Budha

“Lalu, saat Atisha berpradaksina mengitari Bodhgaya, ia melihat dua buah patung berbicara satu sama lain. Di saat yang lain, ia melihat di angkasa, di sebelah selatan Bodhgaya, dua orang dakini sedang berbicara. Kedua percakapan bercerita tentang Dharma apakah yang harus dipraktikkan agar bisa dengan cepat mencapai pencerahan. Kesimpulannya juga sama, ia harus berlatih pada bodhicitta. Salah seorang dakini juga menjelaskan bagaimana cara yang efektif untuk mengembangkan bodhicitta. Atisha menghentikan pradaksinanya dan mendengarkan dengan seksama.

Kemudian, saat Atisha duduk di dekat sebuah dinding batu yang didirikan oleh Arya Nagarjuna, ia melihat dua orang wanita. Yang tua menasihati yang muda bahwa siapa pun yang ingin mencapai pencerahan dengan cepat harus melatih dirinya pada bodhicitta.

Pada saat yang lain, ketika ia berpradaksina mengitari gandola, sebuah gambar Buddha berbicara kepadanya,’O Bhadanta, ia yang ingin dengan cepat mencapai pencerahan harus melatih dirinya pada maitri, karuna, dan bodhicitta.’

Dan ketika ia berpradaksina mengitari sebuah bangunan kecil di dekat dinding batu, sebuah patung Buddha Sakyamuni yang terbuat dari gading berbicara kepadanya, ‘Yogi, ia yang ingin dengan cepat mencapai pencerahan harus melatih dirinya pada Bodhicitta.’

Dan setelah ia mengetahui bahwa Guru Suvarnadipa adalah guru yang menguasai Bodhicitta, ia berlayar ke Sriwijaya di Sumatera, dan bersimpuh di kaki guru ini untuk mendengarkan seluruh ajarannya.”

– Liberation in Our Hands

“Yang disebut virya-paramita adalah: tubuh, ucapan, pikiran yang senantiasa tiada berkeluh kesah, tidak enggan melakukan karma baik siang maupun malam. Yang dimaksud kebajikan yang dilakukan di siang hari adalah: menggambar, melakukan puja, mengajar, menulis tulisan pallawa, berpindapatra, membahas Dharma, membaca ajaran di dalam kitab suci, melakukan upacara pada stupa berisi arca Tathagata, mendoakan seluruh pekerjaan, serta mempersembahkan api homa. Demikianlah kebajikan yang dilakukan oleh tubuh, ucapan, dan pikiran di siang hari namanya.”

– Sang Hyang Kamahayanikan

“Di hadapan setiap Buddha di setiap alam Buddha, aku hadir dalam jumlah tak terhitung sebanyak butiran debu, menyampaikan penghormatan kepada semua Buddha sebanyak butiran debu jumlahnya. Sebagaimana luasnya angkasa tanpa batas, sebagaimana hamparan makhluk hidup, karma-karma makhluk hidup dan penderitaan makhluk hidup adalah tanpa akhir; demikian pula penghormatanku kepada semua Buddha adalah tanpa batas dan tanpa akhir. Tekadku akan terbangun dari waktu ke waktu, aku tidak pernah akan lelah dan tetap melakukannya dengan tubuh, ucapan, dan pikiranku di mana pun, kapan pun dan sampai pada masa apa pun.”

– Ikrar Agung Bodhisattva Samantabhadra

          DHARMAYATRA adalah kegiatan mengunjungi tempat-tempat suci Buddhis yang berupa vihara-vihara kuno seperti: Vihara Candi Plaosan dan Abhayagiri di Jawa Tengah, Vihara Jokang dan Samye di Tibet; Vihara Nalanda dan Vihara Vikramashila di India; kemudian candi-candi seperti; berbagai candi di Jawa dan Sumatera, Candi Mahabodhi di India, Candi Buddhanatha di Nepal; lalu gua-gua seperti Gua Ajantha dan Indasala, keduanya di india, gua Marantika di Nepal dan berbagai gua di Tibet; lalu gunung seperti Gunung Penanggungan dan Gunung Semeru di Jawa, Gunung Kailasha, Gunung Grijakutha, Gunung Sriparwata di India, Gunung Wu Thai San dan Phu Thou San di RRC, kemudian telaga, seperti Telaga Jambhala dan Telaga Ranukumbolo di Jawa, Telaga Manasaroruwa di Himalaya dan berbagai telaga di Nepal serta Tibet.
          Tempat-tempat tersebut menjadi tujuan berziarah dikarenakan selama beratus-ratus tahun atau bahkan lebih menjadi tempat para praktisi mencapai realisasi tinggi, dan juga menjadi tempat di mana seorang Buddha atau Bodhisattva pernah menampakkan dirinya.
          Meskipun di tempat tersebut sudah tidak ada lagi aktivitas sebagaimana pada zaman-nya, dikatakan bahwa pengaruh spiritual dari jejak para praktisi sempurna tak akan pernah terhapus oleh perubahan tempat maupun waktu.

Dharmayatra di Indonesia
          Sejak abad kelima hingga abad kelima belas di Jawa dan Sumatera telah berkembang berbagai kegiatan mengikuti ajaran Mahayana Tantrayana. Kerajaan-kerajaan dibangun di atas filosofi ajaran Sang Buddha. Masyarakat tumbuh berkembang berdasarkan tujuan upaya menimbun kebajikan dan kebijaksanaan. Pada kurun waktu tersebut telah banyak vihara dan tempat suci lainnya yang berkembang. Sehingga muncullah para praktisi yang juga mencapai realisasi kesempurnaan.
          Sekarang kita menemukan tempat-tempat tersebut dalam berbagai bentuk serta keadaan dari periode waktu yang berbeda-beda. Sebagian dalam wujud sebagai bangunan candi atau stupa, baik yang dibangun dari batu maupun batu bata. Sebagian lagi dalam bentuk telaga, gua, dan gunung. Hampir semua candi berada dalam keadaan tidak utuh lagi. Namun demikian pengaruh kesempurnaan para praktisi tak akan pernah pergi atau berkurang dari sebelumnya.
          Yang berupa candi dan stupa antara lain yang di sekitar Jogja: Candi Mendut, Candi Borobudur, Candi Plaosan, Candi Sewu, Candi Kalasan, Candi Banyuniba, Candi Ngawen, dan lain-lain. Yang di Jawa Timur berupa stupa: Candi Sumberawan di Singasari, Malang, Candi Jabung di Probolingga. Yang berupa bangunan candi: Candi Jago di Tumpang, Malang. Di Sumatera; Candi Muara Jambi di Jambi, Candi Muara Takus di Riau, Candi Portibi di Tapanuli Selatan.
          Sedangkan tempat-tempat suci dalam bentuk lainnya adalah; Gunung Penanggungan di Pasuruan, Gunung Semeru, dan juga Gunung Bromo; Telaga Ranukumbolo di Gunung Semeru dan telaga Jambhala.

Manfaat dari berdharmayatra
          Dharmayatra membawa manfaat yang berbeda-beda bergantung dari banyak faktor, diantaranya; kesungguhan yang melaksanakannya, tempat yang dikunjunginya, dan juga maksud dari kunjungannnya.
          Bila Dharmayatra dilakukan dengan didasari oleh pengertian serta motivasi yang benar dan baik menurut sutra maupun sastra, misalnya dengan melaksanakan puja di tempat yang dituju, bernamaskara dan melafalkan doa-doa serta bermeditasi, maka orang yang melaksanakannya akan memperoleh hasilnya.
          Manfaat berdasarkan tempat misalnya, bila orang ingin merealisasikan kebijaksanaan Buddha Manjushri, maka orang-orang baik dari India maupun Tibet sejak seribu tahun yang lalu hingga hari ini pergi mengunjungi Gunung Wu Thai San di RRC atau Candi Sewu di Jawa. Bila orang ingin memperoleh pertolongan atau realisasi Dewi Tara, orang lalu pergi ke Candi Kalasan. Bila orang ingin mengembangkan belas kasih Buddha Avalokitesvhara orang pergi ke Gunung Phu Thou San di RRC atau ke tempat di mana praktisi Bodhicitta pernah berdiam, misalnya bila di Indonesia di tempat bekas Guru Dharmakirti di Sumatera. Orang yang ingin pergi ke surga setelah kematiannya maka mereka pergi mengunjungi Telaga Manasaroruwa di Gunung Himalaya atau Ranukumbolo di Gunung Semeru. Orang pergi ke Gunung Kailasha untuk berdharmayatra pada tempat suci Buddha Heruka. Terdapat berbagai tempat suci yang demikian baik di India, Tibet, China maupun Indonesia. Tempat-tempat seperti ini secara terus menerus memancarkan pengaruh spiritual terhadap yang mengunjunginya.
          Sedangkan manfaat Dharmayatra berdasarkan maksud dari orang yang melakukan-nya bersifat umum. Misalnya, di Tibet hingga saat ini seorang gadis belum akan menikah sebelum mengunjungi satu atau lebih tempat-tempat suci, sebagai bentuk akan diperolehnya cukup berkah untuk melahirkan anak-anak yang baik serta kekuatan mental memasuki kehidupan rumah tangga dan juga kemampuan untuk terus menjalankan kebajikan Dharma.
          Banyak dari para praktisi yang secara berulangkali mengunjungi tempat suci yang berhubungan dengan Yidamnya. Seperti praktisi Manjushri pergi ke gunung Wu Thai San atau ke Candi Sewu. Perjalanan seperti ini dimasa lampau membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
          Orang yang melaksanakan Dharmayatra adalah orang yang melaksanakan ibadah. Dengan demikian terdapat penimbunan kebajikan, meningkatnya sradha pada Triratna, dan utamanya membuka kemungkinan mendapatkan berkah dari Istadevata.
          Di tempat-tempat suci, terutama Candi Buddhis di Jawa tengah selain menjadi tempat bersemayamnya Buddha atau Bodhisattva, tempat tersebut juga didiami oleh para dewa yang baik serta makhluk-makhluk baik lainnya. Tempat tersebut juga penuh dengan tanda-tanda keberuntungan, seperti relief para Buddha dan Bodhisattva, pohon pengabul harapan, dewa-dewa, gandharwa, kinara, dan sebagainya. Lambang-lambang tersebut keseluruhannya seolah-olah merupakan gambaran hal apa yang akan dapat diraih oleh setiap peziarah yang datang mengunjungi tempat tersebut.

Apa yang dilakukan pada saat Dharmayatra
          Di Gunung Kailasha orang mengitari bukit yang menjadi singasana Buddha Heruka, yang sekali putaran membutuhkan waktu hingga tiga bulan. Di telaga Manasaroruwa orang melaksanakan puja kepada para Dewa dan Naga. Di Gunung Wu Thai San orang melakukan sembahyang atau puja pada Buddha Manjushri.
          Dalam tradisi mengunjungi candi Buddhis, orang melakukan berbagai persembahan, doa-doa, dan juga pradaksina serta meditasi. Kegiatan yang demikian dapat dilangsungkan selama berhari-hari.

Kapan sebaiknya Dharmayatra dilaksanakan
          Tentang kapan Dharmayatra hendaknya dilaksanakan, terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Yang pertama adalah kecakapan dalam melakukannya. Jadi sebelum melaksanakan Dharmayatra sebaiknya lebih dulu mengetahui cara-cara berdharmayatra yang baik.
          Lalu pertimbangan fisik serta mental bila lokasi tujuannya berada di tempat yang jauh atau di tempat yang sulit seperti tempat suci yang berada di atas gunung misalnya. Perjalanan yang demikian membutuhkan keteguhan hati dan kebulatan tekad serta fisik yang kuat. Misalnya kunjungan ke telaga Ranukumbolo, Manasaroruwa, Gunung Kailasha, Gunung Phu Thou San, Gunung Wu Thai San dan Gunung Penanggungan. Ini juga persiapan dana bila tujuannya berada di India, Tibet, atau di RRC.
          Tentang waktu yang tepat, pada umumnya semua tempat suci Buddhis dapat dikunjungi di segala waktu, namun demikian saat-saat istimewa seperti pada tanggal 15 atau 1 lunar merupakan saat yang paling baik. Sedangkan pada umumnya tahun baru dan hari-hari penting terkait dengan Buddha atau Bodhisattva yang bersingasana di tempat tersebut juga sangat bagus.

Boleh dan tidak boleh dalam Dharmayatra
          Mengingat bahwa tujuan pokok Dharmayatra adalah ibadah, maka ada beberapa pantangan yang harus diperhatikan:
1. Tidak mencela atau mengeluhkan kesulitan yang terjadi
2. Tidak berpikiran jahat atau murung
3. Tidak merendahkan atau bersaing satu sama lain
4. Bersikap dan berbicara yang tidak sopan

          Sedangkan yang dianjurkan adalah sebaliknya:
1. Bisa menghadapi segala yang terjadi dengan sabar
2. Menghormati semua objek yang disucikan
3. Berhati riang dan berwajah gembira
4. Banyak berdoa dan melafal
5. Mendahulukan orang lain

Dharmayatra bersama Bhumisambhara
          Bhumisambhara setiap tahun mengadakan kegiatan Dharmayatra didasari oleh beberapa tujuan; Pertama bagi para praktisi sebagai wahana purifikasi dan penghimpunan kebajikan dan kebijaksanaan dalam upaya mencapai realisasi.
          Kedua untuk memperkenalkan kembali tradisi mengunjungi tempat-tempat suci Buddhis bagi umat Buddha. Dilaksanakan dalam suasana liburan, sehingga sekaligus sebagai sarana berlibur meningkatkan edukasi diri serta keluarga pada khazanah agama Buddha. Usul, saran atau reservasi dapat disampaikan kepada panitia. 

 

Sutasoma meneruskan perjalanannya dan setelah 7 hari Gunung Meru mulai kelihatan. Dalam perjalanan ia melewati kediaman pertapa Buddha bernama Sumitra. Meskipun Sumitra dan pertapa saleh lainnya membujuk agar ia memenuhi kewajibannya sebagai putra raja, Sutasoma tetap pada keputusannya. 

Indra mengutus sejumlah bidadari yang dipimpin oleh Sukirana dan Tilottama, ke pertapaan Sutasoma di puncak gunung Meru untuk menggodanya dengan segala macam rayuan yang dapat mereka pikirkan. Tetapi sia-sia belaka.

Indra sendiri lalu menjelma sebagai seorang dewi yang cantik sekali, tetapi rayuan dan godaannya tidak dapat menggoncangkan sang pangeran yang rupanya bagaikan “sebuah gunung kristal yang kena hujan”.

Ketika si penggoda akan mencium kakinya, Sutasoma lenyap, sejenak masuk ke dalam kehampaan, dan tampil kembali sebagai Hyang Buddha Vairocana, bersemayam di atas bunga padma manikam, diiringi para Bhatara Jina dan dewa. Indra pun melepaskan samarannya dan mengikuti mereka ketika mereka menyembah Hyang Buddha Vairocana sebagai makhluk utama dan tertinggi.                                                                                                            – Bodhakawya Sutasoma

Pradaksina mengitari stupa

“Dengan menutup matanya, bermeditasi pada Buddha atau Bodhisattva, selanjutnya ia melafalkan mantra seratus suku kata 8000 kali, begitu ia memusatkan perhatiannya pada Buddha dan Bodhisattva, dosa-dosanya telah dimurnikan; atau ia dapat juga melakukan pradaksina dari kiri ke kanan pada stupa candi, dengan mengulanginya sebanyak 8000 kali, kemudian meletakkan salah satu kitab suci di hadapan arca di dalam candi itu. Demikian cara melakukannya.”

-Trisamayaraja Sutra

Menghormati stupa dengan melakukan pradaksina akan memberikan sembilan manfaat: 

  1. Engkau akan memiliki suara yang merdu dan kata-katamu diyakini
  2. Engkau akan menarik pengikut
  3. Disukai para dewa dan manusia
  4. Memiliki kekuasaan yang besar
  5. Berjumpa dengan orang-orang dengan kekuasaan yang besar
  6. Berjumpa dengan Sang Buddha serta para pengiringnya
  7. Engkau akan kaya raya
  8. Terlahir di alam mulia
  9. Engkau akan segera mencapai moksa.

-Mahakarmavibangga Sutra

Bernamaskara akan membawa kebajikan yang seribu kali lebih besar dari kebajikan yang dapat membawamu terlahir sebagai seorang Cakravarti (Raja Dunia), tidak hanya sekali, tetapi sebanyak atom di dalam tanah yang tertutup oleh tubuhmu saat bernamaskara.

-Mahakarmavibangga Sutra