Sejarah Praktik Mahayana Bhumisambhara

Budha

Berbagai Praktik Mahayana Tantra Yang Pernah Berlangsung di Indonesia

Tarabhava-tantra, ini merupakan praktik tantra awal yang tersebar luas di Jawa, pusatnya di Candi Kalasan.

Buddha Vairochana, praktik ini merupakan bagian dari Yoga-tantra. Tersebar luas di Jawa dan Sumatera. Ini merupakan praktik Mahayana yang paling lama berlangsung di Indonesia. Dari zaman Syailendra hingga zaman akhir Majapahit. Candi Borobudur dan Gunung Semeru merupakan tempat suci dari Sang Buddha Vairochana. Satu set Mandalanya telah didapatkan di daerah Nganjuk Jawa Timur. Candi Sewu pada perkembangannya kemudian dikembangkan menjadi Vajradhatu Mandala.

Manjushri, praktik ini tersebar luas di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pusatnya di Candi Sewu. Arcanya yang indah juga ditemukan di Candi Jago dan Semarang.

Caturbhuja Avalokiteshvara, praktik ini berkembang luas di wilayah Sriwijaya. Arcanya ditemukan di berbagai tempat di Palembang. Sebuah tulisan kuno di Nepal menyebutkan bahwa arca Avalokiteshvara di Sriwijaya merupakan yang terindah di dunia.

Prajnaparamita, praktik ini tersebar di Jawa Timur dan Jambi. Candinya adalah Bajrajina Prajnaparamita-pura (kini Candi Jabung). Arcanya ditemukan di Singasari (termasyhur sebagai arca Ken Dedes) dan Candi Muara Jambi (tidak utuh lagi).

Amoghapasa Avalokiteshvara, praktik ini tersebar luas di Jawa pada zaman Singasari, berpusat di Candi Jago, di sini terdapat arcanya yang sangat besar. Di Sumatera pada zaman Raja Melayu Jambi Maulivarmadewa, arcanya sangat besar (sekarang di museum nasional). Di Bali dari zaman yang sama, arcanya yang besar kini berada di Pura Durgakutri, Negara.

Buddha Akshobhya, tersebar di Jawa Timur pada zaman Singasari. Arcanya dijumpai di Trawas Mojokerto dan Simpang Surabaya. Dahulu juga terdapat di puncak Candi Jawi di Pandaan Malang.

Ganaphati, praktik ini tersebar di Jawa Timur dan Sriwijaya. Arcanya yang besar ditemukan di Karang Kates Malang. Guru Atisha membawa praktik ini ke India dan Tibet.

Jambhala, praktik ini tersebar luas di Jawa. Arcanya yang besar dapat ditemukan di Candi Plaosan serta berbagai candi lainnya. Negarakrtagama menginformasikan adanya sebuah telaga yang bernama telaga Jambhala, tempat berziarah kepada Jambhala.

Achala, praktik ini tersebar di Jawa dan Sumatera. Di Majapahit terdapat sebuah tempat dan Guru Atisha membawanya dari Sumatera ke Tibet.

Vajrabhairava-tantra, praktik ini tersebar luas di Jawa pada zaman Singasari – Majapahit dan Sumatera pada zaman Sriwijaya dan Minangkabau. Berbagai lontar menyebut mengenai praktik Vajrabhairava. Arcanya yang sangat besar ditemukan di Sumatera (kini museum nasional).

Kalachakra-tantra, praktik ini berkembang di Sumatera pada zaman Sriwijaya. Bahkan sebuah sumber menyebutkan bahwa salah satu asal penyebarannya di India berasal dari Suvarnadvipa. Di Jawa tersebar sejak zaman Raja Airlangga, Kediri. Beberapa sumber informasi yang terputus-putus menyebutkan hal itu.


Seorang Buddha telah datang
Sangha telah berkembang
dengan luas, dan kita telah terlahir sebagai manusia,
Sungguh kesempatan yang langka,
Setelah menemukan Guru, jangan biarkan hal ini menjadi sia-sia.

Mahayanapatha-sadhana-varna-samgraha.

Mereka hanyut oleh empat arus sungai yang mengalir deras.
Terbelenggu kuat oleh karma masa lalu, begitu sulit untuk dilepaskan.
Terkurung dalam sangkar baja keakuan. Diliputi oleh gelapnya ketidaktahuan

Mereka terlahir berulang kali tanpa henti. Dan dalam kelahirannya itu mereka senantiasa tersiksa oleh ketiga macam duka.
Renungkanlah apa yang ibumu rasakan.
Renungkanlah apa yang terjadi. Kembangkanlah kehendak terbaik ini pada mereka

Buku: Three Principles of the Path

Bayi dalam pelukan ibunya tidak dapat berbuat apa pun dan hanya meminum air susu yang mengalir karena kasih sayang. Kasih sayang yang sama menyebabkan ibu mengalami berbagai kesulitan. Bahkan di antara orang yang paling hina sekalipun, siapakah yang akan mengabaikan ibunya?

Bahkan di antara orang yang paling hina sekalipun, siapakah yang akan meninggalkan dan mengabaikan mereka yang telah menyediakan rumah baginya,
Yang telah merawatnya dengan belas kasih, yang tersiksa, tanpa perlindungan, dan menderita?

Engkau melihat keluargamu timbul tenggelam dalam samudra samsara, dan seolah-olah jatuh ke dalam kawah berapi.
Tidak ada yang lebih memalukan bila engkau berusaha demi pembebasan dirimu sendiri,
Mengabaikan mereka yang tidak engkau kenali karena proses kelahiran dan kematian.

Guru Chandragomin (Sisyalekhah 

Jauh di Masa Lampau
Jauh pada kalpa yang tak terhingga di masa lampau, Sang Buddha Aryamegha-syailendra-sarvakusale muncul secara spontan di atas bunga teratai besar di samudra Vajragandhasagara. Kemunculan Sang Buddha yang didahului oleh berbagai peristiwa keajaiban, mengundang semua raja dan semua manusia datang untuk melihat Sang Buddha yang tengah mencapai Kebuddhaan Sempurna di atas bunga teratai besar dan memberikan penghormatan serta berbagai persembahan.

Di antara para raja yang datang, terdapat seorang Putra Mahkota yang kemudian juga menjadi raja bernama Prabha Mahabhala. Dengan timbunan kebajikan serta kebijaksanaan yang telah dimilikinya dari kehidupan-kehidupannya yang lampau, Sang Pangeran dengan cepat mencapai berbagai realisasi Kebodhisattvaan. Kepadanyalah Sang Buddha lalu memberikan ajaran praktik jalan agung Mahayana.

Bagus sekali, Cahaya Menakjubkan
Berkahku, diketahui secara luas
Demi kebajikan semua makhluk
Dirimu telah berada di jalan Pencerahan.

Dirimu telah mencapai sinar pengetahuan
Memenuhi jagat raya;
Kebijaksanaan serta kebajikanmu keduanya sungguh besar
Engkau sudah pasti akan mencapai dasar samudra pengetahuan.

Membangkitkan praktik di bumi
Selama masa berkalpa-kalpa sebanyak atom;
Sebagaimana yang kau lihat kulakukan
Demikianlah dirimu akan mencapai pengetahuan yang demikian.

Bukanlah mereka yang menjadi landasan perbuatan
Yang dapat mengetahui cara-cara itu;
Hanya dengan tekad untuk menjalani
Orang akan dapat menyucikan samudra dunia.

Di setiap butir atom
Bangkitkan selama berkalpa-kalpa yang tiada terbilang,
Hanya orang yang seperti demikianlah yang sanggup
Menghiasi alam para Buddha.

Melewatkan kalpa-kalpa dalam kelahiran yang berulang-ulang
Demi kebajikan semua makhluk
Tanpa kebimbangan batin
Ia kemudian akan menjadi penuntun bagi dunia.

Persembahan yang ditujukan kepada setiap Buddha
Hingga akhir masa,
Tak merasa jemu karenanya
Orang akan mencapai jalan tertinggi.

Semua Buddha dari ketiga masa
Akan bersama-sama mengabulkan harapanmu;
Dirimu akan menghadiri secara pribadi
Persamuan semua Buddha.

Tak terbatas adalah pranidhana
Dari para Buddha;
Mereka yang memiliki pengetahuan agung
Akan dapat memahami kehendaknya.

Cahaya Agung, engkau telah memberiku persembahan
Sehingga kemudian mencapai kekuatan agung,
Menyebabkan makhluk hidup sebanyak atom
Matang serta berpaling pada pencerahan.

Seorang Maha Bodhisattva
Yang membangkitkan praktik Samanthabhadra.
Menghiasi samudra alam para Buddha
Di seluruh jagat raya.

Dengan demikian ajaran jalan agung Mahayana telah diturunkan dari Sang Buddha Aryamegha-syailendra-sarvakusale kepada Bodhisattva Prabha Mahabhala

Masa Sang Buddha Sakyamuni
Setelah melewati kurun masa yang tak terbilang, dan berubahnya alam kehidupan manusia, ajaran agung Mahayana tersebut tiada diketahui lagi oleh manusia maupun para dewata. Hingga kemudian munculnya Bodhisattva Sarvartasiddha yang mencapai Samyaksambodhi di Bodhimanda, di Gaya, Jambhudvipa ajaran tersebut kembali terungkap kembali.

Ketika itu Sang Buddha baru saja mencapai Kebuddhaan, di negeri Magadha, di hadapan tak terhitung para Bodhisattva dari alam-alam para Buddha di sepuluh penjuru yang berkumpul mengelilingi Sang Buddha. Semua Bodhisattva tersebut di masa lampau telah menimbun akan kebajikan di bawah bimbingan Sang Buddha Vairochana, sehingga mereka terlahir dari samudra akar kebajikan Kebuddhaan.

Dalam kesempatan tersebut, Bodhisattva Samantabhadra yang telah memperoleh berkah dari  Sang Buddha, berbicara kepada para Bodhisattva yang hadir, mengungkapkan jalan agung Mahayana yang diajarkan Sang Buddha Aryamegha-syailendra-sarvakusale kepada Bodhisattva Prabha Mahabhala.

“Kemudian Bodhisattva Prabha Mahabhala, dengan kekuatan dari Sang Buddha, mengucapkan sloka-sloka demikian:

Aku telah mendengar ajaran Sang Buddha yang menakjubkan
Dan mencapai sinar pengetahuan
Di mana-mana aku melihat Sang Sugata,
Perbuatan di masa lampau.

Seluruh tempat ia dilahirkan,
Bermacam-macam nama serta wujud fisiknya
Dan persembahannya kepada para Buddha;
Semua ini aku melihatnya.

Di masa lampau ia telah melayani
Semua para Buddha
Menjalankan praktik selama berkalpa-kalpa yang tiada terhitung
Menyucikan samudra dunia.

…………………………………..

Atas kekuatan pranidhana Samanthabhadra,
Di seluruh samudra alam para Buddha
Ia membangkitkan berbagai praktik yang tak terhitung
Memurnikan samudra dunia.

Sebagaimana karena sinar matahari
Kita dapat menatap bulatan surya
Berkat cahaya pengetahuan Sang Buddha aku dapat melihat
Jalan-jalan yang ditempuh oleh Buddha.

Aku menyaksikan cahaya suci yang maha luas
Dari Sang Buddha, Sang Samudra Dunia,
Dengan tenang mencapai pencerahan
Menerangi seluruh jagat raya.

Aku berkehendak, seperti halnya Sang Sugata
Menyucikan samudra dunia
Melalui kekuatan gaib Sang Buddha
Melaksanakan jalan menuju pencerahan.”

Sejak saat itu, ajaran ini telah membawa tak terbilang siswa Sang Buddha mencapai realisasi kebijaksanaan dan kebajikan yang besar, dalam dan luhur, dari generasi ke generasi selama berabad-abad lamanya.

Pada Masa Raja-Raja Syailendra
Kurang lebih 1200 tahun setelah parinirvana Sang Buddha, praktik Mahayana ini semakin surut di antara berbagai praktik jalan agung Mahayana lainnya. Dalam keluarga para raja Syailendra yang senantiasa menganut jalan agung Mahayana, terdapat seorang putra mahkota yang merupakan penjelmaan dari Bodhisattva Manjushri Kumarabhuta, bernama Sanggrama Dananjaya. Ia sangat menaruh minat yang besar pada ajaran Mahayana tersebut. Setelah menjadi raja, ia mewujudkan ajaran Bhumisambhara dengan maksud yang sama dengan Bodhisattva Prabha Mahabhala, tetapi dengan cara yang berbeda. Ia mendirikan candi Borobudur untuk memengaruhi dan menginspirasikan makhluk hidup agar bangkit kehendaknya menempuh jalan yang telah dilalui oleh semua Buddha, dan diteladankan oleh Bodhisattva Samantabhadra.

Jadi Raja Sanggrama Dananjaya adalah Bodhisattva yang mengungkap dan menggunakan teladan Bodhisattva Prabha Mahabhala, dengan menetapkan tekad bersama keluarga, rakyat serta semua makhluk yang telah matang, menempuh jalan menuju Kebuddhaan.

Pada Masa Sekarang
Buddhadharma yang dahulu juga tersebar ke Nusantara telah lama surut seiring dengan berubahnya akumulasi karma yang dimiliki oleh manusia yang lahir di wilayah ini. Bukan hanya ajaran jalan agung Mahayana pada umumnya yang menghilang, ajaran agung Bhumisambhara yang telah berlangsung kurang lebih 800 tahun lamanya juga hilang. Ajaran yang sangat berharga ini, tidak diajarkan dan tidak dipraktikkan oleh para penganut Mahayana yang terus berlangsung di pegunungan Himalaya dan di Cina. Sehingga tidak dapat dipelajari secara lengkap dari para Mahaguru Mahayana yang menempuh jalan melalui ajaran-ajaran Sang Buddha lainnya.

Apa yang merupakan punyasambhara dan prajnasambhara dari Sri Maharaja Sangrama Dananjaya Syailendra Wangsatilaka Viravairimantana, yaitu pendirian Candi Jinalaya ‘Bhumisambhara-buddhara’, tak dapat dimengerti dengan benar oleh  siapa pun. Terdapat berbagai spekulasi tentang maksud serta tujuan spiritual yang melatarbelakangi keberadaannya. Namun demikian gerbang jalan agung Mahayana Borobudur yang sesungguhnya belum dapat dibuka kembali.

Jalan spiritual Mahayana Bhumisambhara (Borobudur) saat ini dihidupkan kembali oleh Grihasthadhara Bapak Upashaka Pandita Sumatijnana. Setelah bertahun-tahun memusatkan perhatian dan ibadahnya di Candi Borobudur,  berulang kali melakukan puja, pradaksina serta melakukan riset ilmiah secara individu yang lama, juga adanya karmapala dari kehidupannya yang lampau, akhirnya beliau dapat memahami dan mengungkap kembali keseluruhan aspek ajaran serta maksud dari pendirian serta keberadaannya sebagaimana yang dimaksudkan oleh Sri Maharaja Sangrama Dananjaya.

Setelah menjadi rahasia selama beratus-ratus tahun, kini gerbang jalan agung Mahayana Borobudur telah terbuka kembali, dapat dimasuki oleh makhluk-makhluk yang telah memiliki kematangan karma, dan mereka-mereka yang menemukan kebenaran di dalamnya pada masa ini.

Kenyataan ini dengan demikian menyempurnakan doa pranidhana yang tertulis di dalam prasasti pendiriannya:

“Selama gunung berapi masih menyemburkan asap panasnya,
Selama bumi masih terikat (pohon) Bodhi,
Selama para dewa masih bersemayam di Gunung (Maha) Meru,
Dan selama sang surya masih bersinar menerangi angkasa,
Semoga candi ini senantiasa memancarkan kebajikan para Buddha.”

– Prasasti Kayumwungan, 824 M.

Meskipun keadaan hidup telah berubah, keadaan geografis Candi Borobudur juga telah berubah, sebagaimana jalan agung ini, yang telah mengalami adaptasi beberapa kali terkait dengan pengertian serta kemampuan dari makhluk hidup, sungguh bukan hal yang patut untuk diabaikan. Kemunculan para Guru yang memiliki kecakapan membuka mata kebijaksanaan dan menjaga kita dari menyia-nyiakan kesempatan meretas jalan menuju keagungan Kebuddhaan dalam hidup saat ini.

Semoga berkah para Buddha, Bodhisattva dan Guru parampara jalan agung Bhumisambhara terus tercurah sehingga melapangkan jalan Bhumisambhara yang akan memudahkan banyak makhluk hidup menggapai teladan para Bodhisattva Agung, menuju tercapainya keagungan Samyaksambodhi yang tiada tara.

Sarvamangalam! 

bunga

Saat ketika bodhicitta bangkit
pada mereka yang tak berdaya
dan lemah di dalam penjara
samsara, Ia akan dipanggil
sebagai Jinaputra.
Di dunia ini ia akan dipuja baik
oleh manusia maupun dewa.

Segala kebajikan yang lain
bagaikan pohon yang ditanam,
Setelah berbuah ia punah
begitu saja. Sebaliknya pohon
abadi bodhicitta tak akan
berhenti berbuah bahkan
terus berkembang

– Bodhicaryavatara      

Rinpoche
Yang Mulia Dagpo Rinpoche Losang Jampel Jampa Gyatso
Upashaka Pandita Sumatijnana, Guru dan pendiri tradisi spiritual Mahayana Bhumisambhara
Candi Borobudur
Candi Bhumisambhara

Para Bodhisattva di dunia ini muncul dalam berbagai rupa;
ayah ibu, pemuda pemudi, bhiksu, perumah tangga, seniman, tabib, pemimpin, guru, murid…

– Avatamsaka Sutra


Hingga dirimu dapat 
menaklukkan diri sendiri,
engkau tak akan dapat
membimbing yang lain;
karenanya pertama-tama
taklukkan dirimu sendiri.

Karena engkau tak akan
dapat mematangkan yang lain
tanpa kekuatan abhijnana,
berusahalah yang keras
untuk mencapai abhijnana.

– Acharya Dipamkara Shrijnana


Bila menginginkan saya menjadi Gurumu, jangan memandang kepribadian saya sebagai Guru, karena setiap kepribadian manusia pastilah memiliki kekurangan. Selama kita masih melihat kekurangan pada orang lain, kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar darinya.

Ingatlah selalu bahwa setiap makhluk membawa Tathagatagarbha (benih Buddha) dalam dirinya. Namun selama kita masih melihat kesalahan pada orang lain, kita akan menghalangi diri kita dari menemukan kecemerlangan, yang dalam berbagai tingkatan memancar
dari sesama manusia.

– Tomo Geshe Rinpoche


Mempersembahkan tiga ratus mangkuk makanan,
Bahkan tiga kali dalam sehari,
Tidak sebanding dengan kebajikan yang diperoleh dari mengembangkan kasih sayang dalam sekejap.

Meskipun engkau tidak terbebaskan dari samsara melalui kasih sayang,
Engkau akan memperoleh delapan kebajikannya.
Para dewa dan manusia akan menyayangimu.
Mereka juga akan melindungimu.

Engkau akan memperoleh kebahagiaan dan banyak kenyamanan fisik;
Racun dan senjata tidak akan membahayakanmu.
Engkau akan mencapai tujuanmu tanpa bersusah payah, dan akan terlahir di alam Brahma

– Guru Nagarjuna (Ratnavali)


Lebih jauh lagi, seperti menaburkan garam pada luka mereka, yang telah dikuasai oleh kegilaan kleshanya,
Aku menciptakan penderitaan bagi mereka yang telah sakit dan menderita.

Sekarang, selain nirvana, 
adakah hal lainnya yang dapat membalas kebaikan mereka,
yang dalam berbagai kehidupan telah menolong dan melayaniku dengan kasih sayang?

Madhyamaka-hrdaya 


Ini bukanlah caraku, membebaskan diri sendiri sementara mengabaikan
makhluk-makhluk ini,
Yang ketidaktahuannya telah menghancurkan kecerdasannya.
Yang merupakan ayah dan anak-anakku, yang telah melayani dan menolongku dengan penuh kasih sayang. Merenungkan hal ini, aku berdoa, semoga aku dapat membebaskan makhluk-makhluk yang tanpa perlindungan ini.

– Gunaparyatra Stotra