Budha

Untuk membuka kesempatan bagi mereka yang ingin mendalami ajaran Mahayana, Bhumisambhara mengadakan program belajar Mahayana secara menyeluruh serta sistematis bagi mereka yang ingin menjadi praktisi Mahayana seutuhnya dengan nuansa keindonesiaan. Program belajar ini akan memberikan pengetahuan dasar dan kecakapan yang memadai untuk mempraktikkan Mahayana.

Semua siswa akan dibimbing serta dituntun untuk dapat merealisasikan Dharma dalam berbagai tingkatan sesuai dengan kapasitas masing-masing pribadi. Bhumisambhara sebagai arus spiritual hidup Guru murid, mengarahkan setiap pribadi untuk berfokus pada upaya pengembangan kebajikan dan kebijaksanaan melalui seluruh kegiatan pengajaran maupun yang lainnya; mengabaikan hal-hal lain seperti atribut lahiriah, latar belakang sosial maupun organisasi.

Program ini dibagi dalam dua kategori, yaitu ‘Program belajar bagi praktisi pemula’ dan ‘Program belajar bagi praktisi lanjutan’ dengan kegiatan mencakup penjelasan ajaran, retret, meditasi, dan ritual puja. Program ini dapat diikuti di daerah-daerah; Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Lombok, Lampung, Palembang, dan Jambi, serta daerah-daerah lain yang memungkinkan.

PENDAFTARAN PROGRAM BELAJAR

Untuk mendaftar, silahkan hubungi kami. Bagi yang telah mendaftar, mohon untuk menunggu pemberitaan selanjutnya dari kami.

DHARMA BAGI PEMULA

1. Karma-vibhangga-nama
2. Lalitavistara-sutra
3. Saranagachami-desa
4. Pratityasamudpada-sutra
5. Sisyalekha
6. Meditasi
7. Tara Tantra

DHARMA BAGI PRAKTISI

1. Bodhipathapradipah
2. Krama-marga (Lamrim)
3. Bodhicaryavatara
4. Jatakamala
5. Divyadanakalpalata
6. Gandavyuhasutra
7. Meditasi Bhumisambhara

DHARMA BAGI YOGI PANDITA

1. Bodhisattvabhumi
2. Siksasamuchaya 
3. Avatamsaka-sutra
4. Jataka
5. Tantra

Untuk sementara ini Program Belajar Mahayana ditiadakan. Kelak akan kami informasikan bila program belajar dibuka kembali. Terimakasih.

Bagi semua lapisan siswa, semoga terdapat banyak Bodhisattva, berdiam di setiap daratan, menghiasinya dengan kemuliaannya.

Bodhicaryavatara

Orang yang dungu menderita pada saat kematian. Ia berkata, “Praktikku buruk sekali. Sekarang apa yang sudah kulakukan?” Karena tidak menemukan apa-apa, ia akan menderita sekali. Demikianlah kesalahan bergembira hanya dalam kata-kata.

Kulit tebu tidak mengandung sari gula, sari gula yang manis hanya terdapat di dalam batangnya. Orang yang hanya mengunyah kulit tebu, tidak dapat mengetahui manisnya sari gula.

Kata-kata Dharma seperti kulit tebu, merenungkan kata-kata Dharma, itulah sari tebu. tinggalkan penggunaan kata-kata yang berlebihan, pertahankan dengan penuh perhatian dalam dhyana, yang bermanfaat.

Adhyasaya-samcodana-sutra

Walaupun berusaha keras, engkau tidak bisa bertahan. Apa gunanya gemetar dan ketakutan terhadap sesuatu yang tak dapat dihindari?

Demikianlah, bila engkau merenungkan sifat dunia, manusia dipenuhi penyesalan pada saat kematian karena mereka telah melakukan kejahatan dan lalai melakukan kebaikan. Mereka cemas akan penderitaan yang menanti di kehidupan berikutnya, dan rasa takut akan kematian menyelimuti batin mereka.

Sebaliknya, diriku tak dapat mengingat bahwa pernah melakukan perbuatan apa pun selain yang putih. Hal yang demikian sesungguhnya telah menyatu dengan sifatku. Barang siapa yang selalu berdiam dalam kebajikan, akankah merasa takut pada kematian?

Sebenarnya, bahkan setelah lama merenungkan, aku tak dapat mengingat bahwa pernah melangkah satu langkah pun dalam kejahatan, sekalipun hanya di angan-angan. Jalan menuju pencerahan terang bagiku; untuk apa aku harus takut mati?

Bodhisattva Sutasoma

‘Walaupun engkau mungkin memahami intisari kitab suci dengan mendengar, dan mungkin mengetahui inti dari samatha, Mendengar dan pengetahuanmu itu hanya sedikit artinya, bila engkau tetap berperilaku sembarangan.

Mereka yang menyukai ajaran yang diajarkan oleh para arya, dan bertindak dengan tubuh dan ucapan sesuai ajaran, yang memiliki kesabaran, membahagiakan sahabat-sahabatnya, dan terkendali – mereka akan mencapai kesempurnaan mendengar dan pengetahuan.”

Sloka-Sloka Tentang Mendengar