Budha

Dharma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava,
Berada sangat dekat,
Tak lapuk oleh waktu,
Mengundang untuk dibuktikan,
Menuntun ke dalam batin,
Dapat diselami oleh para bijaksana
dalam batin masing-masing.

– Dhammanussati

 

Perbedaan Dharma dan
Bukan Dharma

Jika sesuatu itu bertentangan dengan kesenangan duniawi, itu adalah Dharma.
Jika tidak bukanlah Dharma.

Jika tidak disukai oleh orang duniawi itulah Dharma,
jika disukai bukanlah Dharma.

Jika sesuai dengan ajaran Sang Buddha itulah dharma.
Jika tidak bukanlah Dharma.

Jika membawa kebajikan
itulah Dharma,
jika tidak bukanlah Dharma.

– Upashaka Drom Tonpa

 

Sebagaimana tunas hijau
tak akan tumbuh dari biji
yang telah tersulut api,
demikian pula kebajikan
tak akan muncul
dalam diri orang yang
tak berkeyakinan.

– Dasadharma Sutra

Dari benih yang pedas
lahirlah buah yang pedas.
Dari benih yang manis
lahirlah buah yang manis. Dengan perumpamaan ini,
ia yang bijak mengerti:
buah ketidakbajikan terasa pedas dan buah kebajikan terasa manis.

– Surata Pariprccha Sutra

Walaupun pembuat kejahatan menginginkan kebahagiaan, karena kejahatan
yang telah dilakukannya,
kemanapun dia pergi
– ke sini maupun ke sana –
ia hanya akan terluka
oleh penderitaan.

– Bodhicaryavatara

Karma semua makhluk
Tidak akan hilang bahkan setelah seratus kalpa.
Ketika semua sebab dan
kondisi berkumpul,
Akibatnya akan berbuah.

– Karmasataka Sutra

Jangan meremehkan kejahatan meskipun kecil dengan berpikir, “Akibatnya tidak akan menyakitkan”, karena tumpukan jerami yang sebesar gunung pun dapat habis terbakar oleh percikan api yang kecil.

Jangan meremehkan kebajikan meskipun kecil dengan berpikir, “Itu tidak akan bermanfaat”,
karena tempayan air yang besar pun perlahan akan terisi penuh oleh tetesan air.

– Vinayagama 

Bila sehelai rambut diletakkan di atas telapak tangan, tidak ada rasa sakit yang muncul; tetapi bila dimasukkan ke dalam mata, menimbulkan
rasa sakit dan perih.
Orang yang dungu bagaikan telapak tangan, mereka tidak merasakan perihnya derita samsara; sedangkan para Arya bagaikan mata, mereka
selalu menolaknya.

– Abhidharmakosa Tika

Mengenal Dharma Ajaran Sang Buddha

Dharma adalah ajaran yang diberikan Sang Buddha untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaannya dan menempatkan mereka ke dalam kebahagiaan. Sesungguhnya, Dharma merupakan pengalaman Sang Buddha sendiri dalam usahanya mencapai kebahagiaan yang tertinggi dan kebebasan dari penderitaan. Dharma tidak diajarkan berdasarkan cerita-cerita, teori, atau kepercayaan yang membuta, melainkan murni berdasarkan realitas kehidupan yang sebenarnya.

Dharma merupakan bentuk pertolongan Sang Buddha yang harus dipraktikkan sendiri oleh setiap individu yang menginginkan kebahagiaan. Sang Buddha tidak menyucikan seseorang dari segala noda dan kesalahannya dengan menyentuhnya atau membasuhnya dengan air – melalui Dharmalah seseorang dapat memperbaiki dan menyucikan dirinya.

Untuk bisa mempraktikkan Dharma dengan baik, seseorang perlu mempelajarinya dengan seksama terlebih dahulu. Tanpa pengetahuan yang cukup seseorang tidak akan mengerti bagaimana cara mempraktikkan Dharma dengan benar. Belajar Dharma akan membawa berbagai kebajikan bagi seseorang:

Dengan belajar engkau akan mengembangkan keyakinan pada Dharma
Dengan belajar engkau akan tertarik pada Dharma sehingga engkau akan merasakan buahnya yang luar biasa
Dengan belajar kebijaksanaanmu akan berkembang dan ketidaktahuanmu akan dapat dihapuskan.

Dengan belajar engkau akan mengetahui segala Dharma
Dengan belajar engkau akan mengakhiri semua perbuatan buruk.
Dengan belajar engkau akan terhindar dari segala hal yang tidak berguna
Dengan belajar engkau akan mencapai pembebasan.

– Sutra

Setiap Dharma yang dipelajari harus bermuara pada praktik, sebab bila tidak ia tidak akan dapat membawa banyak manfaat bagi kita. Sang Buddha selalu menganjurkan agar para siswanya mengalami sendiri dalam pengalaman yang nyata kebenaran dari Dharma yang diajarkannya.

Bila aku mengajarkan Dharma yang terbaik kepadamu
Namun setelah mendengarkannya engkau tidak mempraktikkannya dengan baik,
Engkau seperti pasien yang memegang sekantung obat
Yang tetap saja tidak dapat menyembuhkan penyakitnya.

– Samadhiraja Sutra

Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?

– Bodhicaryavatara

Kitab Suci Siswa Buddha
Dharma yang telah dibabarkan Sang Buddha selama 45 tahun, oleh para siswanya dikumpulkan dan dituliskan ke dalam Tripitaka. Di dalam Tripitaka terkandung 84.000 pokok ajaran yang keseluruhannya diajarkan Sang Buddha dengan satu tujuan, yaitu untuk menghancurkan ketiga racun pikiran: keterikatan, kebencian dan kebodohan, yang menyebabkan penderitaan semua makhluk di dunia ini. Ada tiga bagian yang terdapat di dalam Tripitaka:

  • Vinaya Pitaka, yang berisikan penjelasan sila-sila seorang bhiksu
  • Sutra Pitaka, yang berisikan berbagai sutra
  • Abhidharma Pitaka yang menjelaskan psikologi Buddhis

Dalam membabarkan Dharma, Sang Buddha selalu menyesuaikan ajarannya dengan situasi dan kecakapan setiap individu yang mendengarkannya. Dengan demikian keseluruhan ajaran yang terdapat di dalam Tripitaka sangatlah luas. Sehingga apabila seseorang hanya mempelajari Tripitaka, ia akan membutuhkan waktu yang sangat banyak untuk dapat memahami intisari ajaran Buddha.

Untuk mengatasi hal ini, para Maha Guru yang muncul setelah Sang Buddha menyusun kembali ajaran-ajaran Sang Buddha ke dalam suatu rangkaian yang sistematis: sastra suci dan tradisi lisan. Kedua sistem ini disusun murni berdasarkan realisasi dan ajaran-ajaran Sang Buddha, bukan sesuatu yang diciptakan sendiri oleh para Maha Guru.

Beberapa contoh sastra suci misalnya: Suhrllekha (Surat kepada Seorang Sahabat) oleh Guru Nagarjuna, Bodhicaryavatara oleh Acharya Shantideva, Bodhisattvabhumi oleh Arya Asanga, Bodhisattva Maniavali oleh Guru Atisha, dan Lamrim-chenmo oleh Je Tsongkhapa. Sedangkan tradisi lisan misalnya ajaran lisan yang disampaikan Guru Atisha, Mahasiddha Virupa, dan Mahasiddha Naropa.

Berikut ini adalah beberapa petikan Dharma yang diambil dari Tripitaka:

Jangan percaya begitu saja pada sesuatu yang telah engkau dengar; atau karena itu merupakan tradisi yang telah diwariskan turun temurun, atau karena hal itu diperbincangkan dan dibicarakan oleh banyak orang. Jangan percaya begitu saja pada sesuatu yang tertulis di dalam kitab-kitab suci, atau pada sesuatu yang berdasarkan dugaan. Jangan menganggap sesuatu sebagai kebenaran hanya karena engkau telah terbiasa dengannya, atau hanya karena itu diucapkan oleh gurumu atau orang-orang yang lebih tua. Tetapi, bila setelah menyelidiki dan menganalisanya engkau mengetahui bahwa hal itu beralasan dan akan membawa kebaikan dan keberuntungan, maka sudah selayaknya engkau menerimanya dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.

– Kalama Sutra

Misalkan seluruh dunia ini adalah samudra luas di mana di dalamnya hiduplah seekor kura-kura buta berumur panjang yang muncul ke permukaan laut setiap seratus tahun sekali. Di atas permukaan air itu terdapat sebuah gelang yang terapung-apung ke timur dan ke barat tertiup oleh angin. Kura-kura buta itu muncul berkali-kali ke permukaan laut. Jadi para bhiksu, akan tiba suatu saat di mana leher kura-kura itu muncul tepat di tengah-tengah gelang tersebut. Tetapi aku berkata kepadamu, para bhiksu, kehidupan sebagai manusia lebih sulit dicapai daripada hal itu.

– Nanda parivrajya Sutra

Ketiga alam tidaklah kekal bagaikan awan di musim gugur;
Kelahiran dan kematian makhluk hidup seperti melihat sebuah tarian;
Kehidupan para mahluk seperti kilatan petir di angkasa,
Begitu cepat berlalu bagaikan air terjun di pegunungan.

– Lalitavistara Sutra

Mahayana dan Pratimokshayana (Hinayana)
Seluruh praktisi Buddha Dharma dapat dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya:

  • Praktisi dengan tingkat motivasi dasar, yaitu ia yang ingin memperoleh kelahiran-kelahiran yang bahagia dalam kehidupannya yang akan datang.
  • Praktisi dengan tingkat motivasi sedang, yaitu ia yang berpaling dari kebahagiaan samsara dan hanya menginginkan pembebasan (nirvana) bagi dirinya sendiri. Dharma yang ia praktikkan adalah Dharma Pratimokshayana.
    Praktisi ini pada akhirnya akan menjadi seorang arahat Sravakabuddha atau Pratyekabuddha.
  • Praktisi dengan tingkat motivasi utama, yaitu ia yang setelah memahami penderitaannya sendiri dalam samsara, berkeinginan untuk mengakhiri semua penderitaan makhluk yang lain dengan cara menjadi seorang
    Buddha. Dharma yang ia praktikkan adalah Dharma Mahayana.

Dharma Mahayana sendiri dibagi lagi menjadi:

  • SUTRAYANA atau PARAMITAYANA. Untuk menjadi seorang Buddha, seorang praktisi harus menyempurnakan kebajikan dan kebijaksanaannya. Atau dengan kata lain seseorang harus menyempurnakan keenam paramitanya. Praktisi Sutrayana berfokus pada ajaran-ajaran yang terdapat di dalam sutra untuk menyempurnakan seluruh paramitanya. Dibutuhkan waktu yang sangat lama, mungkin berkali-kali kehidupan, bagi praktisinya untuk mencapai tujuannya menjadi seorang Buddha.
  • TANTRAYANA atau VAJRAYANA. Selain mengajarkan Sutrayana, Sang Buddha juga mengajarkan ajaran-ajaran tantra, yang memungkinkan seorang praktisi Tantrayana mencapai tujuannya menjadi seorang Buddha dalam waktu yang sangat singkat – bahkan dalam satu masa kehidupan saja. Namun demikian, hanya mereka yang memiliki kualitas tertentu saja yang mampu melaksanakan ajaran ini.

Hukum Karma Sumber Kebahagiaan
Menurut hukum karma, setiap perbuatan yang dilakukan baik melalui tubuh, ucapan, maupun pikiran, akan menimbulkan akibat yang sesuai dengan perbuatan tersebut. Kebaikan akan menghasilkan kebahagiaan sedangkan ketidakbajikan akan menghasilkan penderitaan.

Suatu perbuatan dinilai baik atau buruk berdasarkan motivasi yang melandasi perbuatan tersebut. Bila motivasinya adalah hal-hal yang positif seperti belas kasih, keyakinan, rasa hormat, dsb, maka perbuatan itu merupakan kebaikan. Sebaliknya bila motivasinya adalah hal-hal yang negatif seperti iri hati, kebencian, kesombongan, atau keserakahan, maka perbuatan tersebut merupakan ketidakbajikan karena setiap saat kita selalu melakukan aktivitas – apakah dengan tubuh, ucapan, atau pikiran – maka sesungguhnya setiap saat kita selalu membuat karma, yang akibatnya akan berbuah di kemudian hari. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, apakah itu kebahagiaan atau pun penderitaan, sebenarnya berasal dari perbuatan kita sendiri di masa lampau. Bukan disebabkan oleh sesuatu yang berada di luar diri kita.

Keyakinan terhadap hukum karma sangatlah penting, karena ini merupakan landasan bagi seseorang untuk menghindari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan. Bila seseorang meyakini hukum karma, ia tidak akan melakukan ketidakbajikan, sekalipun hal itu tidak diketahui orang lain. Karena ia sadar bahwa itu hanya akan menimbulkan akibat buruk yang harus dipertanggungjawabkannya di kemudian hari. Sebaliknya ia akan berusaha keras untuk melakukan kebaikan, karena ia sadar sepenuhnya itulah yang akan memberinya kebahagiaan di kemudian hari.

Jadi untuk memperoleh kehidupan yang bahagia dan bebas dari derita, seseorang perlu menyelaraskan perbuatannya dengan hukum karma: menghindari ketidakbajikan dan hanya melakukan hal-hal yang baik saja.

Sang Buddha menjelaskan bahwa ada sepuluh ketidakbajikan yang perlu dihindari: membunuh, mencuri, berbuat asusila, berbohong, ucapan yang memecah belah keharmonisan hubungan orang lain, berbicara kasar, berbicara yang tak ada gunanya, keserakahan, keinginan jahat, dan pandangan salah. Ini adalah sepuluh ketidakbajikan yang utama saja, tidak mencakup seluruh ketidakbajikan yang perlu untuk dihindari.

Aspek-Aspek Umum Karma dan Akibatnya
Setiap karma yang dilakukan seseorang, baik yang positif maupun yang negatif, mempunyai empat aspek umum:

  • Kepastian hukum karma.  Hanya ada kebahagiaan yang berasal dari kebaikan, dan hanya ada penderitaan yang dihasilkan ketidakbajikan. Kebaikan tidak akan menghasilkan penderitaan, dan ketidakbajikan tidak akan menghasilkan kebahagiaan.
  • Karma berkembang pesat. Sifat kedua dari karma adalah berlipat ganda dengan sangat cepat. Jika hari ini kita menghasilkan karma baik dengan melakukan suatu kebaikan, keesokan harinya secara otomatis karma tersebut akan berlipat dua, keesokan harinya lagi akan berlipat empat, dan seterusnya. Proses ini berjalan tanpa henti, asalkan tidak ada sesuatu yang terjadi dalam selang waktu tersebut yang menetralkan karma itu, mengubahnya menjadi steril dan menghentikan pelipatgandaannya.
  • Kita tidak akan mengalami akibat dari perbuatan yang tidak kita lakukan. Misalnya, dalam suatu kecelakaan pesawat, lebih dari 300 orang meninggal dan hanya ada satu atau dua orang yang selamat. Hal ini dapat dipahami dengan baik berdasarkan hukum karma. Mereka yang meninggal dalam kecelakaan pesawat itu memiliki karma untuk meninggal pada hari itu, tetapi mereka yang selamat tidak menciptakan karma untuk meninggal pada saat itu. Karma yang menentukan kematian mereka belum saatnya matang, jadi mereka selamat.
  • Suatu perbuatan yang telah dilakukan tidak akan hilang begitu saja. Sekali karma telah dilakukan, ia akan tetap bertahan selama ribuan tahun, bahkan selama banyak masa kehidupan jika diperlukan, sampai muncul kondisi-kondisi yang akan mematangkan karma tersebut. Dengan demikian kita pasti akan mengalami akibatnya, kecuali bila terjadi sesuatu yang merintangi, menghalangi, dan menggagalkan karma itu untuk berbuah.

Akibat-Akibat Karma
Terdapat tiga macam akibat karma yang dapat dialami seseorang:

  • Akibat yang masak sepenuhnya. Untuk karma yang negatif, ada tiga macam akibat yang masak sepenuhnya. Bila ketidakbajikan seseorang itu ringan, ia akan terlahir kembali sebagai binatang, bila sedang ia akan terlahir sebagai preta (hantu kelaparan), dan bila ketidakbajikannya berat ia akan terlahir kembali di neraka.
  • Akibat yang berkaitan dengan penyebabnya. Akibat ini mempunyai dua variasi:
    (a) tindakan yang serupa dengan penyebabnya, yaitu kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang sama. Misalnya, akibat mencuri, seseorang mempunyai kecenderungan untuk mencuri lagi;
    (b) pengalaman yang serupa dengan penyebabnya. Misalnya, ketika membunuh kita menyebabkan suatu makhluk menderita dengan memperpendek hidupnya. Sebagai akibatnya, kita juga akan berusia pendek.
  • Akibat yang menentukan alam kehidupan. Jenis akibat yang ketiga ini menentukan kondisi alam kehidupan akan yang kita tempati. Misalnya, karena membunuh, seseorang akan terlahir di suatu tempat yang makanannya tidak bergizi dan ketika ia sakit obat-obatan tidak akan dapat menyembuhkannya.

Roda Kehidupan (Bhava-Cakra)
Roda kehidupan merupakan suatu lukisan yang mengilustrasikan ajaran-ajaran Sang Buddha. Lukisan itu menjelaskan keberadaan kita dalam samsara, sebab-sebab yang membelenggu kita dalam samsara, bagaimana seseorang berputar-putar dalam samsara, dsb.

Roda kehidupan dilukis berdasarkan instruksi Sang Buddha sendiri. Ketika Raja Bimbisara menerima sebuah baju zirah yang sangat bagus dari Raja Udrayana, ia merasa sangat senang dan bergembira. Namun ia juga merasa kebingungan karena harus membalas pemberian Raja Udrayana dengan hadiah yang seimbang. Atas saran para menterinya, ia lalu pergi ke hadapan Sang Buddha untuk meminta nasihat. Sang Buddha kemudian menganjurkan untuk membuat sebuah lukisan, yaitu roda kehidupan. Seniman yang ditugaskan mengalami kesulitan ketika akan melukis wajah Sang Buddha, karena wajah Sang Buddha begitu bercahaya dan memukau. Sang Buddha kemudian menyarankan agar mereka melihat pantulan wajah beliau di tepi sungai sehingga dapat melukis wajah Sang Buddha.

Lukisan itu dibawa ke negeri Raja Udrayana dan ia diminta untuk menjemput hadiah yang sangat istimewa tersebut. Ketika Raja Udrayana beserta pengiringnya tiba, mereka terkejut karena itu hanyalah sebuah lukisan. Lukisan itu lalu dibuka dan Raja Udrayana mulai memandangi lukisan tersebut. Pertama-tama ia melihat ketiga ekor binatang yang melambangkan tiga klesha utama, kemudian kelima bagian yang melambangkan alam-alam kehidupan, dan ia melihat ke 12 mata rantai itu dalam urutan yang terbalik satu per satu, sehingga ia pun memahami makna ajaran yang terkandung dalam lukisan tersebut. Hanya dengan melihat lukisan itu dalam waktu sekejap ia mencapai tingkat Sotapana.

Penjelasan Lukisan Bhava-cakra
Di tengah-tengah lukisan terdapat tiga ekor binatang yang melambangkan tiga klesha utama yang membuat kita terpenjara dalam samsara. Babi melambangkan ketidaktahuan, ular melambangkan kebencian, dan merpati melambangkan keterikatan. Ular dan merpati dilukiskan keluar dari mulut babi untuk menunjukkan bahwa baik kebencian maupun keterikatan sesungguhnya berasal dari ketidaktahuan.

Di sekeliling lingkaran tersebut terdapat makhluk-makhluk bardo, yaitu mereka yang telah meninggal tetapi belum terlahir kembali. Mereka mengambil wujud yang sesuai dengan bentuk kelahiran mereka yang berikutnya. Mereka yang akan terlahir di alam-alam rendah (berada di bagian lingkaran yang berwarna hitam) merasa seolah-olah sedang terjatuh. Sedangkan mereka yang akan terlahir di alam-alam yang baik (berada di bagian lingkaran yang berwarna putih) merasa seolah-olah sedang terangkat ke atas.

Ini adalah alam neraka, tempat yang diperoleh akibat melakukan ketidakbajikan yang berat seperti membunuh atau melakukan kekejaman. Mereka yang terlahir di sini mengalami penderitaan yang hebat dalam kurun waktu yang sangat lama, seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Ada delapan neraka yang terbakar api dan delapan neraka yang diliputi kegelapan dan beku oleh es.

Alam preta atau hantu kelaparan. Penyebab kelahiran di alam ini adalah keserakahan dan perbuatan-perbuatan buruk yang dimotivasi oleh kekikiran. Akibatnya adalah kemiskinan yang luar biasa. Preta terus-menerus tersiksa oleh rasa lapar dan haus yang tidak akan pernah dapat mereka puaskan sepanjang hidupnya. Dunia mereka seluas padang pasir.

Alam binatang. Semua binatang seperti burung, ikan, serangga, cacing, juga semua mamalia selain manusia termasuk dalam kelahiran ini. Mereka diliputi oleh kebodohan, tanpa kebijaksanan, dan selalu merasa cemas karena mereka saling memangsa satu dengan yang lainnya.

Alam manusia. Manusia memiliki potensi dan kecakapan untuk mempraktikkan Dharma yang melampaui semua bentuk kehidupan lainnya. Di alam inilah terbuka kemungkinan bagi seseorang untuk meraih kehidupan yang lebih baik, memutuskan lingkaran kelahiran kelahiran dan kematian, atau menjadi seorang Buddha.

Alam surga (bagian kiri atas). Di sini para dewa menikmati kehidupan yang bergelimang kemewahan dan kebahagiaan. Walaupun usia mereka sangatlah panjang, pada akhirnya mereka akan meninggal dan jatuh ke alam-alam yang rendah. Dari sudut pandang spiritual, kehidupan manusia jauh lebih berharga daripada para dewa, karena kehidupan mereka diwarnai oleh kelengahan. Mereka menghabiskan semua kebajikan yang telah mereka kumpulkan di masa lampau dan tidak membuat kemajuan spiritual apa pun.

Alam asura (bagian kanan bawah). Asura memiliki kemegahan dan kekayaan yang melampaui manusia, namun lebih rendah dari para dewa. Sepanjang hidupnya mereka tersiksa oleh perasaan iri terhadap para dewa. Selain itu para dewa juga sering mencuri wanita asura yang sangat cantik. Inilah yang menyebabkan mereka selalu berperang dengan para dewa, namun demikian mereka jarang sekali memperoleh kemenangan.

12 Mata Rantai Pratityasamudpada
Sang Buddha mengajarkan bahwa ada 12 mata rantai yang saling terkait, yang membelenggu kita dalam samsara. Kedua belas mata rantai tersebut dapat dilihat di sekeliling bhava-cakra. Mata rantai yang pertama akan mengakibatkan yang kedua, yang kedua mengakibatkan yang ketiga, demikian seterusnya.

Rantai yang pertama adalah avidya atau ketidaktahuan, tidak memahami dengan jelas keberadaan yang sesungguhnya dari segala sesuatu. Ini dilukiskan sebagai seorang wanita tua yang buta yang berjalan menggunakan tongkat.

Rantai yang berikutnya adalah samskara atau bentuk-bentuk karma. Ini adalah perbuatan yang kita lakukan, ada yang baik dan ada juga yang buruk. Dilukiskan sebagai seseorang yang sedang membuat tembikar, ada tembikar yang baik dan ada juga yang pecah. Karma baik dan buruk yang kita kumpulkan ini disebabkan adanya avidya di dalam diri kita.

Rantai yang ketiga adalah vijnanam atau kesadaran, yaitu batin kita yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan yang berikutnya, terkadang ke alam yang lebih tinggi dan terkadang ke alam yang lebih rendah. Ini dilukiskan sebagai seekor monyet yang bergelantungan naik dan turun dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

Rantai yang keempat adalah nama dan rupa, yaitu tubuh dan batin kita pada saat kita terlahir kembali. Ini dilukiskan sebagai orang yang berlayar dengan sampan. Sebagaimana kita membutuhkan perahu untuk berlayar di lautan, kita membutuhkan tubuh dan batin untuk mengarungi samudra samsara.

Rantai yang kelima adalah sad-ayatana atau enam landasan indria, yaitu pikiran dan kelima indera kita pada saat mereka mulai berkembang di dalam kandungan. Ini digambarkan sebagai rumah kosong dengan enam jendela.

Rantai yang keenam adalah sparsa atau kontak, yang terjadi ketika indera-indera kita mulai bekerja, dan kita mulai melihat atau mendengar sesuatu. Ini dilukiskan sebagai pria dan wanita yang sedang berhubungan intim.

Rantai yang ketujuh adalah vedana atau perasaan, yaitu perasaan menyenangkan, menyakitkan, atau netral yang kita rasakan setelah kita mengalami kontak dengan obyek-obyek indera kita. Ini dilukiskan sebagai seorang pria yang menusuk matanya dengan sebatang anak panah.

Rantai yang kedelapan adalah trsna atau nafsu keinginan yang selalu menginginkan sesuatu. Ini dilukiskan sebagai seorang pria yang sedang mabuk-mabukan. Seorang pemabuk sukar sekali menghentikan kebiasaan minumnya jadi sangatlah tepat untuk menggambarkan trsna.

Rantai yang kesembilan adalah upadana atau kemelekatan di mana kita benar-benar menginginkan sesuatu. Ini dilukiskan sebagai seekor monyet yang dengan rakusnya memetik buah di atas pohon.

Rantai yang kesepuluh adalah bhava atau proses penjadian. Ini adalah pikiran terakhir seseorang ketika meninggal, yang merupakan penyebab bagi kelahiran yang berikutnya. Ini dilukiskan sebagai seorang wanita yang sedang hamil.

Rantai yang kesebelas adalah jati atau kelahiran, yaitu saat terjadinya konsepsi. Ini dilukiskan sebagai seorang wanita yang sedang melahirkan.

Rantai yang terakhir adalah jara-marana atau usia tua dan kematian, yaitu semua pengalaman hidup kita. Setiap mata rantai menyebabkan mata rantai yang berikutnya, dan dengan demikian kita terus berputar-putar dalam lingkaran ini, terlahir kembali di alam yang berbeda-beda dalam samsara.

Roda kehidupan ini dicengkeram oleh Yama, dewa kematian. Hal ini menunjukkan bahwa selama kita berada dalam samsara, kita tidak memiliki pilihan selain mati dan terlahir kembali. Sang Buddha berada di luar roda kehidupan ini, dan beliau menunjuk ke arah bulan, mengungkapkan bahwa kita juga dapat membebaskan diri dari samsara. Bulan melambangkan pembebasan, bebas dari kematian, kelahiran kembali, dan dari semua penderitaan samsara.

Sang Buddha melukiskan gambar ini untuk menyadarkan kita akan situasi kita, dan beliau menuliskan sebuah sloka di bagian bawah gambar bhava-cakra untuk menunjukkan bagaimana kita dapat membebaskan diri dari samsara:

Berusahalah untuk menghancurkannya
Masukilah Buddhadharma
Putuskanlah belenggu mara
Seperti seekor gajah menghancurkan ladang

Empat Kebenaran Mulia
Ini merupakan Dharma yang pertama kali dibabarkan Hyang Buddha setelah beliau mencapai penerangan sempurna; disampaikan kepada kelima orang pertapa yang batinnya sudah sangat maju. Dengan mendengarkan Dharma ini, kelima orang pertapa tersebut mencapai tingkat arahat.

Empat kebenaran mulia tersebut yaitu:

1. Kebenaran mulia tentang penderitaan.
Di sini seseorang dituntun untuk melihat dan menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan di dalam samsara ini dipenuhi dengan penderitaan, tidak ada kebahagiaan sejati yang dapat ditemukan dalam samsara.

Ada tiga macam penderitaan:
(a) penderitaan yang berupa ketidaknyamanan dan rasa sakit,
(b) penderitaan perubahan, ini adalah sesuatu yang nampaknya menyenangkan tetapi sesungguhnya penderitaan; sifat penderitaannya baru terlihat setelah ia mengalami perubahan;
(c) penderitaan yang terkandung dalam samsara, di mana pun kita terlahir dalam samsara kita akan selalu mengalami penderitaan karena memang demikianlah sifat samsara itu.

2. Kebenaran mulia tentang sebab penderitaan,
Sebab dari semua penderitaan yang kita alami dalam samsara adalah klesha dan karma-karma buruk. Klesha adalah faktor-faktor mental pengganggu, yang bila muncul dalam batin akan mengganggu ketentraman hati kita. Tiga klesha yang paling utama adalah: nafsu keinginan, kebencian, dan ketidaktahuan. Dari ketiga klesha ini muncullah berbagai klesha yang lainnya seperti kesombongan dan iri hati. Sedangkan karma buruk adalah perbuatan fisik, verbal, maupun mental, yang terkontaminasi oleh klesha.

3. Kebenaran mulia tentang terhentinya penderitaan
Bila kita bertanya apakah sebab-sebab penderitaan itu dapat disingkirkan atau tidak, inilah yang dijelaskan kebenaran mulia yang ketiga ini. Sikap yang baik dan buruk tidak dapat muncul sekaligus dalam diri seseorang. Misalnya, seseorang tidak bisa merasakan belas kasih saat ia marah. Semakin kita terbiasa dengan salah satu dari kedua jenis sikap ini, sikap yang lainnya akan semakin melemah. Inilah yang memungkinkan seseorang untuk menyingkirkan sebab-sebab dukha. Dengan tersingkirnya sebab-sebab dukha terhentilah penderitaan.

4. Kebenaran mulia tentang jalan menuju terhentinya penderitaan.
Ini adalah kebenaran yang menjelaskan bagaimana seseorang berlatih pada jalan untuk menghentikan penderitaan.