Jika seluruh kebajikan dari menyatakan berlindung
berwujud dalam bentuk yang dapat dilihat dan seluruh semesta raya diisi olehnya,
Semesta tak akan cukup untuk menampungnya.
– Sutra
Bagi mereka yang telah berlindung pada Sang Buddha, dialah seorang upashaka yang sesungguhnya;
Ia tidak mencari perlindungan pada dewa dewi lain manapun.
Bagi mereka yang telah berlindung pada Dharma suci, harus tidak menyakiti makhluk lain.
Bagi mereka yang telah berlindung pada Arya Sangha harus menjauhi Tirthika (Guru non Buddhis)
Sumber kesucian yang berlimpah- limpah adalah ajaran dan praktik. Inilah kekayaan yang harus dicari. Meski demikian sila harus senantiasa menjadi dasar.
Jika sila merosot, tujuan latihanmu menjadi hancur. Akibat yang pasti
adalah penyesalan!
Agar terhindar dari hal ini buanglah keangkuhanmu dan ingatlah ajaran-ajaran Gurumu.
– Guru Atisha
Sebagaimana orang buta
tak dapat melihat rupa,
orang yang tidak
melatih sila tidak dapat
mencapai pembebasan
Tanpa sila engkau tidak dapat membuat kebajikan bagi
dirimu sendiri, sehingga menginginkan kebajikan bagi orang lain sungguh sesuatu yang menggelikan
Karena itu dengan bebas
dari tujuan duniawi
Jagalah silamu
Inilah praktik Bodhisattva.
– 37 Praktik Bodhisattva
Menjadi Siswa Buddha
Untuk menjadi siswa Sang Buddha, atau dengan kata lain menjadi seorang Buddhis, seseorang pertama-tama harus berlindung kepada Sang Triratna (Buddha, Dharma, dan Sangha). Hal ini dilakukan dengan mengucapkan Trisarana:
Aku berlindung kepada Buddha.
Aku berlindung kepada Dharma.
Aku berlindung kepada Sangha.
Untuk kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha.
Untuk kedua kalinya aku berlindung kepada Dharma.
Untuk kedua kalinya aku berlindung kepada Sangha.
Untuk ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha.
Untuk ketiga kalinya aku berlindung kepada Dharma.
Untuk ketiga kalinya aku berlindung kepada Sangha.
Apabila kita menghendaki perlindungan kita bersifat Mahayana, setelah mengucapkan Trisarana, kita melanjutkan dengan mengucapkan:
Kepada Buddha, Dharma dan Sangha yang mulia
Aku berlindung hingga aku mencapai Penerangan.
Melalui kebajikan danaparamita
Serta paramita lainnya yang saya lakukan,
Semoga saya mencapai Kebuddhaan
Bagi kebahagiaan semua makhluk. (3x)
Trisarana ini untuk pertama kalinya harus diambil atau diucapkan di hadapan seorang bhiksu atau seorang guru – utamanya bhiksu atau guru yang tekun menjaga perlindungannya pada Sang Triratna. Setelah itu ia dapat mengambilnya sendiri di hadapan altar Sang Buddha.
Sebab-sebab Perlindungan
Sesungguhnya, berlindung pada Sang Triratna merupakan sesuatu yang bersifat mental. Apabila kita telah menerapkan pola pikir tertentu yang terkait dengan kriteria berlindung sebelum kita mengucapkan Trisarana, maka barulah kita dapat mengatakan bahwa kita telah berlindung. Janganlah mengartikan berlindung hanya sebagai mengucapkan atau melafalkan serangkaian kata-kata tertentu; hal yang demikian tidaklah membuat kita benar-benar berlindung.
Pola pikir yang terkait dengan kriteria berlindung tersebut dikenal sebagai sebab-sebab perlindungan. Ada tiga macam sebab perlindungan:
- Rasa takut terhadap penderitaan samsara biasa – yaitu penderitaan lahir, sakit, tua, dan mati – dan penderitaan samsara khusus: penderitaan terlahir di alam neraka, alam preta, dan alam binatang.
- Keyakinan bahwa Sang Triratna mampu membebaskan kita dari semua penderitaan yang kita takutkan tersebut.
- Rasa belas kasih, di mana kita merasa tidak sanggup melihat penderitaan yang dialami semua makhluk yang lain dalam samsara, dan kita ingin membebaskan mereka dari semua penderitaan tersebut. Hal ini baru dapat terlaksana apabila kita menjadi seorang Buddha. Dengan tujuan inilah kita berlindung kepada Sang Triratna.
Sebab perlindungan yang pertama dan kedua harus dibangkitkan dalam diri seseorang agar perlindungannya benar-benar terjadi. Namun demikian, ia perlu membangkitkan sebab yang ketiga agar perlindungannya bersifat Mahayana.
Berikut ini adalah renungan yang dapat digunakan untuk membangkitkan ketiga sebab perlindungan di atas sebelum seseorang melafalkan Trisarana:
Diri saya, dan semua makhluk, ibu-ibu saya, sejak waktu yang tak diketahui hingga saat ini, terus-menerus terbelenggu oleh berbagai penderitaan samsara biasa dan penderitaan samsara khusus dari ketiga bentuk kehidupan yang tidak menguntungkan. Meskipun demikian sungguh sulit untuk menyadari dalam dan luasnya penderitaan samsara.
Tetapi saat ini saya telah memperoleh kelahiran dalam bentuk manusia yang sangat berharga, memiliki kebebasan, terberkati, yang sulit diperoleh dan sangat berarti setelah didapatkan. Dan saya juga telah bertemu dengan ajaran Sang Buddha yang sulit untuk ditemukan. Apabila saya tidak dapat mencapai kebebasan tertinggi, terbebas dari segala penderitaan samsara, sempurna mencapai Samyaksambodhi, saya akan kembali mengalami berbagai penderitaan samsara, penderitaan biasa dan penderitaan samsara khusus dari ketiga bentuk kehidupan di alam rendah.
Sebagaimana yang saya lihat, di hadapan saya terdapat Guru serta Sang Triratna yang dapat melindungi saya dari penderitaan ini. Saya akan mencapai Samyaksambodhi demi kebahagiaan semua makhluk, ibu-ibu saya, untuk itu saya berlindung kepada Guru dan Sang Triratna.
Kebajikan Berlindung
Kebajikan yang diperoleh seseorang dari berlindung sungguh tak terhingga banyaknya. Namun demikian, secara umum ada delapan manfaat yang utama:
- Kita menjadi siswa Sang Buddha.
- Landasan untuk mengambil semua sila telah ditetapkan.
- Kumpulan karma-karma buruk dari masa lalu dapat dimurnikan.
- Pengumpulan kebajikan yang banyak dapat dengan mudah dilakukan.
- Baik manusia maupun makhluk lain tak akan dapat menyakiti kita
- Kita tidak akan jatuh ke dalam kelahiran yang rendah.
- Semua tujuan kita akan dapat tercapai sebagaimana yang kita inginkan.
- Kita akan dengan segera mencapai Kebuddhaan.
Ikrar Perlindungan
Setelah seseorang berlindung kepada Sang Triratna, ia perlu melaksanakan kedua belas ikrar perlindungan untuk menjaga keutuhan perlindungannya. Bila seseorang melaksanakan kedua belas ikrar ini, ia tidak akan terpisahkan dari Sang Triratna baik dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupannya yang mendatang. Kedua belas ikrar perlindungan tersebut antara lain:
- Tidak berlindung kepada Guru yang bertentangan dengan Buddha Dharma, atau kepada dewa-dewa samsara
- Menganggap pratima (lukisan atau arca) Sang Buddha sebagai Sang Buddha yang sesungguhnya.
- Tidak menyakiti makhluk lain.
- Menganggap semua kitab suci sebagai permata Dharma yang sesungguhnya.
- Tidak membiarkan diri sendiri dipengaruhi oleh mereka yang menentang ajaran Sang Buddha.
- Menganggap setiap orang yang mengenakan jubah sebagai permata Sangha.
- Menyatakan berlindung kepada Sang Triratna secara berulang-ulang sambil merenungkan kemuliaannya masing-masing.
- Mempersembahkan bagian pertama dari apa pun yang kita makan atau minum kepada Sang Triratna, merenungkan kebajikan mereka.
- Dengan maitri, selalu menganjurkan orang lain untuk berlindung.
- Merenungkan kebajikan dari berlindung, menyatakan berlindung paling sedikit 3X di siang hari dan 3X di malam hari.
- Melakukan perbuatan apa pun disertai dengan keyakinan penuh kepada Sang Triratna.
- Tidak akan meninggalkan Sang Triratna meskipun harus mengorbankan hidup kita, ataupun sebagai gurauan.
Upashaka dan Upashika
Siswa-siswa Sang Buddha yang hidup berumah tangga disebut upashaka, dan yang wanita disebut upashika. Keduanya menjadikan kelima sila (panca-sila) sebagai tuntunan dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Kelima sila tersebut adalah:
- Saya berjanji tidak akan membunuh
- Saya berjanji tidak akan mencuri
- Saya berjanji tidak akan berbuat asusila
- Saya berjanji tidak akan berbicara bohong
- Saya berjanji akan sepenuhnya menjauhi makanan atau minuman keras yang menyebabkan lemahnya kesadaran.
Untuk menjalankannya, seseorang pertama-tama perlu mengambil kelima sila tersebut dari seorang bhiksu atau seorang Guru yang memiliki dan menjaga kemurnian kelima sila tersebut. Kelima sila ini berlaku seumur hidup. Namun, apabila seseorang merasa belum mampu untuk menjalankan keseluruhan dari kelima sila tersebut, ia dapat menjalankan sebagian dari kelima sila tersebut – setidak-tidaknya salah satu dari kelima sila tersebut. Seseorang harus jujur pada kemampuan dirinya sendiri dan hanya mengangkat sila yang sanggup dijalankannya.
Pada hari-hari upasotha (hari-hari suci Buddhis), yaitu pada tanggal 1, 8, 14, 15, dan 23 penanggalan lunar, seorang upashaka dianjurkan untuk menjalankan delapan sila (attha-sila):
- Saya berjanji tidak akan membunuh
- Saya berjanji tidak akan mencuri
- Saya berjanji tidak akan melakukan hubungan seks
- Saya berjanji tidak akan berbicara bohong
- Saya berjanji akan sepenuhnya menjauhi makanan atau minuman keras yang menyebabkan lemahnya kesadaran.
- Saya berjanji tidak akan makan pada saat yang tidak semestinya
- Saya berjanji tidak akan memakai parfum, untaian bunga dan perhiasan, bernyanyi, menari, serta sejenisnya.
- Saya berjanji tidak akan menggunakan tempat tidur atau tempat duduk yang tinggi dan lebar.
Delapan sila ini berlaku hanya selama 24 jam, dan untuk pertama kalinya perlu diambil dari seorang bhiksu atau guru yang kedelapan silanya murni. Selain menjalankan attha-sila, sangat baik sekali apabila seorang upashaka juga melatih vegetarian atau melakukan kegiatan-kegiatan spiritual yang lebih intensif pada hari-hari uposatha. Bila upashaka tersebut mengikuti ajaran Mahayana, ia sebaiknya mengambil sila Uposatha Mahayana sebagai pengganti attha-sila nya.
Kebajikan melatih sila secara umum
Sila akan menyebabkan seseorang terlahir kembali di alam yang bahagia: sebagai manusia atau dewa; dengan melatih sila, kebajikan yang dilakukan seseorang akan menghasilkan pahala yang lebih besar; kemuliaan para Sravaka, Pratyekabuddha, Bodhisattva, bahkan para Buddha, semuanya dicapai berkat melatih sila; seseorang akan terbebas dari penyesalan, rasa takut, dan kecemasan; seseorang baru dapat bermeditasi dengan baik ketika ia telah melatih sila.
Kebajikan seseorang yang melatih satu sila saja pada zaman kaliyuga ini jauh lebih besar daripada kebajikan seorang bhiksu yang murni seluruh vinayanya pada zaman Sang Buddha; kebajikan seseorang yang melatih satu sila saja di dunia kita ini jauh lebih besar daripada kebajikan seseorang yang menjalankan kedelapan sila selama berkalpa-kalpa di alam suci para Buddha; seseorang akan dilindungi oleh para dewa dan makhluk-makhluk yang baik.
Kebajikan melatih sila secara khusus
- Dengan tidak membunuh, seseorang akan berusia panjang, memiliki kehidupan yang mulia dan bebas dari penyakit.
- Dengan tidak mencuri, seseorang akan memiliki kekayaan, dan kekayaan tersebut tidak akan diganggu oleh orang lain.
- Dengan tidak melakukan hubungan seks, seseorang akan memiliki tubuh yang bagus dengan warna kulit yang indah, dan juga panca indera yang lengkap.
- Dengan tidak berbohong, seseorang tidak akan ditipu, dan orang lain akan mendengarkan apa yang ia katakan.
- Dengan menghindari makanan dan minuman keras yang menyebabkan lemahnya kesadaran, seseorang akan memiliki kesadaran dan kewaspadaan yang stabil, indera yang jelas, dan kebijaksanaan yang sempurna.
- Dengan tidak makan pada saat yang tidak semestinya, seseorang akan memiliki panen yang bagus dan melimpah, dan akan memperoleh makanan dan minuman tanpa perlu berupaya.
- Dengan menghindari parfum, perhiasan, dan yang sejenisnya, tubuh seseorang akan berbau harum, memiliki bentuk dan warna yang menarik, dan juga disertai dengan berbagai pertanda baik. Dengan menghindari menyanyi dan menari, seseorang akan memiliki tubuh dan batin yang terkendalikan, dan ucapannya akan senantiasa menyuarakan Dharma.
- Dengan tidak menggunakan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan lebar, seseorang akan memperoleh pujian dan penghormatan dari orang lain, dan akan memiliki tempat tidur dan seprai yang bagus (lembut, hangat, dan sebagainya), kendaraan, dan hewan untuk bepergian.
Pertanyaan Seputar Vegetarian
Apakah seorang Buddhis harus vegetarian?
Tidak harus. Siswa Sang Buddha masih diperbolehkan memakan daging sepanjang beberapa syarat berikut dipenuhi: ia tidak membunuh ataupun menyuruh orang lain membunuh hewan tersebut untuk dirinya, ia tidak melihat, mendengar, atau berprasangka bahwa daging itu diperoleh dari hewan yang khusus dibunuh untuk dirinya.
Apakah tujuan seorang Buddhis bervegetarian?
Pada awalnya vegetarian dilaksanakan oleh para praktisi Buddhis untuk mendukung praktik meditasinya, yaitu agar ia lebih mudah untuk mencapai samadhi. Akan tetapi, praktik vegetarian ini kemudian diadaptasi oleh para penganut ajaran Mahayana oleh karena: penderitaan yang dialami hewan yang dibunuh tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa mereka abaikan begitu saja. Selain itu, ada juga siswa Sang Buddha yang menjalankan vegetarian sebagai salah satu sarana untuk memperkuat belaskasih.
Bagaimanakah caranya bervegetarian?
Ada beberapa tingkat vegetarian yang dapat dijalankan seseorang. Pada tingkat yang paling ringan ia hanya tidak memakan daging, yang berlatih lebih ketat juga menghindari telur selain daging, sedangkan yang menjalankan vegetarian murni menghindari: daging, telur, bawang putih, dan bawang merah.
Kapan sajakah saat yang tepat untuk bervegetarian?
Bila memang memungkinkan bagi seseorang untuk terus menjalankan vegetarian, hal itu baik sekali. Tetapi bila tidak, ia dapat melatihnya pada hari-hari uposatha atau selama selang waktu tertentu sebelum ia melakukan aktivitas kebajikan tertentu, misalnya tiga hari atau seminggu sebelum ia pergi berdharmayatra, atau sebelum hari raya waisak. Hal itu baik sekali dilakukan untuk melatih dan memperkuat belas kasih dalam dirinya.
