Budha

Demikianlah Sang Bhagava, 
Yang Maha Suci,
Yang telah mencapai Penerangan Sempurna,
Sempurna pengetahuan serta tindak tanduk-Nya,
Sempurna menempuh Sang Jalan,
Pengenal segenap alam,
Pembimbing manusia yang
tiada taranya,
Guru para dewa dan manusia,
Yang sadar, yang patut dimuliakan.

– Buddhanussati

Mengenal Sang Buddha

Siapakah Sang Buddha?
Buddha adalah seseorang yang telah berhasil membebaskan dirinya dari lingkaran kelahiran dan kematian yang berulang-ulang, yaitu dengan memurnikan semua kesalahannya dan menyempurnakan semua kebajikannya.

Buddha Sakyamuni, yang terlahir sebagai Pangeran Siddharta di India 2500 tahun yang lalu, tidaklah serta merta menjadi Buddha. Pada mulanya beliau adalah makhluk yang sama seperti kita, namun dengan melatih diri secara bertahap, mengubah cara berpikir dan bertingkah laku, beliau pada akhirnya berhasil menyingkirkan segala noda dan mencapai segala kesempurnaan. Dengan mencapai tingkat Kebuddhaan, beliau tidak saja memperoleh kebahagiaan sejati yang tak terbatas dan tak terhingga lamanya, tetapi pada saat yang sama beliau juga memiliki kemampuan yang sempurna untuk menolong dan membimbing makhluk lain memperoleh kebahagiaan yang sama dengan yang dimilikinya. Di masa lampau terdapat banyak sekali orang-orang yang telah menjadi Buddha, dan masih banyak lagi yang akan menjadi Buddha di masa yang akan datang.

Riwayat Kehidupan Buddha
Pada akhir masa kehidupannya di Surga Tushita, Bodhisattva mengamati keluarga, negeri, suku dan wanita yang akan melahirkannya di Jambudvipa, dan Bodhisattva akhirnya memutuskan untuk terlahir sebagai seorang pangeran dari Suku Sakya di Kerajaan Kapilavastu, dengan Raja Suddhodana dan Dewi Mahamaya sebagai ayah dan ibunya.

Suatu malam, ketika sedang menjalankan puasa uposatha pada tanggal 15 candra sengkala, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah putih besar dengan enam gading muncul di dunia dan masuk ke dalam tubuhnya melalui sisi kanan tubuhnya dalam wujud cahaya terang. Ia sendiri setelah itu melayang ke angkasa dan mendaki puncak gunung yang sangat tinggi di mana banyak sekali orang yang bersujud kepadanya. Mimpi itu sebenarnya menunjukkan bahwa Bodhisattva telah turun dari Surga Tushita dan memasuki kandungan Dewi Mahamaya.

Selama sepuluh bulan Bodhisattva berada dalam kandungan ibunya. Sang Dewi kemudian pergi ke Taman Lumbini, di sana putranya lahir dari kandungannya yang suci dan tanpa noda. Dewa Sakra menggendong bayi tersebut dan menyelimutinya dengan selimut surgawi, bayi itu lalu melangkah sebanyak tujuh langkah ke empat penjuru dan memandang ke arah timur sambil berkata: “Di timur aku akan mencapai nirvana dan terbebas dari penderitaan. Di selatan aku akan dengan tenang memasuki kesadaran. Di barat aku akan mengakhiri kelahiran. Di utara aku akan memurnikan seluruh karma samsara.” Bersamaan dengan ucapannya tersebut bumi pun bergetar. Para dewa pun kemudian memandikan, memuja, dan memberinya persembahan.

Ketika Raja Suddhodana memberi putranya nama Sarvathasiddha atau Siddharta, ia mengundang dewa pelindung Suku Sakya yang kemudian datang, bersujud dan berikrar akan menjaganya dari segala marabahaya. Kemudian raja menunjukkan sang pangeran kepada ahli nujum kerajaan. Melihat bahwa tubuh pangeran berhiaskan 32 mahapurushalaksana, juru ramal itu mengetahui pasti bahwa sang pangeran pasti akan menjadi seorang Raja Cakravarti atau Buddha yang sempurna dan tiada banding, Guru agung bagi semua makhluk. Ayahnya, Raja Suddhodana, bersuka-cita mendengar kata-kata tersebut.

Tujuh hari setelah kelahiran pangeran, sang ibu, Mayadevi, meninggal dan terlahir di alam devaloka. Karena sang pangeran bersifat tenang dan terkendali laksana seorang pertapa agung, rakyat Sakya memanggilnya Sakyamuni, ‘Pertapa dari Sakya’. Melihat para dewa yang tiada hentinya berdatangan memuja sang pangeran, ayahnya memanggilnya Devadeva, ‘Dewa dari para dewa’.

Bodhisattva tumbuh dewasa dengan tubuh yang perkasa, dikatakan bahwa pangeran memiliki kekuatan bagaikan sepuluh ribu gajah. Bodhisattva juga tak tertandingi dalam ketangkasan memanah. Dalam perlombaan memanah, Bodhisattva melepaskan anak panah yang melaju melampaui anak panah lain yang telah dilepaskan terlebih dahulu, kemudian anak panahnya menembus tujuh pohon palem besar, menembus kuali besi dan masih terus melaju. Hingga akhirnya anak panah itu tertancap di tanah dan seketika mengalirlah mata air.

Bodhisattva juga terbaik dalam balap kuda dan melompat, berenang serta gulat, dalam segala perlombaan tak seorang pun yang mampu mengalahkannya dalam mengadu ketangkasan. Dalam seni tulisan dan lukisan, dalam menghitung, seni memahat, dalam segala seni serta pengetahuan duniawi, ia tak tertandingi. Semua hal ini menyebabkan ribuan rakyatnya mengembangkan keyakinan terhadapnya.

Bodhisattva kemudian memberikan sebuah cincin simbol kerajaan kepada Dewi Yashodara, putri yang sempurna dalam berbagai hal dan menjadikannya sebagai istri. Setelah ia menjadi istri pangeran, juru ramal kemudian memberi tahu raja bahwa dalam tujuh hari ini sang pangeran akan menjadi Raja Cakravarti atau menjadi pertapa. Oleh karena itu raja kemudian melakukan berbagai hal untuk mencegah pangeran meninggalkan istana.

Ketika pangeran pergi untuk bersenang-senang ke taman kerajaan, ia melihat orang tua renta yang kurus kering, rambutnya seperti rambut tikus dan tubuhnya tinggal tulang dan kulit. Pangeran tersadar bahwa tak lama lagi tubuhnya sendiri juga akan seperti itu. Sehingga muncullah keinginan untuk menjadi seorang pertapa. Tak lama setelah itu pangeran melihat seorang pria yang sedang sakit. Orang itu berlumuran nanah, daging di tubuhnya putih pucat seperti mayat. Sambil memikirkan bahwa tubuhnya pun akan seperti itu bila terkena penyakit, pangeran sampai di hadapan mayat yang ditutupi dengan kain putih. Ia melihat bagaimana sanak keluarga dari orang itu meratap sedih ketika mayat tersebut dibawa pergi.

Dari ketiga hal ini pangeran melihat tiada artinya dunia ini. Karena memikirkannya terus, ia menjadi tak dapat tidur dan menenangkan dirinya. Para dewa kemudian menampakkan dirinya sebagai seorang pertapa berjubah saffron dan membawa mangkuk pindapata, berjalan di tengah jalan. Penampakan itu benar-benar menyenangkan hati pangeran, hatinya dipenuhi rasa gembira dan kagum pada ketenangan diri pertapa itu.

Saat itu juga pangeran menghadap raja dan menceritakan semua yang dialaminya. Raja berharap dapat mengubah pikiran putranya, menaburi semua jalan dengan batu permata serta berbagai benda berharga lainnya. Ia mengelilingi pangeran dengan wanita-wanita cantik, para penari, penyanyi, dan musisi yang siang dan malam berusaha untuk menyenangkan hatinya. Bahkan raja memastikan para gadis remaja akan bersenang-senang di telaga desa di mana sang pangeran akan lewat.

Juru ramal kemudian memberi tahu raja bahwa besok lusa putranya akan menjadi seorang Cakravarti atau seorang pertapa. Raja kuatir anaknya akan menjadi seorang pertapa sehingga memerintahkan tentara untuk menjaga seluruh gerbang kerajaan dan juga pusat kota. Bahkan sanak keluarga pun juga diminta untuk menjaga pintu-pintu dalam istana. Malam pun tiba, semua yang berjaga-jaga baik di luar maupun di dalam kota terus waspada. Namun mereka semua tiba-tiba jatuh tertidur dan terlentang seperti orang yang sudah mati. Para dewa yang melakukan hal ini kemudian memanggil pangeran yang segera terbangun dari tidurnya. Ia segera menaiki kuda agung Kanthaka, dituntun oleh Chandaka kusirnya. Empat orang devaputra yang tangkas dan memiliki kecepatan kemudian mengusung pangeran mengelilingi kota dan pergi dalam kegelapan malam.

Di hadapan Stupa Kemurnian, Sang pangeran memotong rambutnya dengan pedangnya. Dewa Sakra segera turun dari angkasa untuk menampungnya. Dewa Sakra menghormat dan kemudian pergi membawa rambut itu ke alam dewa, di mana di sana dibuatkan sebuah stupa untuk menyimpannya. Salah seorang dewa lalu mempersembahkan jubah pertapa kepada sang pangeran, yang kemudian menerimanya dan memberikan pakaian kerajaannya sebagai gantinya. Sementara itu Chandaka, dengan terus menangis, mengumpulkan perhiasan pangeran, menuntun kudanya bergegas kembali ke istana. Setelah tujuh hari ia sampai di dekat kota. Saat raja beserta yang lainnya melihat Chandaka datang dengan menuntun kuda tanpa pangeran Siddharta, kesedihan mereka semakin mengharukan, sangat sulit untuk dilukiskan. Chandaka tak berdaya dalam kesedihan hatinya melepaskan kudanya sendirian berjalan memasuki kota.

Demikianlah, demi tercapainya kebebasan, sang pangeran berpaling dari kehidupan duniawi dan hidup dalam penyepian sebagai seorang pertapa. Bodhisattva menaklukkan mara. Setelah berguru kepada beberapa orang brahmana, Bodhisattva kemudian memutuskan untuk berusaha sendiri, karena para gurunya tidak mampu memberikan apa yang dicarinya. Bodhisattva kemudian pergi ke tepi sungai Nairanjana dan bertapa dengan cara yang sangat keras. Selama dua tahun Bodhisattva tidak memakan apa pun kecualif tujuh fbutirf nasif setiap harinya, duaftahun berikutnya Bodhisattva hanya memakan sebutir nasi. Kemudian dua tahun berikutnya, Bodhisattva sama sekali tidak memakan apa pun. Demikianlah Bodhisattva bertapa selama enam tahun, tubuhnya menjadi begitu kurus dan kering menyerupai kayu yang berongga. Serangga bersarang di rambutnya, dan anak-anak gembala mempermainkannya karena keheranan, heran karena mayat kering itu tidak juga jatuh mati. 

Walaupun telah berusaha keras, Bodhisattva belum juga mencapai tujuannya. Kemudian Bodhisattva memutuskan untuk mengubah usahanya dan mulai menggunakan makanan padat. Ada lima orang pertapa lainnya yang menemani Bodhisattva selama bertapa. Mereka sangat mengagumi usaha Bodhisattva dalam melatih diri. Karena mengira Bodhisattva telah mengkhianati pertapaannya dengan mengambil makanan padat, mereka kemudian meninggalkannya seorang diri. Setelah tubuhnya pulih kekuatannya, Bodhisattva kemudian kembali ke penyepiannya. Di bawah pohon Bodhi di Vajrasana, Bodhisattva duduk bersila dengan berbantal rumput kusa. Ia kemudian mengucapkan ikrarnya bahwa ia tak akan beranjak hingga mendapatkan amrtha keagungan Kebuddhaan yang sempurna. Bodhisattva duduk tak tergoyahkan layaknya sebuah gunung emas.

Sementara itu, mara bersama bala tentaranya, dalam kecemasan yang luar biasa, berusaha menghentikan Sang Bodhisattva. Ia menyamar sebagai utusan dari Suku Sakya yang menyampaikan berita kesedihan mengenai kehidupan keluarganya. Kerajaannya telah diambil oleh Devadatta, istrinya ditawan, dan ayahnya dijebloskan ke dalam penjara. Namun Bodhisattva yang telah membebaskan hatinya dari kesedihan dan kemarahan tetap duduk tak bergeming, mengetahui bahwa itu adalah mara, sang khayalan. Putus asa dan marah, utusan mara itu kemudian pergi.

Ketiga putri kecintaan mara kemudian muncul, berbusana indah dan mengenakan perhiasan permata. Merayu dan menggoda nya dari berbagai sisi, memamerkan dada serta pahanya, mereka berusaha untuk membangunkannya dengan berbagai cara. Akan tetapi Sang Bodhisattva telah menaklukkan segala keinginan serta kebanggaan, dengan segera ketiga putri mara itu menyadari kegagalannya, penampilan mudanya lenyap dan mereka berubah menjadi perempuan tua. Ketiganya merasa malu lalu pergi saling berangkulan dan merasa kecewa.

Mara lalu mengirimkan bala tentaranya yang sangat banyak dan ganas, mereka mengelilinginya dengan angin dan api, menimbulkan suara gemuruh yang mengerikan dan menggentarkan. Telinga Bodhisattva dibisingkan oleh suara-suara panah beracun, lemparan batu dan senjata yang berhamburan bagaikan hujan lebat. Namun sebelum menyentuh Sang Bodhisattva, semua senjata itu berubah menjadi bunga yang membentuk lingkaran bunga padma yang mengelilinginya. Di senja hari mara akhirnya dapat ditaklukkan dan di tengah malam Sang Bodhisattva berada dalam keseimbangan yg tak tergoyahkan. 

Saat matahari terbit, Bodhisattva dengan kesadaran tanpa noda mencapai kesempurnaan dan pencerahan tertinggi sebagai Samyaksambodhi; mengetahui segala sesuatu, mencapai segala yang perlu dicapai, mengingat seluruh kelahirannya, memiliki pengetahuan yang tiada taranya akan ketiga masa.

Pada saat itu, suatu makhluk yang menjelma sebagai mara akibat karma, muncul di Kota Sakya, mara itu bersuara dari angkasa, “Bodhisattva sudah mati akibat praktik pertapaannya.” Mendengar suara itu, Raja Suddhodana bersama permaisurinya juga semua orang di istana merasa sangat sedih; pikiran mereka menjadi hampa, mereka semua jatuh lunglai seolah mereka sendiri yang mati. Tak lama kemudian dewa yang baik bersuara di langit, “Tidak benar kalau Bodhisattva telah meninggal. Kabar itu hanya disebarkan oleh mara jahat. Bodhisattva baru saja meraih amrtha keabadian, telah menjadi seorang Samyaksambuddha.” Mereka yang melihat dewa itu berkata, “Kami tak lagi takut pada kematian!” Raja, menteri dan wanita istana, merasa mendapatkan kembali hidupnya dan telah diberikan amrtha para dewa, mereka mempersiapkan perayaan besar untuk merayakan kebahagiaan tersebut.

Dua orang dewa dari alam brahma kemudian memohon kepada Sang Buddha agar memberikan ajarannya. Sang Buddha menjawab, “Semoga kebahagiaan agung dimiliki oleh semua makhluk. Apa yang dulu tak kupahami, kini aku mengetahuinya dengan baik. Tetapi meskipun aku mengajarkan Dharma, siapakah yang akan sanggup untuk memahaminya? Beberapa yang sangat baik kepada putra Raja Suddhodana saat menjalankan pertapaan; lima orang yang dekat dengan ia yang berhiaskan kebijaksanaan, yang telah begitu dekat sehingga tidak mengganggu saat ia menjalankan samadhi Bodhisattva. Tetapi ketika aku meninggalkan praktik pertapaanku dan menerima bubur susu, mereka pergi ke Varanasi dan kecewa mengganggap aku melakukan kesalahan.”

Sang Buddha kemudian tetap duduk bersila di Vajrasana dalam sikap meditasi. Setelah tujuh hari lamanya, dua orang pedagang yang memiliki kebajikan mempersembahkan makanan kepada Sang Buddha dan memohon ajaran agar beruntung. Dewa Brahma dan Dewa Sakra mendesak Sang Buddha, hingga akhirnya beliau memberikan ajaran kepada kedua orang pedagang tersebut.

Sang Buddha kemudian memutar Dharma di Varanasi kepada lima orang siswa, Bhadra serta yang lainnya, mengajarkan kepada mereka Catur Arya Satyani (Empat Kebenaran Mulia). Sejak saat itu Sang Buddha terus membabarkan Dharma selama 45 tahun, menolong makhluk-makhluk yang tak terhingga banyaknya. Beliau kemudian parinirvana dalam usianya yang kedelapan puluh tahun di hutan Sala, Kusinagara, negeri Malla.

Diringkas dari: Mengenal Sang Buddha serta Para Guru Penerusnya. Upashaka Pandita Sumatijnana. Jakarta: Yayasan Bhumisambhara, 2002. 

Kelahiran Sang Buddha di Masa Lampau sebagai Raja Sibhi
Suatu ketika saat Sang Buddha masih hidup sebagai Bodhisattva, timbunan kebajikan besar yang dikumpulkan dalam berbagai kehidupan masa lalunya menyebabkan beliau terlahir sebagai Raja Shibi. Hormat pada semua yang tua sejak masa kanak-kanaknya dan santun dalam tingkah lakunya, ia benar-benar sangat dicintai oleh seluruh rakyatnya.

Diberkati dengan semangat yang tak terbatas, bijaksana, mulia dan kuat, paham akan berbagai pengetahuan, juga diberkati dengan keberuntungan, ia memerintah rakyatnya seolah mereka anak-anaknya sendiri. Pada Bodhisattva, segala hal yang baik, baik duniawi maupun Dharma, dipadukan dengan sangat baik menyingkirkan segala perbedaannya. Keagungan, yang ditiru oleh mereka yang mendapatkan kedudukan tinggi melalui cara-cara yang tidak benar, keagungan yang menyebabkan bencana bagi orang-orang bodoh dan memabukkan bagi yang batinnya kasar, telah menemukan tempat untuk berdiam dalam dirinya.

Mengalirkan belas kasihnya bahkan lebih deras dari pada kekayaannya, raja mulia ini merasa bahagia apabila memenuhi permintaan dari para pengemis dan ketika melihat wajah gembira mereka. Di seluruh kerajaannya, ia mempunyai balai rumah amal yang didirikan dan diisi dengan segala rupa barang-barang, kebutuhan dan biji-bijian, yang dapat memenuhi setiap harapan. Dengan kerendahan dan kesukacitaan besar, ia terus-menerus menumpahkan pemberian bagai curahan air hujan.

Setiap orang yang kekurangan mendapatkan apa yang dibutuhkannya, dengan keramahan dan tegur sapa. Makanan
dibagikan kepada yang lapar, minuman diberikan kepada yang haus. Dengan sikap seperti ini, busana, tempat tinggal, pakaian, wewangian, untaian bunga, perak dan emas diberikan kepada siapa pun yang menginginkannya, apa pun yang diminta akan diberikan. Kabar tentang kemurahan hati sang raja tersebar luas hingga jauh, sehingga menyebabkan orang-orang dari tempat-tempat jauh berdatangan ke situ dengan hati yang diliputi kesukacitaan, mereka takjub serta senang akan kebenarannya. Dengan niat yang bulat seperti seekor gajah yang menuju telaga luas, mereka tidak ingin lagi mendapatkan dana dari yang lain.

Raja terus menerima para pengemis, menganggap penampilan luar mereka tiada lain adalah permintaan dan pikiran mereka hanya tentang memperoleh. Beliau menerima mereka seolah seperti seorang sahabat lama yang telah lama hilang, yang telah kembali dari jauh; matanya terbelalak berseri gembira, beliau mendengarkan permohonan mereka seolah mendengar kabar gembira. Kebahagiaan para pengemis bahkan melampaui sang raja, mereka menyebarkan kabar menyenangkan kemurahan hatinya tersebut ke seluruh negeri di sekelilingnya, sehingga memudarkan keangkuhan para raja tetangga.

Pada suatu hari sang raja saat mengunjungi balai dananya, mendapati hanya ada sedikit pengemis di sana dan menimbulkan kecemasan hatinya. Kehausan para pengemis atas pemberian mudah sekali dipuaskan, namun tidak demikian dengan kehausan sang raja pada keinginan untuk memberi. “Secepatnya juga akan semakin sedikit yang tersisa untuk didanakan.” Pikirnya. “Alangkah menyenangkannya jika ada yang meminta lebih! Terberkatilah mereka yang darinya keinginan meminta apa saja, meskipun anggota tubuhku! Dariku mereka hanya meminta hartaku, seolah takut jikalau aku akan menolak permintaan yang tidak lazim.”

Saat ia membuat pernyataan tersebut, bumi, yang mengetahui tiadanya keterikatan pada dirinya bahkan pada tubuhnya sendiri, bergetar oleh perasaan cinta bagaikan seorang istri terhadap suaminya. Begitu kuatnya gempa yang terjadi sehingga bahkan raja gunung sekalipun, yang bertaburkan permata, mulai bergelombang, dan Dewa Sakra, Raja dari para dewa, telah keluar untuk mengetahui penyebabnya. Mendapatkan kabar bahwa Raja Shibi telah meninggalkan segala keterikatannya pada dagingnya sendiri, ia merasa kagum: “Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah batin sang raja begitu mulianya, apakah ia begitu besar kegembiraannya dalam berdana, sehingga rela bahkan melepaskan anggota tubuhnya sendiri? Aku akan mengujinya.”

Saat itu raja sedang duduk di singasana, di tengah-tengah pertemuan, seperti biasa mendengarkan mereka-mereka yang membutuhkan. Menimbun harta, perak, emas serta permata, membuka peti yang berisi busana, demikian pula yang diusung oleh binatang-binatang terlatih, yang berbaris mengangkut harta. Dari segala penjuru datang rombongan para pengemis, di antara mereka terdapat Dewa Sakra, Raja dari para dewa, dalam penyamaran sebagai seorang brahmana tua yang buta.

Brahmana cacat tersebut dengan segera menggapai mata sang raja; raja dengan belas kasih yang tenang hendak merangkul sang brahmana cacat tersebut. Para punggawa kerajaan meminta sang brahmana untuk menyampaikan permohonannya, tetapi mengabaikan mereka ia terus mendekati raja.

“Aku, brahmana yang buta, telah datang dari tempat yang sangat jauh, Oh Sang Raja Agung, dengan sangat memohon pemberian salah satu mata paduka. Kiranya satu mata cukup untuk mengatur dunia, Oh Baginda yang bermata bagai bunga padma, penguasa dunia.”

Sang bodhisattva merasa sangat bahagia: keinginan hatinya telah terpenuhi. Apakah karena keinginannya begitu kuat untuk memberi sehingga ia bahkan telah membayangkannya? Ia ingin kembali mendengarkan permintaan tersebut, ia
bertanya; “Siapa yang menyuruhmu, wahai brahmana mulia, untuk meminta satu mataku? Bagaimana engkau dapat mengira bahwa akan ada orang yang dapat melepaskan benda itu? Siapakah yang percaya bahwa aku akan melakukannya?”

Mengetahui kepedulian raja, penyamaran Dewa Sakra menjawab; “Dewa Sakra yang memberi tahu kami. Sebuah arca dewa berbicara kepada kami, bilang kepada kami agar datang kemari dan memohon kepadamu. Percaya mereka benar dan mengabulkan permohonan kami yang terdalam; mohon berilah kami salah satu mata Anda.”

Mendengar nama Sakra, raja berpikir; “Pastilah kekuatan para dewa akan membantu memulihkan penglihatan brahmana ini.” Karenanya dengan suara yang jelas dan penuh kegembiraan ia berkata: “Brahmana aku pasti mengabulkan permohonanmu.
Meski engkau hanya meminta satu mataku, aku akan memberimu keduanya! Setelah wajahmu dihiasi dengan kedua padma yang cemerlang ini, engkau pergilah jauh; biarlah keajaiban ini membuat kagum setiap orang yang engkau temui!”

Penasihat raja tidak setuju serta diliputi kecemasan jikalau raja benar-benar memberikan matanya. “Baginda Raja,” ucapnya, “kemurahan hati anda telah sampai pada ketidakadilan hingga menjadi sebuah keanehan! Anda hendak memberikan mata Anda! Hanya demi kebajikan orang yang lahir dua kali ini, janganlah abaikan kami semua! Anda menyalakan api penderitaan pada kami semua setelah sebelumnya anda merupakan sumber dari ketentraman dan kemakmuran.

“Uang, permata cemerlang, kereta, tandu, gajah besar yang sangat mengagumkan, sesuai dengan segala musim dan bergema bersama suara penari, pemberian yang demikian memang pantas. Berikanlah itu semua, tetapi mohon jangan berikan mata Paduka, Padukalah mata satu-satunya bagi dunia!

“Dan pahamilah ini. Hanya karena pengaruh kekuatan para dewa yang memungkinkan mata seseorang dapat dipindahkan ke muka orang lain. Namun demikian bila hal itu terjadi, mengapa harus mata Anda? Juga apa manfaatnya mata itu bagi orang miskin ini, baginya hanya akan menjadi saksi kemakmuran orang lain? Beri saja dia uang, bagaimanapun mohon jangan lakukan tindakan yang keliru ini!”

Sebagai jawaban, raja memandang menterinya dengan kelembutan dan keramahan, ”Ia yang telah berjanji untuk memberi, lalu memegangi yang diberikan, hanya akan mendapatkan tulang keterikatan yang telah dibuangnya. Ia yang telah berjanji untuk memberi lalu karena terdorong oleh kekikiran, mengingkari janjinya, harus dipandang sebagai sangat tercela. Ia yang menimbulkan pengharapan bagi yang membutuhkan, lalu memberi mereka penolakan yang kasar, tak patut dipandang kecuali ditinggalkan.”

“Sebagaimana terhadap kekuatan para dewa untuk menimbulkan penglihatan pada mata cangkokan, mengetahui hal ini: Bahkan para dewa bergantung pada suatu keadaan untuk mendapatkan pengaruh tertentu. Di mana di antara kita dapat berkata bagaimana caranya adalah tergantung pada bagaimana akhirnya? Tidak, jangan coba halangi maksud hatiku. Aku tetap akan memberikan mataku kepadanya.”

Sang menteri menjawab: “Kami tidak berusaha menghalangi Sri Baginda melakukan apa pun yang terpuji! Kami telah sekedar menganalisa bahwa suatu pemberian barang-barang atau biji-bijian ataupun emas akan lebih sesuai dari pada memberikan penglihatan anda.”

“Apa yang diminta itulah yang akan diberikan,” jawab sang raja. “Memberikan sesuatu yang tidak diinginkan tak akan membuat gembira. Apa gunanya memberi air bagi orang yang sedang hanyut? Aku akan memberi orang ini seperti apa yang diinginkannya.”

Sebagai reaksi, menteri pertama, yang sangat akrab dengan raja, lalu diikuti yang lain melampaui batas kepantasan disebabkan oleh kasih sayangnya pada sang raja, mereka berkata: “Jangan lakukan itu! Dibutuhkan pertapaan yang berat serta meditasi yang lama untuk mendapatkan kerajaan seperti ini; kemurahan hati anda telah memberi Anda keagungan dan tempat diantara para dewa. Kerajaan anda sebanding dengan kekayaan yang dinikmati oleh Indra, akankah anda mengabaikannya? Kini anda ingin memberikan kedua mata anda, untuk tujuan apa? Di bumi ini hal seperti itu belum pernah dilakukan sebelumnya! Mahkota para raja menghiasi kakimu; pengorbanan anda menempatkan baginda pada kedewataan; kemashyuran anda bercahaya menjangkau hingga tempat yang sangat jauh. Apakah tujuan yang hendak anda raih dengan memberikan mata anda?”

Sang raja menjawab dengan sangat menyentuh: “Aku tidak mendambakan kekuasaan di atas bumi ataupun keagungan; aku tidak menginginkan pembebasan ataupun surga. Aku melakukan perbuatan ini semata-mata untuk membuat permohonan seorang pengemis terpenuhi, dengan maksud untuk menjadi pelindung bagi dunia.”

Sambil mengucapkan kata-kata ini, raja memerintahkan agar satu matanya dikeluarkan oleh seorang tabib, secara perlahan dan berhasil. Dengan ketakjuban yang tiada terlukiskan ia memegang sebutir bola ini, berseri bagaikan kuntum bunga utpala dan memberikannya kepada sang pengemis. Sakra, raja dari para dewa, secara ajaib memasukkan mata tersebut ke dalam kelopak mata sang brahmana, sehingga raja bersama semua yang hadir menyaksikan sebuah mata yang membuka. Perasaan hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan murni, raja kemudian kembali memberikan matanya yang lain.

Wajah sang raja kini bagaikan kolam teratai yang kehilangan bunga, dengan raut muka yang memancarkan kegembiraan, perasaan gembira yang tak pernah dirasakan oleh orang lain, yang hanya melihat sang raja telah menjadi buta dan brahmana telah mendapatkan penglihatannya dari raja. Dari dalam ruang istana hingga wilayah kota yang jauh, air mata kesedihan telah tumpah, sebaliknya Dewa Sakra diliputi perasaan sesal, mengetahui sang raja tidak bergeming dari keinginannya untuk mencapai Kebuddhaan Yang Sempurna.

“Betapa teguhnya!” pikirnya. “Betapa baiknya ingin menolong makhluk lain! Betapa berbelas kasihnya! Meskipun aku mengetahuinya, sulit bagiku untuk mempercayainya! Sangatlah tidak tepat kebajikan yang demikian harus menyebabkan kesulitan panjang! Aku akan segera menunjukkan kepadanya cara memulihkan penglihatannya.”

Ketika waktu telah menyembuhkan lukanya, dan telah menimbulkan kesedihan semua orang di istana dan penduduk negri, raja ingin pergi menyepi, suatu hari ke taman kerajaan, duduk bersila di dekat kolam teratai. Seluruh pohon di sekelilingnya merunduk kepadanya sarat oleh bunganya, riuh-riuh oleh suara lebah. Angin kencang bertiup, sejuk dan berbau harum.

Tiba-tiba, raja merasakan ada yang datang. “Siapa itu?” ia bertanya. “Sakra, raja dari para dewa,” jawabnya. Setelah menyampaikan rasa hormatnya kepada Sakra, raja bertanya apakah yang dapat dilakukan baginya. Dewa Sakra menjawab: “Aku datang untuk mengabulkan apa yang menjadi keinginanmu. Sekarang apa yang kau inginkan, wahai bangsawan suci? Katakan kepadaku, aku akan mengabulkannya.”

Raja terperanjat, karena biasanya ia yang memberi, bukan menerima. “Aku telah memiliki harta yang berlimpah, Oh Sakra, balatentaraku juga sangat besar dan kuat. Akan tetapi kebutaanku, membuatku tak dapat menyaksikan wajah gembira para pengemis setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Untuk itu hanya kematianlah yang patut bagiku kini. Kematianlah kini yang kuinginkan.”

“Jangan sampai berpikir seperti itu!” ucap Sakra. “Lebih baik sampaikan kepadaku apa yang sebenarnya kau rasakan, Oh raja, apa yang kau pikirkan tentang para pengemis, hingga mereka membuatmu merasa begitu sedih. Katakanlah! Katakan kepadaku apa yang ada dalam hatimu, mungkin engkau akan segera menemukan jalan keluarnya.”

Sang Raja menjawab: “Mengapa anda menyangka dengan sekedar memulihkan penglihatanku akan membuatku senang? Dengarlah ini, bagaimanapun, jika engkau bisa: Sebagaimana kegembiraan seorang pengemis adalah bagaikan berkah bagi pendengaranku, karena itu aku menginginkan mendapatkan kembali salah satu mataku!”

Tak lama setelah raja mengucapkan kata-kata tersebut, seketika berkat kekuatan kebenaran kata-kata serta kebajikannya, salah satu matanya pulih kembali, yang bagaikan kuntum bunga padma yang dilingkari oleh permata indranila. Dengan gembira raja selanjutnya berkata; “Dan sebagaimana kenyataan aku merasakan betapa bahagianya memberikan kedua mataku kepada orang yang hanya meminta salah satu, karenanya tentu aku dapat mendapatkan kembali mataku yang satunya.”

Sekali lagi, setelah ia mengucapkan kata-kata tersebut matanya yang satu lagi muncul, keindahannya sebanding dengan yang pertama. Gunung berguncang; samudra bergolak, suara damaru surgawi terdengar jelas dan berirama. Angkasa menjadi terang benderang seolah disinari oleh cahaya matahari di musim gugur, berbarengan dengan itu, tiada terhingga bunga dan serbuk cendana terhambur dari angkasa. Para dewa serta makhluk-makhluk lain dengan segera menuju ke tempat itu, mata mereka terbelalak menyaksikan apa yang tampak, hati semua makhluk diliputi oleh perasaan sukacita yang luar biasa.

Dari sepuluh penjuru, nyanyian serta puji-pujian dilantunkan oleh makhluk-makhluk yang memiliki kekuatan gaib. Dalam kegembiraan serta kesukacitaan mereka berkata; “Betapa mulianya belas kasihnya! Betapa lembut serta murni batinnya! Betapa kecil kepeduliannya pada kebahagiaan pribadi! Hormat padanya, sang pahlawan yang senantiasa jaga! Sebagaimana mata padmamu telah pulih,demikianlah dunia kini mendapatkan kembali pelindungnya! Setelah begitu lama, kebajikan akhirnya menjadi pemenangnya!”

“Benar, benar,” Sakra memuji. “Disebabkan oleh perasaanmu yang memahamiku dengan baik, Oh raja yang berhati murni, aku mengembalikan kedua matamu. Dan dengan kedua mata itu engkau ini akan dapat melihat jauh ke segala penjuru, tak akan terhalang bahkan oleh gunung sekalipun.” Setelah itu Dewa Sakra menghilang.

Sang Bodhisattva, dikelilingi oleh para punggawanya yang diliputi perasaan takjub hingga tak dapat berbicara, kembali ke istana dalam sebuah prosesi. Di sana rakyat menegakkan bendera serta panji-panji seolah sedang berlangsung sebuah perayaan. Para Brahmana memberkati kerajaannya dengan beribu-ribu kebajikan. Duduk di dalam balai pertemuan di hadapan sejumlah besar para mentri, brahmana, para tetua serta rakyat dari kota maupun desa, sang Bodhisattva mengajarkan Dharma berdasarkan pengalaman pribadinya:

“Siapakah diantara kalian yang kini lemah dalam melakukan dana? Setelah kalian melihat mataku, mata yang memiliki kekuatan kedewataan, yang diperoleh dari kebajikan berdana. Dengan mata ini aku dapat melihat segala sesuatu yang berada sejauh beribu-ribu yojana; aku dapat melihat melintasi gunung tinggi, sejelas aku melihat ruang balai ini. Apakah yang lebih membawa kebajikan kebahagiaan kecuali kemurahan hati, belas kasih dan pengendalian diri? Dengan melepaskan mata manusiaku, aku mendapatkan penglihatan dewata.”

“Mengetahui hal ini, Shibi-ku, melipatgandakan kekayaanmu dengan menggunakannnya dengan benar. Demikianlah jalan menuju keagungan dan kebahagiaan baik di dunia ini maupun sesudahnya. Harta sesungguhnya tidak berarti baginya, karena harta adalah kebajikan seseorang; ia dapat diberikan bagi kebajikan yang lain. Hanya dengan cara ini ia akan menjadi harta karun; dengan kepelitan, ia tiada guna.”

Dari kisah ini orang dapat melihat bagaimana Sang Buddha mendapatkan Dharma dengan menjalankan berbagai pertapaan, dan betapa pentingnya mendengarkan Dharma dengan penuh hormat. Mengetahui keagungan Sang Tathagata serta berkat kebajikan sepanjang kehidupannya, manusia memuji kualitas belas kasihnya serta bangkit rasa hormatnya. Sehingga manusia menimbun kebajikan, dan dalam hidupnya saat ini dapat menemukan sesuatu dari berkembangnya kekuatan yang agung dan mengalirnya keagungan.

Dikutip dari: Mengenal Sang Buddha serta Para Guru Penerusnya. Upashaka Pandita Sumatijnana. Jakarta: Yayasan Bhumisambhara, 2002.


KUALITAS AGUNG SANG BUDDHA

Kualitas Tubuh Sang Buddha
Tubuh atau rupakaya Sang Buddha dihiasi dengan 32 mahapurusalaksana dan 80 anuvyanjana. Mahapurusalaksana adalah tanda-tanda fisik yang menunjukkan bahwa pemiliknya adalah seorang makhluk agung, sedangkan anuvyanjana menunjukkan kualitas-kualitas agung yang ada pada dirinya.

Tanda-tanda fisik tersebut antara lain: di atas kepalanya terdapat ushnisha; rambutnya berwarna biru kehitaman dan melingkar ke arah kanan; di antara kedua alisnya terdapat urna; tubuhnya berwarna keemasan dan memancarkan cahaya; pada telapak tangan dan kakinya terdapat rajah berupa Dharmacakra seribu jeruji; matanya jernih, panjang dan indah; giginya luar biasa putihnya; dan sebagainya.

Untuk mendapatkan rupakaya Sang Buddha, dibutuhkan kebajikan yang luar biasa besarnya. Misalkan kebajikan seluruh dunia digabungkan, termasuk juga kebajikan para Sravakabuddha, Pratyekabuddha dan Raja Cakravarti – kebajikan tersebut hanya mampu menghasilkan satu pori-pori tubuh Sang Buddha. Jika kebajikan seluruh pori-pori tubuh Sang Buddha digabungkan, 100x lipatnya akan menghasilkan satu anuvyanjana. Tetapi, satu mahapurusalaksana membutuhkan 100x kebajikan yang akan menghasilkan ke 80 anuvyanjana. Lebih jauh lagi, urna membutuhkan 1000x kebajikan seluruh mahapurusalaksana, sedangkan ushnisha 100.000x kebajikan urna. Dan, dibutuhkan satu kuadriliun (sejuta milyar) kali kebajikan ushnisha untuk menghasilkan ucapan suci Sang Buddha.

Dengan mahapurusalaksana dan anuvyanjana tersebut, baik tubuh maupun gerak gerik tubuh Sang Buddha terlihat sangat menarik. Dikatakan bahwa seseorang tak akan berkedip memandang Sang Buddha, dan ia tidak pernah merasa bosan melihat tubuh Sang Buddha.

Kualitas Ucapan Sang Buddha
Secara keseluruhan, ucapan Sang Buddha memiliki 60 kualitas agung. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: suaranya dalam dan sangat merdu sehingga seseorang selalu ingin mendengarnya; kata-katanya diucapkan dengan jelas, lugas, dan selalu menggunakan ungkapan yang dikenal dengan baik; bila ditinjau dari tata bahasanya, setiap kalimat yang diucapkannya selalu tepat dalam setiap aspek dan kualitasnya; tidak ada kalimat yang tidak terselesaikan ataupun kata-kata yang tidak terucapkan karena lupa atau kecerobohan.

Ucapan beliau bebas dari noda kesombongan maupun keinginan untuk memperoleh pemberian serta penghormatan; menghalau segala keragu-raguan, memadamkan nafsu keinginan, menaklukkan kebencian, menyingkirkan pandangan salah, dan menghapuskan ketidaktahuan. Dapat dipahami dalam berbagai bahasa, maksudnya satu kalimat yang diutarakan Sang Buddha akan dipahami oleh para dewa, asura, manusia, binatang, hantu kelaparan, dan makhluk neraka dalam bahasa mereka masing-masing.

Lebih jauh lagi, satu kalimat yang diucapkan Sang Buddha dapat membangkitkan pemahaman yang berbeda-beda, sesuai dengan kapasitas mental para siswa yang mendengarkannya. Misalnya Prajna Paramita Sutra, sutra ini memiliki tiga macam versi: yang panjang, menengah, dan yang singkat. Sesungguhnya Sang Buddha hanya mengajarkannya sekali saja, namun para siswa mendengarkannya secara berbeda-beda sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. Dari sini muncullah tiga macam versi Prajna Paramita Sutra.

Bagaikan guntur, suara Sang Buddha dapat menjangkau tempat-tempat yang jauh tanpa kehilangan kekuatannya, namun demikian tidak terlampau keras bagi mereka yang berada di dekat Sang Buddha. Suatu ketika Maudgalyayana ingin mencoba mengukur seberapa jauh ucapan Sang Buddha itu masih terdengar. Dengan menggunakan kekuatan batinnya ia pergi menembusi berbagai alam. Namun karena ia selalu dapat mendengar suara Sang Buddha sejelas ketika ia duduk di dekat Sang Buddha, ia tidak pernah berhasil menemukan batas ucapan Sang Buddha.

Kualitas Batin Sang Buddha
Oleh karena Sang Buddha telah memurnikan semua noda batinnya, tidak ada sesuatu apa pun yang tidak diketahui Sang Buddha. Beliau mengetahui segala hal yang terjadi di masa lampau, sekarang, dan yang akan datang secara langsung pada saat yang bersamaan. Dalam Vinaya dikatakan: bila seluruh pohon di bumi ini dibakar dan kemudian abunya dilemparkan ke dalam lautan untuk diaduk-aduk dalam jangka waktu yang lama, dan bila seseorang lalu membawa abu tersebut ke hadapan Sang Buddha, beliau dapat mengenali setiap butir abu itu berasal dari pohon yang mana. Bahkan beliau dapat merinci lebih jauh lagi: abu itu berasal dari dahan pohon yang tumbuh di bagian bawah, tengah atau atas; pohon itu ada di hutan atau di gunung, yang terletak di negara mana.

Belas kasihnya menjangkau setiap makhluk tanpa membeda-bedakan. Seperti yang dikatakan Mahaguru India Arya Mahatma Nagarjuna, tidak ada seorang pun yang tidak menerima pertolongan dari Sang Buddha. Belas kasihnya kepada kita bahkan melebihi kecintaan kita terhadap diri kita sendiri. Tidak ada satu saat pun di mana batin Sang Buddha tidak terpenuhi oleh belas kasih, beliau senantiasa memikirkan penderitaan semua makhluk.

Kualitas Kegiatan Sang Buddha
Sebagaimana bulan purnama tidak perlu berpikir untuk mencerminkan bayangannya di atas permukaan air, demikian pula Sang Buddha tidak perlu berpikir lagi dalam menolong makhluk lain. Beliau secara spontan dan tanpa perlu berupaya lagi selalu melakukan yang terbaik bagi makhluk lain. Kapanpun terdapat makhluk yang siap untuk menerima pertolongan Sang Buddha, seketika itu juga kegiatan pertolongan Sang Buddha mengalir kepadanya. 

Sang Buddha juga dapat mengemanasikan dirinya dalam berbagai bentuk apa pun yang diperlukan untuk menolong makhluk lain. Terkadang beliau memanifestasikan dirinya sebagai seorang Buddhis dan terkadang sebagai non-Buddhis. Beliau bisa menjadi seorang wanita, pria, raja, pengemis, rakyat biasa, atau seorang kriminal. Beliau bahkan dapat memanifestasikan dirinya sebagai binatang, angin, hujan, gunung atau pulau.

Disarikan dari: Liberation in Our Hands, Part Two: The Fundamentals. Pabongka Rinpoche. 1994. Howell, New Jersey: Mahayana Sutra & Tantra Press