dari bagaimanapun situasi hidup yang kita jalani, tubuh manusia teramat sulit untuk didapatkan karena merupakan pintu untuk dapat membebaskan diri dari penderitaan samsara. Oleh karena itu para Guru selalu mengingatkan agar setiap orang tidak mengabaikan kehidupannya yang berharga dan dengan sungguh-sungguh berusaha membebaskan diri dari lingkaran samsara
SAMSARA.New
Sang Buddha menyatakan bahwa sesungguhnya samsara tidak lain dan tidak bukan adalah penderitaan, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi semua makhluk yang lain; semuanya tidak bisa mengelak dari lahir, tua, sakit dan mati secara berulang-ulang. Oleh karena itulah Sang Buddha datang ke alam manusia dan mengajarkan Dharma kepada kita. Dengan mengikuti jejaknya dan menjalankan ajarannyalah kita bisa membebaskan diri dari semua penderitaan serta menghentikan kelahiran dan kematian.
VIMALA RATNA LEKHA NAMA.New
Vimala-ratna-lekha-nama artinya “Surat yang laksana permata cemerlang”. Teks ini ditulis oleh Guru Atisha Dipamkara-srijnana untuk memenuhi permintaan dari siswanya yang bernama Raja Niryaphala, seorang raja di India yang sangat antusias terhadap ajaran Sang Buddha. Teks ini berisi nasihat-nasihat dan ajaran-ajaran bagaimana menerapkan Dharma dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang raja sehingga dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi diri Raja Niryaphala saja tetapi juga kepada seluruh rakyatnya. Teks ini juga sangat baik untuk kita pelajari meskipun kita bukan seorang raja, karena akan memberikan pedoman bagaimana menerapkan Dharma dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab dalam kehidupan kita masing-masing.
