Memahami Relief di Candi Borobudur

Dewa Sakra menyamar sebagai seorang brahmana yang tersesat jalan, kehausan dan kelaparan, untuk menguji kehendak kelinci mendanakan tubuhnya.
Brahmana menyalakan api unggun sebagai tempat bagi kelinci untuk mengorbankan dirinya.
lotus
Bodhisattva Sutasoma diberitahu kejahatan Purusadha.
Bodhisattva Sutasoma menyerahkan diri kepada Purusadha.
Sutasoma kembali ke istana untuk mendengarkan Dharma.
Kebenaran ucapan Bodhisattva Sutasoma telah mengubah perilaku kejahatan Purusadha.

“Inilah cara untuk menunjukkan kepadamu kehendak baikku. Kini terpenuhilah harapanku dan nikmatilah dagingku. Engkau harus tahu, wahai brahmana mulia, bahwa aku telah larut dalam keinginan untuk memberi. Kepadamu aku telah menemukan tamu yang tepat, hatiku tak menganggap adanya cara lain. Kesempatan untuk berdana seperti ini sungguh tak mudah didapat. Jangan biarkan pemberianku sia-sia; itu tergantung padamu.” 

Setelah memberikan penghormatan dan penghargaan kepada tamu tersebut, kelinci melemparkan diri ke dalam api, seperti orang miskin yang tiba-tiba menemukan gundukan harta, atau seperti angsa menyelam ke dalam kolam yang tertutup teratai.

Sasa Jataka

lotus

“Setelah membayar hutangku kepada brahmana itu aku akan kembali lagi, membawa kegembiraan pada matamu dan membayar hutangku padamu. Jangan menganggap bahwa hal ini merupakan muslihat untuk melarikan diri darimu, Oh Raja. Orang sepertiku tak mempunyai rasa takut. Aku menganut jalan yang berbeda dari yang sebagian besar orang tempuh.”

Ucapan Bodhisattva menjengkelkan Purusadha yang menganggapnya sekedar berbasa-basi. Hingga akhirnya ia berpikir, “Jelas sekali ia membualkan kejujuran dan kebenarannya. Baiklah bila demikian, aku akan melihat kecintaannya terhadap kebenaran dan kebajikan!”

Kepada Bodhisattva ia lalu berkata: “Baiklah kalau begitu pergilah. Kita lihat kejujuranmu yang teguh dalam perbuatan, kita lihat bagaimana engkau menepati janjimu. Kita lihat kekuatan kebenaranmu. Setelah melakukan apa yang kau inginkan kepada brahmana, kembalilah segera! Sementara aku akan menyiapkan tungku pembakaranmu.”

Sutasoma Jataka

lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
Bodhisattva Maitreya
Bodhisattva diserang oleh bala tentara Mara

“Bala tentara mara menyerang, ada yang melemparkan puncak gunung yang menyala terbakar api, ada yang melemparkan pohon dan melepaskan panah tembaga dan besi, ada yang melemparkan unta dan gajah bermata menakutkan, ular dan reptil berbisa mematikan, serta makhluk berkepala kerbau. Awan gelap dan petir menggelegar di keempat penjuru, menyambar dengan kilatan dan bola-bola api. Tombak, pedang, lembing, kapak, dan panah beracun menghujani bumi dan menghancurkan pepohonan.”

LALITAVISTARA

Relief ini menceritakan peristiwa dimana Bodhisattva Sudhana Kumara bertanya kepada Bodhisattva Samanthabadra, apakah benar terdapat para Buddha. Bodhisattva Samanthabadra kemudian menjentikkan ibu jarinya, dan seketika muncullah para Buddha di angkasa, seperti yang terlihat pada bagian atas relief.

GANDAVYUHA

lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
lotus
Seorang Yogi Buddhis
Berdana merupakan identitas diri para Bodhisattva

Relief ini menceritakan hujan harta kekayaan di negeri Raja Udrayana. Pada hari pertama angin merah berhembus di kota ini, hari kedua terjadi hujan bunga, hari ketiga hujan pakaian, hari keempat hujan perak, hari kelima hujan emas, hari keenam hujan permata, hari terakhir hujan debu dan seluruh kerajaan terkubur olehnya. Secara keseluruhan kisah ini menceritakan akibat bagi mereka yang mengabaikan kebenaran.

AVADANAKALPALATA

Etika Buddhis dalam mendengarkan Dharma

Pangeran Siddharta memotong rambutnya, memasuki kehidupan pertapa. Dewa Sakra menyambut potongan rambut itu dan membawanya ke alam dewa, dimana dibuatkan stupa untuk menyimpannya.

LALITAVISTARA

Galeri 1   |   Galeri 2   |   Galeri 3   Galeri 4